My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 73. Kemarahan Leo Darmawan


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Edwin tercenung karena tertampar ucapan Sada yang menurutnya mengejutkan hati. Apalagi, pria itu terlihat meyakinkan sekali manakala berkata.


Claire yang berada diantara dua pejantan yang kini saling melempar tatapan permusuhan,hanya bisa menangis. Ia tak suka dengan kenekatan Sada. Jelas setelah ini urusannya akan merembet kepada Leo Darmawan.


" Claire?" Edwin menyebut namanya lirih meminta klarifikasi.


Apakah semua itu benar?


Kenapa Claire selama ini menyembunyikan hal itu darinya? Bahkan pria yang barusaja menempeleng Edwin itu sudah pernah makan semeja dengannya.


" Maafkan aku Win!" menjawab dengan suara yang telah tergulung isakan keras. Begitu menyesakkan dada, menghujam relung terdalam Edwin yang tak siap akan kenyataan.


Salahnya sendiri, tak pernah menggali dan mencaritahu secara pasti, siapa sosok yang dulu menghamili Claire. Tapi selain keengganan Claire untuk membuka rahasia, Edwin yang tak ingin membuat luka basah Claire kembali terbuka, akhirnya memberikan permakluman.


Namun tanpa di duga, sikap legowo yang dia lakukan rupanya berbanding terbalik dengan kinerja dunia yang kini membuktikan bagiannya.


Jawaban yang di sertai isak tangis itu tak pelak membuat dada Edwin bagai terguncang. Ia menggeleng lemah tak percaya dengan pengakuan Claire.


" Maaf aku Win!"


Sada mengabaikan isak tangis Claire yang terdengar pilu itu. Ia mendekat ke arah Edwin dengan tanpa takut.


" Ku harap setelah ini kau sadar dan tahu batasanmu!"


" Kau yang seharusnya tahu batasan!" Edwin menyergah dengan tatapan tajam. Membombardir kepercayaan diri Sadawira.


" Kami!" Edwin mengangkat jari manisnya dimana sebentuk cincin telah tersemat indah disana, " Akan tetap menikah!"


" Jangan menguji kesabaranku brengsek! Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi!"


Claire semakin takut. Seharusnya sejak awal ia berterus-terang saja kepada Edwin agar hal itu tidak terjadi, tapi kini semua sudah terlambat. Ia bahkan tak tahu harus melakukan apa. Otaknya mendadak buntu, dan segala sesuatunya berubah menjadi sangat menyedihkan.


Sada terlihat mendatangi pria yang tingginya hampir sama dengannya itu. Menatapnya tajam dari jarak yang sangat dekat. " Aku tidak pernah takut denganmu!"


-


-


Dan benar saja, usai perdebatan sengit kemarin, hari ini Leo Darmawan yang di kabari oleh Edwin terlihat meradang. Ya, pria berkacamata itu langsung melapor kepada calon mertuanya terkait pengakuan Claire.

__ADS_1


Tak hanya meradang dan berang, bahkan Papa Leo yang kini gusar tiba-tiba mengatakan hal yang mustahil kepada keluarganya yang dilanda kegelisahan.


" Nikahkan mereka sekarang juga!" teriak Papa Leo dengan kemarahan yang berapi-api.


" Kau jangan gila Leo. Ada pantangan yang musti kita lakukan!" hardik sang kakak, David Darmawan tak setuju.


Sebagai orang yang masih tunduk dan taat pada sebuah tradisi dan norma, Papa David tentu tak bisa membiarkan adiknya bertingkah sembrono.


Papa Leo menatap kakaknya dengan wajah kecewa cenderung marah.


" Apa selama ini bang David juga sudah tahu soal Sadawira?"


Mama Bella dan Mama Jessika terlihat tak tenang. Mereka berdua nampak takut dengan pertengkaran kakak beradik itu. Pusara Opa Edi belum mengering betul, dan kedua anaknya kini justru bertengkar. Menepikan sederet pesan - pesan luhur yang sempat di ucapkan beliau semasa hidupnya.


