My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 83. Sakitnya penyesalan


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Sehari jelang acara pernikahan, saudara sepupunya dari Indonesia berdatangan. Namun semua hal itu tak cukup berhasil membuat muram di wajah Neo sirna. Dirinya tetap saja merasa tak nyaman cenderung sedih.


Pakde dan Budenya juga datang kerumahnya meski saat malam harus kembali ke hotel, sebab kapasitas rumah ibunya tak sebesar rumah Opa buyut.


Semakin hari ia semakin dibuat asing dengan Ibunya yang jauh lebih pendiam dari biasannya. Bahkan ia tak lagi bisa mengutarakan keberatannya soal pernikahan ini kepada sang Ibu. Opa mengudeta semuanya.


Opa juga terlihat lebih menyeramkan. Ia semakin takut. Wajahnya selalu keruh dan tegang. Beberapa kali juga terlihat berdebat dengan sang Ibu. Sementara Oma seperti biasa, wanita itu mungkin berhak menyabet gelar istri taat, sebab selama Ini berdebat dengan Opa, tak sekalipun Oma terlihat menengahi.


Apakah Ibu memang bebal?


" Mau di taruh mana muka Papa kalau kamu kembali dengan pria itu, hah?"


" Tapi Demas sudah memaafkan Pa. Setidaknya jangan buat Neo sulit untuk bertemu Ayahnya!"


" Jadi ini balasan kamu setalah Neo sudah besar? Tidak ingat kamu saat-saat kamu dulu?"


" Bukankah Papa dan Mama dulu juga beg..."


PLAK!


Neo yang mendengar suara pukulan keras dari balik dinding, seketika berlari menuju ke kamar mbak Juwi. Ia takut. Bersamaan dengan itu Oma Jessika dan Papa David yang juga baru datang entah dari mana terlihat berlari dengan wajah tegang.


" Kalau kamu mau kembali pada pria itu, kembali sana! Tapi jangan sekalipun kau menemui Papamu!"


Deo dan Demas merangkum bahu sepupunya yang wajahnya pedih usai di tampar sang Papa. Claire menyadari mulutnya terlampau kurangajar karena berani mengungkit-ungkit masalalu orangtuanya. Tapi terus terang, ia memang sudah kehabisan akal untuk menyadarkan sang Papa.


Papa Leo memilih pergi dengan dada terbakar. Sementara Mama Bella yang sedari dulu cinta mati dengan suaminya memilih pergi tanpa menoleh lagi. Absolutly.


Pernikahan sudah di depan mata, namun kegaduhan justru terjadi.


" Loh, kenapa Neo malah di sini?"


Bude Arimbi memang terkenal ramah, dan selalu bisa menenangkan suasana kini malah memergoki dirinya yang menangis seperti pecundang kecil. Neo memilih bersembunyi di balik dapur lantaran ia tak menemukan mbak Juwi. Ia takut, sedih dan tak berani.


Neo meringkuk ketakutan. Masih belum hilang dari ingatan suara Opa yang marah, dan suara pukulan yang bersambut dengan jeritan yang dia yakini itu merupakan suara dari sang Ibu.


" Bude apa Opa memukul Ibu? Kenapa Ibu di pukul?"


Arimbi meneguk ludah. Tak menyangka jika Neo lolos dari pengawasan. Ia menyadari, kesibukan yang makin menggila jelang hari pernikahan membuat anak itu agak tak terurus.


" Bukan. Mungkin Neo salah dengar. Kita ke depan yuk. Kita susul mas Bima!"


"Apa aku boleh meminta Ibu untuk tidak menikah?"


Arimbi kembali meneguk ludahnya. Entah siapa yang harus di salahkan di sini. Ia lantas memanggil Deo yang kebetulan melintas di dekat mereka karena rasanya ia tak sanggup untuk menenangkan Neo seorang diri.


" Ada apa?" tanya Deo resah. Ia keluar memang untuk mencari istrinya untuk menenangkan Claire.


