My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 149. Jangan-jangan!


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Dian keluar sembari membetulkan resletingnya. Terlihat sangat percaya diri, seraya celingak-celinguk mencari dua pasang anak muda yang rupanya sudah berdiri di depan sana dengan eskpresi yang berbeda.


" Kenapa pada aneh begitu?" tanya Dian ketika ia sudah tiba di tempat Zayn dan Melodi.


Melodi senyam-senyum sementara Zayn terlihat pias. Ngeri-ngeri sedap demi menyadari jika Dian merupakan mahluk tulang lunak. Terlihat seperti protozoa yang melesat kesana kemari dengan bebasnya tanpa suatu beban.


" Gak apa-apa. Terkesima aja sama protozoa kelas atas kayak kamu!" kata Melodi terkekeh-kekeh.


" Sialan. Udah melanglang dunia masih aja di sebut protozoa!" Dian mendengkus. Membuat si gadis makin terbahak-bahak.


Sepanjang perjalanan, Dian tak hentinya mengisi mobil Zayn dengan obrolan-obrolan absurd. Mulai dari ketampanan Zayn yang tidak menjemukan, ukuran benda penting orang yang memiliki tinggi diatas rata-rata seperti Zayn, hingga promosi lip serum kepada pasangan itu.


Zayn yang berada di ruang kemudi seperti supir sampai merinding. Dari sekian mahkluk unik yang pernah ia jumpai, Dian lah yang paling bocor.


" Pokoknya kalian harus coba ini seruh. Emmm, kalau udah pakai ke bibir. Boooooh, di jamin kopat kopet berkali-kali kalian pasti!"


Zayn sampai bingung harus menjawab bagaimana. Ia benar-benar tak bisa mengimbangi kerenyahan teknik komunikasi Dian yang begitu natural.


" Passsstt!" panggil dia bersisat - sisut kepada Meldi.


"Pssst!" lagi, ia memanggil Melodi untuk mendekatkan telinganya.


" Apaan sih?" kesal Melodi demi mendengar suara sat sut sat sut.


" Eh Jamila, lu harus cepet-cepet sembuh deh kayaknya. Cepat atau lambat lu pasti kawin sama tuh orang kan. Ralat nikah, bukan kawin. Kalau dilihat dari bentukannya, luka lu pasti bakal koyak lagi kalau nggak lu antisipasi dari sekarang. Orang yang bokongnya bulat macam dia tuh ya, kata Eva sama Arimbi pasti menang di ukuran sama si durasi. Ati- ati lu! Jebol jebol deh!"


Namun sialnya, Zayn mendengar semua hal itu karena alih-alih berbisik-bisik, Dian malah nyerocos seperti memberikan pengumuman. Membuat Zayn semakin mumet.


-


-


Meninggalkan si biang kerok yang masih membuat Zayn makin puyeng , kita beralih ke dua orang manusia yang hari-harinya kini menjadi sedikit lebih berarti usai bertemu satu sama lain.

__ADS_1


Rencananya, hari ini Olivia sudah di perbolehkan pulang. Pihak kepolisian tak bisa menahan Tanaphan sebab jika mengacu pada ketentuan undang-undang atau aturan negara tersebut, kejahatan pidana yang menjurus ke penghilangan nyawa seseorang tak bisa di wakilkan.


Alhasil, Tanaphan tak bisa menjalani proses hukum. Ia hanya bisa mempertanggungjawabkan perbuatan anaknya dengan mengakui dan menjadi penjamin. Sebab kondisi psikologis Olivia yang tak stabil, menjadi pertimbangan kepolisian untuk menahan. Lagi-lagi, mereka tak bisa memenjarakan orang dengan gangguan kejiwaan.


Olivia perlu pendampingan dan terapi yang continue agar bisa sembuh. Trauma psikis akibat masa kecilnya masih bisa di upayakan.


Melodi sebenarnya juga sudah mencabut perkara tersebut melalui kuasa hukumnya. Atas dasar hati serta keikhlasan yang tinggi, gadis itu memilih memaafkan meski beberapa prosedur hukum masih menjerat Olivia.


Dan hal itulah yang membuat Tanaphan akhirnya sadar, dan melunakkan hatinya untuk mengembalikan yang seharusnya ia kembalikan sejak dulu.


Lagipula, benar kata orang-orang suci. Selalu ada hikmah di setiap kejadian. Jika Melodi tak tertusuk, ia tak akan tahu seberapa besar cinta Zayn kepadanya. Dan orangtuanya pun tak akan mengerti bila Melodi dan Zayn telah memiliki rasa satu sama lain.


Dan sebagai manusia yang berkecimpung di dunia kesehatan yang memiliki banyak sekali kenalan beberapa ahli kesehatan, Edwin yang terketuk hatinya menawarkan satu dokter kejiwaan yang bagus kepada Tanaphan.


Tanaphan menyetujui. Sebagai seorang pria, ia bisa melihat jika Edwin memang merupakan orang yang tulus.


" Kenapa kau mau menolong putriku?" tanya Tanaphan saat keduanya kebetulan sedang bersama menunggu Olivia yang di temani assiten rumah tangganya membeli sesuatu.


