My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 76. Kiamat


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Nino segera menyeret lengan bosnya yang wajahnya masih tampak memerah seperti menahan gejolak dari dalam diri. Mungkin karena masih menyimpan kemarahan, atau mungkin karena tak enak hati lantaran membuat Nino repot.


Pria setengah jadi itu terlihat begitu telikas saat membersihkan darah di area telapak tangan Sadawira. Tak terlihat rikuh apalagi jijik.


" Bos ini kenapa lagi sih? Datang selalu larut, sekarang malah begini!" Nino menggerutu. Ia lantas mendecak berkali-kali manakala melihat bosnya malah membisu. Diam seribu bahasa.


Pria itu masih bergeming dengan merasakan sensasi perih manakala Nino membersihkan tangannya dengan cairan yang berbau aneh. Menguar menjajah rongga hidungnya. Tak berniat menyahut apalagi menjawab gerutuan Nino soal keadaannya.


Sada hanya tak menyangka jika sahabat tega melakukan hal itu hanya karena seorang wanita. Bukankah Andrew tahu seberapa penting Claire dalam hidupnya? Sungguh benar-benar pecundang.


Bagi Sada, sejak dia tahu siapa Neo sebenarnya, dirinya merasa seperti memiliki tujuan lagi dalam hidupnya. Gairah hidupnya tiba-tiba bangkit, dan perjalanannya semakin jelas akan mengarah kemana.


" Aku benar-benar stres No!" ucapnya kali ini yang akhirnya membuka suara. Namun tak menjelaskan secara terang-terangan soal apa yang kini membuat hatinya menggelegak.


Nino yang kini sibuk membalut luka itu merasa kasihan sekali dengan bosnya. Melempar tatapan paling sendu. Merasa iba dan trenyuh.


"Kontrol emosi bos. Saya tahu anda orang yang kuat. Saat permalasahan menyerang tanpa henti, yang kita butuhkan adalah pikiran yang tenang. Banyak persoalan yang tak selesai hanya dengan emosi!"


Sada meraup wajahnya kasar. Nino memang benar. Tapi kesemrawutan yang terjadi makin membuatnya tak bisa menepis rasa geram. Suram. Tenggelam dalam kekalutan.


" Aku bahkan nyaris mematahkan tangan sahabatku jika malam itu dia tidak lari!"


" Maksud anda?" tanya Nino seraya menutup botol cairan kuning sejenis antiseptik khusus luka dengan kening mengerut, lalu membebatnya dengan kasa putih.


Tapi Sada yang sadar jika dia terlalu banyak berbicara kini memilih memungkasi obrolan itu tanpa menegaskan kembali kalimatnya.


" Sudahlah. Mungkin beberapa hari ini aku akan sangat sibuk. Tidak usah menyiapkan makanan terlalu banyak. Yang penting cukup untuk kau sendiri!"


Nino menatap hampa punggung bidang yang kini menyambar kunci mobil dan entah akan pergi kemana. Sementara pikirannya masih penasaran, suara pintu yang tertutup keras membuat Nino merasa resah.


...----------------...

__ADS_1


Kamis ini Claire tahu bila papanya akan datang setelah Edwin beberapa hari yang lalu mengatakan hal itu kepadanya. Ia sudah mempersiapkan jawaban bilamana Papanya memberondongnya dengan pertanyaan sulit. Mulai dari ketidakjujurannya, dan tentang hubungannya dengan Edwin. Ia sudah menyiapkannya jawaban terbaik.


Namun masalah yang lebih besar rupanya datang tak mengenal kasihan. Suasana hatinya makin tak membaik manakala Edwin yang datang menjemput Papa Leo dan Mama Bella, datang bertepatan dengan sebuah mobil Mercedes hitam yang membuat dunia seakan berhenti berputar.


Sadawira yang berniat ingin mengajak Claire ke kantor polisi untuk membereskan persoalannya setelah semalam Andrew datang dengan menangis- nangis kepadanya, justru di kejutkan dengan seseorang yang telah lama ia takuti. Leo Darmawan.


