
...🥀🥀🥀...
Waktu rupanya berjalan cepat. Tak terasa satu bulan sudah Zayn resmi menjadi suami Melodi. Wanita itu selama satu bulan ini memang tengah berada di Atana bersama mama Zayn. Menjalani perannya sebagian istri sekaligus menantu.
Ternyata sangat menyenangkan. Apalagi, Mama Zayn yang tak begitu mahir memasak, membuatnya sedikit lega sebab tak perlu minder untuk urusan perdapuran.
Zara juga sudah berangkat untuk melanjutkan kuliahnya. Zayn meminta adiknya itu untuk benar-benar belajar guna mendalami bisnis demi kemajuan perusahaanmu mereka di masa mendatang.
Sadawira juga sudah kembali ke Atana dengan memboyong anak istri berserta dua assitennya dua hari pasca pernikahan Zayn sebulan lalu. Hal itu terjadi sebab sekolah Neo juga pekerjaannya, telah paten berada di negara itu.
Papa Leo dan Mama Bella tak mempermasalahkan soal anaknya yang kini tinggal sementara di Atana. Ia memang sudah siap akan hal itu sejak. Sebab sebanyak apapun anak yang dimiliki, tetap pasangan kita lah yang bakal menjadi teman di hari tua.
Lagipula, Melodi masih bisa mengontrol perusahaannya lewat bantuan asistennya yang baru. Bagi papa Leo, perginya seorang anak mengikuti suaminya sudah merupakan siklus pasti.
Sebab sejatinya, sebagai orang tua yang baik memang sudah seharusnya lah menjadi fasilitator, guna membekali anak-anak kita menjalani kehidupan, sampai mereka memasuki kehidupan yang sebenarnya.
Dan kehidupan yang sebenarnya adalah, saat dimana mereka telah berganti peran menjadi seorang istri, atau suami. Memecah peruntungannya sendiri dalam berlayar mengarungi lautan rumah tangga yang kadangkala mendatangkan badai.
Papa David pun juga sama. Usai anak-anaknya membangun rumah tangga dengan baik, mereka juga tinggal berdua dengan beberapa assiten rumahtangganya. Menghabiskannya masa tua hanya berdua.
Sibuk melakukan apapun yang berhubungan dengan lingkungan. Sesekali cucu-cucu mereka datang menginap dan menambah rasa bahagia di hati mereka.
Sada siang ini baru menyelesaikan rapat manakala puluhan panggilan tak terjawab dari Nino terlihat menghiasi layar ponselnya.
" Nino, ada apa dia meneleponku?" bergumam heran.
Ia langsung menelpon balik asisten setianya itu dengan wajah penasaran. Ada gerangan apa yang membuat Nino sampai menelponnya puluhan kali.
" Halo No, ada apa?" tanyanya dengan nada cemas.
" Ibuk Pak, ibuk kontraksi. Saya sama Neo sama Juwi sedang perjalanan rumah sakit!"
" Apa?"
Maka secepat kilat Sada langsung menyambar kunci mobil dan membuat Janu yang berniat meminta tanda tangan malah menjadi terlolong di muka pintu.
" Pak saya..."
" Hold dulu Jan. Istri saya mau melahirkan!" sahut Sada terdengar terburu-buru.
Maka Janu seketika membelalakkan matanya. Pantas saja bosnya sangat panik seperti itu.
Mama Bella yang mendapat kabar jika cucu keduanya akan segera lahir, seketika menuju airport untuk bertolak menuju Atana saat itu juga.
Melodi yang kebetulan masih ada di Atana, langsung meluncur bersama Zayn. Nampak sangat bahagia sekaligus mencemaskan keadaan Claire.
Sementara itu di lain pihak, Claire yang merasa perutnya sakit luar biasa hanya bisa menarik dan mengeluarkan napas mengingat petunjuk dan saran kelas senam hamilnya beberapa waktu lalu.
" Di tunggu sebentar ya Bu. Apakah suaminya ada?" tanya seorang dokter yang kini menangani Claire di ruang persalinan.
" Suami saya sedang dalam perjalanan dok!" balas Claire meringis menahan sakit.
"Baik. Saya cek dulu ya Bu, permisi!"
Claire meringis ngilu manakala bagian bawahnya seperti di masuki sesuatu. Ia sejenak merasa Dejavu dan teringat saat-saat mendebarkan manakala ia akan melahirkan Neo tanpa seorang suami di sisi.
Sada yang terlihat terburu-buru berusaha menghubungi adik iparnya.
