
...🌸🌸🌸...
Indonesia
07.12 Pagi
" Apa pria itu pernah menghubungimu?"
Saat Claire sibuk membereskan beberapa pakaian ke dalam kopernya, Papa Leo tiba-tiba muncul dan mengajukan pertanyaan yang membuat wanita itu sontak mengernyitkan dahi.
" Siapa yang papa maksud?" bertanya usai menoleh sekilas dengan posisi diri masih meneruskan lipatan terakhir.
" Wira!" jawab Papa Leo dengan tatapan lekat. Menatap punggung anaknya yang sejatinya tengah shock akibat pertanyaan itu.
Claire seketika menghentikan aktifitasnya seraya memejamkan mata. Kenapa papa selalu membahas hal ini setiap mereka bertemu, apa beliau tak percaya kepadanya?
"Apa Papa meragukanku?" tanya Claire menatap papanya murung. Sedikit kecewa kenapa sedari dulu papanya tak mau percaya jika dirinya telah lost contact dengan Sadawira.
__ADS_1
" Jangankan Opamu, Papa pun tetap tidak tenang Claire jika kau masih sendiri. Keberadaan Neo sang..."
" Untuk itulah aku tak ingin tinggal disini Pa!" potong Claire cepat dengan wajah lelah. Menatap wajah pria nomor satu dalam hidupnya itu dengan sorot mata yang menunjukkan kekecewaan.
" Aku tak ingin berada di tempat yang selalu menyudutkanku. Oke aku salah, tapi apa aku juga tak berhak memperbaiki diri? Apa vonis buruk itu harus aku sandang sampai aku mati!"
" Claire!" pekik Papa Leo yang tak suka mendengar anaknya yang putus asa begitu.
" Neo adalah hidupku. Jika Papa dan Mama malu karena keadaanku, aku bisa terima Pa. Itu memang kesalahanku!"
" Kenapa kamu selalu memotong pembicaraan Papa seperti ini?" teriak Papa Leo yang mulai kesal sebab Claire selalu salah paham dengan itikad baiknya.
" Ini bukan perkara malu atau tidak malu Claire. Sampai kapanpun kau tetap anak Papa!"
"Tapi bagaimana jadinya jika Neo tumbuh tanpa sosok seorang Ayah? Kau jangan pernah melupakan stigma jika kau terus sendiri seperti ini, paham kau!" kata Papa Leo yang sebenarnya sedih sebab merasakan karma.
Antara dirinya dan Mama Bella dulu juga sempat mengalami hamil diluar nikah namun akhirnya mengalami keguguran. Hukum tabur tuai itu nyata adanya.
__ADS_1
Dan ucapan sang Papa tersebut, tak pelak membuat hatinya tiba-tiba sesak dan diliputi kesedihan yang telah lama dia tinggalkan.
Menjadi dirinya memanglah tidak mudah. Apalagi, walau di Atana tak se mengerikan seperti di Indonesia, namun sebenarnya ia sendiri kerap kewalahan dalam menjelaskan kondisi rumit hidupnya kepada Neo yang tak jera untuk bertanya.
" Anak buah Papa bahkan tak bisa mengetahui dimana pria itu sekarang. Pria itu berkeliaran dimana Papa juga belum menemukan informasi yang valid. Bagiamana jika dia melakukan balas dendam kembali?"
" Bagaimana jika dia tahu apa yang tejadi dan tiba-tiba mengambil Neo!"
" Stop Pa!" Claire memekik manakala ia mulai tak tahan untuk berdebat dengan pria yang ia sayangi itu. Ia sudah sangat lelah setiap membahas soal pernikahan. Sebab sungguh, tidak tahu kenapa hatinya sangat sulit untuk membuka diri terhadap pria lain.
" Atau jangan-jangan kamu masih mengharapkan pria itu!" tegas Papa Leo menatap tajam anak sulungnya.
" Udah Pa, cukup. Udah! Aku enggak mau kita selalu debat hanya untuk membahas masalah enggak penting ini Pa!" teriak Claire yang sebenarnya kini memikirkan kalimat terakhir papanya. Bahkan mulai mendulang rasa takut.
" Bagi kamu mungkin tidaklah penting. Tapi bagi Papa ini penting!"
" Oh my..." Claire seketika memijat kepalanya yang mendadak berdenyut sebab papanya kini menjadi lebih dominan daripada Mamanya.
__ADS_1
Apakah karena kesalahannya dulu, ia terus dianggap tak becus hingga saat ini?
" Kalau kau tidak ingin kami terus seperti ini, maka segera bawa pria yang bisa kau kenalkan kepada kami Claire!"