My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 60. Mengupas kenyataan selapis demi selapis


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Melodi yang panik buru-buru menatap keponakannya yang mempertontonkan tatapan kesal.


" Sekarang ceritakan kepada Aunty, kenapa kamu bisa kenal Paman Donatur?" desak Melodi yang tak habis pikir.


Meski awalnya Neo melolong karena gamam, namun sejurus kemudian bocah itu membuka mulutnya untuk bersuara.


" Aku tidak sengaja bertemu Paman waktu hari Ayah di sekolah baru. Waktu itu Ibu tidak datang karena kemari. Aku ingin punya Ayah seperti teman-teman. Kau tau Aunty, Paman tampan sangat baik. Dia menggandeng tanganku saat kami maju ke pentas. Dia juga pernah kami undang makan malam di rumah!" terang Neo yang wajahnya kini berubah menjadi berseri-seri.


" Makan malam?" pekik Melodi semakin tak percaya. Sejauh itukah mereka?


Ini sungguh gila. Jadi selama ini Claire sering bertemu dengan pria itu? Benar-benar sialan! Apakah Claire bermaksud menipunya juga orangtuanya?


Neo mengangguk, tak menyadari bila manusia di depannya itu sedang kesal habis-habisan.


" Apa bisa ya Aunty aku memiliki Ayah seperti Paman, hihihi. Kata Paman, wajahku sangat mirip dengannya, kata Bu guru juga begitu!"


Melodi menelan ludah. Entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak dalam waktu tiba-tiba. Belum pernah dia begini. Apa karena Claire telah bermain bermain api di belakang Papa mereka?


-


-


Diluar kamar, Claire yang sedari tadi bergabung bersama para orang tua di ruang keluarga terlihat menunduk canggung manakala Mama Siska berbicara dengan keluarganya.


Mungkin wajah Mama Siska sudah terlihat ramah. Tapi entah mengapa Claire malah resah tanpa sebab. Seharusnya ia turut berlega hati dong, mengingat kini tembok dingin yang pernah terbangun telah runtuh.


" Kami mengucapkan banyak terimakasih karena Mama Edwin akhirnya mau mengerti keadaan kami, dimana waktu itu kami akhirnya mempertunangkan mereka pada keadaan yang mendesak. Sungguh, kami tidak bermaksud mendahului, tapi kelegaan hati Papa yang kami kejar waktu itu. Kami berniat akan kesana untuk membicarakan hal ini. Tapi tidak tahunya, kehendak Tuhan berkata lain!"


Mama Edwin yang namanya di sebut terlihat menghela napas. Ia kini turut merasa sedih sebab mendengar cerita yang keluar langsung dari mulut Papa Leo. Tak mengira jika kisah Claire se complicated itu.


" Awalnya saya juga ragu karena...." Mama Siska tak mampu meneruskan ucapannya. Ia malah tersenyum membunuh kecanggungan, sembari sejurus kemudian meraih tangan Claire yang sedari tadi merunduk lalu meneruskan ucapannya.


" Kita lupakan yang lalu. Buat saya terpenting adalah kebahagiaan Edwin. Dan saya berharap, kalian jangan menyakiti satu sama lain!" seru Mama Siska mengusap lembut tangan Claire.


Ia tak mau meneruskan egoisme yang semula keukeuh ia pertahankan demi kebahagiaan putranya.


" Hanya Edwin yang saya punya. Jika dia bahagia, saya tentu ikut bahagia. Dan berlaku untuk sebaliknya." tutur Mama Siska tersenyum. Membuat Claire semakin merasa bersalah.


Semua orang kini menjadi lega kecuali Claire. Perkataan Mama Siska jelas bisa saja menjadi Boomerang untuknya. Bahkan belum apa-apa, ia sudah merasa telah berkhianat kepada Edwin karena ia telah menemui Sada sebanyak dua kali meski itu bukanlah maunya.


" Bagiamana ini ya Tuhan?" Claire membatin dengan perasaan gamang.


Obrolan selanjutnya terasa begitu nyaman. Bahkan antara Mama Bella dan Mama Siska terlihat sangat nyambung. Mungkin karena keduanya memiliki usia yang sepadan.


Atau, karena mereka berdua memiliki background yang sama-sama berasal dari dunia kesehatan? Mungkin saja.

__ADS_1


Sebenarnya Mama Jessika menawarkan calon besan adiknya itu untuk menginap di sana, namun Mama Siska menolak menginap dan memilih tinggal di sebuah hotel dengan alasan yang sopan.


Ya sudah, mungkin beliau juga ingin privasi bersama Edwin.


Beberapa waktu kemudian Claire terlihat pamit ke kamar usai berpamitan kepada Edwin. Namun lagi dan lagi, ia menolak saat Edwin hendak mencium bibirnya. Hal itu selalu reflek ia lakukan. Meski setelahnya ia selalu menyesal karena tak enak hati, namun itulah kenyataannya.


Claire masih canggung dengan Edwin.


"Tidak apa. Aku akan menunggu. Istirahatlah. See you!"


Ia tersenyum menatap Edwin yang kini berlalu. Oh ya ampun. Sampai kapan ia harus seperti ini?


