
...🥀🥀🥀...
Sada tergelak demi mendengar penuturan Zayn yang kini benar-benar kesal saat menceritakan betapa menyebalkannya wanita bernama Melodi itu.
Ya, pria bermata tajam itu langsung mendatangi rumah Sada meski ia tahu jika sahabatnya itu barusaja tiba.
" Sumpah Da, aku benar-benar nyesel mau berbagi tempat dengan perempuan itu!" sungut Zayn dengan wajah yang teramat kesal.
" Udah di tolong, e gak mau berterimakasih. Malah ngomel!"
Sada masih terpingkal-pingkal saat sahabatnya mengulas kesialannya pagi-pagi itu. Kesialan yang mungkin akan membawanya kepada cerita lain dalam kehidupannya nanti.
" Lagian, kenapa kamu bisa naik taksi? Supir mana supir?" ejek Sada yang kini merasa terhibur dengan kedatangan Zayn.
" Aku tadi datang bareng anak buah ku. Aku mau jemput temannya Mama dan pulangnya mau pakai taksi aja karena mobilku yang satu masih di bengkel. Ribet pakai supir. Tapi ternyata Mama salah kasih jadwal. Ee tidak tahunya malah ketemu nenek lampir itu!" kata Zayn dengan wajah mendengus.
Sada semakin tergelak bahkan membuat Nino yang kini menyajikan minuman menjadi keheranan. Apa gerangan yang membuat bosnya tumben sesenang ini?
" Aku minum ya No, panas otakku!"
Nino mengangguk polos saat melihat Zayn memilih minuman dingin ketimbang kopi yang dibuatnya. Sepertinya Melodi benar-benar berhasil membuat Zayn stress.
" Tapi, kenapa dia bisa ada di sini ya?" tanya Zayn usai meneguk separuh isi botol minuman berkarbonasi itu.
Sada melirik sahabatnya penuh maksud, " Kenapa sekarang jadi ingin tahu?"
Membuat pria bercambang tipis itu kelimpungan mencari alasan.
" Ya, cuma pingin tau aja!"
Sada meraih cangkir lalu menyesap isinya.
Slurrrp ah!
" Mungkin karena ada urusan. Kudengar dari Boni, Leo Darmawan memang mempercayakan perusahaannya pada anaknya yang kedua. Sejauh ini aku paham. Mungkin karena Claire..."
Sada menghela napas turut menyesali perbuatannya dulu. Mungkin karena hanya Melodi lah harapan satu-satunya pria itu, sebab Claire sudah beralih ke jalurnya sendiri.
Ia kini sudah tahu siapa Neo, hasrat untuk bersatu tentu berkobar dalam dadanya. Dan tentu saja masalahnya tinggal keluarga Claire terutama pria bernama Leo Darmawan itu.
" Si Dollar mana? Kok kamu balik sendiri?" tanya Zayn yang teringat akan Dollar.
" Ngantar Diva!" menakertrans santai.
" Diva?"
Sada mengangguk, menjawab keterkejutan Zayn. " Mungkin wanita bebas seperti Diva akan cocok dengan pria playboy macam Dollar!" seru Sadawira yang kini tersenyum penuh arti.
Dan benar saja, di lain pihak Dollar yang entah bagaimana ceritanya bisa berada di kamar Diva, kini meneguk ludahnya manakala wanita yang melepas pakaiannya itu berdiri diatas tubuhnya yang sudah tak tertutupi oleh apapun.
Tampak saling bertukar pandang dengan tatapan sendu usai saling *******.
__ADS_1
Diva benar-benar kalap manakala melihat otot lengan Dollar yang liat dan kekar, perutnya yang ternyata lumayan, dan bahunya yang bidang. Dollar juga tak mengira jika dirinya akan mendapatkan sajian penutup berupa icip-icip kue apem legendaris usai menikmati sarapan lezat tadi.
" Ah!" pekik Diva pelan usai seluruh bagian keras nan tegak itu telah terbenam sepenuhnya di bagian miliknya yang lembab.
Diva terlihat memimpin pola permainan. Meskipun playboy dan jago gombal, Dollar yang sebenarnya jarang melakukan hal ini tentu sedikit merasa terbimbing oleh wanita yang begitu lihai itu.
Ia memejamkan matanya sembari mendesis, begitu sensasi yang datang bersama gelenyar aneh itu menjajah batinnya. Wow, begitu nikmat dan tak bisa di jelaskan dengan logika.
Diva yang terus mengayun dengan tubuh yang mulai mengkilat karena keringat terus saja mengeluarkan suara-suara yang semakin memicu adrenalin Dollar untuk bangkit.
Entahlah, toh dia yang di tawarkan. Dan mendapatkan barang seenak ini, tentu merupakan dambaan bagi setiap pria bukan?
Melihat Diva yang mulai kelelahan karena ia merasa ada sesuatu yang cair membanjiri kepunyaannya, Dollar yang meyakini jika Diva telah sampai pada puncaknya itu kini membalikkan tubuh kenyal Diva lalu beralih memimpin permainan.
Di detik itu juga, Diva benar-benar merasa terpuaskan. Tidak Sada juga tidak apa-apa, nyatanya Dollar rupanya juga bisa memuaskannya.
Cihaaa!
...----------------...
