
...🥀🥀🥀...
Di kantor Sada.
" Makanya, jangan asal makan aja. Kalau konslet begini, jadi aku yang repot!" Henry menggerutu dengan wajah bersungut-sungut saat Janu bolak-balik kamar mandi usai karena sepertinya tengah sakit perut.
Pria yang di rasai itu terlihat pasrah saat di omeli. Mau bagiamana lagi, dia memang salah.
" Ya gimana lagi Hen, namanya juga nyenengin hati cewek !" balas Janu yang sekarang meringis sembari mengusap perutnya dengan rasa anus yang panas.
" Gini ni, model-model mudah dikibuli. Mendingan ya Ja, kamu itu jujur aja soal apapun sama cewek sedari awal. Tahu sendiri di dolar jadi mujur gara-gara jujur!"
" Ya gimana, orang si Evelyn udah mesenin makanan. Kan gak enak! Lagipula, aku terlalu tidak bisa buat menolak!" elaknya tersenyum secerah mentari.
Membuat Henry langsung mencibir.
Sadawira yang kebetulan melintas dan mendengar ocehan anak buahnya hanya bisa geleng-geleng. Dasar anak muda!
" Kerja-kerja. Pada ribut saja!" serunya yang sontak membuat dia bujangan itu kocar-kacir ke posisi.
" Si Janu tuh Pak. Masa semua kerjaan di lempar ke saya. Alasan sakit perut!" mendengkus kesal guna membela diri.
" Yee, ini bukan alasan, ini beneran ya!"
" Sudah- sudah, malah ribut lagi. Memangnya kamu habis makan apa?" tanya Sada kepada Janu yang masih meringis- ringis.
" Mangga setan Pak!"
" Mangga setan, makanan apa itu?" balas Sada tak mengetahui.
" Itu lho Pak, mangga setengah matang yang di urap sama saos yang rasanya kayak racun. Asem, pedes, kecut!" timpal Henry sok informatif.
Sada semakin mengerutkan kening.
"Dia lagi kencan ceritanya sama si Evelyn Pak. Itu karyawannya Bu Claire yang ada di nikahannya Pak Sada tempo hari. Si Evelyn gak kamu hamilin kan Jan? Bisa di gorok Bu Claire kamu nanti!" tukas Henry tergelak keras.
Membuat Janu sontak mendengkus kesal.
" Enak aja, emangnya orang yang hamil doang yang boleh makan itu mangga?"
" Lah kan memang makanan kesukaan orang hamil. Dasar ketinggalan jaman!"
Sada tiba-tiba tercenung. Belakang ini ia sering melihat bungkus makanan yang di sebutkan oleh anak buahnya itu. Dan Claire suka sekali.
Ia yang pekerjaannya telah selesai lebih cepat dari jadwalnya, memilih langsung pulang kerumah dan berniat untuk mengajak anak istri makan malam diluar.
Namun saat masuk ke dalam kamar, ia terkejut mendapati istrinya meringkuk di bawah selimut.
" Sayang, kau kenapa?" ucapnya khawatir sebab tak biasanya istrinya seperti itu.
" Badanku rasanya nggak enak banget. Pingin deh kamu buatin susu hangat!" balas Claire dengan suara serak.
__ADS_1
" Sebentar ya!" jelas Sada tampak khawatir.
Claire mengangguk murung.
Sada berjalan keluar dengan perasaan yang sedikit heran. Pasalnya, tumben rumah itu sangat sepi. Tak ada teriakan Neo, ataupun suara gemericik air di dapur. Biasanya, jangan di tanya lagi. Ia bahkan semakin sering melihatnya Nino menjadi kuda Neo, dan melihat Juwi yang di dandani tak jelas oleh anaknya itu.
Namun ia kini memilih masa bodo. Bayangan wajah istrinya yang terlihat loyo benar-benar mengganggunya. Segelas susu hangat bukanlah satu beban bagi pria yang bahkan belum melepas kemeja kantornya itu.
Ia lantas membuka lemari, lalu meraih kaleng susu kalsium yang biasanya diminum oleh sang istri. Namun bukannya susu yang dia dapat, ia malah menemukan sebuah kotak aneh di dalamnya.
" Apa ini?" gumamannya heran.
Dan entah dorongan dari mana, tangannya malah reflek terulur membuka kotak itu.
Di detik itu juga, Sada terpaku manakala mengambil sebuah benda mungil yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Benda aneh kecil yang berhasil membuatnya berpikir keras.
Dan sejurus kemudian,
Treeetttt!
Tretettette!!