" Halo Mel, kau dimana?" ucapnya begitu teleponnya telah tersambung.
" Aku dan Zayn sedang di jalan. Kau dimana?"
" Apa kau sudah tahu kabar jika Claire akan melahirkan?"
" Sudah. Juwi barusaja menelponku!"
" Jika kau datang lebih dulu, tolong temani Claire. Aku sedang terjebak macet!
" Hah, dimana?"
"Di depan Mall. Sepertinya ada laka lantas!"
Sada benar-benar tak mau jika ia sampai melewatkan detik-detik istrinya melahirkan sang anak. Tapi paling tidak jika sampai ia tak mengejar waktu, minimal istrinya tak sendiri seperti dulu.
Ia juga kurang tau berapa lama durasi seseorang akan melahirkan. Zayn melihat antrian kendaraan yang mengular sangat panjang. Antrian yang seolah memupus harapan untuk bisa menemani Claire.
Di depan nun jauh sana, ia bahkan melihat sebuah container besar sedang terguling. Itu pasti mereka sumber masalahnya. Jelas evakuasinya akan memakan waktu yang sangat lama. Ia terjebak. Maju tak bisa mundur apalagi.
Namun saat jalan seolah buntu, seorang pemotor tiba-tiba mengetuk kaca mobilnya dari arah samping.
TOK TOK!
Sada menoleh. Namun akhirnya tersenyum senang saat pria itu melepas helm teropongnya.
" Dollar?" seru Sada terlihat tak percaya dengan apa yang dia lihat.
" Mau kemana bos?" tanya Dollar.
" Dollar, aku butuh kendaraan cepat. Istriku akan melahirkan dan aku..."
What?
Maka Dollar langsung turun dari motornya.
"Bawa ini saja bos!" seru Dollar dengan sangat serius.
__ADS_1
Sada mendadak terlolong saat Dollar malah menyerahkan kunci motor sport hitam kepadanya.
" Apa tidak masalah?" tanya Sada mengklarifikasi.
" Masalah jika bos tidak cepat berangkat dan menemui Bu Claire. Common bos! Waktu tak akan pernah mau menunggu kita!"
Sada tersenyum. Benarkah jika Dollar merupakan manifestasi nyata dari dewa penolong? Dasar anak itu. Sudah kaya masih saja memanggilnya dengan sebutan bos.
Sada lantas menyerahkan kunci mobilnya kepada Dollar. Ia sendiri tak tahu apa yang dilakukan Dollar di jalanan dengan motor sport hitam itu.
Tapi yang jelas, ia berhutang budi kepada Dollar.
Sada langsung mencari celah dan akhirnya berhasil kabur meski melawan arah. Ia melajukan motornya mencari jalur alternatif yang ia rasa dapat membawanya menuju rumah sakit dengan cepat.
Sada terus melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Bayangan wajah Claire yang meringis karena kram saja sudah membuatnya risau. Ia tak akan membiarkan istrinya melalui kesulitan ini seorang diri.
Ia memecah jalanan. Benar-benar tampil Badas. Seorang pria yang masih mengenakan jas lengkap dengan dasi yang sama utuhnya, menyusuri jalan dengan helm teropong.
Ia tiba di rumah sakit saat sebuah mobil yang ia kenali turut membelokkan kendaraannya ke halaman rumah sakit besar itu.
" Sada!" teriak Zayn dari dalam mobil yang mengenali penampilan Sadawira.
" Oh my God, are you crazy?" seru Zayn yang tak habis pikir dengan kenekatan Sada yang memilih memakai motor menuju ke rumah sakit.
" Milik Dollar. Aku akan berterimakasih kepadanya untuk hal satu ini. Bocah nakal yang berguna!" balas Sada tersenyum penuh arti kepada Zayn dan Melodi.
Zayn terkekeh saat sahabatnya yang kini menjadi kakak iparnya itu melesat pergi dengan buru-buru. Membuat Melodi geleng-geleng.
" Bucin banget dia sama Claire!" kata Melodi.
" Sebucin kamu ke akyuu!" timpal Zayn.
Membuat Melodi menghela napas.
Di dalam ruangan, Zayn yang sudah diberitahu oleh Nino bila mereka berada di ruangan apa, terlihat menyongsong anak sulungnya, Neo yang di gendong oleh Nino.
" Ayah!" seru sang anak manakala melihat sosok Ayahnya berlari menyusuri koridor.
Kedua manusia tegang itu langsung menoleh ke arah belakang begitu Neo menjerit memanggil. Juwi dan Nino lega sebab majikannya sudah datang.