Claire tahu bila adiknya sudah berada di rumahnya. Tapi malam ini ia sepertinya akan pulang terlambat. Edwin memberi kabar jika dia akan melakukan operasi malam nanti, fix tunangannya itu tak akan bisa datang hari ini atau besok.
Tidak apa-apa, toh Claire malah merasa tenang saat ia menyelesaikan masalah pekerjaannya.
Claire sekarang di kantornya sendiri. Memeriksa dan mengumpulkan laporan yang akan ia serahkan kepada pengacaranya. Masalahnya kali ini tak biasa ia biarkan begitu saja, karena sudah melanggar hukum.
Sengketa nama produknya kini semakin memanas sebab rivalnya malah memposting hal-hal yang merugikan perusahaannya. Dan mengklaim jika brand kecantikan tersebut adalah jiplakan. Padahal, sejak di Indonesia brand nama itu sudah ia pegang.
Deg!
Membuat Claire terkejut setengah mati.
Claire yang panik kini terlihat menyalakan flash light di ponselnya. Ia lantas menghubungi beberapa orang namun tak bisa.
" CK, kenapa tiba-tiba mati sih? Perasaan tagihan listrik udah dibayar Tania deh!" bergumam sendiri membunuh rasa takutnya.
Dan saat kepanikan semakin nyata, ia melihat sekelebat bayangan yang tiba-tiba melintas di depan kaca ruangannya. Membuatnya semakin panik.
" Siapa itu?" ia berteriak karena jelas yang melintas itu adalah sosok manusia.
Namun alih-alih menjawab, suara yang kini mampir di telinga justru semakin membuat Claire ketakutan.
GUBRAK!
Claire semakin tegang dan berkeringat karena AC di ruangan itu padam. Beruntung ruangan itu ia kunci sesaat setelah Tania pamit pulang terlebih dahulu.
Dan saat mendengar suara benda yang sengaja di jatuhkan itu, ia yakin jika bahaya sedang mengintainya.
" Astaga, siapa itu sebenarnya!" ucap Claire yang tubuhnya mulai gemetar karena takut.
Claire lantas berusaha menghubungi siapa saja yang berada di ponselnya namun tak satupun dari mereka yang menjawab. Ia terlihat menghubungi para anak buahnya namun tak satupun dari mereka yang menjawab.
__ADS_1
Ponsel Melodi bahkan tidak bisa ia hubungi, ia mencoba menelepon nomor Juwi namun semua berada dalam luar jangkauan.
" CK, please angkat dong!"
Claire semakin resah, saat tak satupun dari orang yang ia kenal mengangkat panggilan darinya.
KREK!
" Siapa itu, jangan main-main!" teriaknya yang mulai gelisah karena nyatanya Claire sekarang benar-benar ketakutan.
Ia juga heran, kenapa petugas keamanan yang ia pekerjakan di bawah tak ada datang untuk menolongnya.
KRUMPYANG!
Dan saat suara-suara yang di timbulkan semakin aneh, Claire dengan cepat menggulir nomor telepon di ponselnya dan mencari seseorang yang mungkin bisa ia mintai tolong. Siapa saja, yang penting bisa menolongnya.
" Wira!" ia bergumam dengan kepanikan yang semakin kentara. Teringat akan satu nama yang tiba-tiba melintas dalam kepalang.
Ia berlega hati karena bekas chat dari Wira di ponselnya tak ia hapus semua. Ia kini membuka blokir nomor pria itu dan langsung menghubunginya.
Ya, Claire terpaksa menghubungi pria yang paling ingin dia hindari itu karena desakan keadaan. Dan saat ia mulai men-dial nomor tersebut.
BROK! BROK! BROK!
Pintu di gedor-gedor dengan kerasnya dan membuat napas Claire semakin memburu. Di detik itu juga, Claire yakin dan sadar jika seseorang sedang menerornya.
Ia kembali memanggil nomor Sadawira yang terpaksa ia hubungi karena suasana yang mendadak mencekam. Setidaknya ada orang yang akan menyelamatkannya. Tak peduli meski sebenarnya ia sangat tak ingin berurusan dengan Sadawira lagi.
Dan saat pintu itu di gedor-gedor dengan semakin kita, suara di seberang telepon membuatnya berlaga hati.
" Halo, Clai..."
" Wira tolong aku Wira, tolong aku..." Claire menyahut dengan suara yang begitu panik. Membuat seseorang yang berada di ujung telepon seketika tegang.
" Claire are you ok?"
BROK BROK BROK
" Tolong aku Wira, seseorang sedang menerorku, aku di kantor sendiri, cepat tolong aku Wira!" Claire berteriak dengan tangis yang tak dapat di bendung.
Membuat Sadawira yang kini terkejut tak jadi membaringkan tubuhnya, namun langsung menyambar jaket miliknya lalu mengambil kunci mobilnya.
Nino yang mendengar derak langkah, langsung keluar kamarnya dan setengah kaget sebab melihat bosnya keluar lagi padahal dia mengeluhkan kondisinya yang sangat lelah.
" Bos, anda mau kemana?" tanya Nino cemas.
" Aku harus pergi sebentar, tidak usah menungguku aku membawa kunci!" jawab Sada yang nampak terburu-buru.
Nino mengangguk meski sebenarnya ada sedikit rasa penasaran kenapa wajah bos-nya tiba-tiba menjadi setegang itu.
" Apa sesuatu telah terjadi?"
__ADS_1