
...🥀🥀🥀...
Nino yang barusaja meniriskan beberapa piring yang telah ia cuci, terkejut saat mendengar dentang bel. Ini masih agak siang dan tak mungkin bosnya pulang.
TING TONG
" Sebentar!" teriaknya yang buru-buru menyambar lap di depannya demi raungan bel yang entah sudah berapa kali di pencet itu.
TING TONG
" Haduh siapa sih tidak sabaran sekali!" gerutu Nino dengan wajah bersungut-sungut.
Dan saat Nino membuka pintu rumah Sada, terkejutlah dia manakala mendapati seorang wanita cantik yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Membuat Nino spontan memindai tampilan wanita itu dari atas hingga ke bawah.
" Maaf, cari siapa?" tanya Nino sopan.
" Sada ada?"
" Bos belum pulang mbak!"
Namun wanita itu malah mengerutkan keningnya.
" Tadi kata pegawainya sudah pulang. Apa masih di jalan? Kalau begitu aku akan menunggunya saja!"
Maka Nino seketika terlolong demi melihat Diva yang tiba-tiba ngeloyor masuk seolah itu adalah rumahannya. Kurang ajar!
" Eh, maaf nona...tapi..."
" Aku teman dekat sekaligus relasi bisnis Sadawira. Kau saja yang tidak tahu, aku akan menunggunya disini. Oh ya, kalau mau buatkan aku minum, buatkan saja yang dingin ya. Terus gulanya sedikit saja!" berkata tak peduli sambil meraih majalah bisnis yang ada di bawah kolong meja.
" Apa? Seenaknya saja dia. Menang siapa yang mau buatkan minum?"
" Oh ya satu lagi, tidak usah memberitahu Sadawira jika aku sudah datang. Aku bakal menunggu kok!"
__ADS_1
Nino kembali ke dapur dengan hati dongkol. Baru kali ini ia menerima tamu yang cukup tak tau diri seperti wanita itu. Menyebalkan!
Ia tahu bosnya adalah orang penting yang terkadang memang dekat dengan sejumlah pesohor bisnis di negara itu, tapi baru kali ini ini dia mendapat perlakuan sok dari wanita hedon.
Diva tak tahu bila Sadawira telah meminta Juna untuk berbohong soal kepulangannya. Ia bukan tak suka dengan Diva, namun Sadawira memang lebih mengurangi hubungan dengan para wanita lantaran hatinya telah mati.
Namun saat Sadawira pulang di jam petang itu, terkejutlah dia tatkala melihat Diva yang duduk manis di sofa ruang tamunya. Membuatnya kini harus menatap bingung ke arah Nino sebab ingin meminta penjelasan.
" Dari mana saja. Kok baru pulang? Aku tadi ke kantor kamu tapi kata staff kamu, kamu udah pergi!" kata Diva sembari melipat majalah yang kesekian kalinya.
Membuat Sadawira celingukan sebab tak tahu harus menjawab apa.
" Oh, maaf. Tadi ada pertemuan sebentar sama relasi lain. Duduk dulu Div, aku akan mandi sebentar!"
Diva mengangguk seraya tersenyum. Merasa jika penantiannya tidak sia-sia.
Pria itu lantas bergegas masuk kedalam.
" Siapa sih itu bos? Orangnya tidak sopan banget?" tanya Nino tiba-tiba yang rupanya membuntuti Sadawira.
" Udah dua kali malah!" menjawab dengan manyun dan wajah melengos malas.
Membuat Sadawira menghentikan langkahnya.
" Jadi dia sejak sore tadi?" tanya Sadawira terkejut.
Nino mengangguk.
" Oh astaga, jadi dia langsung kesini setelah mendengar informasi dari Janu tadi?"
" Cantik sih bos. Tapi menyebalkan!" kata Nino sejurus kemudian dengan wajah mencibir.
" CK, yang benar saja kamu. Udah sana pergi!" kesal Sadawira yang mengira Nino pasti telah salah paham kepadanya.
Beberapa saat kemudian, Sadawira yang kini sudah lebih segar usai membersihkan dirinya kembali ke ruang tamu untuk menemui Diva.
__ADS_1
" Sory buat kamu nunggu. Jadi ..ada apa Div?" tukas Sadawira yang pura-pura tidak mengetahuinya jika Diva mencarinya.
" Kamu jangan kaku gitu dong Da. Mengenai bisnis kita, beberapa hari lagi akan ada orang dari Eropa yang bakal datang ke pabrik kamu!"
" Kenapa kamu gak hubungi aku by phone aja?" jawab Sadawira dengan intonasi normal dan wajar.
" Ya, gak mungkin dong aku merayakan keberhasilan hanya lewat handphone aja!" balas Diva yang kini menyentuh paha Sadawira dengan tatapan penuh arti.
Sadawira menatap tangan lentik Diva yang kini bertengger diatas pahanya. Membuat pria itu tahu maksud wanita di depannya.
"Emmm!" ia bergumam sambil memindahkan tangan Diva yang cukup kurang ajar itu.
" Apa mereka akan membawa tim?" kata Sadawira yang memilih untuk mengganti topik pembicaraan dan mengabaikan wajah kesal Diva yang tangannya kini di pindah.
Membuat Diva langsung terlihat sebal.
" Mungkin iya!" menjawab dengan alis yang menyatu. Menandakan jika wanita itu sangat kesal.
Nino yang mengintip interaksi keduanya menjadi gemas sendiri. Wanita itu sungguh tidak tahu malu sebab terang-terangan menggoda bosnya.
" Hih, kok ada orang seperti itu ya?" gumam Nino yang tak suka dengan sikap dan sifat Diva saat dia mengintip.
" Maaf!" jawab Sadawira yang melihat kekesalan di mata Diva.
" Aku udah bantu kamu sejauh ini. Tapi kenapa kamu masih saja dingin ke aku?"
Sadawira melolong tak paham dengan apa yang di ucapkan oleh Diva.
" Sory Div, tapi...."
Diva tertawa sumbang, menatap Sadawira sedikit kecewa.
" Mustinya kau paham dengan apa yang kau maksud!"
Maka Sadawira kini paham jika wanita di depannya jelas ingin mengajaknya untuk menghabiskan malam bersama.
__ADS_1
No way!