
...🥀🥀🥀...
Tamu yang di duga merupakan gerombolan anak buah Sada itu, meneriakkan kata 'sah!' dengan sangat keras dari meja paling belakang. Menjadi satu simbol luapan kebahagiaan yang tak terkira.
Ya, tak dapat di pungkiri, pernikahan Sada dan Claire ini benar-benar membuat banyak pihak bahagia dan senang, terutama dari pihak para karyawan Sada.
Sepertinya, para penggawa perusahaan Plywood terbesar di Atana itu, kini tampaknya sedang melakoni sisi kehidupannya yang lain dengan menjadi tim hore pada peristiwa besar sekaligus bersejarah kali ini.
Daebak!
Dan alih-alih memarahi, kesemua orang justru tertawa girang akibat ulah kocak para bujangan tampan di belakang sana. Mereka semua bahagia, bos-nya yang selama ini menyimpan misteri soal wanita spesialnya, akhirnya menikah juga.
" Kamu turut berbagi bos!"
" Gas buat adiknya Neo bos!"
" Selamat enak-enak bos! Woooo!!!"
Teriakan beraroma selebrasi dari beberapa karyawan paling heboh disana, berhasil mengundang tepuk tangan kompak dari para tamu lainnya. Membuat Sada kontan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena kekonyolan anak buahnya.
Neo yang sudah ada di tengah-tengah Ayah dan Ibunya, tampak menyerahkan sebentuk cincin indah usai mereka semua mengaminkan doa yang dibaca oleh petugas tadi.
Dengan perlahan-lahan seraya terus menyunggingkan senyum yang tak mampu ia sembunyikan, Sada mengambil sebentuk cincin itu lalu menyematkannya ke jari manis Claire.
You're my wife now!
Claire yang menatap prosesi penyematan cincin indah itu ke jari manisnya, benar-benar merasa terharu bukan main. Ia telah menjadi Nyonya Sadawira saat ini.
" Terimakasih Tuhan. Aku dan dia Engkau satukan!"
Ya, mereka memang tidak melangsungkan lamaran atau sejenisnya. Lebih memilih langsung menikah saja. Melewati sederet birokrasi yang menurut mereka sudah tak penting lagi untuk di langsungkan.
Hari ini adalah harinya mereka. Betapapun aral yang menghadang tak kenal kasihan, tapi cinta selalu menemukan jalannya.
Sorakan dan tepuk tangan bahagia makin terdengar manakala Sada kini mencium kening istrinya begitu erat. Membuat Neo tekrikik-kikik lalu menutup matanya dengan dua jari.
"Ayah cium Ibu Ihhh, Neo malu hihihihi!"
Sada yang tergelak akibat ulah anaknya seketika mengangkat tubuh Neo lalu mengecup pipi gembul itu berkali-kali. Claire juga turut tertawa demi ikut merayakan keberhasilan pria di sampingnya yang kini resmi dia panggil, 'suami'.
Ya, dia adalah suamiku!
-
-
" Saya kok jadi terus-terusan terharu begini melihat Ibu Claire menikah!" ucap Tania sembari menyusut air mata bahagianya tanpa jeda.
Melodi yang mendengar hal itu turut mengiyakan dalam hatinya. Setelah semua hal sulit yang dialami kakaknya, rasanya sangat pantas memang jika keduanya bahagia.
" Kita foto dulu yuk, nanti keburu giliran tamu yang lain, habis itu kita makan!" ucap Melodi yang memang tak suka berdesakan. Mencetuskan ide yang lumayan bagus
" Boleh-boleh!" sahut Yuan. Gadis yang menjadi manager di bawah pengawasan Tania.
__ADS_1
" Kamu panggil deh itu kalau gitu!"
" Siapa mbak?" tanya Evelin bingung. Celingak-celinguk mencari yang di maksud oleh Melodi.
" CK, kaum Adam itu lah!" mendecak gemas.
" Kaum Adam?" tanya Yuan lagi memastikan.
Melodi memutar bola matanya lelah.
" Itu loh, Zayn dan yang lainnya!" kesal Melodi yang membuat tiga rekannya terkekeh.
" Oh.. Mas-mas Groomsmaid? Mas!!! di panggil Mbak Melodi!" Eveline yang paham-paham ayam kini berteriak keras dan membuat Melodi malu.
" Heh kok aku sih?" protes Melodi yang tak mengira jika Evelin akan berteriak.
" Ya, kata mbak Mel...."
Namun terlambat, yang di panggil rupanya sudah datang membawa penggawanya saat Melodi memarahi Tania yang bukannya pergi, namun malah berteriak dari sana.
Bodoh!
" Ada apa?" tanya Janu wajar mewakili tiga pria yang saling menatap ke arah wanita di depannya masing-masing.
Andrew langsung mengangguk ke Tania, Janu yang langsung notice kepada Eveline yang grusa- grusu ( tanpa perhitungan), serta Henry yang tertarik dengan rambut pirang Yuan.
" Ini anu Mas, Kak mbak Mel..." dalam sekejap, Evelin berusaha mencari kalimat informatif yang pas, sebab ia grogi manakala di tatap oleh Janu.
" Heh, kok aku sih?" sergah Melodi cekat yang membuat Evelin tak mampu meneruskan ucapannya. Membuat gadis itu nyengir.
" CK, ya udahlah cepetan!" tukas Melodi yang malah sebal karena malu cenderung gengsi.
