
...🥀🥀🥀...
Beberapa jam kemudian, Sada sudah tampak mengenakan pakaian casual bersepatu dan terlihat santai, pun dengan Zayn. Dua pria tampan dengan gaya khasnya masing-masing itu, mampu mencuri perhatian para pengungsi rumah sakit.
" Ya ampun, lihat otot lengannya aja udah bikin aku belingsatan begini!"
" Sugar Daddy tuh!"
Begitulah kurang lebih bunyi kasak-kusuk yang melipir ke telinga dua pria tampan itu. Bisa mereka pastikan, jika ada Andrew disini, akan lain ceritanya.
" Kami ingin menjenguk Edi Darmawan!" kata Sada seraya memberikan tatapan penuh kata kunci.
Membuat perawat yang di bayar oleh Boni itu langsung paham dan membawa dua laki-laki itu menuju ke rumah VIP.
Semua harus serba rahasia, sebab ia melakukan itu juga dengan cara diam-diam. Lagipula, tidak sembarang orang bisa datang ke sana mengingat Papa David sangatlah selektif.
" Dia akan sangat irit bicara bos. Tapi percayalah, dia bisa di andalkan!"
Sada mempercayai betul perkataan Boni soal perawat itu. Ia paham, tak ada sesuatu di dunia ini yang benar-benar putih. Lagipula, ia tak berbuat jahat, ia hanya memerlukan akses untuk menemui Claire juga anaknya.
" Aku akan menunggu di sini!" seru Zayn yang kini duduk di kursi panjang sembari mengawasi pergerakan orang.
Sada mengangguk. Sungguh sekutu yang sangat bisa di andalkan.
Namun saat Sadawira hendak beranjak, sosok Papa Leo terlihat berjalan sembari berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Membuat keduanya kini berakting layaknya orang yang sibuk membaca informasi di dinding.
Zayn mendekatkan diri ke arah Sadawira kala sayup-sayup suara Papa Leo telah menjauh.
" Dia itu bukannya..."
Sada langsung mengangguk, seolah mengiyakan tebakan Zayn yang rupanya juga familiar dengan wajah CEO berusia matang itu.
" Benar, dia kakek dari anakku!"
Zayn seketika meneguk ludahnya. Pantas saja Claire cantik, Papanya saja setampan itu meski usianya tak lagi muda.
Perawat yang diminta Sada untuk menyiapkan tempat terlihat mengacungkan jempol dari dalam ruangan, menandakan jika mereka telah siap. Kini, tinggal menunggu Claire datang lalu masuk ke ruangan itu.
Dan benar saja, usai menunggu beberapa menit, Claire yang pagi ini terlihat membuang sampah di depan ruangan terkejut saat melihat ruangannya terbuka.
" Siapa yang membuka? Perasaan tadi udah aku tutup. " gumamnya yang tanpa curiga menuju ke ruangan tempat dimana ia biasanya beristirahat.
Namun saat dia masuk untuk memastikan ruangannya, terkejutlah dia manakala pintu itu tiba-tiba tertutup dan langsung di kunci dari dalam.
DEG!
" Siapa kau!" teriak Claire manakala sesosok pria bermasker kini berdiri gagah di hadapan pintu. Membuatnya ketakutan.
Dan sejurus kemudian, Sada langsung membuka maskernya dan sukses membuat wajah Claire seketika pucat.
__ADS_1
Oh tidak!
" Apa yang kau lakukan disini?" tanya Claire resah yang terkejut bukan main akan kemunculan Sadawira di ruangannya.
" Aku ingin berbicara denganmu!" jawab Sada dengan muka datar dan mengabaikan wajah pias Claire.
" Apa lagi yang kau mau? Sudah aku katakan berkali-kali, menjauh dariku!"
Sada tetap berjalan mendekat dengan tatapan tajam yang tak mau beralih kemanapun.
" Jangan mendekat, dia bukan anakmu!"
Dan reaksi takut Claire berhasil memancing tawa sumbang dari Sadawira.
" Lihatlah, bahkan pikiran kita tertuju pada hal yang sama meski kita belum membahas apapun!"
Claire yang kini mentok ke dinding langsung membuang wajahnya manakala Sadawira semakin membuatnya terpojok.
" Kenapa kau melakukan semua ini?" tanya Sadawira begitu dia telah berdiri tepat di hadapan Claire yang tak lagi bisa berkutik.
" Memangnya apa yang aku lakukan?" masih berusaha menjawab meski ia kini bingung harus kabur dengan cara apa. Berteriak pun tak mungkin, malah membuat semua orang akan tahu.
" Jangan membuat kesabaran ku habis Claire! Neo adalah anakku, masih berani kau menyangkalnya, hah?" Sadawira berteriak dengan mata yang sudah mengembun. Tak bisa lagi meredam segala bentuk emosi yang menyesakkan dadanya.
Membuat Claire seketika menangis karena takut.