" Kayaknya pernikahan ini kurang di sosialisasikan deh mas!" seru Arimbi yang wajahnya murung.


" Neo dengar waktu Om Leo tadi nampar Claire!"


" Apa?"

__ADS_1


Deo yang melihat wajah muram keponakannya langsung paham.


-


-


Malam harinya, Claire tak bisa memejamkan mata. Bayangan wajah kecewa sang Papa rupanya cukup mengusik dan mengenyahkan rasa kantuk. Ia memilih pergi menyusuri gulita di rumahnya.


Sepupu dan keluarganya memilih tidur di hotel. Tak apa, rumahnya memang tak sebesar rumah keluarganya di kota B.


"Saat arus sedang deras, tak ada gunanya untuk melawan. Yang bisa kamu lakukan hanyalah mengikuti arus tersebut. Tak ada banjir yang tak surut, begitu pula persolan manusia. Om Leo marah karena rasa takut yang berlebihan. Diantara kami para CEO, nama Sadawira memang telah masuk jajaran nama buruk. Kau sendiri yang bisa


menentukan!"


" Claire, aku tidak menyalahkan siapapun disini. Aku benar-benar tidak bisa memaksa siapapun. Yang jelas, apapun keputusan yang kau pilih, kamu akan mendukungnya."


Ucapan Deo semalam berhasil memicu keberaniannya menemui sang Papa malam ini. Dengan langkah pelan, wanita itu kini mendudukkan tubuhnya ke sofa ruang keluarga dimana papanya masih belum tertidur.


" Pa!" sapa Claire dengan suasana yang cukup canggung.


Hening. Leo tak menjawab ataupun menoleh meski ia menyadari sang anak telah datang.


" Claire minta maaf karena telah menyinggung hati Papa!"


Leo masih diam. Pikirannya benar-benar sedang tak bagus. Kelancangan mulut putri sulungnya benar-benar membuat hatinya perih.


" Apa karena Papa dan Mamamu pernah salah lantas kau mendapat permakluman yang sama?"


Claire menunduk dengan dada sesak.


Claire semakin larut dalam penyesalan. Benar yang di katakan oleh seorang penulis novel romansa yang pernah ia baca, bahwa banyak permalasahan yang tak akan bisa selesai hanya dengan emosi.


" Aku akan menikah besok. Cepatlah istirahat!"


...----------------...


Papa David dan Mama Jessika bisa melihat betapa bahagianya sang adik, Leo manakala menyalami beberapa tamu yang mulai hadir. Tak banyak memang, hanya keluarga dekat dan kenalan yang kebetulan ada di kota itu.


Mereka memilih hari baik untuk menikah dengan dalih menggugurkan segala macam pantangan.


Edwin terlihat gagah dengan balutan jas yang warnanya senada dengan Claire. Namun wajahnya terlihat tak seperti biasanya. Sepertinya menyimpan satu hal yang hanya dia sendiri dan Tuhan yang tahu.


Hotel yang di sewa untuk gelaran acara itu juga terlihat sangat siap. Bahkan Mama Edwin turut mengundang beberapa orang penting di negara itu. Membuktikan bila mereka tak main-main.


Claire yang kini di tuntun oleh kedua iparnya Eva dan Arimbi terlihat sangat cantik. Edwin terpana menatapnya. Bahkan pria itu terus menatap wajah Claire yang terlihat lebih ramah pagi ini.


Kali ini giliran Claire benar-benar gugup. Ia duduk di sebelah Edwin yang tak berhenti menatapnya.


" Kenapa?"


" Kau sangat cantik!" jawab Edwin jujur.


Claire tersenyum sekilas cenderung terpaksa. Entahlah, sekeras apapun ia memaksa diri, namun kenyataan ia benar-benar tak bisa menikmati pernikahan ini.


Membuat Edwin kembali tertunduk dengan hati yang teraduk- aduk. Bimbang kian menggerogoti sikap jantannya. Risau kian mendesak akal sehatnya. Dan di detik itu, Edwin bagai terusik dengan serentetan kejadian yang kini membuat isi dadanya tak tenang.

