
...🥀🥀🥀...
Dua bulan kemudian.
Kesibukan mengurus ini itu terkait pernikahan menyita waktu juga rupanya. Tapi selama Dua bulan ini, Sadawira benar-benar memanfaatkan waktunya betul-betul. Tak ada istilah berleha-leha.
Ia juga tak main-main untuk mengerahkan segenap yang dia miliki guna mencari pria yang menjadi kunci kejadian kelam masa lampau, Bramasta.
Ia berpacu dengan waktu. Rengekan Neo yang memintanya tinggal serumah kian membuatnya terusik. Membuatnya tak sekalipun mangkir untuk berusaha mencari pria brengsek itu.
Dulu ia memang acuh dengan keberadaan Bramasta. Hal itu terjadi sebab ia merasa tak ada gunanya lagi mengeruk masalalu yang hanya akan mendatangkan perih. Toh Claire juga menghilang entah kemana. Apalagi, ancaman Edi Darmawan dulu benar-benar membuatnya enggan berontak.
Apalagi, Bramasta juga turut menghilang tanpa jejak usai kakaknya Anthoni ditemukan tewas dengan mulut berbusa di dalam sel.
Tapi beda lagi ceritanya dengan kondisinya saat ini. Papa Leo jelas tak boleh di permalukan di aliansi perusahaan manufaktur karena memiliki menantu seperti dirinya.
Ia dulu memang tak mau pusing soal nama dan juga harga dirinya dan lebih memilih pergi ke negara lain sebab enggan berjibaku dengan kerumitan. Tapi sekarang, jangankan kerumitan, kesusahan pun akan ia tempuh demi Neo juga Claire.
Dan belakangan ini, ia harus mengapresiasi Boni dan anak buahnya yang lain sebab berhasil mengendus keberadaan pria brengsek itu, yang di duga berada di luar negeri.
Atas kerjasama Boni yang di dukung penggelontoran dana yang tak sedikit, Sada berhasil menangkap pria brengsek itu di markasnya usai meminta bantuan rekannya yang merupakan seorang polisi, Barata Yudha.
Bara dan timnya membekuk Bramasta di negaranya usai berkoordinasi dengan interpol yang kebetulan juga memburu pria itu. Kejahatan lintas negara terkait penyelundupan senjata ilegal juga barang haram, benar-benar menjadi perhatian penuh para penegak hukum.
Pagi ini Sadawira terbang ke Indonesia dengan di jemput Oleh Deo, Demas dan juga pengacara yang telah datang bersama Boni. Usai bertolak dari Bandara, mereka langsung melesat menuju gedung stasiun televisi guna melakukan siaran langsung.
Ia duduk diantara Deo, Demas dan juga kepala polisi yang beberapa tahun yang lalu menangani kasusnya. Siap menjawab puluhan pertanyaan dari awak media yang berbaur dengan jilatan kamera.
" Saudara Sadawira, apakah kasus sabotase yang pernah anda lakukan dulu memiliki motif lain?"
" Jadi anda ini sebenarnya adalah korban?"
" Apakah semua ini ada hubungannya dengan kematian saudara Anthoni?
" Kenapa anda dulu di bebaskan oleh keluarga Darmawan?"
Pertanyaan-pertanyaan itu benar-benar sesuai dengan tebakan Sadawira. Ia kini mengambil alih situasi usai Demas mengangguk meyakinkan.
" Sebelumnya saya ingin berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu saya selama ini!"
Juru kamera terlihat serius dalam membidik gambar sosok sukses yang pernah terlibat skandal sabotase namun di benak oleh korbannya itu.
" Atas nama pribadi, dengan penuh kesadaran saya meminta maaf kepada seluruh pihak yang pernah saya rugikan. Keluarga Demas Darmawan, Deo Darmawan, utamanya tuan Leo yang sangat saya hormati."
Bahkan sejumlah reporter terlihat tekun menulis sebuah sub judul sebuah calon berita, yang merasa yakini akan menjadi trending topik.
__ADS_1
" Kesalahpahaman ini membuat saya gelap mata. Tapi hari ini, saya ingin meluruskan apa yang dulu saya perbuat!"
Mereka semua menoleh saya sejumlah polisi berseragam khusus menggelandang Bramasta yang kini tak lagi bisa lari.
" Dia adalah orang yang membuat kakak saya tewas dalam penjara." tunjuk Sada kepada Bramasta yang tangannya terborgol di bawah penjagaan petugas penegak hukum berwajah sangar.
" Kakak saya tidak bunuh diri, melainkan di racun. Bukti-bukti juga sudah berhasil kamu kumpulkan. Dan keberadaan saya disini, ingin menegaskan jika antara saya dan keluarga Darmawan sudah saling memaafkan dan tak memiliki dendam satu sama lain!"
Kini mikrofon hitam yang semula di pegang oleh Sadawira, terlihat berpindah tangan kepada Demas.
" Saya Demas. Saya dulu adalah korban sabotase yang di lakukan oleh saudara Sadawira. Tapi melihat kejadian dan rentetan kronologi yang ada, dari hati saya paling dalam saya telah memaafkan beliau. Pun dengan Papa saya yang saat ini tengah melakukan pengobatan di Hangxiang. Kami tak memilih jalur hukum karena ada satu hal yang menurut kamu perlu permakluman. Dia bukanlah penjahat, tapi korban. Demikianlah konferensi pers ini, semoga dari cerita yang ada, nama saudara Sadawira bisa kembali bersih seperti sedia kala!"
