My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 97. Segala sesuatu ada waktunya


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Mama Bella yang berada di kursi roda kini menangis di samping suaminya. Papa David juga Mama Jessika beserta kedua anak laki-lakinya terlihat begitu terpukul manakala melihat Papa Leo yang kini terserang stroke.


" Sabar Bel. Kita semua tidak perlu menyalah siapapun di sini. Sesuatu ada dan terjadi, terkadang membawa banyak hikmat yang bisa kita jadikan pelajaran!" seru Papa David kepada adik iparnya uang begitu terpukul.


Walau dokter mengatakan jika Papa Leo masih memiliki harapan sembuh, tapi tetap saja mereka terpukul dengan keadaan yang seperti ini.


" Tapi jika aku berhasil menahan Mas Leo pergi, semua ini pasti tidak akan terjadi !" seru Mama Bella sembari terisak yang terus menyalahkan dirinya.


"Bel. Jangan terus menyalahkan diri. Kita harus optimis Leo akan sembuh!"


Demas bahkan berkali-kali menyusut sudut matanya karena begitu bersedih. Ia menjadi teringat dengan dirinya yang dulu pernah lumpuh. Merasa terpuruk dan tak berdaya.


Papa Leo hanya bisa menangis tanpa bisa menjawab. Dadanya sesak terhimpit kenyataan pahit. Meski beberapa organ tubuhnya seperti tangan masih bisa berfungsi sebelah, namun kenyataan yang ada benar-benar membuatnya terpukul.


Claire dan Melodi yang setia berada di samping Papa Leo tak hentinya menangis. Meratapi nasib Papanya yang kini sungguh memprihatinkan.


Sadawira yang melihat hal itu dari kejauhan kini memilih pergi kembali ke kamar anaknya. Ia benar-benar ingin membiarkan Claire bersama orangtuanya.


Walau sikap Papa Leo kepadanya selalu saja ketus cenderung benci, namun melihat pria itu kini tak berdaya benar-benar membuat Sadawira merasa sedih. Bagiamanapun juga, Leo Darmawan tetaplah Opa dari anaknya, Neo.


" Ayah!" panggil Neo yang girang demi mendapati Sadawira telah kembali.


Dan mendapatkan panggilan istimewa dari anak spesial itu benar-benar membuat Sadawira bahagia. Hah, beginikah rasanya di panggil Ayah?


" Kok belum tidur?" balas Sadawira yang tak setuju manakala melihat anaknya masih melek.


" Aku gak bisa tidur. Ayah tidur sini sama aku dan Ibu kan?" memberondong Sada dengan kerabat mengejutkan.


Sada sontak tertegun. Tentu saja ia akan pulang. Bisa runyam urusannya bila ia harus ikut menginap di sini.


Bahkan hingga jam selarut ini ia tak memberikan kabar Nino jika dirinya telah kembali. Damned!


" Emmm... Neo!" ia kini mencoba memberi pengertian kepada anaknya. Berupaya mencari kalimat paling komunikatif agar anaknya bisa mengerti tentang situasi yang tidak memungkinkan ini.


" Ayah belum boleh tidur bersama Ibu!" terangnya perlahan.


" Kenapa tidak boleh? Temanku Cleo selalu bercerita jika dia tidur sendirian karena Ayah dan Ibunya selalu tidur bersama!"


Sada meneguk ludah. Mati kutu dia. Kini dia bingung bagaimana cara menjelaskannya.


" Neo, Ayah dan Ibu... harus menikah terlebih dulu jika mau..."

__ADS_1


" Menikah?" potong Neo cepat yang notice dengan satu kalimat.


Membuat pria yang memiliki tiga tato di tubuhnya itu seketika gelagapan. Bingung bagaimana memberi pengertian yang pas pada bocah di depannya.


" Jadi...Ayah dan Ibu harus..."


" Tidak apa-apa Ayah. Neo tidak perlu tahu. Kalau Ayah memang belum boleh menginap karena takut dimarahi Opa, Neo bakal nunggu. Tapi janji besok datang kemari lagi ya?"


Pyuft! Akhirnya!


Ia hampir saja ngelag sebab bingung mencari kosakata yang pas agar mudah di pahami. Tapi sepertinya, Tuhan benar-benar memudahkan langkahnya.


" Tapi, apa itu artinya Ayah dan Ibu harus menikah lagi, hihihihi?"


Sada tersenyum penuh rasa malu, ia lantas mengusap lembut pipi anaknya gemas.


" Opa Leo sedang sakit. Kita tunggu Opa sehat ya? Ayah janji nanti bakal ajak Neo main kerumah Ayah!"


" Sakit? Opa juga sakit?" tanya Neo yang sedikit terkejut sebab semua orang memang tak memberitahunya.