" Lihat ini!" Sada menunjukkan sebuah kertas yang sudah ia copy. Kertas yang kemarin sempat dia kirimkan kepada Claire.
Claire semakin larut dalam tangis yang terdengar pilu. Sekeras apapun dia berusaha bersembunyi dan menghindar, kenapa Sada akhirnya tahu juga?
" Dia adalah anakku, kenapa kau tega menyembunyikan hal ini, hah?"
Sadawira mengeluarkan segenap kekecewaannya. Menggeleng lemah sebab tak habis pikir jika Claire setega ini.
" Dia anakku! Aku yang melahirkannya!"
Sadawira terlihat langsung memejamkan matanya lalu menarik napas dalam-dalam demi meredam segala hal yang mungkin saja dapat membuatnya hilang kendali.
" Aku akan memberitahu Neo sekarang juga!" ancam Sadawira yang sudah tak tau lagi harus berbuat apa.
" Aku akan membunuhmu jika kau melakukan hal itu!" hardik Claire tak mau kalah.
Sadawira menatap tak percaya demi mendengar ucapan yang benar-benar menyakitkan itu.
" Sebenci itukah kau denganku?" tanya Sadawira dengan bibir bergetar dan air muka layu.
Claire tercekat dan tak bisa menjawab. Ia bahkan tak sadar jika ia telah mengucapkan hal seburuk itu.
" Aku bahkan masih mencintaimu meski kau sudah bisa membuka hatimu untuk pria lain!"
__ADS_1
Claire tersentak saat Sada tiba-tiba merengkuh pinggangnya dengan kasar. Pandangan mereka bertemu. Sada dengan sorot mata penuh kekecewaan dan kemarahan, sementara Claire terlihat tak berdaya.
" Aku tidak percaya jika kau tak ingat dengan apa yang telah kita lalui Claire. Dan Neo, dia berhak tahu siapa ayahnya!"
" Keluargaku tidak akan pernah membiarkan mu melakukan itu!" jawab Claire dengan posisi yang begitu dekat.
Hembusan napas hangat satu sama lain bahkan bisa mereka hirup. Begitu membuat perasaan satu sama lain begitu terasa sakit.
Sada tak menjawab, ia memilih menatap wajah Claire lekat-lekat.
"Kenapa kau selalu bersembunyi di balik nama keluargamu?"
Claire terdiam sejenak membalas tatapan penuh ketidakberdayaan itu dengan wajah benci.
" Karena hanya mereka yang bisa melindungi ku dari orang jahat sepertimu!"
" Pria jahat yang malah memanfaatkan wanita untuk ajang balas den..."
CUP
Sada mencium bibir Claire secara paksa detik itu juga. Ia tak mau lagi mendengar bantahan dari wanita yang masih ia cintai hingga detik ini. Seandainya ada cara untuk meluruskan benang kusut yang terjadi, ia akan menempuh segala cara untuk melakukannya.
Claire langsung meronta, mendorong dan menggeliat berusaha melepaskan dirinya.
PLAK!
Muka Sada seketika terlempar ke arah kanan saat tangan Claire berhasil menampar wajahnya karena kurang ajar pria itu usai menciumnya secara paksa.
Sungguh keadaan yang benar-benar rumit.
" Aku akan menikah, jadi jangan pernah menggangguku lagi!" ancam Claire dengan wajah marah.
Sada langsung tertawa sumbang, " Menikah? Aku tidak menyangka kau sungguh telah menjadi wanita egois!"
" Egois kau bilang?" sergah Claire dengan tatapan menantang. "Siapa yang lebih egois disini? Bukankah kau yang lebih egois, memanfaatkan kebodohanku hanya untuk memuluskan rencana balas dendammu?"
" Claire, oh my...." Sadawira sampai tak tahu harus mengatakan apa lagi. Ia sudah mengatakannya jika semua ini salah paham.
Oh God, seandainya Anthoni masih hidup. Ia pasti akan dengan mudah merebut hati Claire kembali. Kebencian keluarga Darmawan yang mendarah daging kepadanya sungguh sulit ia benahi.
" Kalau kau ingin bukti, aku bisa menunjukkannya kepadamu!"
" Bukti apa, bukankah aku sudah melihat sendiri saat kedua kakakku kau sekap?"
Mereka kembali saling berteriak.
Sadawira kembali memejamkan matanya seraya memijat keningnya yang terasa pening. Claire rupanya masih mengingat kejadian 6 tahun lalu.
" Sudahlah Wira, keluargaku sudah membebaskanmu, itu sudah lebih cukup untukku. Tolong jangan pernah menggangguku lagi! Aku tak ingin melihatmu terluka karena keluargaku, jika kau nekat muncul di hadapan mereka lagi!"
__ADS_1
DEG!
Sada langsung mendongak manakala mendengar penuturan mengejutkan dari bibir Claire. Jadi itukah alasannya?