" Aku sudah pernah berkata kepadamu tuan. Orang yang mengerti, ia adalah orang yang pernah merasakan hal yang sama!"


Sejak saat itu, hari demi hari Tanaphan mulai terenyuh dengan niat baik Edwin. Ia tahu, tak mudah bagi anaknya melalui semua ini. Ia juga sudah mengurangi beberapa kebiasaan tak baiknya.


...----------------...


Satu bulan berlalu.


Memasuki trimester kedua ini, perubahan lain mulai terjadi pada diri Claire. Ia menjadi menginginkan beberapa makanan dalam waktu sekejap. Namun selera makannya mendadak menghilang dalam waktu sekejap pula.


Tak jarang, Sada menjadi bulan-bulanan kehebohan. Ia yang berjanji dengan sepenuh hati akan memenuhi apapun yang diminta istrinya, sebab dia ingin menebus ketidakhadirannya manakala mengandung Neo dulu, menepikan rasa lelahnya untuk melayani sang istri.


Sepertinya malam ini misalnya, Claire yang tiba-tiba ingin makan lava cake dan es salju benar-benar mendesak Sada untuk memperoleh makanan itu. Dan masalahnya, dimana jam segitu masih ada es salju?


Kalau soal lava cake, Sada tak kebingungan. Ia bisa meminta rekannya yang memiliki hotel untuk menyisakan salah satu dessert manis tersebut melalui karyawannya. Cincai lah! Tapi soal es salju? Tentu dia harus bisa mengerahkan segala kemampuannya termasuk mengganggu dua anak buahnya Janu dan Henry yang pasti mengomel tiada henti.


Dan harus Sada akui, inilah seni menjadi Ayah dan suami yang baik. Merasa bangga mendapatkan apa yang di inginkan Claire, meski sebenarnya Janu dan Henry lah yang menjadi korban.

__ADS_1


" Jangan bilang-bilang Ibuk kalau kalian yang dapat ya. Awas kalian!"


Maka Janu dan Henry hanya bisa menghela napas pasrah. Semenjak menikah, bosnya itu memang rada aneh. Semacam suami takut istri.


Dan Minggu depannya lagi, permintaan Claire makin aneh-aneh saja. Ia ingin makan pasta di depan cheff yang memasaknya secara langsung. Atau, ia ingin makan sambil melihat Sada yang sibuk bekerja di kantor.


Semua keanehan demi keanehan tersebut Sada catat dalam zatu note. Ia juga memvideokan beberapa kegiatannya yang menemani istri saat ngidam. Sengaja ia buat satu video agar bisa mereka kenang.


Hingga tibalah usia kehamilan Claire yang mencapai 7 bulan. Semua keluarga di undang hadirkan dalam kesempatan kali ini. Keluarga dari Indonesia terlihat berdatangan. Walau mereka ada di tanah orang, tapi kebiasaan asli masih mereka terapkan.


Sebab kehamilan pertama dulu, Neo tak mendapatkan ritual apapun. Semua lancos begitu saja. Seluruh keluarga menyadari keadaan saat itu. Namun sekarang, Melodi yang sudah pulih dari sakitnya, terlihat menjadi tim rempong bersama kedua sepupunya Eva dan Arimbi dalam mempersiapkan acara.


Bahkan, mereka juga membawa langsung tetua dari kota B, untuk bisa memimpin hal sakral tersebut. Dian yang kebetulan ada kegiatan di Atana, turut di undang oleh Claire dalam acara anak keduanya itu.


Menjadi seperti nostalgia manakala bertemu dengan dua wanita tangguh. Eva dan Arimbi.


" Memang harus pecahan kelapa begitu?" tanya Dian terheran-heran.


" Ya iyalah. Kalau yang di pecahin kasus perselingkuhan, bisa heboh dunia ini!" sahut Eva sembari mengunyah ketan.


" CK, udah punya anak tiga masih aja mulutnya!" gerutu Dian memutar bola matanya malas.


" Ini juga kenapa rambutnya begini sih. Anakku jadi bingung mau manggil kamu apaan? Mau di sebut aunty kok begini bentukan. Mau di bilang angkel (uncle/ paman) kok lipstiknya begini!" kata Arimbi mengomentari penampilan Dian yang sudah mirip orang karnaval di bulan Agustus.


" Udah ah jangan mulai rasis! Tadi ribet mau balik hotel dulu. Eh iya, para laki kemana sih?" tanya Dian sembari celingak-celinguk.


" Itu di samping lagi momong anak-anak!" balas Eva memasukkan potongan ketannya untuk kedua kalinya.


" Hah, kurang ajar banget sih kalian. Mau eksis sendiri ya?"


" Mereka tahu kali kali kalau kita lama gak ketemu!"


Ketiga orang tersebut tergelak bahagia. Tak menyangka jika nasib masih menghubungkan circle pertemanan mereka.


" Eh siapa tuh yang datang?" kata Dian manakala melihat rombongan mobil yang lumayan banyak.

__ADS_1


Membuat kedua menantu David Darmawan itu menoleh.


" Hah itu kan Zayn, kenapa bawa banyak rombongan? Jangan-jangan..."


__ADS_2