My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 26. Sebenarnya cinta


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Dan tentu saja pertanyaan menohok itu kini bersambut dengan rasa hati yang mendadak nyeri. Masih belum hilang dari ingatannya, saat-saat ia masih bersama dengan Wira dalam menjalani hari yang penuh warna.


Bahkan hingga di detik inipun, desiran aneh itu masih ada bersembunyi di balik ruang kosong dalam hatinya. Menyeretnya dalam ketidakberdayaan sebab ini jelas akan sulit.


" Apa karena malam itu, kau...."


"Percaya diri sekali kau!" sela Claire dengan cepat. Membuat pertanyaan Sada menguap.


"Apa hanya karena kita pernah bercumbu satu malam lalu kau pikir akan semudah itu aku hamil?" timpal Claire dengan kemarahan yang tiba-tiba membludak.


Dia takut.


Dia tak berdaya.


Takut kalau-kalau apa yang di katakan oleh keluarganya beberapa waktu lalu terjadi.


" Bagaimana jika dia akan mengambil Neo?"


Keluarganya jelas akan sangat marah apabila mengetahui hal ini. Dan bertemu dengan Wira dalam ketidaksiapan, jelas makin mempersulit keadaannya saat ini.


" Tapi...dia.."


" Memangnya apa yang kau pikirkan? Aku hamil anakmu setelah semua yang kau lakukan kepada keluargaku begitu?" Claire tersenyum kecut menatap Sadawira yang kini bagai di kuliti.


"Bahkan jika aku hamil, kupastikan tak akan kubiarkan anak itu hidup!"


" Claire!" teriak Sadawira yang jelas terkejut dengan kalimat yang barusaja ia dengar. Are you crazy?


" Apa?"


" Antara kau dan aku, hanya tak lebih dari sepasang manusia keliru yang bertemu!"


Maka Sadawira menjadi tertegun dengan jawab sinis yang dilontarkan oleh Claire. Dapat ia lihat secara langsung, betapa pancaran sorot mata yang masih penuh bara kebencian itu, terang berkobar membakar segenap harapannya.


Membuatnya hanyut dalam kegetiran yang teramat dalam.


" Aku tidak percaya kau mengatakan hal ini!" lirihnya dengan wajah putus asa.


" Sebaiknya kau percaya!"


" Dengar Claire, aku ingin kau mende..."


" Stop mengatakan apapun. Antara kita sudah selesai dan hanya menjadi masalalu!"


" Pergilah dan jauhi Neo!"


" Minggir!" ketus Claire sembari merebut paksa kunci yang semula di genggaman oleh Sadawira usai meluapkan beberapa amarah yang bersarang di dadanya.


Meski, tak semua apa yang ia ucapkan itu berasal dari hati. Ia terpaksa melakukan hal itu karena selain tak ingin membuat keluarganya akan memburu Sadawira kembali, ia juga takut dengan kedua orangtuanya.


Very complicated!


BRAK!


Pintu yang di banting dengan keras itu jelas menegaskan jika wanita itu benar-benar membencinya. Sangat membencinya.


Dan saat Claire telah berada di luar, sayup-sayup ia mendengar suara Neo menyambut.

__ADS_1


" Ibu, kenapa Ibu di sana?"


Damned!


Rupanya Neo masih berkeliling mencari sosok Ibunya. Apakah anak itu mendengar perdebatan mereka?


" Ibu mencari sesuatu tadi. Ada apa nak?"


Bisa ia tangkap gelombang suara yang terdengar risau. Pun dengan dirinya saat ini.


" Ibu, perutku sakit mau poop!"


Dan dari dalam ruangan yang sepertinya adalah tempat penyimpanan bahan makanan itu, Sada masih bisa mendengar samar- samar suara Neo yang sepertinya ingin ke kamar mandi.


Ia kini menyenderkan kepalanya ke dinding dengan agak keras. Wajahnya nampak stress dan frustasi dengan apa yang kini terjadi. Tak mengira jika keceriaannya karena mendapat undangan dari anak luar biasa itu, berubah menjadi sesuatu hal yang mengejutkan dirinya.


Apalagi, jawaban bernada tak ramah dari Claire jelas menegaskan bila wanita itu seperti telah menutup rapat-rapat pintu yang dulu sempat terbuka lebar untuknya.


Andai waktu dapat terulang kembali, ingin rasanya ia menghapus bagian buruk yang memicu kesalahpahaman ini.


"Percaya diri sekali kau. Apa hanya karena kita pernah bercumbu satu malam lalu kau pikir akan semudah itu aku hamil?"


"Bahkan jika aku hamil, kupastikan tak akan kubiarkan anak itu hidup!"


Dan kalimat yang beberapa detik yang lalu keluar dari mulut Claire, seketika membuat kepalanya berdenyut.


Sebenci itukah dia kepadanya?


Apakah tali rasa yang sempat mereka rajut bersama sama sekali tak meninggalkan bekas atau kenangan?


Apa begini rasanya mencintai seseorang dengan perasaan yang begitu mendalam?


" Keep calm Sada! Keep Calm!" mensugesti diri sembari berulang kali menarik napas agar dirinya bersabar untuk menyusun strategi kembali demi memecahkan misteri ini.