Pintu Neo ia buka. Jam sudah menunjukkan waktu yang lumayan larut. Wanita itu tersenyum demi mendapati anaknya yang telah tertidur seraya memeluk robot. Namun belum juga ia menutup pintunya, Melodi yang datang tiba-tiba dari arah belakang membuatnya tersentak.


" Ikut aku!" seru Melodi seraya menarik lengan Claire dan membawanya menuju kamarnya.


" Mel, apa yang kau lakukan?" tanya Claire yang kaget sebab Melodi tiba-tiba menariknya dengan wajah bersungut-sungut.


CEKLEK!


Melodi menguncinya pintu kamarnya lalu menatap sang kakak lekat-lekat dengan wajah datar. Seolah ingin menunjukkan sebuah kekecewaan.


Membuat hati Claire seketika deg-degan.


" Jadi selama ini kau membohongi kami soal keberadaan Wira?" tukas Melodi seraya melipat tangan ketus.


Deg!


" Lihat!" tunjuk Melodi pada ringkasan panggilan di ponsel Claire, dimana nama Mr. Donatur telah melakukan panggilan video beberapa waktu yang lalu.


Membuat Claire seketika membulatkan mata lalu dengan cepat menyambar ponsel itu.


" Apa yang kau lakukan?" sahut Claire yang terkejut karena kenapa bisa Melodi mengetahui soal itu.


" Aku akan beritahu Papa sekarang!"


" Mel!" teriak Claire ketakutannya.


" Kenapa, kau masih memiliki rasa dengan pria itu?" tantang Melodi yang wajahnya benar-benar kecewa.


Claire langsung menangis dengan tak berdaya. Kini Melodi sudah tahu soal sadawira. Benar kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat akan jatuh juga.


" Jadi selama ini kalian sudah saling bertemu, kamu sengaja ngebohongi Papa, iya?"


Claire menggeleng dengan tangis yang semakin menjadi. Merasa tuduhan Melodi sama sekali tidak benar.


" Keterlaluan kamu!" seru Melodi kecewa lalu membalikkan badannya.

__ADS_1


" Mel!" teriak Claire sembari seraya menarik lengan adiknya yang sudah hendak menarik handle pintu itu.


" Kamu gak tahu apa-apa!"


" Gak tahu apa-apa?" ulang Melodi yang matanya sudah melebar.


" Aku bahkan bertemu dengannya secara tidak sengaja Mel. Bahkan Neo mengenalnya lebih dulu!" ucap Claire berusaha meyakinkan adiknya. Dan itulah kebenarannya.


" Tapi kenapa bisa kau menyimpan nomornya jika kau tidak tahu apa-apa. Kau sudah bertunangan dengan Edwin, aku tidak bisa membiarkan ini Claire. Aku harus mengatakan hal ini kepada Papa!"


Kini Claire menggeleng tak berdaya, dengan air mata yang luruh tanpa kendali, Claire menatap sumbang adiknya yang kini hendak pergi.


" Kalau begitu katakanlah. Katakan apa yang kamu mau. Biar sekalian saja terjadi pertumpahan darah di keluarga kita!"


Deg!


Melodi terdiam dengan napas memburu manakala kakaknya berteriak dari belakang. Meredam gejolak yang kini timbul akibat terpancing emosi.


" Aku bahkan sudah mengelak, menghindar. Tapi yang kuasa seolah-olah ingin mempertemukan Neo dengan Ayah kandungnya. Kau jangan lupa, sekeras apapun kita menolak, mengindar, bahkan berdalih sekalipun, Neo tetaplah anak Wira Mel!"


Air mata Melodi jatuh juga saat Claire mengutarakan emosi yang kian meledak. Membuat keduanya tampak tak berdaya.


Melodi hanya takut jika kakaknya kembali mendapatkan kemarahan sang Papa jika semua ini tidak segera dihentikan. Apalagi, keluarga Edwin sudah selangkah lebih dekat dengan keluarga mereka.


" Kau tahu semarah apa Papa kepadaku saat itu. Bahkan Opa sampai membawaku pergi dan menjaga kami. Tapi aku bisa apa Mel? Neo bahkan semakin dekat dengan pria itu. Apa hanya kau saja yang merasa takut? Aku pun sama!"


Melodi yang tak tahan akhirnya menarik tubuh sang kakak lalu memeluknya erat.


" Maaf! Aku hanya takut jika kau akan di perdaya pria itu lagi!"


Cliare semakin terisak di pelukan sang adik. Sungguh, semua yang terjadi saat ini benar-benar membuat ia kehilangan jati dirinya.


Edwin pria baik, tapi bahkan meski Mamanya telah terang-terangan memberikan lampu hijau, perasaannya tak pernah berubah.


" Bagiamana sekarang Mel. Cepat atau lambat Papa dan Edwin pasti akan mengetahui Wira?"


Melodi yang juga menangis kini semakin bingung. Apakah dia harus memberitahu sang Mama dulu pelan-pelan?


.


.


.


Ket :


Gamam : Tidak yakin, ragu, bingung, bimbang.

__ADS_1


__ADS_2