" Leo, tenang lah dulu, aku..."


" Jawab bang?" hardik Papa Leo tak sabar.


Keadaan tiba-tiba menjadi runyam. Papa David tak mengatakan apapun soal Sadawira karena ia tak ingin adiknya menjadi seperti ini. Kebencian yang mendarah daging bisa saja membutuhkan orang gelap mata. Dan Papa David tak mau jika adiknya sampai bertindak di luar kendali.


" Cukup Om!" pekikan yang tiba-tiba membuat ke empat manusia itu kompak menoleh.


Dan benar saja, begitu tiba di rumah prabon, ia mendapati Papa dan Omnya adu mulut dengan suasana keras dan suasana yang tegang bukan main.


" Deo?" semua mata tertuju kepada Deo yang kini berjalan serius.


" Kenapa Om harus khawatir soal Sadawira kalau Claire memang mencintai Edwin?"


" Apa maksud kamu Deo?" Papa Leo bertanya dengan wajah yang tak mengerti.


" Mungkin kita semua telah melupakan semuanya begitu saja. Bahkan aku yakin, Om Leo juga tak akan pernah mau menerima saran dari kami waktu itu. Fine, absolutly Claire anak Om. Tapi meski kita berusaha menutupi, menghilangkan, melupakan, bahkan mendramatisir keadaan sesempurna apapun, tapi tidak dengan dunia. Semesta bekerja menggunakan caranya sendiri, tanpa seorangpun tahu!"


" Omong kosong apa yang sedang kau ucapkan Deo?" hardik Papa Leo yang menjadi naik pitam karena sepertinya Deo tak berada di pihaknya.


" Sada dan Neo telah bertemu diluar kuasa Claire!"


Deg!


" Darimana kau tahu?"


" Tidak penting aku tahu darimana Om. Tapi jika aku ada di posisi Wira. Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama!"

__ADS_1


Kini isi dada Papa Leo benar-benar penuh kemarahan. Semua keluarga telah tahu kecuali dirinya. Pengkhianatan macam apa ini?


" Aku tidak peduli. Aku akan menikahkan mereka segera. Aku tidak ingin memberikan celah pada keparat itu!"


-


-


Keesokan harinya, Edwin pagi-pagi sekali datang ke rumah Claire dengan wajah tegang. Namun begitu pintu dibuka, sosok Melodi lah yang justru berada di sana.


" Mas Edwin?"


" Aku ingin berbicara dengan Claire!"


Dari nada suara juga air muka yang tersuguh, dapat Melodi simpulkan bila masalah lain pasti tengah mendera kakaknya. Pelaku penyerangan Claire belum terungkap, kini masalah yang lebih kompleks malah mencuat ke permukaan.


" Apa soal Wira?"


" Kurasa kau pasti juga sudah tahu soal itu. Mama dan Papa kalian akan datang hari ini!"


" Apa?" pekik Melodi yang tentu saja terkejut. Jelas kedua orangtuanya itu telah tahu.


Melodi langsung memberikan tatapan menuduh kepada Edwin. Melodi menduga jika Edwin pasti melapor kepada Papanya.


" Mas Edwin yang berkata kepada Papa?"


" Maaf, tapi selain aku tidak memiliki pilihan, mereka layak tahu masalah ini!"


Detik itu juga, kadar kesukaan Melodi terhadap pria di depannya menurun beberapa level. Bukankah itu sebuah pecundang?


" Seharusnya mas Edwin tidak mengatakan!"


" Dan membiarkannya mereka menjalin hubungan di belakangku?"


Damned! kini Edwin malah berdebat dengan calon adik iparnya. Keadaan berubah menjadi runyam, Edwin mungkin merasa menjadi pecundang karena melapor kepada mertuanya, tapi itu lebih baik ketimbang dia kehilangan Claire.


Melodi terdiam. Lidahnya mendadak kelu, tercekat dan tak bisa berkata. Situasi yang ada, terjadi diluar kendalinya.


" Aku dan Claire akan menikah pekan depan!"


" Apa?"

__ADS_1


__ADS_2