
...🥀🥀🥀...
Di pagi yang sama namun di belahan bumi lain, seorang pria tampak berdiri menunggu seseorang dengan posisi bersandar pada dinding berwarna pucat.
" Tunggu !" seru Demas yang rupanya sengaja menyempatkan waktunya untuk menemui Claire.
Ya, Demas yang sengaja menunggu Claire keluar dari ruangan khusus keluarga Darmawan itu terlihat menarik lengan sepupunya demi sesuatu yang sangat penting.
" Ada apa Dem?" tanya Claire yang sebenarnya terburu-buru sebab hendak menyusul keluarganya yang lain menuju kamar Opa Edi.
Demas celingak-celinguk memastikan bila keluarganya bersama Edwin sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangan.
" Apa kau sudah membicarakan hal ini dengan Neo?" tanya Demas serius.
Demas sedari kemarin memperhatikan gelagat saudarinya dengan saksama. Dan dari hal yang dia tangkap, bisa dia simpulkan bila Claire tak tenang. Memicu rasa ingin tahunya untuk bertanya.
" Seorang anak harus menurut dengan orang tua!" kata Claire yang sepertinya mulai paham dengan apa yang hendak di bahas oleh Demas. Ia meyakini jika sepupunya pasti tahu apa yang di rasa. Tapi, untuk saat ini yang terpenting adalah Opa.
" Meski yang dirasakan oleh sang anak bertolakbelakang dengan keputusan yang di buat oleh orang tua, iya ?"
Sebelah alis milik Demas yang terangkat menjadi penanda bila ia tak percaya dengan sepupunya.
" Lalu apa maumu?" Claire balik menantang Demas sebab sebenarnya ia juga tak tahu harus berbuat bagaimana lagi.
Keadaan yang begitu rumit, di tambah ketakutan orang tua yang begitu besar akan nasib masa depannya benar-benar membuat segala sesuatunya semakin sulit.
" Apa kau masih punya perasaan dengan laki-laki itu?" tanya Demas langsung. Bermaksud membicarakan Sadawira.
" Apa yang kau bicarakan. Mana mungkin aku berhubungan dengan musuh keluarga!" sergah Claire sedikit tersinggung.
Oh ya? Tapi sayangnya Demas malah melihat sorot mata penuh ketidakberdayaan yang muncul di dua mata jernih milik Claire.
" Jika itu benar maka aku akan sangat bangga padamu. Tapi jika semua yang kau katakan itu hanyalah sebuah kebohongan, percayalah kau sendiri tak akan bisa tenang."
-
-
Di dalam ruangan dengan suhu yang dingin, Opa Edi yang barusaja di suapi oleh Mama Bella terlihat menoleh ke arah pintu, dimana Edwin telah bersama Papa David dan Papa Leo.
Meski kemarin mereka sempat menengok laki-laki tua itu, tapi baru kali ini Opa Edi bisa sepenuhnya sadar akan kedatangan dua orang dari Atana tersebut.
"Opa!" salam Edwin yang kini mendekatkan dirinya ke arah pria tua yang berbaring lemah. Terlihat begitu berempati.
" Akhirnya kau datang juga!" balas Opa Edi dengan suara lemah. Merasa terharu sebab akhirnya Claire mau menuruti keinginannya.
__ADS_1
Edwin tersenyum, menampilkan giginya yang putih bersih. Sedikit merasa sedih sebab sepertinya kesadaran orang tua itu mulai menurun.
" Bagaimana keadaan Opa sekarang?" tanya Edwin seraya meraih jemari kisut milik Opa.
" Ya seperti ini. Tapi...aku menjadi lebih sehat karena kau datang bersama Claire. Aku sangat bahagia jika cucuku mau menurut denganku. Itu akan membuat perjalananku nanti tenang!" balasnya dengan senyum yang terlihat lepas.
" Pa!" sela Mama Bella yang selalunya tak suka bila Opa membahas soal kematian.
Opa Edi tersenyum. Ia tahu bila menantu keduanya itu amat sayang menyayanginya.
" Jangan marah. Aku hanya ingin mengatakan apa yang aku rasa. Dimana Claire?"
" Claire sedang...."
Namun ucapan Mama Bella langsung terpotong begitu daun pintu itu bergerak.
" Itu dia. Claire kemari!"
Claire mengangguk saat Mama Jessika memanggilnya untuk mendekat.
"Papa mau duduk?" tawar Mama Jessika lagi yang paham jika mertuanya itu sepertinya ingin berbicara serius dengan Claire juga Edwin.
