My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 14. Pesan Melodi


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Keinginan yang di kemukakan oleh pria tua yang sedang sakit keras itu tak pelak membuat Claire terseret dalam pusaran kebimbangan. Opa Edi mengenal Edwin sebab beliaulah yang menemani hari-hari sulit Claire di masa itu.


Tak ayal, Opa Edi dan Edwin sudah mengenal satu sama lain.


Malam harinya, Claire tak bisa tidur barang sejenak. Apa yang di inginkan oleh Opanya jelas membuat dirinya kini tak tenang. Ia tidak memiliki perasaan apapun kepada Edwin, dan akan sangat berdosa kembali jika ia memaksakan perasaan dan membuat Edwin hidup dalam kepalsuan.


Tidak, Claire sudah pernah melakukan dosa besar, dan ia tak ingin menumpuk dosa lain yang lebih lagi.


TOK TOK TOK


Ia buru-buru mengoleskan lipstik saat pintu itu terketuk.


" Siapa?" teriaknya dari dalam.


" Mbak Claire, di tunggu di bawah sama Ibuk buat makan malam!"


Rupanya asisten rumah tangga yang memanggilnya. Dia pikir itu Mama.


" Ya mbok, habis ini aku turun!"


Usai merapikan rambutnya, ia bergegas menuju meja makan dimana para sepupunya juga para orangtua telah berkumpul.


" Nah ini dia nih di tunggu dari tadi!"


Melodi berucap saat kakaknya baru turun dari tangga. Membuat kesemuanya menoleh.


" Ayo makan dulu Claire!" kata Mama Jessika yang tersenyum ke arahnya.


" Ya Bude. Mama mana?" berganti manakala tak mendapati Mama Bella ada di sana.


" Lagi kasih obat Opa kamu, sebentar lagi juga kesini!" jawab Mama Jessika dan membuatnya mengangguk paham.


Arimbi dan Deo sibuk meladeni para anaknya yang ruwet minta lauk yang berbeda, Melodi terlihat paling tak bisa menyia-nyiakan rezeki di hadapannya, Demas sudah lebih dulu pulang sejak sore tadi sebab keadaan Eva yang masih sangat rentan membuatnya turut khawatir.


Papa Leo dan Papa David memasang muka paling serius. Entah apa yang sedang menjadi buah pikiran mereka saat ini, yang jelas aura yang ada di meja maka sedikit tak biasa.


Mereka akhirnya makan dalam diam. Pasca di beri petuah oleh Opa Edi dalam waktu berbeda, kesemuanya orang itu terlihat bermuka layu.


Saat ia sedang meminum air, Mama Bella tiba-tiba menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar Opa. Menandakan jika tugas wanita itu telah selesai di laksanakan.


" Makan dulu Bel!" seru Mama Jessika yang selalu menjadi garda terdepan dalam mengurus keluarga.


" Nanti aja kakak ipar, aku...tidak berselera makan!" jawab Mama Bella dengan mata sembab.

__ADS_1


" Jangan kalah sama kata enggak selera. Jangan sampai kita ikutan sakit, ayo makan walaupun sedikit. Kamu itu dokter, harus lebih tahu soal kesehatan!" seru Papa Leo yang tahu jika istrinya pasti sedang kepikiran dengan ucapan Papanya yang mendesak Claire untuk segera menikah.


" Benar, makanlah. Kita bisa bicara setelah ini!" sambung David yang melihat adik iparnya berbeban berat.


Membuat Bella mengangguk meski rasa mulutnya sedang pahit.


Mereka akhirnya menyelesaikan makan dalam situasi yang cukup tak biasa. Sakitnya Opa Edi membuat mereka semua kini bersedih. Apalagi, permintaan yang dinilai memusingkan dari pria itu jelas membuat kesemuanya dilanda kebingungan.


" Papa, aku ngantuk!" Rengek Bimasena yang kekenyangan dan kini mengucek matanya berkali-kali sambil menguap sebab mengantuk. Alphanya dia saat tidur siang tadi karena asik bermain, membuatnya kini tak bisa lagi menahan kantuk yang mulai menyerang.


" Mama...." ucap sang adik yang matanya juga sudah memerah karena mengantuk.


" Udah Ar kamu temani anak-anak dulu!" kata Mama Jessika dengan lembut yang tak tega melihat cucunya.


" Baik Ma!"


Maka Arimbi dengan sigap memboyong anak-anak mereka menuju kamar. Membuat meja makan itu menyisakan para orangtua dan cucu dari Opa Edi.


Papa David kini terlihat mengambil alih situasi manakala keadaan kembali senyap.


" Kalian pasti sudah tahu apa tujuan kakek mengumpulkan kita semua disini?"


Para cucu itu mengangguk.


