
...🥀🥀🥀...
Zayn merasa seperti mimpi. Bagiamana bisa orang yang belum pernah bertemu langsung dengannya setelah sekian lama, kini malah menjadi seorang penolong baginya.
Tak tanggung-tanggung, bahkan pria itu menunjukkan bukti keabsahannya mengenai kasus perusahannya yang kini telah kembali. Secepat itu?
Papa Leo langsung menepuk pundak laki-laki yang lebih tinggi darinya itu dengan senyuman penuh kebanggaan. Makin menegaskan jika antara dirinya dan Papa Leo benar-benar tak memiliki halangan apapun.
" Hey, jangan kaku begitu. Aku tidak membantumu banyak anak muda. Tapi Tanaphan sendiri lah yang sadar diri. Betapapun ia menyakiti orang lain, semua itu tak akan menjamin anaknya bahagia!" ucap Papa Leo begitu serius.
Zayn masih merasa begitu tak percaya. Benar kata orang suci, dibalik kesulitan selalu ada kemudahan.
" Lantas dengan apa saya bisa membalas semua kebaikan anda ini Om? Mama saya pasti akan senang jika mendengar semua ini!" kata Zayn yang matanya sudah mulai berkaca-kaca. Merasa begitu bahagia sekaligus lega.
Papa Leo tersenyum penuh arti. Menatap Zayn yang terlihat terharu dengan sorot mata kagum.
" Dengan berjanji akan menjaga putri bungsuku selamanya. Jaga dia dengan segenap hati, serta jiwa dan ragamu!"
Zayn terhenyak, terkejut dan tak percaya.
" Mak- maksud Om?" ulang Zyan yang benar-benar masih belum percaya.
Melodi yang ada di sana dan turut mendengar semaunya, malah turut menangis.
" Zayn. Anak Om ini unik. Dia beda dengan Claire. Om percaya kamu adalah pria yang bisa membuat Melodi berubah. Om tunggu niat baik kamu!"
Zayn menatap haru dua mata pria berkharisma di depannya. Benar-benar paket combo. Mendapat kembali perusahannya, sekaligus mendapatkan sinyal positif dari keluarga Melodi.
-
-
Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Olivia barusaja memberontak ketika dia sadar dan mengetahui kenyataan jika Papanya pergi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Edwin yang sengaja diminta oleh Lukas untuk tidak pergi sebab masih di butuhkan, terlihat turut menenangkan. Tak mengira jika reaksinya akan sehebat ini.
" Papa! Aku tidak melakukannya Pa. Papa jangan pergi!"
" Oliv dengarkan aku! Papamu harus memberikan keterangan!" bohong Edwin agar gadis itu tenang. Menatap kesal anak buah Lukas yang malah jujur seputar keadaan Tanaphan.
" Tidak, kau berbkhin. Pria itu mengatakan jika Papaku di tangkap polisi, lepas. Papa!"
" Oliv, tenangkan dirimu!" teriak Edwin yang makin kesulitan mengendalikan Olivia yang terus berontak.
" Minggir, kau pasti yang membuat Papa pergi. Papa!" eyel Olivia yang membabi-buta.
__ADS_1
" Hey, tenanglah dulu!"
" Minggir, aku akan menyusul Papa!"
BRUAK!
Edwin sampai terhuyung dan tubuhnya menabrak sudut lemari hingga merasakan sakit manakala Olivia tak sengaja mendorong pria itu. Membuat Edwin seketika naik pitam.
" Baik! Susul dia, susul dia ke penjara sana!" pekik Edwin yang sudah kehilangan kesabarannya. Matanya memerah dan napasnya memburu.
Deg!
Olivia langsung menoleh dan menatap Edwin yang telah kehilangan kesabaran dengan napas kembang-kempis. Terkejut dengan satu kalimat.
Penjara?
" Susul dia! Karena memang seharusnya kau lah yang membusuk di penjara!" teriak Edwin yang masih menuntaskan sisa kemarahan, serta kekecewaannya.
Olivia makin tercengang. Apa yang maksud Edwin mengatakan itu? Penjara?
" Pernahkan kau berpikir jika selama ini Papamu terus menanggung sikapmu yang impulsif itu hah?" kesal Edwin melampiaskan semua isi di dadanya.
Mata Olivia seketika mengembun. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, perasaannya sakit, terhujam oleh kata-kata yang mengandung kenyataan.
" Buka matamu Oliv! Tidak semua yang kau inginkan harus terpenuhi. Itu kenyataannya! Itulah dunia!" teriaknya sekali lagi dengan napas yang kian menggebu-gebu.
" Setidaknya buat Papamu untuk tenang dengan sedikit menurut. Beruntung keluarga Melodi masih memiliki sedikit pengertian. Jika tidak...aku yakin kau akan segera merasakan pedihnya menjadi yatim-piatu!"
