My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 56. Terciduk Mama Jessika


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Sore yang gerah berganti dengan malam yang senyap. Claire kini mengusap punggung putranya yang sedari tadi rewel minta di temani.


Neo tak banyak bertanya sebab Oma buyut Sofi sudah mewanti-wanti Neo untuk tidak terlalu mengganggu Ibunya yang pasti sudah sangat lelah.


Namun saat masih sibuk mengusap punggung anaknya yang mulai memasuki dunia mimpi, ingatannya tiba-tiba kembali saat Sada berpamitan kepada dirinya tadi.


"Aku akan pulang besok. Besok lusa aku akan terbang ke Eropa. Jaga Neo!"


Tidak tahu kenapa hal itu mengusik pikirannya. Bahkan membuatnya tak tenang.


" Ke Eropa? Kenapa jauh sekali?" ia bergumam lirih. Perasaannya tiba-tiba tidak enak saat mengulas hal itu. Semacam tak rela jika Sada pergi ke sana.


Dan saat anaknya yang semula bergeliat kini sudah tertidur, pintu kamarnya yang terbuka tiba-tiba di ketuk oleh seseorang.


" Apa dia sudah tidur?" ucap Deo dengan suara yang sangat lirih, dan malah membuat mulutnya seperti dukun yang komat-kamit.


Claire mengangguk, mewakili jawaban iya.


" Aku tunggu di luar. Aku ingin berbicara!"


Wanita itu kembali mengangguk dan kini terlihat membetulkan selimut Neo serta mencium kening anaknya yang kini sudah memejamkan mata.


" Selamat tidur nak!"


Claire sejurus kemudian berhasil menyusul Deo yang kini duduk di kursi jalin yang ada di belakang rumah mereka. Terlihat sangat serius.


" Apa kau baik-baik saja?" tanya Deo membuka percakapan mereka malam itu.


Claire mengangguk. Tapi ia sedikit heran kenapa Deo tak istirahat malam ini dan malah mengajaknya ngobrol.


Namun suasana malah hening. Deo yang membakar rokoknya kini menghisap batang itu dalam-dalam. Membuat udara di sana pekat dengan paparan asap putih yang membumbung tinggi.


" Ternyata seperti ini rasanya kehilangan!" seru Claire memecah kesunyian. Tak tahu apa maksud sepupunya yang kini malah diam seribu bahasa.


Deo menatap temaram lampu di depan sana dengan perasaan penuh rasa sedih. Bingung harus memulai percakapan dari mana.


" Rasa kehilangan hanya akan ada kalau kita pernah merasa memilih orang itu!" tutur Deo sejurus kemudian. Membuat Claire menoleh.


Suasana kembali hening. Hanya terdengar suara berisik beberapa orang pekerja yang kini sibuk membereskan sisa tenda untuk pemakaman tadi.


" Dan kehilangan itu bukan melulu soal kematian!" imbuh Deo yang nada bicaranya kini kaya maksud.


Membuat Claire kontan menoleh, " Apa maksudmu?"


Mereka saling menatap satu sama lain.


Dan dari tempat mereka duduk, dapat mereka dengar suara Edwin yang masih tekun mengobrol bersama Papa Leo dan Papa David, om Tomy dan para orang tua lainnya di ruang tamu. Terdengar sangat akrab.


" Aku tadi bertemu Sadawira!"


DEG!


Claire langsung pucat. Jadi ini alasan Deo mengajaknya berbicara?


" Di datang menemuiku di belakang rumah!"


Claire diam seraya meneguk ludah. Wanita itu seketika tegang dan terlihat tak sanggup menjawab apapun.


" Dia juga sudah tahu jika dia adalah Ayah kandung Neo!"


Membuat Claire semakin resah. Pria itu benar-benar nekat dan sulit diberitahu.

__ADS_1


" Sorot matanya terlihat begitu sedih. Tapi aku tidak bisa langsung percaya dengan hal itu!"


Claire masih terdiam saat Deo kini menghisap rokoknya dalam-dalam, sampai bunyi bakaran tembakau itu kini riuh di gendang telinganya.


" Aku hanya ingin kau jujur. Apa kau masih mencintainya?"


Dan Claire langsung menoleh. " Kenapa kau harus membahas ini Deo?"