" Claire!" panggil Papa David yang langsung menatap ke arah keponakannya yang menjadi pusat pikiran sang Papa.


" Sebenarnya...kami juga baru tahu bila ternyata selama ini Papa rupanya masih memikirkan kamu. Tentang keadaan kamu, juga apa yang tejadi kepadamu saat ini!"


Bella yang merupakan Mama dari Claire tentu menjadi sedih. Hal ini benar-benar sangat di sayangkan. Pasalnya, pikiran seseorang yang terlalu terforsir, bisa mempengaruhi kondisi kesehatan orang tersebut.


Leo mengangguk menimpali, "Sejak tadi Papa juga jadi kepikiran sama kamu Claire. Kamu keukeuh tak mau kembali kesini. Dan papa rasa, Edwin bisa kamu pertimbangkan. Dia juga memiliki Mama yang asli orang Indonesia kan? "


Malah berujung ke perbincangkan yang menyeret nama Edwin kembali. Membuat Claire bertambah pusing.


Deo dan Melodi yang mendengar hal itu turut menatap Claire yang terlihat sangat resah. Ia paham, sebagai anak muda, masalah perasaan itu bukan seperti orang jual beli.


" Tapi Pa, aku..."


" Setidaknya agar Opa bisa tenang!" potong Mama Bella yang mukanya terlihat paling muram. " Kita semua berharap Opa bisa kembali sehat meski usianya sudah sangat renta. Pikirkan ini Claire!"


Dan permintaan para orang tua menjadikan dirinya semakin mumet. Bahkan berkali-kali lipat.


Hingga, apa yang di sampaikan oleh para orang tua tadi membuat Claire kini termenung di dalam kamarnya.


" Belum tidur?" kata Melodi sembari membuka pintu kamar kakaknya yang tak tertutup rapat.

__ADS_1


Membuat Ibu Neo itu sedikit tersentak.


" Gak bisa tidur!" sahut Claire yang kini menatap wajah adiknya yang mulai berjalan mendekat.


Melodi tak menjawab, namun dia langsung mendudukkan tubuhnya ke atas ranjang tepat di samping kakaknya.


" Edwin yang di sebut-sebut tadi itu, Edwin yang waktu itu nolongin kamu lahiran?" tebak Melodi yang mengingat-ingat nama pria yang kini trending di keluarga mereka.


Claire mengangguk. Sepertinya semua orang benar-benar telah membahas Edwin hari ini.


" Kamu masih kepikiran Wira?"


" Mel!" pekik Claire tak setuju dan kini menatap tajam adiknya yang ngawur itu.


" Kamu gak usah bohong. Banyak pria yang naksir sama kamu Clay. Tapi kamu nya yang sulit di dekati!" kata Melodi setengah kesal sebab kakaknya itu selalu saja tak mau jujur.


" Aku sadar posisi aku saat ini Mel, orang cuma mau ngedeketin aku tanpa memikirkan Neo. Dan soal Edwin, dia itu keluarga terpandang di sana, sampai sekarang mamanya dia aja gak welcome ke aku!"


" Tapi Edwin Welcome kan ke kamu?"


" Mel!" pekik Claire kembali yang semakin kesal dengan kenekatan adiknya.


Melodi diam saat melihat kakaknya yang mulai terlihat kesal. Ia hanya ingin tahu, apakah kakaknya itu masih memiliki perasaan terhadap Sadawira.


" Semua orang berkata seolah-olah aku ini gak bisa jaga diri!" gumam Claire sembari tersenyum kecut.


" Padahal aku bisa jaga diriku sendiri, jaga Neo!" ucapnya lagi kali ini sedikit menggebu-gebu.


Membuat Melodi menggeleng tak setuju.


" Mereka takut jika Wira menemukan kamu dan bakal menyakiti kamu lagi. Dan itu wajar Claire!"


Membuat wanita itu kini tertegun.


"Atau kalau tidak kembalilah ke Indonesia!"


" Itu lebih tidak mungkin lagi!" menatap wajah sang adik tak percaya sebab malah memintanya kembali ke Indonesia.


" Kenapa?"


" Kau tidak tahu rasanya jadi aku Mel. Menapakkan kakiku di apron bandara kota ini saja membuat semua ingatan itu kembali begitu saja!"


" Aku tak siap dengan pertanyaan orang-orang disini mengenai siapa Neo. Aku tidak sekuat itu!"


Melodi kini paham, Claire sengaja menghindar dengan memilih tinggal di Atana karena masyarakat warga +62 yang selalu julid.

__ADS_1


" Itu terserah kau. Yang jelas, aku cuman mau ngingetin. Tolong lakuin apa yang Opa mau. Meski dengan jalan sandiwara sekalipun. Jangan sampai kamu menyesal kalau Opa udah enggak ada!"


__ADS_2