Opa Edi mengangguk, membuat Papa David dan Papa Leo seketika sigap mengatur matras khusus agar orangtuanya bisa berada di posisi terbaik.
" Awas!"
" Opa!" Claire menatap murung Opa Edi yang kini menatapnya lekat. Pria tua dengan rambut yang sudah memutih bagai bunga jambu kelutuk itu nampak senang.
" Opa bahagia!" kata Opa dengan pandangan lurus ke wajah Claire. " Opa bahagia karena kamu akhirnya mau mengindahkan permintaannya Opa!"
Membuat dada kesemua orang sesak.
Demas yang rupanya masih mengintip interaksi mereka terlihat memindai satu persatu wajah yang hadir. Dapat dia lihat dengan jelas, bila Mama Jessika juga terlihat tak begitu tenang.
" Kenapa Mama besengut ( berengut) gitu?" tanya Demas dalam hati.
Claire bolak-balik mengusap wajahnya karena merasa tak tahan. Sedetik kemudian, ia terlihat mendekatkan dirinya lalu menggenggam tangan pria tua itu penuh kasih.
" Opa janji setelah ini harus sembuh. Aku sudah membawa Edwin kemari sesuai permintaan Opa!"
Opa mengangguk, membelai lembut rambut cucunya yang memiliki nasib paling buruk itu dengan perasaan lega.
" Jadi, kapan kalian akan menikah?"
Claire meneguk ludahnya gugup. Apalagi Edwin, ia tak menyangka jika semuanya akan lebih mulus daripada yang dia kira.
__ADS_1
" Opa jangan khawatir, hari ini Opa akan melihat kami bertunangan dulu. Semua ini Claire lakukan demi Opa!"
Opa mengerutkan kening. Terlihat kaget sebab kenapa hanya bertunangan?
" Pa, Mamanya Edwin perlu mengenal keluarga kita. Biarlah hal simbolis ini menjadi penanda keseriusan hubungan mereka terlebih. Kami akan kawal mereka!" bisik Papa Leo memberikan pengertian kepada Opa agar pria itu tak memikirkan yang tidak perlu.
Opa akhirnya mengangguk. Setidaknya antara Claire juga Edwin kini telah memiliki pengikat yang serius.
" Opa tenang sekarang!" kata Opa menatap satu persatu wajah orang yang ada di dekatnya.
Claire mengangguk, ia kini memeluk tubuh Opanya dengan tubuh bergetar karena tangis. Ketidakberdayaannya kali ini benar-benar membuatnya tak memiliki pilihan selain menurut. Meski jauh di dalam relung hatinya, ia kini masih memikirkan Sadawira, tapi bentangan persoalan yang ada mustahil ia lalui.
Dan di detik itu juga, Leo merasa tenang sebab anaknya akhirnya ada yang mau menerima kondisinya yang begitu memalukan.
Memiliki anak tanpa suami jelas bukan perkara yang patut di banggakan. Dan memiliki calon menantu seperti Edwin yang mapan juga berasal dari keluarga baik-baik, jelas membuat Papa Leo merasa mendapatkan durian runtuh.
...----------------...
Hari berlalu dengan cepat, Sadawira telah berhasil menandatangani kontrak perjanjiannya dengan orang Eropa, terkait pengiriman briket ke negaranya.
Selama itu pula, ia masih menanti kabar dari Boni yang belum juga melaporkan apa yang tengah terjadi di keluarga Darmawan.
Bisnis yang begitu menjanjikan ini membuat Sadawira sangat bahagia. Targetnya menembus pasar Eropa akhirnya terwujud juga karena campur tangan Diva.
Kepiawaiannya dalam mencari peluang benar-benar tak diragukan lagi. Sisa kayu yang semula tak memiliki nilai, kini bisa menjadi pundi-pundi rupiah jika ia ekspor ke negara yang memiliki musim salju.
Terlebih, ia kini bisa semakin dikenal oleh orang banyak di sektor ekspor impor.
Namun saat ia sedang ingin merayakan keberhasilannya bersama Dollar and the genk. Sebuah pesan dari seseorang membuatnya lari tunggang langgang.
" Temui aku di tempat biasa. Nick datang membawa hasil pemeriksaan Neo!"
Ya, pesan mendadak dari Zayn yang barusaja ia baca itu, seketika membuatnya melesat pergi.
" Ok Neo, here we go!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Hayo, kira-kira Claire bakal sama siapa 😁