My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 28. Selaksa ingatan


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Claire seketika mengembuskan napas lega usai berhasil menghubungi sepupunya itu. Ia memilih segera cerita kepada Deo sebab dia sangat takut. Takut kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk lagi kepada keluarga mereka.


Kejahatan di masa lalu yang di pernah di lakukan oleh Sadawira benar-benar meninggalkan bekas serta trauma yang mendalam.


Niat hati ingin pindah kembali guna mencari satu tempat baru, tapi ia baru saja mendatangani nota kesepahaman terkait bisnisnya dengan pemerintah setempat yang membuatnya kini harus berpikir dua kali.


Sedetik kemudian, ia melempar pandangan ke arah ponsel yang sejak semalam terus berdering. Membuatnya kesal.


Meski awalnya ragu, namun tangan itu kini terulur meraih benda milik pria itu. Ada getaran aneh saat ia kini menyentuh ponsel milik Sadawira.


Di gesernya layar bening itu dengan ragu-ragu. Ada desiran tak kasat mata yang mendadak menyelinap ke dalam hatinya. Semacam kembali teringat akan indahnya masa yang pernah mereka rajut bersama.


" CK, ceroboh sekali. Bagaimana bisa tidak di beri sandi!" mengomel sendiri sebab rupanya Sadawira masih seperti yang dulu, tak pernah memberi sandi pada ponselnya.


Namun sekali saja dia membuka, Claire malah penasaran dengan yang lain. Ini memang terlihat kurang ajar sebab Claire membuka galeri tanpa izin. Ibarat masuk rumah, tanpa permisi.


Tapi membuka galeri itu hanya mendapat kekosongan saja. Claire tak melihat foto Sadawira dan lebih banyak foto mesin-mesin pres, produk Plywood, briket dan juga tentang pekerjaan.


Sepertinya, Sadawira sudah lama berada di kota ini. Apalagi, malam perusahaan Plywood itu cukup terkenal.


Tunggu dulu, briket? Jadi Sadawira pengusaha briket dan kayu lapis yang terkenal itu?


Ah sial, kenapa dia bisa kecolongan begini. Jadi pria itu berada di negara yang sama dengannya selama ini? Sungguh sulit dipercaya. Kenapa semesta begitu ingin mengajaknya bercanda.


Sejurus kemudian ia membuka lagi satu album lain yang berada di folder lain. Kali ini ada foto Sadawira yang berfoto bersama dua pria lain dan tampak duduk di sebuah pub. Pria itu terlihat tak mencukur bulu di sepanjang garis rahangnya, membuatnya terlihat semakin matang.


Tanpa sadar, Claire memperbesar ukuran foto tersebut lalu tangannya reflek mengusap wajah Sadawira.


" Andai kamu bukan pelaku kejahatan itu Wir!" ucapnya menatap getir foto wajah pria yang menjadi asal muasal Neo berada.


" Keluargaku sekarang bahkan sangat membenci mu!" imbuhnya lagi dengan tatapan pilu. Merasa jika tak akan ada celah bagi mereka untuk kembali bersama.


Lagipula, secara pribadi Claire sendiri juga sangat kecewa kepada pria itu. Lebih tepatnya, ia membenci hidupnya sendiri kenapa bisa sampai jatuh ke perangkap Sadawira. Begitu pikirnya.


Saat masih sibuk menyeka cairan asin dari netra nya, dia pasang mata Claire mendadak memicing demi melihat wajah yang tak asing dalam foto itu.


Sadawira nampak berfoto bersama pria tampan yang pakaiannya cukup parlente, dan seorang lagi seperti pernah dia lihat.


" Astaga, dia kan...." Claire menutup mulutnya demi teringat jika pria itu adalah pemilik properti terbaik di Atana, dimana dia pernah bertemu sesaat sebelum memutuskan membeli rumah hasil produksinya.


Oh God!


...----------------...


" Bos, sarapanlah dulu!" pinta Nino yang merasa kasihan kepada bosnya.


" Aku buru-buru, aku harus segera mengambil ponselku!"


Nino mengangguk mengerti. Bos-nya itu orang sibuk, dan ponsel tentu menjadi salah satu barang penting yang menunjang aktivitasnya.


Dalam mobil, Sada gencar berpikir tentang bagiamana caranya bisa berkomunikasi dengan wajar bersama Claire. Ia tentu tak bisa mengkhianati perasaannya sendiri jika dia masih mengharapkan wanita itu. Tapi ucapan Diva semalam, jelas membuat segala sesuatunya makin rumit.


" Kenapa aku baru mengetahui jika kau berada di negara ini?" gumam Sadawira yang menyesali dirinya yang kurang berusaha keras selama ini.


Keputusasaan jelas menjadi sebab musabab. Tapi setelah mengetahuinya bila Claire merupakan Ibu dari Neo, muncul satu rasa penasaran lain dalam dirinya.

__ADS_1


Ia bahkan menuju ke rumah Neo pagi-pagi sekali. Ini lebih baik ketimbang dia harus datang malam-malam.


Jalanan lengang di pagi hari juga menjadi nilai tambah bagi Sadawira untuk melajukan kendaraannya dengan cepat. Dan benar saja, sebuah mobil yang masih ada di garasi rumah itu menandakan jika sang pemilik rumah masih belum pergi.


" Selamat pagi Pak?" sapa seorang petugas kemanan di lingkungan perumahan itu dengan sopan.


" Pagi!"


" Ada yang bisa di bantu Pak?"


" Saya mau kesitu!" menunjuk ke arah rumah Neo yang masih tertutup gerbangnya.