Sada yang keceplosan akhirnya meneruskan saja apa yang sudah di dengar oleh Neo. Apa boleh buat. Biarlah sudah. Sudah kepalang tanggung.


" Opa tadi kecelakaan. Kita doakan sama-sama biar Opa cepat sembuh ya? Biar Ayah bisa minta izin buat menikah dengan Ibu! Katanya mau tinggal sama-sama dengan Ayah?"


Sungguh aneh dan menggelikan. Neo yang belum tahu apapun soal rekam jejak orangtuanya hanya bisa mengangguk dengan wajah sumringah.


Ia tak bisa mengelak ataupun berembun lagi. Percaya satu hal bahwa Tuhan itu bagi siapa saja. Termasuk dirinya yang pernah berbuat cela.


" Jangan lama-lama ya Ayah. Setiap hari Neo kangen sama Ayah. Aku kok merasa keren ya punya Ayah seorang paman tampan. Hihihi."


Sada tergelak demi mendengar kalimat kocak sang anak, anaknya benar-benar bisa membuat dunianya kini berubah. Dari gersang, tandus, penuh onak dan semak belukar, menjadi indah dan begitu sejuk.


Kini ia benar-benar percaya akan satu ungkapan yang mengatakan, ' segala sesuatu ada waktunya'. Karena waktunya untuk bahagia, adalah sekarang.


-


-


Sada memutuskan pulang usai memastikan Neo tertidur di bawah penjagaan Juwi. Deo dan Demas besok harus kembali ke Indonesia sebab tuntutan pekerjaan.


Papa David tak keberatannya akan hal itu sebab rencananya mereka akan memindahkan Papa Leo ke rumah Claire untuk di tangani dokter terbaik, mengingat Neo besok sudah boleh kembali.


Semua orang kini sudah bisa lebih legowo. Mungkin semua ini merupakan hal yang musti dilalui.

__ADS_1


" Istirahatlah. Kau terlihat sangat lelah!"


Claire mengangguk, " Kau juga!"


Keduanya saling menatap lama. Claire yang sebenarnya enggan berpisah, tapi kenyataan yang menegaskannya bila keduanya masihlah orang asing membuat wanita itu terdiam.


" Aku pergi!"


Claire memeluk tubuh Sada begitu erat. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Sada yang mengular keharumannya maskulin yang selalu ia rindukan.


" Hubungi aku jika sudah sampai!"


-


-


Lain Claire lain Melodi. Jika Claire yang tubuhnya sudah lelah memilih kembali ke kamar anaknya untuk merebahkan tubuhnya, Melodi yang malam ini merasa hidupnya benar-benar rumit demi melihat sang Papa yang terkena stroke memiliki pergi seorang diri tanpa berpamitan.


Ia memang tak menyukai sikap Papanya yang terlalu kejam terhadap Sadawira. Tapi sekesal apapun Melodi terhadap Papanya, ia tentu tak ingin Papanya kenapa-kenapa.


Ada Bude dan Pakdenya yang berjaga di ruangan Papa. Ia yang tak jua terserang kantuk memilih pergi guna menghibur diri.


Malam ini merupakan malam Minggu,Ia datang ke tempat hiburan tanpa berpikir panjang. Sejak ia menemui rekan bisnisnya yang tak lain adalah Zayn, tak sekalipun ia pergi untuk menghibur diri. Lagipula, ia ingin menonton live musik agar otaknya yang semrawut bisa sedikit melonggar.


Tapi datang seorang diri ke tempat seperti itu benar-benar membuat Melodi salah kaprah.


Banyak sekali pria yang tiba-tiba datang menggodanya. Tentu saja hal itu terjadi, Melodi yang sekarang memang jauh lebih cantik. Gadis itu juga sudah lebih bisa berdandan dan menghargai dirinya sendiri.


" Hy cantik, sendirian ya? Boleh gabung kan?"


Ia yang tak suka dengan hal macam itu sontak melawan dan malah terlibat cekcok dengan pria menjijikan disana.


" Jual mahal dia, Yen cepat bawa dia!" pekik pria gondrong yang tersungging dengan penolakan Melodi.


" Lepas sialan!"


Namun teriakan Melodi tak di hiraukan oleh kepala penyamun itu. Membuat Melodi buru-buru meraih botol minuman di depannya lalu memukulkannya ke arah pria itu.


PRYANG!


Membuat pria itu seketika berang.


" Kurang ajar!"

__ADS_1


Namun saat hendak melayangkan pukulannya ke arah Melodi, suara berat milik seseorang membuat kesemuanya menoleh.


" Apa yang kalian lakukan?"


__ADS_2