Tania meringis bingung dan di sambut tawa kecil oleh Andrew, sementara Zayn langsung geleng-geleng kepala demi paham jika Evelin hanyalah korban kegengsian Melodi.
Sudah dandan cantik masih saja bar-bar.
Fotografer terlihat mengatur posisi pengantin beserta Bridesmaids dan Groomsmaid yang kini menjadi pusat perhatian para tamu.
" Mbak yang sebelah pengantin wanita." seru sang fotografer kepada Melodi. " Ya anda, agak senyum sedikit ya, yak mengahadap ke sini..."
" Mas yang paling tinggi!" memanggilnya Zayn, " Nah iya sedikit miring mas, oke mantap!"
Meraka semua tersenyum mengikuti arahan serta petunjuk dari crew wedding organizer. Foto yang jelas-jelas bakal menjadi saksi, betapa cinta itu akan terus ada di hari mereka.
" Satu, dua, tiga!"
"Cheerrs!"
-
-
Ternyata menikah itu sangat melelahkan. Seharian ini Claire dan Sada tak hentinya menyalami tamu yang begitu banyak. Bahkan mereka menerima kiriman hadiah dari Edwin yang tak bisa datang karena menangani kasus kesehatan.
__ADS_1
Membuktikan bila Edwin merupakan pria dewasa sesungguhnya. Untuk apa menyimpan dendam, jika hanya membutuhkan hati tak nyaman. Semua yang terjadi biarlah terjadi, matahari selalu terbenam tepat pada waktunya, begitu juga manusia, akan menemui bahagia dan sengsara tepat pada waktunya pula.
Percaya saja bahwa apa yang memang di takdirkan untuk kita, pasti akan terjadi dengan beribu cara. Begitu juga sebaliknya, apa yang memang tidak di takdirkan untuk kita, maka tak akan pernah kekurangan jalan untuk menghilang.
Papa Leo sudah dibawa oleh Mama Bella untuk berisitirahat di kamar hotel usai mereka melakukan sesi foto keluarga tadi. Hal itu terjadi karena sudah jadwalnya untuk meminum obat.
Acara yang memang hanya di selenggarakan sehari itu kini selesai sudah. Banyak sekali kado serta ucapan untuk kedua mempelai yang mereka terima.
" Neo mana?" tanya Claire kepada suaminya yang barusaja menutup pintu.
Ya, kini mereka ada di kamar pengantin yang telah khusus di persiapkan untuk Claire juga Sada.
" Masih di bawah main sama anak-anak tadi!" jawab Sada melepaskan tuxedo yang dia kenakan.
" Aku mau mandi dulu!" kata Claire yang sudah tak tahan sebab seharian penuh ini berjibaku dengan para tamu.
" Tunggu!" cegah Sada spontan.
Claire membulatkan matanya kala tubuhnya tiba-tiba di dekap dari belakang oleh suaminya. Oh my....
" Wira, aku mau mandi lengket ah!" seru Claire yang tak percaya diri dengan keadaan tubuhnya
" Biarkan sejenak seperti ini. Aku mau menghirup lebih lama istriku yang cantik ini!" balas Sada yang memejamkan matanya sembari memeluk tubuh proporsional sang istri.
Claire tersenyum. Gombal sekali pikirnya. Claire lantas menggeliat lalu merubah posisi dengan balik menatap suaminya.
" Sekarang bagaimana rasanya?" tanya Claire mendongak menatap suaminya.
" Lega, senang, bahagia dan yang pasti tak sabar..." bisik Sada sembari tersenyum cabul.
" Dasar!"
Sada tergelak manakala melihat reaksi Claire yang terlihat malu. Memangnya apalagi? Dia menikah untuk legalitas kan?
" Apa kau bahagia?" tanya Sada mengganti topik. Pria itu benar-benar masih belum percaya jika dia telah menjadi Rajandra satu. ( Call sign / kode untuk kepala keluarga sesuai namanya)
Claire mengangguk, " Aku sangat bahagia. Terimakasih untuk semua perjuangan." balas Claire dengan tatapan mendalam.
" Kamu juga. Terimakasih atas semua kesabaran."
Keduanya kini terdiam. Menatap keindahan satu sama lain dengan tatapan sendu. Tangan berotot itu kini meraba wajah mulus istrinya. Ia mengucap syukur tanpa henti. Dinikmatinya sebuah wajah ayu yang dulu hanya menjadi angan-angan nya dalam luapan kebahagiaan.
Sedetik kemudian, wajah Sada perlahan-lahan tertunduk meraup bibir merah merona istrinya. Claire tentu saja menyambut hal itu dengan senang hati. Sudah sah dan halal.
Decakan bahkan lenguhan spontan dari bibir Claire, kini terdengar memenuhi ruangan yang telah di hias indah itu.
Ciuman yang makin lama makin menuntut itu membuat tangan Sada spontan meremas paha sang istri. Membangkitkan gelora yang meluap-luap. Menggelegak sebab terluapkan oleh cinta yang membara. Membuat gelenyar aneh mengalir mengisi laju darah mereka.
Dan saat keduanya nyaris menanggalkan pakaian yang di kenakan, gedoran membabi-buta dari luar membuat mereka seketika tersadar.
BRAK! BRAK! BRAK!
" Ayah Ibu buka pintunya!"
__ADS_1
Sialnya, mereka lupa kalau mereka memiliki tuyul yang belum di amankan. Damned!