
...🥀🥀🥀...
Kendati beberapa waktu yang lalu Claire telah melangsungkan pertunangan secara simbolis di hadapan Opa dengan bertukar cincin, tapi Claire tak bisa membohongi dirinya jika ia sebenarnya masih tak merasakan apapun kepada Edwin.
Apa mau dikata, kesalahan masa lalu membuat Claire kini harus patuh dengan keluarganya. Mengesampingkan perasaan untuk seseorang, yang sejatinya masih bersembunyi di satu ruang di dalam hatinya.
" Makasih ya Claire. Kamu akhirnya mau menjalin hubungan yang serius denganku!" kata Edwin menggenggam tangan Claire di dalam mobil.
Claire tersenyum penuh keterpaksaan. Merasa berdosa karena selain menipu dirinya sendiri, ia juga seperti mempermainkan perasaan Edwin. Tapi melihat kebahagiaan di wajah kedua orangtuanya serta Opa Edi, membuat Claire tak bisa berbuat banyak .
" Aku akan bujuk Mama setelah ini!"
Claire semakin merasa tak enak hati. Ia tahu Mama Edwin adalah orang baik, tapi tak salah juga jika beliau belum bisa memperlakukan dirinya baik mengingat Claire adalah wanita tak bersuami yang melahirkan anak.
" Maaf karena aku harus membuat mu dengan Tante..."
" Hey, Mama pasti bisa terima kamu. Makanya aku langsung oke begitu kamu oke. Yang penting kamu mau. Urusan Mama, aku bisa handle itu!"
Claire menatap murung wajah Edwin yang tak henti-hentinya tersenyum. Ia bisa melihat sinar kebahagiaan yang terpancar dari wajah Edwin. Membuatnya semakin merasa bersalah.
" Apa kau bahagia karena telah bertunangan denganku?" tanya Edwin kepada Claire yang kini terkejut.
" Apa yang kau katakan Win, kenapa menanyakan hal itu?" mengelak sebab sebenarnya ia tak nyaman dengan pertanyaan ini.
Edwin terkekeh, " Jawab saja!"
Claire semakin resah dan tak berani menatap dua bola mata Edwin.
Tapi sejurus kemudian, Edwin yang melihat Claire menunduk tiba-tiba menarik dagu Claire dengan gerakan lembut. Di tatapnya mata jernih itu dengan sangat dalam.
" I love you Claire!"
Dan saat wajah Edwin sudah semakin mendekat ke depan bibir Claire, tanpa di duga wanita itu spontan memalingkan wajahnya sebab tiba-tiba ia merasa ini tak bisa ia lakukan.
Ah sial!
" Maaf!" lirih Claire risau sebab barusaja menolak ciuman Edwin.
Edwin mengulum bibir shock, bukankah mereka sudah bertunangan? Bukankah wajar jika dia ingin mencium bibir tunangannya?
Namun alih-alih marah, Edwin sejurus kemudian malah tersenyum. Mungkin Claire masih canggung. Begitu pikir Edwin.
" Tidak apa-apa. Maaf karena aku tak bisa menahan diri. Aku sangat bahagia Claire. Jaga dirimu baik-baik, kalau kau sudah akan kembali, jangan lupa hubungi aku, hm?"
Claire tak menolak saat pipinya di usap lembut oleh ibu jari besar itu. Edwin merasa beruntung sebab meski sikap Claire masih misterius, namun keluarga besar Claire mendukung.
" Aku pergi!" pamit Edwin mengusap lembut puncak kepala Claire.
Claire mengangguk seraya tersenyum tak enak hati. Sungguh situasi yang benar-benar membuatnya merasa bersalah sekaligus tak berdaya.
__ADS_1
" Take care Win!"
Edwin tersenyum lalu melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan.
Claire tak turun dari mobil sebab Edwin menolak untuk di antar. Mereka pergi saat Neo masih tidur, dan tentu saja mereka tak ingin terlalu lama meninggalkan Neo karena mereka paham Neo pasti akan merajuk.
Claire menjatuhkan dahinya ke kemudinya usai sosok Edwin telah menghilang di balik pintu kaca besar. Ia benar-benar telah membuat keputusan yang mempertaruhkan segenap perasaannya.
" Maafkan aku Tuhan!"
Namun belum juga ia puas meratapi nasibnya, getaran di dashboard mobilnya membuat Claire mendongak.
DRRTT!
DRRRT!
Matanya membulat saat melihat nomor baru yang kini menghubunginya.
" Siapa ini?" gumam Claire yang merasa jika ini adalah nomor asing yang sama sekali belum pernah menghubunginya.
Karena penasaran, ia lantas menggeser tombol hijau itu tanpa bersuara. Berniat mengidentifikasi gelombang suara yang mungkin bisa menjadi jawaban.
" Kenapa kau melakukan semua ini?"
DEG
" Wira?" gumam Claire spontan dengan mata membulat.
Claire menelan ludah dengan ketar-ketir. Bagiamana bisa laki-laki itu menghubunginya? Siapa yang memberitahu nomor ponselnya?