Ketidaksengajaan diluar kuasa seketika membangkitkan genderang pertengkaran yang mencuat. Bagai seorang penyamun yang diburu aparat, Sadawira berdiri tegang manakala sepasang netra beringas melempar tatapan penuh ancaman kepadanya. Menekan rasa percaya diri yang semula membara.


" Beraninya kau menampakkan wajahmu!"


Sada tak tahu seberapa cepat seorang Leo membuka pintu mobil lalu membantingnya sebelum pria itu menuju ke arahnya dengan wajah keruh.


Papa Leo merangsek kerah baju Sada dan langsung melayangkan pukulan keras tepat di rahang sebelah kiri.


Boom


Membuat kepala pria itu seketika terasa memutar.


Claire menjerit, Mama Bella terlihat pucat dan Edwin terlihat resah meski dalam hati ia turut bersyukur sebab pria itu pantas mendapatkan bagiannya.


BUG!


Papa Leo tak lagi mampu menahan bongkahan kemarahan yang begitu menghimpit dadanya. Pria brengsek yang tega menjadikan anaknya alat untuk membalas dendam hingga membuat anaknya hamil, tak tak pantas untuk hidup.


" Aku sudah sudah memperingatkanmu untuk tidak menunjukkan wajahmu lagi. Tapi sepertinya keluargaku terlalu baik kepadamu!"


" B- begini Om. Sa- say..." dalam waktu singkat, Sada bahkan kehilangan kemampuannya untuk berpikir logis dalam menyusun kalimat informatif yang mungkin bisa menyelamatkannya.


" Pria sepertimu benar-benar tak pantas bersama dengan putriku!"


BUG!


" Papa!" Claire berteriak.

__ADS_1


Tapi Papa Leo tak memberi kesempatan pria itu untuk sekedar menghindar. Leo sangat marah. Ia geram karena melihat wajah Sadawira. Ia kembali meraih kerah baju Sada lalu memukul tepat mengenai pelipis kiri.


Pandangan Sada tiba-tiba berkunang-kunang dengan rasa kepala yang di kelilingi banyak sekali bintang yang entah berasal dari mana.


Edwin yang melihat Claire berlari menuju ke tempat Sada, segera menarik tangan wanita itu lalu merangkum tubuhnya dan membiarkan calon mertuanya menghajar pria sialan itu.


" Masih berani kau!"


" Om saya bisa jela..."


BUG!


Cairan asin yang memenuhi mulut Sada kini ia usap dengan napas yang semakin ngos-ngosan. Ia bisa saja melawan. Tapi yang berada di hadapannya saat ini adalah orang tua dari wanita yang dia cintai. Tidak, ia tak akan melawan meski ia akan mati karena di hajar oleh pria itu.


Dari tempatnya terhuyung-huyung, Sada masih memperhatikan gerik Edwin yang berusaha menghalang-halangi Claire untuk melerai mereka.


" Edwin, bawa Claire masuk!"


Mama Bella yang takut sebab melihat suaminya tampak marah kini memilih masuk bersama Edwin yang terus menyeret Claire yang memberontak.


" Pa, tolong jangan begini Pa. Kita bisa bicara baik-baik!"


Namun lagi-lagi Papa Leo tak mengindahkan teriakan anaknya. Ia kembali mendekat ke arah Sadawira yang wajahnya babak belur.


Sada menekan rasa malu dan kini tampak berani mendatangi seorang Leo Darwawan. Dua hari ini ia tak. cukup tidur demi membereskan masalah Claire agar ia bisa menjamin keselamatan wanita itu.


Namun saat ia hendak memungkasi seluruh ikhtiarnya, masalah tersebar justru datang dengan tak memberinya kesempatan, bahkan untuk sekedar menerbangkan nota pembelaan.


" Mau mati disini kau?"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2