" Sayang!" sapa Sada kepada anaknya yang wajahnya turut muram.
" Ayah, Ibu tadi kesakitan. Ayah tolong ibu di dalam, Neo tidak boleh masuk saya Ibu dokter tadi!" adu Neo dengan wajah muram.
" Kamu masuk saja Zayn. Neo biar kami yang jaga!" saruan dari ujung lorong membuat Sada lega. Zayn dan Melodi akhirnya menyusul juga.
" Sama aunty sama uncle dulu ya?" kata Sada mengisap lembut pipi anaknya.
Neo mengangguk menurut. Baginya, ia hanya ingin Ibunya baik-baik saja.
" Mohon di pakai dulu Pak!"
Selepas mengenakkan pakaian khusus, pria itu lantas masuk dan melihat sang istri terkulai lemah diatas ranjang rumah sakit yang membuat hatinya langsung bergetar.
" Sayang!" katanya sembari setengah berlari.
" Mas!" balas Claire yang sangat bahagia manakala melihat suaminya sudah tiba.
Sada menciumi kening istrinya yang terus basah karena keringat penuh rasa khawatir. Bahkan gempuran AC sama sekali tak membantu.
" Maaf karena aku terlambat!" bisiknya lirih.
Claire menggeleng. Tak menyetujui ucapan sang suami.
" Kata dokter masih buka enam!"
" Buka enam?" balas Sada mengernyit keheranan.
Claire mengangguk, " Ini mulesnya bertambah. Mungkin pembukaan nya juga bertambah!"
" Jika kau kesakitan kita bisa operasi saja!" ucapnya yang semakin terlihat begitu khawatir.
Claire menggeleng menolak. " Karena sakit inilah, seorang ibu menjadi keramat bagi anak-anaknya. Biarkan aku menyempurnakan kodrat ku mas!"
Deg!
Hati siapa yang tak merasa sedih dan haru manakala mendengar ucapan seperti itu. Pria itu seketika menciumi wajah sang istri penuh cinta. Penuh kasih. Tak bisa berkata-kata lagi sebab perjuangan seorang yang akan melahirkan itu ternyata begitu luar biasa.
Sada membantu mengelus perut istrinya. Berharap sentuhan yang diberikan bisa memberi sedikit kenyamanan.
" Selamat siang. Wah suaminya sudah datang ya?" seorang dokter perempuan datang menyapa.
" Pasti tidak grogi ya Pak? Ibunya ini sepertinya di kelahirannya dulu tak sampai di jahit. Pembukaannya sepertinya normal. Ini bagus!"
" Tidak grogi apapun dok. Lutut saya bahkan sudah lemas ini!"
Sesungguhnya, setiap ada orang yang membicarakan perihal kelahiran anak pertama mereka, Sada selalu merasa seperti di kuliti. Semacam di ingatkan kembali dengan kesalahannya dulu.
" Kita cek lagi ya Bu?"
Sada mendelik manakala melihat kedua kaki istrinya di angkat, dan melihat tangan dokter itu di masukkan ke jalan lahir.
Oh my..
" Dok!" Sada reflek memekik. Sebab merasa ngeri tatkala melihat anu istrinya di uwek- uwek.
__ADS_1
" Ya?" balas sang dokter terlihat tenang. Macam tak terganggu dengan raut wajah shock milik Sada.
" Kenapa itunya..."
Dokter itu tersenyum mengerti. " Kenapa Pak?"
" Itu...." Sada tak enak jika harus mengucapkan. Ah bagiamana sih ini?
" Ini kan salah metode untuk mengecek apakah sudah bertambah atau belum proses pembukaannya jalan lahirnya Pak!"
What?
Sada benar-benar tak tahu jika proses melahirkan akan se ekstrem ini. Ia kini menyesal lantaran menolak video tutorial melahirkan yang beberapa waktu yang lalu di kirim oleh anak buahnya. Membuatnya terlihat amatir dan bodoh.
Beberapa saat kemudian, Claire merasa sangat mulas. Mulas sekali. Sada yang panik sampai kebingungan dan akhirnya memanggil dokter.
" Dokter, istri saya kesakitan dok. Apa tidak ada cara lain biar tidak sakit?" tanyanya dengan wajah yang sudah memucat. Mungkin saking bingungnya.
Dokter itu tersenyum. Bagaimana bisa seorang pria beranak satu dan akan menjadi dua, terlihat panik seperti orang yang baru melahirkan pertama kali saja.
" Sakitnya akan hilang jika bayinya sudah keluar Pak!"
