
...🥀🥀🥀...
TOK TOK TOK!
Ketukan di pintu itu sontak membuat keduanya panik. Claire terlihat langsung melepas pelukannya, namun Sadawira malah menarik pinggang Claire semakin mendekat.
"Wira, jangan gil..."
Terlambat, sebab Sadawira lebih dulu meraup bibir Claire dengan sapuan hangat. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan walaupun hanya sekejap.
Membuat wanita itu hanyut dalam kebahagiaan untuk sejenak.
TOK TOK TOK
Claire yang tersentak kini spontan mendorong tubuh Sadawira dan membuat ciuman mereka terlepas.
Claire menunduk malu tapi Wira menatapnya dengan senyum singkat yang manis.
" Aku akan pulang besok. Besok lusa aku akan terbang ke Eropa. Jaga Neo!" pamit Sadawira yang sebenarnya sangat ingin membawa kabur Claire juga Neo.
Claire diam saat Sadawira kembali mengecup keningnya sesaat sebelum pria itu pergi dan melompat melalui jendela. Merasa mendadak sedih saat pria itu berpamitan kepadanya.
Claire merutuki dirinya yang bahkan tak bisa menahan segala macam sentuhan manis yang kembali di bawa oleh Sadawira. Sentuhan yang bahkan sudah sangat lama ia abaikan.
Rasa yang benar-benar lain, sikap yang sebenarnya masih sangat ia rindukan, meski bibirnya kerap menolak Sada.
Ampuni aku Tuhan.
Membuat dirinya merasa bersalah kepada Edwin.
CEKLEK!
Rupanya Mama Bella. Semoga Mamanya tak menaruh curiga sebab ia terlambat membuka pintu.
" Ada apa Ma?"
" Maaf mengganggu istirahat kamu. Tali bangunlah sebentar. Makanlah dulu. Dari pagi kau belum makan. Itu Ibunya Eva buatkan kita semua nasi tim. Kamu duluan ke meja makan, Mama mau cari adik kamu dulu!"
Claire seketika terkejut. Jadi Melodi belum ketemu? Lalu dimana dia sebenarnya.
-
-
Melodi terlihat naik kendaraan roda dua untuk pulang ke rumah duka. Sungguh sial, rasa kehilangan yang teramat malah membuatnya menjadi bodoh dalam sekejap.
__ADS_1
Alih-alih ingin segera pergi kini malah membuatnya bingung karena tak membawa uang untuk ongkos.
" Kenapa harus bertemu pria itu lagi sih?" menggerutu kesal dan membuat supir ojek yang sedang mengemudi terheran-heran.
" Cantik-cantik tapi gila!"
Ya,.Melodi kembali ke rumah duka itu tanpa alas kaki. Dan setibanya dia di rumahnya, ia meminta Demas yang kini sibuk menemui tamu untuk membayar ongkos ojek sebab ia yak membawa uang.
" Dem, bayari itu dong. Tadi aku gak bawa uang!"
Demas terlolong. Darimana Melodi memangnya? Datang-datang bersama kang ojek tanpa alas kaki lagi.
Tapi Demas yang kasihan dengan tukang ojek itu langsung berjalan mendekat sembari membuka dompetnya.
" Berapa Bang?"
Tukang ojek itu menyebutkan sebuah nominal yang terasa sangat kecil bagi Demas. Membuat pria itu merasa kasihan dengan tukang ojek itu.
" Ambil saja kembaliannya bang!"
" Beneran Pak? Wah, terimakasih banyak kalau begitu!"
Drama mengangguk. " Darimana memangnya bang?"
" Siapa Pak?" tanya kang ojek itu sambil memasukkan uang pecahan ratusan ribu itu kedalam dompetnya yang sudah usang.
" Oh, tadi mbaknya nyegat saya di depan klinik di jalan by pass menuju bandara itu tuan. Sepertinya baru berobat!"
" Berobat?"
Demas benar-benar turut pusing akibat kelakuan adiknya sepupunya itu. Belum juga berita soal Sadawira bisa ia redam, kini Melodi yang aneh juga membuatnya penasaran.
...----------------...
Sadawira meminta Boni menjemputnya usai menelpon Zayn namun tak juga bisa ia hubungi. Ia pasti akan kena omel Zayn nanti. Tapi biar sudah, setidaknya ia bisa melakukan salam perpisahan dengan Claire walau dalam situasi yang sangat menegangkan.
Definisi dari laki itu harus ambil resiko.
" Bos?" sapa Boni yang membuka kaca mobilnya.
" Apa Zayn sudah kembali?" tanya Sada sembari membuka pintu depan mobilnya.
" Sudah bos. Tapi, pulang-pulang dia kesakitan di bagian itunya!"
" Itunya?" tanya Sada heran.
__ADS_1
Boni malah meringis. Antara malu, geli, dan ingin tertawa tapi juga kasihan.
" Bos tanya saja sendiri!"
Dan benar saja, usai di lempar sepatu oleh Zayn yang kesal, Sadawira kini tergelak demi melihat wajah Zayn yang sangat kusut. Pasti telah terjadi sesuatu dengannya.
" Katakan, kenapa kau terlihat sangat frustasi, hah?"
Zayn mendengus saat Sadawira malah terlihat bersemangat kala menginterogasinya.
" Gadis galak itu itu menendang biji kehidupanku. Bagus-bagus di tolong, e dia malah menyiksaku!"
" Bahahaha!" Sada tergelak kencang sebab dalam waktu sepekan saja di Indonesia, Zayn sudah kehilangan kegarangannya akibat Melodi.
" Jadi kau bertemu dengan adiknya Claire lagi? Hahahaha!"
Zayn kian kesal. Seperti Sadawira sangat bahagia jika orang lain menderita.
" Puas kau tertawa. Pokonya aku akan pulang besok!"
Sada tertawa sampai mengeluarkan air mata. Ia sungguh tak sengaja meninggalkan Zayn sebab pesan dari Diva agaknya sedikit tak bisa membuatnya bersantai lebih lama.
" Maaf karena tadi aku harus menemui Claire!"
" Kau sungguh gila!" kesal Zayn yang benar-benar suka dengan nasibnya hari ini.
" Diva mengatakan jika aku harus datang ke Eropa atau perjanjian itu akan di batalkan!"
Zayn yang barusaja mengobati biji keramatnya kini melepas baju yang membuatnya gerah dengan wajah terkejut.
" Bukannya sudah deal?"
Sada mengangguk, " Harganya memang sudah. Tapi pertemuan lanjutannya itu ternyata tak bisa di wakili!"
Zayn paham. Begitulah bisnis.
" Aku tadi juga terpaksa memberitahu Deo lewat ancaman. Setidaknya pihak mereka kini ada yang tahu, bahwa aku tak akan membiarkan laki-laki itu menikahi Claire!"
Zayn mengangguk, banyak jalan menuju ke Roma kan?
Namun saat ia tengah sibuk membahas salah satu alasan kepulangan Sada, Zayn tiba-tiba teringat dengan bibir Melodi yang sempat tertempel pada bibirnya tadi.
Damned!
" Kenapa kau senyam-senyum sendiri? Tunggu dulu, kenapa bibirmu?"
__ADS_1
" Tidak ada. Ini hanya.... terkena kutu gatal!"
Sadawira mengerutkan kening. Kutu di bibir?