Kesemua awak media bertepuk tangan. Kecuali Bramasta tentu saja. Pria itu terlihat menatap Sadawira penuh kebencian. Kekalahan yang nyata membuatnya hanya bisa mengeram geram.
" Selamat membusuk di penjara seumur hidupmu, Bramasta!" seru Sada manakala ia telah turun dari meja konferensi, lalu melintas di depan pria yang telah meracuni kakaknya itu.
" Semoga sekarang kau bisa tenang disana, kak Anthoni."
-
-
Papa Leo yang menyaksikan siaran langsung calon menantu dan kedua keponakannya melalui televisi yang berada di kamar perawatannya terlihat berkaca-kaca. Tak menyangka bila Sadawira hanya merupakan pria nestapa yang salah jalan.
" Hah, semua sudah berakhir Leo. Semoga setelah ini Claire dan Sada bahagia!" seru Papa David menghela napas penuh kelegaan, sembari mematikan siaran televisi yang kini berisikan iklan.
Papa David menatap sang adik bangga.
" Kau sudah melakukan hal yang benar Leo. Aku benar-benar bangga padamu. Kita ini sudah tua, tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain melihat anak-anak hidup dalam kebahagiaan. Kau harus segera sehat, anak-anakmu perempuan, kau yang akan menjadi wali nanti!"
-
-
Keesokan harinya, Boni yang mengantar Sadawira memeluk bos-nya itu penuh kebahagiaan. Semalam berita di media elektronik, media massa , maulid media sosial di banjiri oleh berita soal kasus Anthoni yang ternyata tewas terbunuh.
Apalagi, berita soal sabotase itu kini juga sudah clear, sebab Demas menyatakan hal itu terjadi karena salah paham. Para pengacara yang mereka bayar kini terus melanjutkan tugasnya guna memastikan Bramasta mendapatkan hukuman yang setimpal.
" Selamat bos. Saya turut bahagia mendengar semuanya!" seru Boni tak bisa menahan diri untuk tidak menangis.
Pria itu telah bertahun-tahun setia kepada Sadawira, dan saat ini ia merasa jika bos-nya sudah benar-benar akan merdeka.
" Terimakasih Bon. kau harus datang ke pernikahanku nanti!"
" Pasti bos, saya pasti datang!"
__ADS_1
Deo dan Demas yang turut mengantar Sada ke ruang tunggu terminal keberangkatan terlihat menyapa Sada. Meraka kini terlihat lebih akrab satu sama lain. Membuktikannya bahwa dewasa yang sesungguhnya itu adalah kita yang mau meninggalkan masalalu dan tak lagi mengungkitnya.
" Kita sudah bukan lagi orang lain. Kau akan menjadi bagian dari kami setelah ini!"
Sada mengangguk. " Terimakasih banyak. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa ada di titik ini!"
" Jaga Claire. Jika sampai dia bersedih, aku pastikan kita akan baku hantam lagi!"
Sada tergelak, pun dengan Boni yang masih ada di sana.
" Deal!"
Mereka lantas berjalan menuju garbarata. Hari ini Sada akan kembali ke Atana. Menemui wanita dan anak kesayangannya.
Urusan integritas telah usai, kini dia tinggal fokus melangkah menjadi Rajandra satu, alias kepala keluarga. Hah, rasanya sungguh tak sabar.
Setibanya ia di bandara Atana, tanpa sengaja Sada malah berpapasan dengan Diva yang terus saja lengket bersama Dollar.
" Bos?" sapa Dollar yang tak menduga akan bertemu dengan bosnya. Ralat, mantan bosnya.
Yang di sapa menoleh kaget. Dollar kini bermetamorfosa menjadi pria parlente yang keren abis. Uang memang bisa merubah segala.
" Wah, pengantin baru jalan-jalan terus!" serunya seraya menjabat tangan Dollar yang masih saja sungkan dengan.
" Nyenengin istri bos!"
" Kamu udah jadi bos masih aja manggil saya bos!" protes Sada.
" Belum bisa bos. Udah terbiasa!" balas Dollar terkekeh.
Sada tergelak. Ia turut senang melihat atau anak buahnya yang paling bengal akhirnya sold out dan menemukan pasangan yang menurutnya pas. Yang satu hiper, yang satu doyan. Benar-benar perpaduan yang top markotop.
" Aku turut bahagia melihat kalian!"
Diva tersipu. Semakin menyembunyikan wajahnya di lengan kekar Dollar. " Aku juga turut bahagia mendengar kabar kalau kamu juga akan segera menikah. Sebagai ucapan terimakasih atas bantuanmu karena aku bisa bertemu dengan suamiku ini, kau bisa memakai hotelku untuk acara pernikahan kalian. Tenang saja, it's free for you!"
Daebak! Ini sih namanya keberuntungan double buat Sada. Yes!
Diva sangat bersyukur bisa menjadi istri Dollar. Walau Dollar bukan berasal dari kalangan darah biru, tapi yang penting pria itu bisa memuaskannya. Diva benar-benar cinta mati kepada Dollar.
Selain lihai urusan ranjang, suaminya itu bahkan bisa menciptakan satu terobosan, yang membuat bisnisnya kini semakin maju. Dollar memang sosok yang cekatan. Ya, meski rada gesrek juga sih.
Usai saling berpamitan, Sada melanjutkan perjalanan dengan memilih menaiki taksi dan ingin memberikan kejutan kepada Claire soal kepulangannya.
Namun tanpa di duga, kedua netranya tak sengaja melihat seorang pria yang mengerang kesakitan, lantaran di gebuki oleh dua pria.
__ADS_1
" Andrew?"