Edwin langsung pergi dengan dada bergemuruh usai mengutarakan hal tersebut. Kesabaran setipis tissue lah menjadi penyebabnya. Ia memang tak seharusnya mengatakan hal itu kepada Olivia. Tapi, apalah dayanya yang hanya seorang insan biasa?
Lama Olivia menenggelamkan wajahnya diantara lututnya yang ia tekuk dengan tubuh yang gemetar. Merenungi setiap ucapan Edwin yang makin mengundang derasnya air mata manakala mengingatnya.
"Susul dia! Karena memang seharusnya kau lah yang membusuk di penjara!"
"Pernahkan kau berpikir jika selama ini Papamu terus menanggung sikapmu yang impulsif itu hah?"
"Buka matamu Oliv! Tidak semua yang kini inginkan harus terpenuhi. Itu kenyataannya! Itulah dunia!"
" Argghhhhh!" ia berteriak sekencang-kencangnya hingga tenggorokannya serak dan dadanya berangsur-angsur merasa lega.
Terlalu sakit. Terlalu menyedihkan.
Ia merasa sendiri. Sunyi. Kosong. Ruang-ruang di hatinya juga teramat gelap. Tak tersuluh cahaya apapun.
Olivia hanyut dalam penyesalan.Ia terus menangis sejadi-jadinya. Mengapa nasib malah membuatnya seperti ini?
__ADS_1
-
-
Keesokan paginya, Edwin membuka ruangan Olivia dan menampilkan si gadis yang duduk melipat keduanya kakinya diatas ranjang, dengan menghadap ke jendela yang tertembus cahaya hangat matahari.
Gadis itu terlihat pucat. Mata sembabnya lurus menatap kosong ke arah dedaunan hijau yang celah-celahnya terterobos cahaya surya.
Edwin meletakkan nampan berisikan makanan serta susu hangat untuk gadis yang semalaman histeris itu ke atas meja. Sejurus kemudian, Edwin mendudukkan tubuhnya ke atas ranjang hanya berjarak empat jengkal. dari posisi Olivia. Turut menatap ke arah luar dengan perasaan aneh.
" Aku minta maaf!" ucapnya memecah keheningan.
Olivia mendengar. Tapi tatapannya masih terpaku pada helai daun yang bergoyang karena di terpa angin. Tak berniat menjawab apalagi mendebat.
" Kau tahu Oliv, cara paling ampuh untuk melegakan batin adalah dengan menangis dan berteriak!" kata Edwin masih menatap lurus pemandangan hijau nun di depan sana. " Dan aku yakin kau telah melakukannya semalam!"
Olivia meneguk ludahnya. Tidak tahu kenapa merasa sedikit tenang kala Edwin akhirnya mau kembali menemuinya.
"Bagiamana Papaku sekarang?" tahta Olivia yang matanya masih nampak kosong. Mirip orang kehilangan harap.
Edwin menoleh ke samping. Tertegun melihat sesuatu pucat, sayu dan terlihat menyedihkan.
" Dia baik-baik saja!" jawab Edwin.
Lama mereka berdiam. Hanya sibuk menatap jauh ke depan sana, dengan isi kepala yang riuh.
" Apa aku gila?" tanya Olivia tiba-tiba.
Membuat Edwin langsing mengerutkan keningnya.
" Apa aku tak ditahan karena aku gila? Benar kan?" kali ini Olivia menatap Edwin dengan menyuguhkan senyum getir.
Edwin meneguk ludahnya. Trenyuh dengan pertanyaan yang membuat dadanya ngilu.
" Benarkan?" ulang Olivia kembali dengan sebulir air mata yang tiba luruh ke bawah tanpa izin sang empunya. Menganak sungai melewati kulit lembut nan bersih milik Olivia.
" Oliv kau..."
" Aku tidak gila. Percayalah aku ini sehat, aku hanya...aku..."
Dan entah dorongan dari mana, Edwin yang melihat sisi rapuh si gadis langsung menarik tubuh Olivia yang terlihat kedalam pelukannya. Merasa turut menjadi korban sebab ia juga pernah tertolak.
" Aku tau aku salah. Tapi...ku hanya ingin seperti orang lain!" seru Olivia dengan suara bergetar karena tangis yang sulit di redam.
Udara yang Edwin hirup seolah-olah membuat dadanya malah sesak. Ia paham dan tahu yang di rasakan oleh Olivia.
__ADS_1
" Kau akan sembuh Vi. Berjanjilah untuk Papamu, dan dirimu sendiri. Kau harus berjuang!"
Tanpa mereka sadari. Zayn yang melihat interaksi keduanya dari kaca tersenyum tipis. Mungkinkah bila Olivia telah menemukan orang yang tepat?