Meski apa yang di ucapkan Claire telah mematahkan hatinya, tapi tidak tahu kenapa rasa ingin tahunya terhadap siapa Neo sebenarnya menjadi semakin besar.


-


-


" Dada! Terimakasih yang paman hadiahnya!"


" Sampai jumpa lagi bibi!"


Diva melambaikan tangan ke arah Neo yang menyampaikan salam perpisahannya, seraya berdiri di depan Claire juga Edwin.


" Sampai jumpa, terimakasih banyak ya!" balas Diva sopan.


Claire membuang wajahnya saat tahu bila Sadawira kini membidiknya dengan tatapan penuh atensi. Membuat Edwin sedikit curiga sebab sikap Claire usai berganti baju tadi terlihat aneh.


" Ibu, aku masuk dulu ya, mau membuka hadiah dari paman!" seru Neo yang kini kegirangan dan nampak tak sabar.


Claire mengangguk sambil tersenyum seperti biasa, " Sikat gigi dulu sama mbak Juwi, terus ganti bajunya!"


Bocah itu mengangguk lalu seketika melesat menuju kamarnya guna mencari pengasuhnya itu.


" Mbak Juwi, brush my teeth!"


Dan di saat ia hendak berbalik guna kembali masuk, tangannya tiba-tiba di tangkap oleh Edwin yang sedari tadi menyimpan pertanyaan dalam hatinya.

__ADS_1


" Ada masalah?" tanya Edwin manakala kini mereka telah berdua. Membuat Claire menelan ludah karena terkejut.


" Apa Edwin curiga?"


Namun ia buru-buru merubah mimik muka.


" Masalah? Masalah apa?" tanya Claire membalik pertanyaan demi tahu jika Edwin mungkin mulai curiga dengan gelagatnya.


" Kau terlihat tak nyaman. Apa karena..."


Claire buru-buru mengusap lengan Edwin sembari tersenyum, seolah menyiratkan bila tak ada sesuatu yang perlu di khawatirkan.


" Aku malu karena menjamu tamu dengan kurang sempurna. Nampan jatuh, baju ketumpahan air, hah..." menghela napas. " Terlihat kacau!"


Ya, untung saja sederet kecerobohan itu bisa dijadikan alasan untuk menyelamatkan dirinya dari Edwin. Jelas ia tak ingin memberitahu siapa Sadawira sebenarnya kepada pria pria itu untuk saat ini.


Membuat Edwin tersenyum lega," Hanya kesalahan kecil. Doesn't matter. Emmm... ngomong-ngomong, makasih ya aku udah kamu undang. Aku merasa...senang karena..."


" Oh ayolah, kita ini bukan orang lain Win. Udah ayo kita masuk!"


Edwin menjadi senang karena malam ini tidak tahu kenapa Claire memberikan sikap yang lebih hangat. Apakah ini satu sinyal penerimaan yang sengaja di tunjukkan kepadanya?


-


-


Namun di lain pihak, sepeninggalnya mereka berdua dari kediaman Neo, hati juga pikiran Sada mendadak tidak tenang. Muka itu terlihat sangat tegang cenderung kesal. Keruh dan tak memiliki rona cerah. Membuat Diva yang duduk di sebelah terheran-heran.


" Da, what's wrong? Kenapa kamu dari tad..."


Dan saat ia menyadari jika sikapnya mungkin sudah mengundang kecurigaan dari orang lain, Sadawira akhirnya merubah ekspresi muka dengan cepat.


Tak ingin membeberkan masalah ini ke permukaan. Belum saatnya. Apalagi dengan Diva. Never ever!


" Hah sory, gak biasa makan sebanyak itu, perutku tiba-tiba jadi tidak enak!" menjawab bohong. Padahal Diva tahu jumlah makanan yang tadi di santap oleh Sadawira.


Jangankan menikmati, bahkan air yang ia minum tadi saja terasa sangat pahit sepahit kenyataan yang ia terima. Tentang sikap Claire yang benar-benar membenci. Jelas itu salahnya.


" Makan segitu kamu bilang banyak!" menggeleng tak percaya. " Oh ya ngomong-ngomong, ternyata pria tadi merupakan calon suaminya ibunya Neo loh!"


CIT!


DUG


" Awhhh, Da! Kenapa tiba-tiba ngerem mendadak sih?" kesal Diva yang kini harus kesakitan sebab dadanya menabrak dashboard mobil itu.


Menjadikan Sada yang kehilangan kontrol demi mendengar ucapan Diva, kini menginjak remnya sebab kaget.


Double damned! memaki dalam hati.


" Ca- calon suami?" ulasnya tergagap-gagap dan tak mempedulikan Diva yang kini meringkuk kesakitan.


" Iya, tapi kamu biasa aja dong. Kenapa pakai menginjak rem segala sih, sakit tahu!" gerutu Diva yang tak habis pikir kenapa Sadawira bertingkah aneh sekali.


Namun bukannya meminta maaf karena bertindak bodoh, Sadawira kini malah menjalankan mobilnya dengan pikiran yang semakin gelap. Tidak, ini tidak boleh terjadi.


Dalam sekejap, ia merasa PR nya begitu banyak, menumpuk dan membebani. Apalagi, dengan di tambah mendengar jika pria tadi merupakan calon suami Claire, jelas membuat Sadawira semakin murka.


" Are you kidding me?"

__ADS_1


__ADS_2