" Jawab saja!" sela Deo cepat dengan tatapan yang masih lurus dan rokok yang semakin memendek.


" Pemakaman Opa masih basah, kenapa kita harus membahas hal lain?"


Tapi Deo kini langsung membuang puntung rokoknya lalu menginjaknya sedikit keras.


" Satu kebohongan akan menimbulkan kebohongan lain. Ada pria tak berdosa yang mungkin akan terluka jika kau tak jujur mulai dari sekarang!"


Claire semakin kesulitan menghirup napas sebab dadanya sesak karena ucapan yang sedari tadi menyudutkannya.


" Apa maksudmu?"


" Kau sudah tahu tentang semua ini kan? Atau... jangan-jangan Sadawira sudah menemuimu?"


DEG


Claire benar-benar sedang tersudut. Ia tak bisa menjawab sebab hatinya memang sedang bimbang. Jika di tanya apakah dia masih mencintai Sada, maka jawabannya ialah tak tau.


" Aku takut Papa akan kecewa lagi padaku Deo. Aku sudah membuatnya malu! Aku akan menuruti semua keinginannya!"


Deo akhirnya tahu. Dari jawaban yang ia dengar, ia bisa menyimpulkan jika Claire sebenarnya lebih takut kepada orangtuanya. Bahkan cenderung mengesampingkan kebahagiaannya.


" Kau harus segera mengatakan kebenaran ini pada Neo!"


" Itu tidak mungkin Deo!"


Damned! Deo kali ini benar-benar membuatnya mati kutu.


" Apa yang kalian bicarakan?"


DEG!


Keduanya kini sama-sama terperanjat saat Mama Jessika tiba-tiba datang menginterupsi obrolan mereka. Membuat Deo langsung risau.


" Mama?" sapa Deo yang langsung berdiri sebab takut kalau-kalau papanya itik kesana.


" Siapa yang kalian maksud?"


Deo meneguk ludahnya sebab tak tak mengira jika Mamanya akah tahu hal ini. Dan berbohong kepada Mama jelas bukan pilihan yang bijak.


" Bude.. Bude deng..."


" Bude mendengarkan sejak tadi. Jadi Sada tadi datang kemari?" timpal Mama Jessika yang akhirnya tahu satu rahasia besar yang mungkin saja sudah anak-anak mereka sembunyikan selama ini.


Claire langsung panik. Bahkan jika Bude Jesika sampai memberitahu papa soal ini, kiamatnya akan semakin datang lebih cepat.


Claire menangis, ia benar-benar bingung dengan kondisinya saat ini.


" Aku juga tidak tahu kenapa perasaan ini tidak mau hilang. Sebisa mungkin aku menghalau tapi pria itu nyatanya malah bertemu dengan Neo!"


" Aku sudah memaksa perasaanku kepada Edwin, tapi sampai sekarang aku bahkan tak nyaman saat di sentuh oleh Edwin! Lalu aku bisa apa?"


Mama Jessika terlihat murung saat keponakannya menangis. Keadaan yang sulit ini memanglah tak mudah. Tapi bagiamana lagi? Ia juga tak mau membuat permasalahan antara dirinya dengan kedua adik iparnya.


" Tolong jangan beritahu Papa juga mama'Bude. Claire mohon!" ucap Claire dengan tangan yang kini menyentuh tangan Mama Jessika seraya memohon.

__ADS_1


Pertunangan sudah terjalin, tapi Sada kini malah sudah mengetahui jika Neo adalah anaknya. Papa Leo tak menyukai Sadawira, dan jelas ia tak akan bisa mengikuti kata hatinya sebab ia dulu sudah pernah mempermalukan keluarganya.


Mama Jessika menarik tubuh Claire kedalam pelukannya. Sejak awal dia memang satu-satunya orang yang bertoleransi kepada Claire dan Wira saat semua orang membenci Wira.


" Cincin yang kamu pakai ini bukan sebuah mainan yang tak memiliki nilai lebih. Ada tanggung jawab yang musti kamu jaga. Ada harga yang harus kamu bayar. Keputusan sudah kamu buat sebelumnya. Bude sebenarnya sedih mendengar semua ini. Bahkan Opa sakit karena memikirkan kamu. Apa iya kamu tega mengingkari janji kamu kepada Opa?"