Namun suara dari Claire membuat obrolan keduanya terinterupsi.
" Dokter, saya berasa mau..."
Dokter dan dua orang perawat yang sudah bersiap terlihat menuju kepada Claire yang sudah meringis tak kuat.
Sada terlihat semakin panik. Perutnya turut mulas dan lututnya bagai kehilangan kekuatan untuk menopang tubuh. Ia terkejut begitu penutup kaki Claire di buka, dan kedua kakinya di rentangkan sehingga jelaslah sebiji kepala yang mulai terlihat di jalan lahir istrinya.
Dada Sada bergetar hebat. Jakunnya naik turun. Ia yang biasanya tenang dan penuh pesona kini menjadi seseorang yang rapuh dengan kegugupan yang sulit di redam.
" Tolong pegangi di belakang ya Pak. Yap begitu!"
Sada benar-benar hanya bisa menurut dan menurut sembari berharap jika semuanya akan baik-baik saja.
" Merapat lagi Pak. Bantu dorong ya!"
" Dokter, saya sudah tidak tahan!" kata Claire yang merasa sesuatu di bawah sana mengajaknya untuk mengejan.
" Sebentar lagi Bu. Sebentar ya!" balas dokter itu yang masih menyiapkan beberapa alat tambahan.
" Yok kita hitung ya, satu, dua, tiga...."
Claire mengejan dengan di bantu Sada yang turut membantunya dari belakang. Namun belum optimal. Biji kepala berambut basah tenggelam kembali.
" Baik, sekali lagi ya. Ini sudah mulai terlihat!"
" Coba lebih kuat ya Bu, satu...dua..."
Claire memejamkan matanya seraya mengejan dengan segenap tenaga dan keyakinannya. Ia mengerahkan segenap energi bersamaan pula dengan Sada yang langsung mengangkat kedua kakinya seraya mendorong.
Hingga sejurus kemudian.
Brul!
" Oek!"
Terdengarlah tangis bayi yang keras dan seketika memecah keharuan.
Tubuh Sada mendadak mematung. Tertegun menatap sesosok mungil berwarna merah yang tampak begitu rapuh. Menangis dengan keadaan tali pusat gabgy masih di tangani oleh dua orang perawat yang suda bersiaga.
" Selamat Pak, Bu. Anaknya perempuan!"
Tepat sesuai dengan prediksi. Mereka berdua akhirnya saling menatap dan merasa lega manakala apa yang di tunggu-tunggu telah lahir ke dunia dengan selamat.
-
-
Beberapa saat kemudian, Claire yang sudah di bersihkan oleh perawat, terlihat di pindahkan di ruangan perawatan biasa kelas terbaik.
Sadawira juga meminta Nino untuk membelikannya baju ganti agar memudahkan dirinya dalam merawat sang istri.
" Habiskan ya?" kata Sada yang kini sedang menyuapi istrinya.
Claire menggeleng, " Udah kenyang!"
Sementara Zayn barusaja menelpon dan mengabari jika mereka akan menjemput Papa Leo dan Mama Bella di bandara.
Sada akhirnya meletakkan makanan itu ke nakas. Berusaha melakukan apapun demi bisa mengcover kebutuhan sang isteri.
" Aku benar-benar gak kuat waktu lihat kamu tadi semenderita itu sayang!"bisiknya lirih sembari membelai rambut Claire.
Claire menatap dalam mata suaminya yang tak bohong kala mengatakan hal itu. Dapat ia lihat keresahan, kecemasan, dan ketakutan yang begitu kentara.
" Itu artinya sekarang kamu udah tahu dan paham, bahwa menjadi wanita ya seperti itulah perjuangannya. Maka jangan sekali-kali mas menyakiti hari perempuan, siapapun itu!"
Sebulir air mata tiba-tiba meluncur membasahi pipi Sada tatkala mendengar ucapan sang istri. Pria itu benar-benar merasakan kesesakan dalam dadanya akibat gelora cinta yang teramat. Ia begitu mencintai Claire.
" Aku tak akan pernah melupakan hari ini sayang. Terimakasih sudah membuat hidupku sebagai laki-laki menjadi sempurna. Maafkanlah aku yang dulu membiarkanmu sendiri!"
Claire turut merasakan keharuan yang sama. Kata orang, air mata pria itu sangat mahal. Mereka berciuman. Berharap semua kebahagiaan ini akan kekal hingga keduanya kembali ke haribaan nanti.
...~My heart break stop at you~...
__ADS_1
...TAMAT...