
...🥀🥀🥀...
Sepasang sepatu sneaker dengan harga yang pasti tak murah terlihat mencumbu lantai bersih Bandara Atana malam ini. Sadawira bersama Zayn terlihat melangkahkan kakinya menuju boarding gate sebab last call sudah terdengar membahana hingga ke penjuru airport.
" Aku harap logikamu nanti masih bisa diajak bekerja normal!" seru Zayn sembari tekun menyeret koper ukuran kabin.
" Aku tidak janji!" jawab Sada enteng, membuat Zayn mendecak.
" Jangan bertindak ceroboh!"
"Sudah ku bilang, aku tidak bisa janji!"
" CK!" Zayn kembali mendecak dengan saat sahabatnya benar-benar bersikap menyebalkan.
" Lalu bagaimana dengan tujuanmu ke Eropa?" Zayn masih melangsungkan tanya jawab saat mereka mulai memasuki X-ray ruang tunggu.
" Aku sudah mengatakan pada Diva jika aku tak bisa datang kesana!" balas Sada yang kini mengambil koper yang baru saja memasukkan mesin screening dengan wajah datar.
" Kau benar-benar sudah gila. Sengaja meninggalkan proyek besar hanya untuk perempuan!" seru Zayn menggeleng tak percaya demi merasai sikap Sada.
Sada terdiam. Ia tak bisa menyela sindiran Zayn yang memang benar adanya.
" Selamat datang Pak, nomor seat berapa?"
Zayn terlihat menjawab pertanyaan dari pramugari dengan ramah kala mereka sudah berada di ujung garbarata. Mewakili Sadawira yang sibuk dengan ponselnya.
" Kami nomer 1 AB!"
Sada terlihat berkali-kali menarik napas guna menetralisir rasa tegang. Ia teringat saat enam tahun yang lalu dimana ia terpaksa meninggalkan Indonesia karena satu alasan.
__ADS_1
Tapi sejak mengetahui siapa Neo sebenarnya, ia benar-benar tak takut dengan apapun. Ia ingin berusaha fight memperbaiki apa yang dia bisa.
Beberapa waktu kemudian.
Pesawat berpelat merah milik pemerintah INA itu mendarat di Bandara kota B tepat pukul 21.28 waktu setempat. Sada yang mengenakan masker juga Hoodie terlihat berjalan santai di sisi Zayn. Sengaja menutup dirinya sebab Bandara itu merupakan teritorial wilayah Deo.
Takut kalau-kalau ada seseorang yang mengenali kedatangannya.
Zayn yang berjalan santai berkali-kali mendecak kagum dengan interior airport yang ramah lingkungan itu.
" Selamat datang Pak, bisa di bantu nomor bagasinya?" sapa seorang petugas dengan ramah.
Dua laki-laki itu malah terlolong karena lupa jika mereka adalah penumpang kelas bisnis.
" Ah iya, ini nomor bagasi kami. Kami akan menunggu di sana!"
Petugas itu mengangguk usai menerima bag tag yang barusaja diberikan oleh Zayn.
Ya, rupanya Sadawira telah meminta Boni untuk menjemputnya pada jam malam itu. Pria tambun yang kini sudah lebih bisa mengkondisikan berat badannya itu tampak berkaca-kaca saat matanya menatap sosok Sada yang enam tahun ini meninggalkan dirinya.
" Bos!" ucap Boni tak henti-hentinya menatap wajah Sadawira dengan tatapan haru.
Sada seketika meraih bahu Boni lalu memeluknya karib. Merasa bersyukur sebab masih diberikan kesempatan untuk bertemu setelah apa yang telah terjadi.
" Senang bisa bertemu denganmu lagi Bon!"
Dada Boni seketika terasa sesak. Ia bukan tidak tahu tujuan bos-nya itu kembali, tapi kali ini dia tak mau membahas hal lain. Setiap orang punya kekurangan, dan Boni percaya jika bosnya itu pasti sudah banyak mendapatkan banyak pengalaman hidup.
"Oh iya, ini Zayn, dia akan tinggal beberapa hari di sini!" seru Sadawira sesaat setelah ia melepaskan pelukannya. Memperkenalkan Boni kepada Zayn begitu sebaliknya.
__ADS_1
" Zayn, ini Boni. Jika selama ini kau hanya tahu namanya, maka sekarang kau bisa tahu rupanya!"
" Zayn!"
" Boni!"
Zayn memindai tampilan Boni yang berbeda dari foto yang pernah dia lihat pada ponsel Sada. Jika dilihat-lihat, pria itu kini mengalami devisit lemak. Membuat tampilannya lebih good looking.
Mereka lantas melesat menuju rumah lama Sadawira. Rumah yang menjadi kenangan dirinya bersama Antoni. Kakaknya yang meregang nyawa di dalam penjara.
" Kau istirahatlah dulu. Bon, tunjukkan kamar Zayn!"
"Baik bos!"
Zayn menurut dan membiarkan Sadawira pergi menyendiri. Mungkin sahabatnya itu ingin bernostalgia sejenak. Pria yang pandai menyembunyikan rahasia itu pasti sedang pernah batin saat ini.
Definisi dari senyap di bibir tapi riuh di kepala.
Sadawira berjalan menuju sebuah ruangan dimana Boni tampak menjaga baik-baik kamar mendiang Anthoni. Di tatapnya foto kakaknya yang selalu membuatnya menyesal itu mata berkaca-kaca.
" Waktumu, waktuku, waktu kita habis untuk hal yang keliru!" ucap Sadawira tersenyum kecut saat menata bingkai foto Anthoni.
" Apa kau tahu, ternyata aku ini sudah menjadi seorang Ayah!" suara Sada semakin tercekat saat tiba-tiba bayangan wajah Neo melintas begitu saja.
" Kau tidak akan menjadi dewasa sampai kau merasa bahwa ada banyak hal yang ingin di ungkapkan, tapi kau memilih untuk tidak memberitahu siapapun!"
Kalimat Anthoni yang masih terekam jelas di otak Sadawira itu kembali terputar dan membuat sebulir air matanya jatuh. Membuat dadanya semakin sesak.
" Apa sekarang aku sudah bisa mendapatkan predikat 'dewasa'? Sebab ada banyak hal yang ingin aku ceritakan kepada duni, tapi selama ini aku menyimpannya rapat-rapat!" Gumamnya dengan tangis yang semakin tertahan.
__ADS_1
" Kumohon, doakan aku agar aku bisa kembali bersamanya, kakak...."