Kini Deo menutup wajahnya dengan sebelah tangan karena ikutan stress. Seandainya Papa Leo bisa menerima Sadawira, pasti urusannya akan lebih mudah.


" Jika aku memberitahu Neo, di pasti akan meminta hal aneh lainnya!" kata Claire yang benar-benar kehabisan cara.


" Bude akan coba berbicara dengan Pakdemu nanti. Tapi... tolong jawab Bude. Apa benar jika kamu masih memiliki rasa kepada Wira?"


Mama Jessika membidik keponakannya dengan tatapan yang begitu menusuk. Membuat Claire akhirnya jujur.


Claire mengangguk jujur, " Aku juga tidak tahu Bude, kenapa aku masih sering memikirkan dia. Bahkan sekalipun bibirku berucap kasar kepadanya, tapi sebenarnya aku sangat senang bisa bertemu kembali dengan Wira!"


" Aku...aku masih mencintai Wira!"


Deo akhirnya lega. Sebenarnya sedikit banyak ia paham jika hati mengenal kepedihannya sendiri. Mengingatkan tak ada satupun orang di dunia ini yang tak memiliki perasaan suci pada cinta pertama mereka.


" Semua keputusan ada padamu. Pernikahan bukan ajang mainan. Berserahlah pada Tuhan. Jika memang dialah jodohmu, Tuhan pasti akan mendekatkan!"


Kini Claire larut dalam pelukan Mama Jessika yang menenangkan. Saat kedua orangtuanya justru antipati terhadap ayah dari anaknya, rupanya Mama Jessika dan sepupunya Deo menjadi sebaik-baiknya orang yang mengerti.


...----------------...


Pagi ini badan Neo tiba-tiba demam. Membuat semua orang tampak khawatir. Bocah itu mungkin shock saat melihat semua orang menangis dan histeris dalam waktu bersamaan.


Selain itu, Neo yang melihat secara langsung prosesi tubuh Opa dikebumikan benar-benar terekam jelas dalam otaknya. Membuatnya kini bermimpi buruk.


" Paman!" Neo berteriak saat ia tiba-tiba bangun. Memanggil-manggil Sadawira yang malah muncul dalam mimpinya.


Membuat Claire yang sedang berada di dapur kini berlari bersama orangtuanya juga Edwin.


" Neo? Apa yang terjadi nak?"


" Paman tampan jangan boleh pergi Bu. Paman tampan jangan tinggalin Neo!"


" Claire, buka bajunya. Badannya panas sekali!" seru Edwin yang terlihat agak panik sebab sepertinya Neo mulai berhalusinasi.


Neo sangat pucat dan tubuhnya sampai berkali-kali berjingkat seperti orang kaget. Jelas menegaskan jika suhu anak itu sangat tinggi.


" Bagaimana ini?" tanya Claire panik. Membuatnya kesemuanya turut tegang.


" Tenang dulu. Ambil kompres, dan buka bajunya biarkan panasnya keluar!"


Mama Bella dan Papa Leo terlihat senang dengan sikap Edwin yang cekatan dalam mengurus cucu mereka. Terlihat sangat serius dalam merawat calon anak sambungnya.


Tapi Mama Jessika yang melihat hal itu, kini merasa kasihan dengan Edwin, Claire juga Sada yang menjadi korban keegoisan orang tua.


Membuatnya segera ambil tindakan.


" Mas, aku ingin bicara!" ucap Mama Jessika yang kini berkata serius kepada Papa David.


Papa David yang sudah lama tak melihat wajah Mama Jessika yang seserius itu kini langsung mengikuti istrinya. Meninggalkan Papa Leo dan Mama Bella yang kini menemani cucunya yang demam.


Mereka berdua kini terlihat masuk ke dalam kamar lalu mengunci rapat kamar mereka agar tak ada seorang pun yang tahu.


" Ada apa Ma? Kenapa tegang sekali?"


Papa David menatap wajah istrinya yang kini penuh dengan keseriusan dengan tak sabar.


" Mas, Sadawira sudah tahu bila Claire hamil anaknya. Dia juga tahu, jika Neo adalah anak kandungnya!"

__ADS_1


" Apa?"


__ADS_2