My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 46. Ingin bertemu


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Zayn yang duduk bagai simpatisan partai yang menunggu caleg rapat, tampak menjalankan tugasnya dengan baik. Ia selalu bisa membuat orang yang hendak masuk ke ruangan itu untuk pergi dengan memberikan tulisan sedang dalam perbaikan!


Yeah, sedikit konyol tapi lumayan membantu.


Namun yang membuatnya khawatir adalah kenapa Sadawira lama sekali?


" Ngapain saja orang itu di dalam? Lama sekali." membatin risau, resah dan gelisah sebab waktu yang semakin bergulir makin membuatnya kehabisan stok kesabaran.


Takut kalau-kalau sampai ada keluarga Claire yang tahu. Jelas mereka akan curiga dengan tulisan yang dia buat.


Dan baru saja pikirannya yang ketar-ketir itu melintas, tiba-tiba muncul satu wanita wanita yang sepertinya mengendus gelagat busuknya.


Ya Tuhan, tolong selamatkan kami!


Membuat Zayn buru-buru bangkit sebelum wanita itu membaca tulisan yang ia gantung dengan kurangajarnya.


" Emmm excuseme madam, can you help me to find Wi-Fi password?" seru Zayn yang berdiri membelakangi pintu dan kini meraih tulisan itu agar tak di baca oleh Mama Bella.


Hah, selamat.


Mama Bella yang terkejut dan heran dengan kemunculan orang yang sepertinya bukan WNI itu, akhirnya tak jadi berjalan mendekat ke arah pintu. Memilih membantu meski terdengar agak aneh.


WNA?


WiFi?


Membuat Zayn semakin tak tenang.


" Cepatlah sialan, kau akan mati jika dalam lima menit tak juga keluar!" batin Zayn resah karena dia yakin jika wanita di depannya ini adalah keluarga Claire.


Ya, Zayn meyakini betul hal itu karena wanita cantik yang kini berdiri di depannya, terlihat keluar dari ruangan Edi Darmawan. Selain itu, kalau dilihat-lihat dia mirip dengan Claire. Tidak salah lagi, pasti wanita itu merupakan keluarga Claire.


Dan saat Mama Bella sibuk mengutak-atik ponselnya untuk di scan barcode, Zayn bernapas lega manakala melihat Sadawira yang keluar dari pintu usai Claire menyembul dari balik pintu terlebih dahulu dengan suara pintu yang terdengar lirih.


Yes!


Zayn turut mengedipkan matanya manakala Sadawira mengacungkan jempolnya dari jarak dua meter. Menegaskan jika semuanya telah aman.


Pria itu terlihat melenggang pergi seolah tak terjadi sesuatu, meninggalkan Zayn yang masih melanjutkan dramanya bersamaan dengan Claire yang kini mengernyitkan dahinya karena heran.


" Already!" kata Mama Bella tersenyum kepada Zayn usai berhasil memindai kode WiFi melalui barcode.


Sungguh hal yang aneh. Mana mungkin WNA tidak punya data.


" Thanks for your help madam! Nice to meet you!" kata Zayn dengan sangat sopan. Membuat Mama Bella terkesima.


" You're welcome!" balas Oma Neo itu dengan wajah lemah lembut.


Zayn kini membalikkan badannya usia membungkuk hormat kepada Mama Bella. Ingin cepat - cepat menyusul Sadawira sebab ia sangat kesal dengan sahabatnya itu.


Namun saat Zayn hendak berbalik, matanya tak sengaja menatap wajah Claire, dan melihat lipstik wanita itu tampak sedikit berantakan.


" Fuc*king man! ( pria brengsek)!" umpat Zayn dalam hati yang menduga jika sahabatnya itu pasti sudah enak-enak di dalam.


Sialan!


Mama Bella yang baru menyadari jika anaknya sudah keluar kini terkejut dengan lipstik anaknya yang sedikit berantakan.

__ADS_1


" Claire, kamu sudah keluar? Bibir kamu kenapa?" tanya Mama Bella dengan alis mengerut.


