My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 42. Paman tampan


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Teori yang mengatakan bahwa hati yang gembira adalah obat yang manjur, agaknya patut di percayai oleh keluarga Papa David. Terbukti, beberapa hari setelah pertunangan simbolis Claire dengan Edwin, kondisi Opa kini berubah jauh lebih baik.


Hati dan pikiran pria lanjut itu sudah lebih tenang sebab akhirnya Claire mau menerima saran para orang tua.


Neo yang masih terlihat merajuk sebab Ibunya belum juga kembali dari mengantar Om Edwin terlihat mogok makan. Sama sekali tak mau membuka mulutnya barang sedikitpun.


" Mau makan sama Opa?" tawar Papa Leo yang kasihan melihat istirnya di cueki oleh Neo.


" Ga mau, maunya sama Ibu!" tukas Neo dengan tangan yang di silangkan khas orang merajuk.


Membuat Mama Bella menghela napas. Neo keras kepala sekali, sangat berbeda dengan Claire saat kecil yang sangat penurut.


" Neo sayang, Neo tidak boleh seperti itu. Neo kan sudah besar, ayo makan dulu!" bujuk Mama Bella agar cucunya mau membuka mulut dan berhenti merajuk.


" Pokoknya Neo maunya makan sama Ibu. Kenapa sih Neo di tinggalin terus sama Ibu? Kenapa Ibu malah sibuk sama Om Edwin?"


" Neo gak suka!" teriak Neo yang kini berlari keluar dan membuat semua orang langsung panik.


Anak banteng itu terlihat begitu marah sebab beberapa hari ini dia kurang di perhatikan.


" Neo!" teriak Mama Bella kalang kabut yang sudah hendak berlari untuk mengejar.


" Biar aku saja!"


Mama Bella mengangguk saat suaminya mengatakan hal itu. Nampak juga sinar kepanikan yang sama-sama ditujukan kepada cucu pertama mereka.


Opa Edi terlihat menghela napas saat menyaksikan kepergian Neo." Sifatnya benar-benar mengingatkan aku pada laki-laki itu!"


" Pa!" ucap Mama Bella mendecak tak setuju dengan maksud untuk jangan membahas soal Sadawira lagi.


Opa Edi sebenarnya tak marah dengan Neo. Produk keluarga broken seperti Neo justru harus lebih di perlakukan lebih halus. Tapi apa yang barusan dia lihat, jelas menegaskan jika genetik itu tak bisa di sembunyikan.


" Ini akibat kesalahan kita semua yang terlambat mencarikan Claire orang yang tepat. Seandainya sejak Neo bayi Claire mau menuruti ucapanku, tentu hal seperti ini masih bisa kita hindari!"


Mama Bella langsung tertegun. Apa yang di katakan mertuanya itu memang benar.

__ADS_1


Diluar ruangan.


Papa Leo yang sempat kehilangan jejak cucunya, kini bernapas lega saat melihat Neo duduk berjongkok di depan pohon Cemara dengan mendudukkan bokongnya diatas batu seraya tekun membasuh wajah yang terus saja basah.


Papa Leo berjongkok lalu mengusap lembut punggung cucunya yang tampak sedih.


"Opa minta maaf ya? Tapi, kenapa Neo marah, hm?" tanya Papa Leo berusaha membujuk cucunya. Ia sangat menyayangi Neo, dan merasa apa yang dilakukannya saat ini adalah wujud kebaikan yang memang harus segera di lakukan.


Neo menoleh dengan air mata yang sudah menganak sungai. Terlihat sangat sedih dan membuat hati Papa Leo nelangsa.


Cucuku!


" Kenapa Om Edwin yang harus jadi ayah Neo Opa?"


"Apa boleh jika paman tampan saja yang menjadi Ayah Neo. Opa belum kenal paman tampan, kalau Opa kenal, pasti Opa suka sama Paman!"


Papa Leo tertegun saat lengangnya di tarik oleh tangan mungil Neo yang memohon.


Tapi, siapa sebenarnya Paman tampan? Kenapa dari kemarin Neo selalu membicarakan Paman tampan?


" Memangnya siapa Paman tampan nak?"


" Neo!"


Suara Claire yang terdengar panik tiba-tiba menginterupsi tangis Neo yang masih berlanjut. Membuat kedua laki-laki beda usia itu kompak menoleh.


" Neo!" ucap Claire yang terdengar gelisah sembari memeluk anaknya dengan perasaan yang mendadak takut tanpa sebab yang jelas.


Neo terdiam saat ia kini di gendong oleh Claire.


" Kenapa Neo Pa?" tanya Claire yang ingin meminta penjelasanku.


" Dia tadi mengamuk karena kamu gak datang-datang. Dia juga tak mau makan di suapi sama Mama kamu. Dia nyari kamu terus tadi!"


Claire yang baru datang dan diberitahu oleh Mama Bella jika Neo kabur kedepan segera lari. Sugesti akan ucapan Sadawira beberapa waktu yang lalu benar-benar membuatnya tak tenang.


" Bawa Neo masuk, Papa ingin bicara sama kamu setelah ini!"

__ADS_1


Berbicara?


-


-


Rupanya rasa penasaran membuat Papa Leo kini berbicara empat mata dengan anaknya. Ucapan Neo yang berkali-kali mengatakan soal Paman tampan semakin membuat Leo ingin tahu.


" Sejak kemarin, Neo selalu menyebut nama Paman tampan, memangnya siapa dia?"


DEG!


Claire seketika terkejut. Haruskah mereka membahas hal ini? Tentu jawabannya adalah tidak. Papanya bisa meradang jika mengetahui jika mereka bahkan sudah pernah makan malam bersama Sadawira.


" Dia..." berkata ragu-ragu sebab otaknya kini masih mencari kata-kata yang pas untuk menggambarkan soal siapa sosok Paman tampan.


" Papa tahu kamu sama Edwin pasti butuh waktu agar Neo bisa menerima. Tapi Papa pingin tahu, siapa yang di omongkan Neo sejak kemarin itu?"


Membuat Claire harus berpikir taktis.


" Dia donatur di sekolah Neo Pa!"


Yes! Claire bahkan tak percaya jika dia berhasil menemukan penggambaran yang pas tanpa membuat papanya curiga.


" Donatur?"


Claire mengangguk meyakinkan Papanya.


" Papa tahu sendiri kan kalau Neo memang seperti itu, suka nyerocos sama orang baru. Suka gak suka dia ngomong langsung!"


Ya, Claire tak boleh mengatakan jika Sadawira ada di Atana. Ia tak mau baik Sadawira maupun Papanya saling mengetahui dan malah membuatnya situasinya kembali tak nyaman. Meski ia sebisa mungkin menghindari Sadawira, tapi tidak tahu kenapa ia juga tak ingin melihat pria itu celaka.


" Tapi kenapa bisa kasih mainan segala?" tanya Papa Leo masih belum puas.


"Namanya juga donatur Pa. Suka-suka mereka mau ngasih apa. Lagipula, sekolah Neo yang baru ini bukan seperti sekolah yang lama. Banyak anak-anak yang kurang mampu. Dan kebetulan donaturnya ini emang baik banget Pa!"


Papa Leo menjadi tergelak. Jadi cucunya berpikir agar Ibunya mau menjadikan donatur itu Ayahnya? Sungguh menggelitik.

__ADS_1


"Ya sudah mau begitu. Papa kira dia orang lain. Ingat Claire, begitu Mama Edwin Ok papa harap kamu segera bisa menikah!"


__ADS_2