My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 61. Pria dengan hati


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Edwin yang barusaja mengantar Mamanya ke kamar hotel, kini tiba-tiba di tahan oleh sang Mama saat hendak keluar.


" Ada apa Ma?" tanya Edwin yang badannya sudah condong ke bibir pintu.


" Mama hanya ingin melihat kamu bahagia. Apapun keputusan kamu mama akan support. Tapi kamu juga harus tahu, sebagai wanita, Mama bahkan belum melihat perasaan apapun di sorot mata Claire nak!"


Edwin tersenyum hangat mengurai keresahan orangtuanya, meski sebenarnya ia pun masih dalam tahap berusaha. Di dudukannya wanita berambut pendek itu lalu dengan telaten Edwin kembali meyakinkan.


" Mama tidak usah khawatir. Mungkin Claire masih belum terbiasa saja. Mama tahu kan, kami ini berteman lama. Edwin yakin, seiring berjalannya waktu nanti keraguan Mama ini akan hilang!"


Mama Siska tersenyum menatap wajah tampan putranya. Berusaha untuk meyakini apa yang telah di sampaikan oleh putranya.


" Sekarang Mama istirahat ya. Besok kita harus pulang!"


Wanita itu mengangguk lalu membiarkan putranya pergi. Berharap apa yang ia takutkan tak akan bisa terjadi.


-


-


Pagi harinya, di suatu tempat di antah berantah, Diva yang sangat kesal karena tak mendapat sedikitpun waktu serta kesempatan untuk dekat dengan Sada terlihat pergi ke smoking area.


Menghisap rokoknya dalam-dalam guna melonggarkan pikiran yang penat.


" Kenapa dia sangat sulit aku dekati? Kurang apa aku coba?" menggerutu sembari melihat ukuran dadanya yang terbilang besar.


" Siapa wanita yang Sada sembunyikan? Secantik apa dia?" mengomel kesal seolah dialah yang seharusnya di pilih oleh Sadawira.


Padahal, ia selama ini juga pilih-pilih terhadap pria. Tidak tahunya dia sendiri malah dikesampingkan.


Brengsek!


Sada benar-benar mengefisienkan waktunya, agar dia tak terlalu lama di sana. Usai menandatangani berkas dan meninjau pabrik milik relasinya, pria itu akhirnya lega karena kini ia resmi akan menjadi pemasok briket dalam skala besar.


Sebuah kesinambungan yang jelas bakal membuat Sadawira tak perlu lagi mengkhawatirkan masa depan Neo. Semua sudah berada dalam jalurnya. Tinggal menaklukkan sang Ibu. Yeah!


" Mana Diva?" tanya Sada kepada Dollar yang tak henti-hentinya memeluk tubuhnya sebab belum terbiasa dengan salju.

__ADS_1


" Pergi tadi bos. Emmm, kelihatannya, beliau suka lho sama anda bos!"


Namun yang di ajak bicara sama sekali tak menanggapi. Dollar ini selalu saja membahas hal tidak penting.


" Sayang banget bos, barang bagus di lewati begitu saja!" timpal Dollar tergelak.


" Bocah kemarin sore berani-beraninya!"


Tapi Dollar malah terkekeh, " Kenapa gak mau sih bos. Bu Diva kan cantik, kaya, apalagi itunya..."


Sada mengernyit. Tak mengerti maksud ucapan anak buahnya yang cabul itu.


" Big banget bos!" Dollar tergelak namun Sada hanya menggeleng sebal.


Dasar pria penghobi film bejat! Otaknya jadi seronok setiap saat.


" Tidak semua pria perlu itu Do. Tapi ini..." menunjuk pada bagian dadanya.


" Pria sejati selalu memperjuangkan apa yang ada di hati!"


Dollar menyelesaikan tawanya yang tak bisa dia kontrol. Sungguh, jika bukan dengan bos seperti Sada, ia pasti tak akan berani melakukan hal itu.


" Ya maaf bos. Habis, si bos...."


Dan saat Sada selesai memasukkan folder penting ke sebuah tas hitam lalu berniat pergi, pertanyaannya Dollar sukses membuatnya tertegun.