Maka Claire seketika mendelik saat mamanya malah melempar pertanyaan mengejutkan itu.


Ah sial!


-


-


" Apa aku diluar hanya menghabiskan waktu untuk menunggu seseorang yang sedang....? It so damned!"


Tapi Sada hanya terkekeh manakala Zayn melontarkan kalimat bernada kekesalan kepadanya. Pikiran Zayn jelas sedang kotor.


" Tidak seperti yang kau bayangkan kawan!" jawab Sadawira yang kini sudah duduk di dalam mobilnya dengan lega.


" Lantas soal lipstik yang rusak?" tanya Zayn dengan alis yang terangkat sebelah. Menegaskan jika pria itu sama sekali tak percaya dengan sanggahan Sada.


" Jadi kau melihatnya?"


" Aku punya dua mata yang sehat. Mustahil aku tidak melihat hal itu brengsek!"


Sada semakin terkekeh sembari menggeleng, itu memang tidak seperti yang Zayn kira. Tapi ngomong-ngomong soal lipstik, ingatannya menjadi kembali pada obrolan sesaat sebelum ia keluar.


" Kau tidak akan pernah bisa paham dengan apa yang aku rasakan saat ini Wir. Hamil dari orang yang mencelakai keluargaku. Merasa terperdaya. Kemarahan Papa yang menyesali tindakanku yang jelas membuat keluargaku malu. Bahkan meksipun aku tak menghubungi mu lagi, tapi pikiran orang-orang jelas masih menuduhku yang tidak-tidak. Belum lagi stigma wanita hamil tanpa suami yang selama ini menyulitkan hidupku, apa kau mengerti akan itu semua?"


Sada juga masih ingat betul air muka penuh kekecewaan yang di tunjukkan oleh Claire.


" Aku bisa memperbaiki!"


" Memperbaiki?Dengan cara apa? Bahkan papaku bisa membunuhmu saat ini juga kalau kau berani muncul di tempat ini!"


Kini Sada tahu. Perbuatannya di masalalu benar-benar meninggalkan banyak hal buruk bagi Claire. Membuatnya merasa bersalah.


Claire sempat terdiam. Hatinya mendadak merasa aneh saat mendengar ucapan Sadawira.


" Aku sudah bertunangan dengan seseorang Wira. Dan ku harap kau menghormati posisi kita saat ini!"


Keduanya saling mempertontonkan sinar mata penuh ketidakberdayaan.


" Lalu Neo?"


Sada masih ingat betul saat Claire tak dapat menjawab pertanyaannya seputar Neo. Sada paham, Claire benar-benar berada di posisi yang sulit. Membuatnya harus mencari cara lain yang lebih baik, bahkan harus membahayakan nyawanya sekalipun.


" Jadi bagiamana. Apa rencanamu berhasil?" tanya Zayn demi melihat wajah Sada yang malah penuh beban usai bertemu Claire.


" Aku benar-benar telah melakukan kesalahan besar Zayn!" jawab Sada lesu.


" Kupikir dengan memberitahu surat ini, aku bisa dengan mudah merubah keadaan. Tapi setalah aku berbicara dengan Claire, permalasahan utamanya ada di keluarga mereka!"


Zayn mengusap punggung sahabatnya penuh rasa peduli.


" Mungkin jika ada berada di posisi orang tua Claire, aku akan melakukan hal yang sama. Tapi, kenapa kau tidak berbicara langsung saja kepada tuan Leo?"


" Apa kau pikir selama ini aku tidak melarikan apapun?"


" Satu-satunya orang yang bisa meluruskan masalah ini sudah mati!"


Membuat Zayn kini mengerti.

__ADS_1


" Aku tidak tahu apa aku juga akan bisa melewati semua ini jika aku menjadi dirimu. Tapi, sebagai laki-laki pantang bagi kita untuk mundur Da. Kita bisa saja memberitahu Neo sekarang juga soal siapa dirimu. Tapi itu juga tidak akan langsung bisa menutup segala persoalan!"