" Apa maumu?" ketusnya yang benar-benar tak ingin berkomunikasi dengan pria itu.
" Aku ingin bertemu anakku, Neo!"
" Dia bukan anakmu!" hardik Claire cepat yang langsung naik pitam kala Sada menyebut Neo dengan sebutan anaknya.
Namun gelak tawa dari seberang membuat Claire kian resah.
" Benarkah? Tapi aku sekarang punya bukti konkret jika Neo adalah anakku. Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku?"
TUT
Claire yang tubuhnya kini gemetaran seketika memutus sambungan telepon itu secara sepihak. Ia tak tahan. Meski Claire bisa mengelak, tapi sepertinya dia lupa satu hal bila Sadawira merupakan orang sukses, yang tentu saja memiliki berbagai relasi dimanapun dia berada.
" Tidak, dia tak boleh mengambil Neo dariku!" bermonolog resah dengan keringat dingin yang tiba-tiba muncul.
Namun belum juga ponselnya berhasil ia matikan, sebuah pesan berisikan foto tiba-tiba masuk dan berhasil membuat dirinya tercengang.
Damned!
__ADS_1
" Ba-bagaimana...." ia tergagap demi melihat foto surat pernyataan DNA yang memuat nama Sadawira dengan nama Neo.
" Masih bisa menyangkal?" caption Sadawira yang sengaja dia kirim guna melegakan hatinya.
Pesan dari Sadawira itu semakin membuat Claire ketakutan. Bagaimana jika pria itu benar-benar mau mengambil Neo?
Mobil itu akhirnya melesat dengan cepat membelah jalanan yang padat. Claire ingin segera kembali ke rumah sakit sebab ia takut bila sesuatu bakal terjadi dengan anaknya.
-
-
Di Atana.
Sadawira melempar punggungnya ke sandaran kursi dengan mengembuskan napas berat usai berhasil menghubungi wanita yang masih sangat dia cintai itu.
Ia terpaksa mengancam Claire sebab ia ingin tahu apa yang menjadi penyebab Claire menutupi hal besar ini darinya.
Hatinya kini terasa sangat sakit sebab wanita yang dia cintai malah melakukan pertunangan dengan pria lain.
Beruntung Dollar bisa meminta nomor telepon Claire atas bantuan guru cantik yang tengah dia dekati itu. Membuatnya sedikit bernapas lega sebab seperti ia benar-benar harus turun tangan ke Indonesia untuk memperjelas segala sesuatunya.
Seharusnya, hari ini menjadi hari yang bahagia sebab ternyata Neo adalah benar anaknya. Tapi mendengar berita jika Claire telah bertunangan, membuatnya benar-benar tak memiliki stok kesabaran lagi.
" Kau harus tenang Da. Jangan lupa, keluarga mereka juga tidak bersalah. Wajar jika mereka mencarikan Claire laki-laki lain. Kau harus sadar diri jika permasalahan yang kau ciptakan dulu teramat melukai!"
Alih-alih meminta solusi kepada Zayn, ia malah semakin terlempar dalam jurang penyesalan sebab apa yang di katakan sahabatnya itu, seolah mengingatkan dirinya tentang titik balik permasalahan.
" Pesawatmu take off jam berapa?" tanya Zayn serius. Membidik sahabatnya dengan tatapan penuh kekhawatiran.
" Aku mendapatkan tiket malam hari!" menyahut kesal sebab tiket siang dan sore hari telah habis terjual.
" Jika kau nekat kesana, yang kau hadapi akan sangat banyak!" tutur Zayn masih tak lelah memperingati sahabatnya yang hampir gila itu.
" Orang tua, sepupu Claire, adiknya, masih banyak lagi..." imbuh Zayn yang benar-benar khawatir dengan Sadawira.
Dan ucapan Zayn berhasil membuat Sada terbawa dalam ingatan masa lalunya, dimana ia pernah mencelakai Demas.
Absolutly my bad!
" Pikirkan Neo juga. Jangan pernah bertengkar di depannya. Anak sekecil itu tak tahu apapun tentang permasalahan kalian. Jangan sampai dia balik membencimu!"
Berondongan nasihat dari Zayn semakin membuatnya Sadawira stres. Jelas itulah tantangan yang bakal dia hadapi nanti.
" Aku bisa gila jika begini terus Zayn!" serunya dengan helaan napas yang terdengar berat.
Zayn menatap iba sahabatnya. " Gunakan logika, jangan pakai emosi. Dia hanya bertunangan, masih banyak kesempatan untuk menggagalkan! Kau pasti paham maksudku!"
Sada langsung tergelak, tak menyangk jika sahabatnya akhirnya mau mendoktrin dirinya dengan ajaran bangsat itu.
__ADS_1
" Wanna help me?" tanya Sada menatap wajah sahabatnya penuh arti.
Zayn yang tahu maksud tatapan itu seketika mengumpat. Jelas dia akan terseret dalam kepergian Sadawira kali ini.