
...🥀🥀🥀...
" Claire!"
Tangan Claire yang terayun wajar manakala berjalan, kini di tangkap oleh Edwin yang sengaja menunggu wanita itu di dapur. Claire diam menghadap ke arah Edwin dengan sayup-sayup suara tawa para orang tua yang berasal dari ruang tamu.
Sedetik.
Dua detik.
Tiga detik.
Claire bisa menangkap kilatan kelegaan di mata cerah Edwin.
" Makasih sayang. Aku bahagia karena kamu akhirnya mau terima keputusan ini!" kata Edwin dengan suara yang terdengar senang. Mengusap lembut pipi Claire yang sebenarnya grogi setengah mati.
Claire mengulum senyum. Walau terlihat tulus, namun hatinya sebenernya mencelos akan hal itu. Ia tak siap. Lebih tepatnya, terpaksa.
" Demi kebaikan semuanya!" pungkas Claire akhirnya membunuh kecanggungan yang menyeruak.
__ADS_1
" Aku pasti akan menjadi pria paling bahagia karena memiliki kamu!"
Edwin menatap dalam mata Claire lalu secara perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Claire. Namun seperti biasa, Claire langsung menoleh ke arah lain secara reflek. Membuat situasi menjadi tak nyaman.
Entahlah, ia sendiri juga tidak tahu kenapa dirinya bisa memberikan respon spontan yang seperti itu. Apalagi, intensitas pertemuan di luar kuasanya dengan Sadawira belakangan ini, makin membuat segala kebimbangan makin nyata berpijar.
Edwin terdiam sejenak. Ini merupakan kali kedua ciumannya di tolak oleh Claire. Pria itu menatap seraut resah yang masih betah menunduk tanpa mau menatapnya lagi.
" Maaf Win. Tapi kita di tunggu!" balas Claire singkat saat ia tahu Edwin menatapnya kecewa.
Edwin tersenyum kecut. Kenapa wanita di depannya itu masih menunjukkan keasingan yang begitu kentara. Padahal, keadaan dan keputusan yang telah di sepakati, sudah lebih dari menegaskan jika mereka bukanlah sepasang manusia asing.
Dan ucapan Edwin kemarin rupanya ia tepati lebih awal. Mama Bella bahkan mewanti-wanti Claire untuk tidak berlama-lama kala berdandan. Meminta keduanya untuk bisa memanfaatkan waktu yang sedikit itu dengan sebaik mungkin.
" Neo biar sama Mama. Kalian manfaatkan waktu yang ada. Makin cepat makin baik!" seru Mama Bella sembari menyisir rambut Neo yang telah basah karena hair lotion.
Demi nama baik dan juga kredibilitas. Leo Darmawan bersama istri benar-benar menjaga ketat salah satu hal yang dulu pernah di amanatkan mendiang Edi Darmawan kepadanya.
Tak mau mempertaruhkan semua hal baik yang sudah tertata dengan baik.
__ADS_1
Neo yang sering melihat Mamanya menyusut sudut mata menggunakan tissue beberapa waktu ini terlihat diam. Paman tampan juga lama tak nongol ke sekolahnya, meski beberapa bingkisan dan bantuan tak berhenti mengalir, namun tetap saja ia semakin merasa sepi. Sunyi.
Ia bahkan tak bersemangat saat melihat sebuah kotak coklat yang kini di puja- puja oleh teman sebangkunya. Coklat yang memang dikirim dan di peruntukkan untuk semua siswa.
" Pak Donatur baik banget ya Ne, aku baru dua kali makan coklat seperti ini. Kenapa kamu diam saja, ayo dimakan?"
Tapi euforia dan kesenangan yang terjadi, malah bertolakbelakang dengan isi hatinya. Neo tak bergeming dan malah sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Bahkan dua hari ini Ibunya semakin sibuk dan pulang selalu larut. Entah apa yang di kerjakan orang dewasa. Apakah selalu sibuk seperti itu?
" Neo, ada yang cari kamu!" seru Bu guru yang menepuk punggungnya dengan tiba-tiba.
" Siapa Bu?"
.
.
.
__ADS_1
.