" Selamat Pak bos, adiknya Neo sudah jadi!! Wuuuu!!!" Nino dan Juwi berteriak kompak dan membuat wajah pria itu making di rundung kebingungan.
Dengan tubuh yang tiba-tiba bergetar, ia menatap tak mengerti manakala Nino, Juwi dan Neo sibuk meniup terompet yang membuat suasana seketika heboh.
Dan di sela keterkejutannya, matanya kini menangkap sesosok wanita cantik yang menyeruak diantara trio heboh lintas usia yang kini membuat sensasi heboh makin meledak. Istrinya.
Claire mengangguk menggigit bibirnya dari kejauhan. Menjawab segenap kebingungan yang beberapa detik yang lalu menyerang Sadawira.
Maka Sada langsung berlari lalu memeluk tubuh sang istri dengan begitu eratnya. Jadi itu merupakan alat penguji kehamilan? Pandai sekali istrinya merencanakan kejutan untuknya.
" Kalian sekongkol ya?" tanya Sada dengan air mata yang makin tak dapat di bendung saking bahagianya.
Claire mengangguk di dada bidang Sada," Aku tadi tes. Dan hasilnya positif, Neo akan segera punya adik!"
"Ini semua benar kan?" yang Sada meyakinkan sekali lagi.
Claire hanya sanggup mengangguk dengan bibir yang tergigit rapat. Ia terlalu bahagia sebab tak menyangka Tuhan akan secepat itu dalam mempercayakan keturunan kepada mereka.
" Terimakasih sayang. Aku bahagia sekali mendengarnya! Aku bahagia!"
" Yee!! Aku mau punya adik. Yey!"
-
-
Pukul 20.15 di kamar.
" Pantas saja selama ini kamu suka makan yang asem-asem!" kata Sada yang menciumi perut rata istrinya dengan posisi berbaring miring menghadap perut.
__ADS_1
" Aku juga gak nyangka. Kayak, tiba-tiba aja gitu. Lihat itu enak, lihat ini enak!"
Namun alih-alih turut tersenyum, Sada malah tertegun. Ia merasa teringat dengan kehamilan Claire yang terdahulu. Teringat saat istirnya yang pasti kesusahan manakala melewati masa-masa hamil seorang diri tanpa dirinya, dan tekanan yang tak main-main.
" Kenapa diam?" tanya sang istri.
" Apa saat hamil Neo dulu kamu juga seperti itu?"
Claire lantas mengusap kepala suaminya yang kini berbantal di pahanya, dengan sapuan lembut. Posisi favorit sebelum keduanya memutuskan untuk tidur.
" Dulu aku malah sebaliknya. Mual, lihat ini itu rasanya mau muntah. Aku bahkan sampai harus di infus!"
Sada spontan meraih jemari istrinya lalu dikecup dalam. Sungguh merasa begitu bersalah.
" Maafkan aku!"
Claire masih tersenyum mengusap lembut surai hitam suaminya yang menatapnya lekat-lekat. Ia tahu, Sada begitu mencintainya.
" Aku akan menebus semua yang dulu kau lakukan sendiri. Tolong jangan lakukan apapun setelah ini. Kau harus banyak beristirahat. Aku bisa siaga untukmu 24 jam!"
Claire terkekeh. Begitukah?
" Dulu ada Opa sama Edwin yang bantuin aku!" jawab sang istri santai.
Sada malah kembali termenung manakala mendengar sang istri menyebutkan nama mantan rivalnya. Claire yang paham semua itu, kini memilih mengganti topiknya.
" Neo sejak di dalam perut selalu rewel. Mirip ayahnya!" kata Claire menoel hidup bangir Sada.
" Gitu ya, kalau yang jelek-jelek mirip aku, kalau yang bagus kamu semua!" balas Sada yang pura-pura mendengkus sebal.
Keduanya menjadi sama-sama tergelak.
Namun saat masih asik bercengkerama, ponsel Sada tiba-tiba bergetar. Membuatnya langsung mendecak.
" Gini nih kalau kelupaan silent hape, jadi keganggu kan?"
" Angkat dulu, siapa tahu penting!"
Rupanya Andrew yang menghubungi. Pria itu akhirnya tercenung beberapa detik.
" Andrew?"
" Cepat angkat. Siapa tahu penting mas!"
Sada mengangguk. Menuruti perintah istrinya.
"Halo..."
" Da, sory ganggu. Tapi ini urgent banget. Aku cuma mau kasih tahu, adiknya Zayn hilang!"
" Apa?"
__ADS_1