My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 84. Terhempas ke titik sepi


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Melodi sebenarnya sudah di berikan mandat untuk menjaga keponakannya itu. Tapi kandung kemih yang penuh tak cukup membuatnya nyaman untuk menunggu. Lagipula, bukankah tadinya Neo duduk manis di sebelah anak-anak Deo?


Dan ketidakpekaannya kepada sang keponakan kini harus dia bayar dengan penyesalan yang menyiksa. Kacau sudah.


Ia baru menyadari sosok mungil yang tadi tersuruk- suruk di luar manakala ia sedang berlari kembali ke ballroom, tak lain adalah keponakannya sendiri. Hal itu semakin di perkuat saat melihat kursi yang di duduki Neo kosong melompong.


Belum usai permalasahan yang kini musti di tanggung oleh keluarga Leo, kini mereka kalang kabut demi mendengar kabar jika Neo kabur kejalan.


" Kenapa kau tidak mengejarnya?" teriak Demas yang langsung kesal dengan sepupunya yang malah kembali ke ballroom.


" Aku panik sialan, lagian mana tahu kalau dia beneran Neo. Sekarang dia pasti udah lari jauh. Gak kira kekejar kalau cuman jalan kaki. Lagian gara-gara ini nih!" seru Melodi melepas sandal berhak tinggi dengan kasar lalu melemparnya. Merasa benda itulah yang membuat mobilitasnya tak flexibel.


" Cepat buruan kita kejar dia, ngomelnya nanti aja, keburu pergi dia!" timpal Melodi yang makin kesal karena Demas malah terlolong.


Claire langsung berlari namun di tahan oleh Mama Jessika. Membuat semua orang semakin panik.


" Jangan Claire. Biar anak-anak yang mencari. Ayo, sebaiknya kamu masuk. Tenangkan diri kamu!" seru Mama Jessika yang paham dengan situasi tak terkendali ini.


" Tapi Bude, Neo..."


"Melodi dan Demas akan mencari mereka. Kita tunggu di dalam, ayo!"


Edwin yang mendengar hal itu seketika turut pergi menuju basement untuk mengambil mobil. Berniat mencari anak itu.


Meski pernikahannya kini kandas, namun Neo tetaplah Neo kecil yang sedari dulu terbiasa ia tolong. Edwin tak tahu, bahwa Neo pergi karena tak ingin melihat mereka berdua menikah.


Papa David dan Deo seketika mengambil alih suasana yang kini riuh dan cacat akibat kepergian Edwin yang penuh dengan kesedihan. Jika keadaannya sudah begini, Papa Leo benar-benar tak memiliki pilihan selain untuk diam terlebih dahulu.


Mama Bella membawa Mama Siska menepi sebab wanita itu tiba-tiba merasa tubuhnya tak sehat usai mendengar semua ini.


Seharusnya dari awal dia tetap pada keputusannya. Hatinya sakit sebab melihat Edwin yang terlihat kecewa.


" Dimana tadi kamu lihat?" teriak Demas yang bermanuver kasar saat mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


Pria yang masih mengenakan jas lengkap dengan dasi kupu-kupu itu terlihat tegang. Melodi yang terus fokus ke arah jalan tak hentinya mengumpat sebab gaun feminim yang dia kenakan benar-benar tak mendukung situasi.


" Di depan tadi, udah jalan aja terus, tadi aku lihat dia di jalan situ!"


" Kenapa security-nya juga nggak nahan!" kesal Demas yang merasa seharusnya hal ini tidak terjadi karena ada begitu banyak filter di depan.


" Kau bodoh atau apa, Neo pasti nunggu mereka lengah!" maki Melodi kepada sepupunya yang mendadak bodoh.


" Lagian, kenapa bisa kamu tinggal pergi sih?"


Demas yang notabene merupakan sosok yang irit bicara kini sampai tak hentinya mengoceh. Ia panik karena memikirkan nasib keponakannya.


" Kok jadi nyalahin aku sih, aku ke toilet sialan. Lagian kan ada istri kamu juga tadi!" sergah Melodi yang tak mau di salahkan.


" Kok jadi nyalahin Eva?"


"La terus siapa, CK!"


Mereka sama-sama mendecak karena malah bertengkar di situasi yang kurang pas. Dan saat keduanya masih menunjukkan wajah bersungut-sungut, dua netra coklat Melodi melihat sosok anak kecil bertuxedo navy berada di tengah lalu lalang kendaraan.


" Oh Shiit!" Demas mengumpat demi melihat Neo yang kini kebingungan di tengah jalan. Suara-suara klakson yang saling bersahutan juga makin membuat Melodi semakin pias.


Ia melihat bocah kecil yang nampak kebingungan di persimpangan itu dengan tatapan tak lepas. Bocah itu terlihat bingung sebab banyak sekali klakson yang di bunyikan.


" Astaga Neo, kenapa dia malah pergi kesana sih? Demas, buruan dong!"


" Ini udah cepat Mel! Kamu jangan bikin aku tambah panik!"


Namun belum juga mereka tiba di tempat Neo, suara keras di sertai dengan teriakan beberapa orang membuat tubuh Melodi kontan menegang.


CIT!!


BRUAK!


" Neo!"

__ADS_1


-


-


Sada yang saat ini berada di kantornya, menatap jam digital yang jelas sudah menunjukkan waktu resmi seorang Edwin menikahi Claire.


Selesai sudah. Mau tidak mau dia harus mengakui kekalahannya. Claire sudah resmi menjadi istri orang sekarang. Sementara dirinya ? Lihatlah, dia kini menjadi seorang pecundang hanya bisa tersenyum kecut menatap angka demi angka yang kian berubah. Meninggalkan segala kekalahan yang kini di dera Sada.


CEKLEK!


Pintu terayun menampilkan Dollar yang tersenyum seperti biasanya. Pria yang makin glowing itu datang memenuhi panggilan sang bos.


" Ada apa Pak?"


" Kamu saja yang ke kantor Diva. Saya lagi gak pingin ketemu siapa-siapa!"


Dollar meneguk ludahnya. Pas sekali pikirnya. Beberapa waktu terakhir, ia dan Diva memang semakin lengket saja.


" Baik Pak. Ada lagi?"


" Sudah!"


Dollar segera pergi dengan senyum penuh arti. Meski ia sangat ingin tahu kenapa wajah bosnya bonyok, tapi bayangan buah dada kenyal milik Diva menutupi segala rasa keponya. Asoy!


Sedetik kemudian, ponsel Sada yang hendak dia matikan bergetar dengan sebuah nomor asing yang kini menghubunginya.


" Siapa ini?"


Meski ragu, namun jemari besar itu akhirnya menggeser tombol hijau dengan rasa gamang.


" Hal..."


" Ini aku Melodi. Neo kecelakaan, lu tahu rumah sakit paling bagus nggak disini?"


" Apa kau bilang?"

__ADS_1


__ADS_2