Sadawira mengangguk, ia setuju dengan hal itu. Berurusan dengan orang tua memang serba salah. Ia dulu memilih pergi karena selain menghormati tuan Edi Darmawan, ia juga tak tau jika bibirnya bakal tumbuh di rahim Claire.


Tapi sekarang, urusannya sudah menjadi lain karena menyangkut Neo. Di detik itu juga, Sada juga ingat dengan ucapan Claire yang jelas menegaskan jika dia sebenernya masih memiliki rasa.


"Aku hanya tak ingin melihatmu terluka karena keluargaku, jika kau nekat muncul di hadapan mereka lagi!"


" Bahkan jika mereka membunuhku sekalipun, aku tak takut!" gumam Sadawira tiba-tiba yang membuat Zyan mengerutkan kening.


-


-


Untung saja Mama Bella percaya jika penyebab lipstik berantakan itu karena Claire barusaja mengelap bibirnya usai mencicipi makanan di dalam ruangannya.


Membuatnya bisa bernapas lega.


" Opa akan pulang sore ini. Sebaiknya kamu pergi dulu bersama Neo. Deo dan Demas akan membantu Mama setelah ini!"


Claire mengangguk. Neo memang menjadi rewel sejak semalam. Dan mendapatkan informasi itu, tentu saja membutuhkan Claire senang. Dan lebih dari itu, untung saja Mama nya tak mengetahui jika Wira datang kesana.


Sore menjelang, Claire yang barusaja di telpon oleh Edwin harus buru-buru memungkasi teleponnya saat rombongan keluarganya yang membawa Opa sudah datang.


" Emmm sudah dulu ya, mungkin beberapa hari lagi aku akan kembali ke Atana!" kata Claire yang ingin menyudahi panggilannya.


" Baiklah. Mama berkata, dia ingin segera bertemu denganmu untuk membahas tentang kita!"


Claire sontak terdiam. Semakin kesini seharusnya ia makin tenang. Tapi kemunculan Sadawira dengan bukti-bukti yang ia bawa malah membuat segala sesuatunya menjadi memusingkan.


" Claire, dimana Neo?"


Seruan dari Mama membuatnya buru-buru berlari menyambut kedatangan Opa.


" Dia tidur Ma, ada apa?"


" Itu ada paket di depan. Mama baca kok untuk Neo, apa dari Edwin?"


" Paket?" ucap Claire mengulang dengan wajah bingung.


" Iya, nih coba kamu lihat. Sepertinya sepatu itu. Ini sepatu anak terbaru Claire. Dari Edwin ini pasti!"


Keringat dingin tiba-tiba membanjiri kening Claire. Edwin tak mungkin mengirimkan barang-barang seperti itu. Edwin bukan tipikal orang yang gemar memberikan surprise. Laki-laki itu lebih memilih mengajak langsung membeli daripada berkirim paket.


Namun belum juga kebingungannya terselesaikan, ponsel dalam genggamannya tiba-tiba berbunyi.


" Apa paketnya sudah sampai? Itu sepatu untuk Neo. Aku ingin bertemu dengan anakku malam ini, terserah bagiamana caramu. Kabari aku kalau sudah menemukan tempat yang bagus!"


Kegugupan mendadak melanda Claire. Bahkan Sadawira sudah berani secara terang-terangan mengirimkan paket untuk Neo.


" Hey, kenapa kau pucat begitu?" seru Deo yang melihat sepupunya mematung dengan wajah pucat.


" Ti- tidak apa-apa. Aku hanya...lelah dan bosan!"


Deo tersenyum simpul merangkul pundak Claire. Masuk akal juga pikirnya. Setiap datang ke Indonesia Claire bahkan tak sempat hanya untuk sekedar makan di luar.


" Opa sudah sehat. Sejak kau datang kau belum mengajak Neo pergi. Pergilah malam ini!"


Belum juga dia menjawab saran dari Deo, ponselnya tiba-tiba kembali berbunyi.

__ADS_1


" Jika kau tak datang, aku yang akan kesana!"


Oh ya ampun! Bagaimana ini? Jelas Wira tak main-main dengan ancamannya.


__ADS_2