
...🥀🥀🥀...
Claire mendengus kesal sebab Sadawira malah tergelak saat dirinya benar-benar ketakutan. Tapi tanpa Sadawira sadari, Claire malah tersenyum tipis demi melihat wajah tampan yang kini terlihat begitu senang itu.
Tawa yang sama, tawa yang mengingatkan saat-saat pertama mereka berkencan dulu. Tawa yang sebenarnya benar-benar dia rindukan.
" Claire, Claire. Itu hanya tikus. Kau ini galak tapi penakut!" cibir Sadawira yang masih tergelak akibat tingkah kocak Claire.
" Kau berani menertawakanku?" kata Claire menatap sebal Sadawira yang masih saja betah tertawa. Pura-pura sebal sebab sebenarnya meski ia benar-benar takut, tapi ia senang karena tawa lepas pria itu.
Sadawira akhirnya kini berusaha meredam tawanya agar Claire berhenti menatapnya kesal. " Hah!" Sada menghela nafasnya dengan senyum merekah. " Kau tahu, jika tau akan seperti ini, aku jadi ingin berterimakasih dengan pria asing tadi." kata Sada yang malah menatap wajah Claire dengan senyuman penuh arti.
Claire langsung menoleh membuang pandangannya. Ia tak bisa terus menatap Sadawira berlama-lama. Bisa terseret arus lain dia nanti.
" Claire!" panggil Sada lembut saat menyadarinya jika Claire tak mau membahas soal mereka berdua.
Namun yang di panggil masih betah mengalihkan pandangannya sebab canggung. Tapi Sada tak peduli, ia terus mengatakan apa yang ingin dia katakan
" Aku akan menemui Papamu dan mengatakan jika aku ingin menikahimu!"
What?
Membuat Claire sontak menoleh karena terkejut. " Jangan macam-macam kau Wira. Aku sudah menjelaskan beru..."
Cup
Sada langsung mengecup bibir itu cepat manakala Claire mulai mengeluarkan kalimat penolakannya. Kini wanita yang sedang dia cium itu langsung melemparkan tatapan kesal sembari mengusap bibirnya.
Tapi Sadawira lagi-lagi tak peduli. Pria yang kembali ingin tertawa demi reaksi Claire itu semakin mendekatkan wajahnya ke arah Claire.
" Kali ini aku serius. Aku tak bisa lagi melihatmu bersama pria itu. Neo adalah milikku, milik kita!"
Claire semakin takut karena apa yang di ucapkan Sada jelas seperti sebuah kiamat untuknya. Bagiamana ini? Bagiamana jika kengawuran Sadawira ini menjadi kenyataan?
" Papa sangat membencimu Wira. Kau harus tahu itu!"
" Aku tidak peduli!" potong Sada cepat. Aku hanya mohon kepadamu, tolong jangan menghindar lagi. Sisanya itu urusanku!"
Claire menatap pejantan yang kali ini benar-benar terlihat jantan itu dengan mata berkaca-kaca. Bagiamana ini? Rasa di dadanya memang masih ada untuk Wira. Tapi ia dan Edwin bahkan sudah melakukan satu langkah yang lebih dekat dengan pernikahan.
" Pikirkan Neo. Aku ingin bersatu dengan kalian, bagiamanapun caranya. Meski aku harus berdarah, bahkan kehilangan nyawa sekalipun!"
" Wira!"
__ADS_1
" Aku tahu kau juga masih mencintaiku kan?"
Claire terdiam dan tak bisa menjawab. Ia menjadi speechless demi pertanyaan yang membuatnya bimbang itu.
" Claire!"
Ia terdiam saat Sadawira kini meraih tangannya lalu menggenggamnya erat. Membuat hatinya berdebar dan sejauh rasa aneh kini menelusup ke dalam dirinya.
" Aku tak bisa lagi menahan semua ini Claire. Enam tahun aku menahan semuanya sendiri. Bahkan aku kesulitan hanya untuk sekedar menjelaskan satu kebenaran. Aku melakukan hal itu karena aku mengira Deo dan Demas yang membuat kakakku Anthoni mendekam dalam penjara!"
" Anthoni?" ulang Claire dengan kening berkerut.
Sada mengangguk. Menatap lekat Claire yang tampak terkejut.
" Anthoni adalah kakakku!"
Membuat Claire kontan membulatkan matanya.
-
-
Beberapa waktu kemudian di suatu tempat yang bising.
Ada apa ini, tumben sekali bosnya mengirimkan pesan pada jam diluar operasional.
" Apakah kalian sedang bersama Dollar? Jika iya, tolong datang ke alamat yang akan aku kirimkan!"
Maka Janu buru-buru memperlihatkan pesan bernada genting itu kepada Henry.
" Ini barusan?" tanya Henry memastikan dengan wajah serius.
Janu mengangguk cepat, seolah menegakan jika itu adalah hal gawat untuk mereka.
" Buruan bangunkan si Dollar!"
Detik itu juga, Henry segera beranjak lalu pergi menuju ke tempat Dollar yang sedang terkapar karena kelelahan.
" Do!" panggil Henry mengguncang tubuh Dollar yang mirip seperti orang mati.
" Eughhh!"
"Do bangun Do!"
__ADS_1
Namun yang di panggil hanya melenguh tanpa bergerak, sebab tak memiliki daya untuk sekedar membuka mata.
" CK, bangun Do!" seru Henry yang semakin kesal.
Janu turut mendecak kesal sebab Dollar benar-benar seperti orang mati. Mereka tidak tahu, jika pria konyol itu kelelahan sebab tubuhnya remuk usai meladeni gelora Diva yang tak ada matinya.
"Do! Dollar!"
" Duh, ada apa lagi sih? Udah kalian makan aja sepuasnya, nanti aku yang bayar! " sahutnya malas dengan suara serak khas orang baru bangun. Tak mau di ganggu sama sekali karena ia ingin tidur sejenak.
" Sialan ni anak. Buruan bangun, dicari bos nih kamu!" sungut Janu yang telah berada di ujung kesalnya.
" Apa? Si bos, mana?" pekik Dollar yang kini akhirnya bangun.
Membuat cuping hidung Janu dan Henry seketika melebar.
-
-
Dilain pihak, Zayn rupanya juga membaca pesan dari Sadawira yang sebenarnya dikirimkan kepadanya sebelum ia menghubungi Dollar dan kawan-kawannya.
Praktis, Zayn yang akhirnya terpaksa membatalkan kegiatannya untuk makan, kini mengumpat sebab malam-malam begini mendapat permintaan dari Sada untuk datang ke sebuah tempat yang cukup asing di telinganya.
Baru saja kembali, tapi lagi-lagi pria tampan itu tak berhenti untuk mengganggunya.
Pria itu terus menggerutu sepanjang jalan karena sahabatnya itu selalu saja menginterupsi di waktu yang tidak pas.
" Tolong datang ke alamat ini. Aku butuh bantuanmu!"
Zayn tak tahu jika ia benar-benar sangat di butuhkan saat ini, pria itu lantas melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan sampailah ia di sebuah gedung yang memiliki lantai tinggi.
Namun saat ia hendak memasukkan mobilnya, datang mobil lain yang tak sengaja memblokade jalan itu dan berhasil membuatnya makin kesal.
" CK, apa-apaan ini. Kamu gak tahu kalau aku sedang buru- bur...."
Mata Zayn sontak mendelik demi melihat Melodi yang berada di balik kemudi mobil sialan itu.
" Kamu lagi?"
-
-
__ADS_1