" Apa itu alasan anda selama ini sendiri?"


Sada langsung mengehentikan langkahnya saat mendapat pertanyaan dari Dollar. Berani juga anak buahnya itu.


Kini Sada membalikkan badannya, ia menatap lurus anak buahnya yang sebenarnya paling dia sayangi itu.


" Kau akan tahu arti mencintai dalam arti sebenarnya, saat kau telah bisa merasakan sebuah rasa yang sulit kau hilangkan, sekalipun aral menghantam tak kenal kasihan!"


Dollar tercenung. Jika sudah berbicara serius, bos-nya itu sudah seperti orang yang begitu bijak.


" Apakah orang tersebut adalah Ibunya Neo?"


Sada menarik senyuman. Anak buahnya yang menyandang playboy kelas kakap ini memang memiliki intuisi yang sangat baik.

__ADS_1


Sada bersedekap lalu menatap wajah anak buahnya lekat dengan senyuman penuh arti, " Sepertinya aku akan sering meminta tolong kepadamu nanti!"


Dollar tersenyum. Kini ia tak perlu susah-susah lagi menebak. Bosnya itu akhirnya mengakui sendiri jika tebakannya tidak salah.


Meski Dollar tak tahu menahu kenapa bisa bosnya itu menyukai janda, tapi bila jandanya sekelas Ibunya Neo tentu dia pun akan goyah.


...----------------...


Edwin dan Mamanya telah bertolak menuju Atana usai pagi tadi kembali datang ke rumah Papa David untuk berbicara lebih lanjut tentang lamaran.


" Yang penting tidak menikah di tahun ini. Kalau bertunangan atau lamaran, ya tidak apa-apa!"


Perkataan kakek Soleh beberapa waktu lalu menjadi sumber keberanian keluarga Darmawan dalam merumuskan tujuan yang baik.


Tak ayal, Edwin terlihat begitu semangat usai mendengarkan hal tersebut. Berharap waktu setahun itu akan berlalu dengan cepat.


Melodi yang kini menjadi lebih pendiam membuat semua orang merasa heran.


" Kamu kenapa Mel? Tidak enak badan?"


Ia menggeleng sambil tersenyum. Namun Claire yang resah menatap adiknya dengan was-was. Takut kalau-kalau adiknya itu membongkar fakta yang belum siap ia beberkan.


" Pa, mungkin pas acara 7 harinya Opa nanti aku gak bisa di sini. Perusahaan besar yang Papa bilang kemarin minta aku datang sama tim buat ngenalin produk. Mereka minta aku yang datang langsung!"


" Yang di Atana?" tanya Papa Leo sembari meriah gelas minumannya.


Melodi mengangguk usai masukkan satu suap nasi kedalam mulutnya. Claire terkejut. Jadi selama ini mereka juga mengincar pasar Atana?


" Lakukan saja. Toh kakakmu juga sudah pindah kesana. Nanti ada Deo juga Demas dan para istrinya yang baru Mamamu."


Claire juga harus segera kembali sebab sudah lama sekali ia meninggalkan pekerjaannya. Belum lagi sekolah Neo yang sudah terlalu lama izin.


Tapi Claire merasa lega karena Melodi tak membahas apapun soal Wira. Dan Neo juga terlihat sibuk dengan gulai ikan patin yang sedari tadi menggoyang lidah nya.


" Aku juga harus segera kembali Pa. Neo sudah lama sekali izin!"


Papa Leo mengangguk. Beginilah memang cara kerja circle kehidupan. Yang tua pergi, yang tunas muda harus lebih bersemangat untuk menjadi generasi yang bisa di harapkan nantinya.


" Pesan Papa cuman satu. Jaga hubunganmu dengan Edwin juga Mamanya!"

__ADS_1


Maka Claire dan Melodi seketika saling menoleh. Saling menatap satu sama lain demi rasa khawatir akan bom yang kini mereka bawa kemana-mana.


Bom yang sewaktu-waktu bisa meledak dan membinasakan mereka semua.


__ADS_2