__ADS_1


Usai kedua mempelai duduk di tempat yang di sediakan, Neo yang tak bisa melihat hal itu memilih pergi. Bocah itu tak tahan. Lebih tepatnya tak suka.


Apakah Ibunya akan melupakannya? Beberapa waktu ini saja ibu sudah sering sibuk sendiri bersama Om Edwin. Lantas bagaimana nasibnya setelah mereka menikah nanti? Neo pergi menyelinap dan menyeruak diantara kumpulan orang-orang besar yang sudah tak sabar melihat gelaran acara itu.


Semua orang telah duduk, siap menunggu prosesi pernikahan itu dilangsungkan. Namun saat tangan pria itu di jabat oleh sang petugas, mulut Edwin tak kunjung terbuka.


" Saudara Edwin!" panggil sang petugas demi melihat Edwin yang malah melamun.


Bu Siska dan Papa Leo terlihat paling resah. Kenapa ini, apakah Edwin terlalu grogi sehingga tak fokus.


" Baik bapak ibu, kita coba sekali lagi!"


Claire menangkap gelagat tak normal pada laki-laki tinggi di sampingnya itu. Ia bahkan merasa Edwin tak seceriwis biasanya. Apakah calon suaminya itu benar-benar grogi?


Hingga saat mulut pria itu terbuka, terjawablah segala keresahan aneh yang sedari tadi menggelayut di hati Claire.


" Maaf. Saya tidak bisa!"


Deg!


Keadaan sontak canggung, tegang dan sunyi namun beberapa detik kemudian atmosfer di ballroom hotel tersebut penuh dengan kasak-kusuk. Lelucon macam apa ini?


Leo Darmawan yang mendengar jawaban konyol Edwin langsung meradang. Pria itu kini berdiri sambil menunjuk-nunjuk wajah Edwin.


" Apa yang kau katakan. Apa kau juga berniat mempermainkan anakku?" seru Leo Darmawan yang meradang.


Deo, Demas, Eva juga Arimbi terlihat shock bukan main. Pun dengan Papa David dan Mama Jessika.


" Maaf Om. Bukan saya yang mempermainkan Claire. Tapi Claire yang mempermainkan saya. Saya mencintai Claire bahkan sangat. Tapi sayangnya saya bukanlah orang yang di cintai Claire. Bahkan hingga detik ini pun, dia masih belum mencintai saya!"


DUAR!


Meraka tidak tahu jika Edwin sebenarnya ada dan hadir di rumah mereka saat mereka bertengkar mendebatkan Sadawira. Apalagi, ia yang melihat wajah Claire tak sesenang orangtuanya makin menegaskan jika semua ini tak bisa dia lanjutkan.


Percuma saja meski ia bisa memiliki raga Neo, tapi tak bisa memiliki hatinya.


" Dan saya tidak bisa menikah dengan orang yang sama sekali tidak mencintai saya." ucapnya melepas kain penutup yang melingkupi kepala kedua mempelai itu. Maafkan saya!" pungkas Edwin yang tersenyum kecut.


Bayangan dua kali penolakan Claire saat hendak dia cium. Kemudian bukti lain yang menegaskan jika Claire sejatinya masih mencintai Ayah Neo benar-benar membuat Edwin terpukul dan sedih.


Detik itu juga, mata Claire jatuh tanpa terbendung. Dadanya sesak di tekan suara paling jujur itu. Ia telah menyakiti banyak orang. Termasuk Edwin.


Mama Siska tampak menitikkan air mata, para tamu saling bergunjing. Suasana suka dan keriaan yang ada, dalam sekejap berubah menjadi malapetaka.


Namun teriakan Melodi dari ujung membuat situasi yang kini kacau makin tak terkendali.


" Papa! Neo kabur ke jalan Pa, aku kehilangan jejaknya!"


" Apa kau bilang?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2