" Oh mari saya bantu!"


Mereka lantas masuk dan petugas keamanan itu memanggil seorang penjaga pintu yang tengah terkantuk-kantuk di pagi hari.


" Con, buka!" seru pria berseragam safari warna abu kera.


Pria bernama lengkap Supacon itu langsung tergeragap dan meraup air liur yang sudah setengah kering demi terkejut. Membuat Sadawira terkekeh.


" Matahari pagi baru mau menjalankan tugasnya kau malah tidur, awas kena ayan!"


" Ada apa ?" menjawab dengan kesadaran yang belum penuh.


" Buka pintu, ada tamu buat Bu Claire!"


Con langsung menyambar kunci yang ia gantung lalu membuka gerbangnya dengan tampilan rambut yang mirip kena terjangan badai.


" Mobil saya biar di sana saja, saya enggak lama. Cuman mau ambil sesuatu!"


" Silahkan Pak!"


" Terimakasih!"


Sepeninggal Sadawira, Con mendekati petugas keamanan itu dengan wajah terheran-heran.


" Kayak pernah lihat, tapi dimana?" kata Con yang kesadarannya berangsur normal.


Namun alih-alih menjawab, petugas keamanan itu malah menutup hidungnya sebab bau napas Con amat meracuni.


" Sikat gigi dulu sana Con, gara-gara gas beracunmu otakku gak bisa mencerna pertanyaanmu!"


" Sialan!"


-


-


Sadawira berulang kali menghela napas demi menetralisir rasa gugup. Dirumah ini ada bocah yang masih polos dengan kejernihan mata yang membuatnya kerap rindu tanpa sebab.


Membuatnya harus bisa mengesampingkan ego untuk ingin berbicara kepada Claire meski hatinya meronta-ronta ingin berbicara serius.


Ia kembali menekan tombol itu setelah satu menit tak ada sahutan. Dan beberapa detik usai ia menekan tombol untuk kedua kalinya, suara anak kunci yang terputar membuatnya lega.


CEKLEK!


DEG

__ADS_1


Wajahnya santai cenderung datar milik Sadawira kini bersambut dengan dua bola mata milik Claire yang membulat. Nampak terkejut dan cenderung tak suka.


" Ad- ada apa ka- kau..."


" Ponselku, aku yakin ada di sini!" sahut Sadawira tanpa basa-basi. Ia tentu tahu jika Claire takut kalau-kalau Neo tahu.


Membuat Claire seketika menelan ludahnya.


" Siapa Bu?"


Namun ketakutannya kini semakin menjadi nyata manakah suara bocah itu terdengar keras.Dan sialnya, Neo yang barusan memakai seragam sekolah malah menyusulnya keluar.


" Eh ada Paman. Kok Paman datang pagi sekali, ingin ketemu Neo ya?" tukas Neo tersenyum cerah.


Sadawira lantas berjongkok menyamakan tingginya dengan Neo, " Iya nih, Paman tadi malam belum sempat tanya ke Neo suka apa enggak sama hadiahnya, jadi Paman sangat penasaran!" kelit Sadawira yang membuat Claire menahan napas sebab ketar-ketir.


" Aku suka Paman, suka sekali. Itu kostum terbaru Spiderman!"


" Ibu, bilang sama Paman aku bahkan mengajak mereka tidur kan?"


Neo berbicara menggebu-gebu sembari menarik ujung dress Ibunya.


Namun Claire semakin gugup. Ini jelas tidak beres. Bagiamana ini, kenapa antara Neo dan Sada justru memiliki kedekatan emosional. Dan kenapa malah membuatnya gelisah?


" Ibu!" pekik Neo yang sebal sebab Ibunya malah diam.


" Ah iya. Mainannya bagus. Emm Neo, bisa tolong ambilkan kotak di meja Ibu!"


" Baik Bu!"


Membuat Sadawira mengangkat sebelah alisnya.


" Aku tidak pernah menyangka akhirnya bisa bertemu kembali denganmu Claire!" kata Sadawira penuh ketulusan.


Namun Claire lagi-lagi membuang wajahnya ke arah lain, sama sekali tak sanggup menatap kedua mata Sadawira.


" Rencananya tadi akan aku titipkan ke Ibu guru!" seru Claire membahas tujuan Sada datang kerumahnya.


" Oh my..." Sadawira menggeleng tak percaya, barang sepenting itu malah akan Claire titipkan ke anak kecil? Setidak pentingkah itu dia saat ini?


" Kau harus mendengar penjelasanku Claire!" kata Sadawira yang merasa ini adalah kesempatan yang baik untuk dia berbicara.


" Tidak ada yang perlu di jelaskan. Kondisi Demas sudah menjadi saksi!"


" Kau salah paham, aku bis..."


" Apa ini Bu?"


Membuat ucapannya menguap. Padahal, ia ingin menjelaskan hal itu kepada Claire jika dia benar-benar salah target.


" Anak pintar. Ayo berikan kepada Paman!" seru Claire yang melanjutkan sandiwaranya.


" Ini paman!" kata Neo sembari menyerahkan benda yang tak ia ketahui itu.


" Tapi, apa itu Ibu? Kenapa barang Paman ada di Ibu. Atau... apa Ibu ganti memberi hadiah untuk Paman? Cieee!" ucap Neo sembari mengangkat jari telunjuknya menyindir.


Maka kedua orang itu kini kompak menelan ludahnya dengan wajah yang mirip seperti orang tercekik.

__ADS_1


__ADS_2