My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 127. Condolences for Zayn


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Zayn yang berada di rumah sakit hanya bisa mondar-mandir hingga keringat dingin bercucuran. Bayangan seraut pucat milik Papa yang di geledek masuk ke ruang darurat benar-benar mengusiknya.


Ini menjadi hal paling rumit sekaligus menyakitkan untuknya. Apalagi, hubungannya dengan sang Papa memang selalu kurang baik. Zayn menganggap kediktatoran sang Papanya lah yang kerap memicu perdebatan.


Ia selama bukanlah tipe orang yang memaksakan kehendak. Ia selalu tunduk dan menurut pada titah sang Papa yang kerap bertutur dengan dalih demi kemaslahatan keluarga.


Tapi entah mengapa, semenjak ia mengenal Melodi dalam hidupnya, semua itu berubah. Ia menjadi terusik dan berani menyuarakan isi hatinya.


Tapi sekarang, akibat sikapnya itu, ia kini harus dibuat pusing oleh dua masalah sekaligus. Perusahaannya, dan kondisi sang Papa.


Apakah ia harus bercerita kepada Melodi jika ia sedang di rundung permalasahan berat? Tapi, tunggu dulu! Betapa bodohnya ia bila menceritakan hal itu kepada seseorang yang bahkan belum bisa ia menangkan hatinya.


Alih-alih merasa lega, ia pasti akan di cap sebagai pecundang. Sebab baru mengungkapkan perasaan, namun malah bercerita soal keruntuhan finansial.


Atau, dia harus cerita ke Sada? Ah jelas itu juga tidak mungkin. Pria itu baru saja merasakan kebahagiaan. Ia tak ingin mengganggunya dulu. Ia tahu semenderita apa sahabatnya itu dulu.


Terakhir, ada Andrew. Apakah itu solutif? Tidak, ia sendiri tahu jika usaha yang dimiliki sahabatnya itu tak sebesar miliknya. Apalagi, setelah kejadian dengan Gina beberapa waktu yang lalu, sahabatnya itu masih dalam tahap bangkit.


Arghh! Bagiamana ini? Kenapa mengikuti kata hati musti di bayar dengan keadaan runyam yang seolah tak memiliki jalan keluar? Tapi ia benar-benar tak ingin kembali kepada Tanaphan.


Berpikir Zayn, berpikir! Ia harus berbangga diri karena telah berani memutus rantai kediktatoran Olivia. Meski itu artinya, ia kini harus siap dengan resiko yang paling buruk sekalipun.


Ia tak boleh semakin terjerumus lagi pada kedunguan. Ia harus bisa fight menyelamatkan perusahaan dengan tangannya sendiri, walau sekarang yang ada otaknya malah di jubeli rasa takut, khawatir, dan merasa bersalah.


Ia memberanikan diri meraih bahu sang Mama yang terisak-isak. Bahkan jika di tampar sekalipun, ia siap. Ia tahu sang Mama pasti benar-benar kalut saat ini.


Dan setelah menunggu di tengah kegelisahan yang mencekam, seorang dokter keluar dengan membawa berita yang paling tak ingin dia dengar seumur hidupnya.


" Maaf. Tapi pasien tak tertolong!"


Deg!

__ADS_1


Maka seketika ia merasa dunianya telah runtuh dalam sekejap. Hancur menjadi puing-puing yang kini tak dapat lagi ia satukan. Musnah, hilang sudah.


Bahkan dadanya semakin terasa sakit terhimpit kenyataan manakala sang Mama mendadak tak sadarkan diri.


" Mama!"


-


-


Sada langsung mengambil penerbangan tercepat saat ia di baru mendapat kabar duka dari Andrew soal kematian Papa Darius. Claire yang tentu saja tak keberatan, sampai tak sabar ingin tiba di negaranya.


Jenazah yang telah di antar oleh petugas pemulasaran ke rumah duka, belum di makamkan sebab masih menunggu adik perempuan Zayn yang sedang dalam perjalanan menuju Atana.


Mama Zayn yang terus saja terisak-isak sepanjang orang-orang datang, sampai tak sanggup untuk berdiri. Zayn tampak diam dan sesekali menyeka sudut matanya yang mendadak basah.


Samasekali tak menduga bila o


pertengkaran beberapa waktu yang lalu malah membuat seluruh kehidupannya berubah total.


" Aku baru dengar kabar mengejutkan ini. Apa yang terjadi, kenapa mendadak?"


Zayn yang di samping Mamanya hanya bisa mengeraskan rahangnya. Menahan diri dengan kepalan tangan yang semakin menguat. Giginya gemelutuk, dan matanya memerah menahan diri untuk tak berbuat yang tak semestinya di samping jenazah Papanya yang telah terbujur kaku.


Dan sebuah sikap paling menjijikan semakin membuat Zayn membenci wanita di depannya itu.


" Bibi, aku turut berdukacita atas meninggalnya Paman! Bibi yang kuat ya!" ucap Olivia dengan wajah yang terlihat sedih. Entah tulus, entah di buat-buat.


Sebab seharusnya mereka berdua menyadari, jika bukan karena kelakuan mereka, sang Papa pasti masih ada di dunia ini.


" Terimakasih banyak Oliv. Terimakasih sudah mau datang!"


Namun rupanya Mama masih belum melihat kenyataan. Kekayaan dan kehormatannya benar-benar kerap membuat orang lupa dan tak mengenali kebusukan.

__ADS_1


Zayn mencelos pergi sebab tak tahan. Dua manusia yang menjadi sebab musabab meninggalnya Papa, malah di sambut baik bak pahlawan oleh sang Mama.


Ia memilih membasuh wajahnya ke wastafel untuk kesekian kalinya. Mengurangi rasa panas yang begitu membakar. Dan tepat di pukul tiga sore, sang adik akhirnya datang.


" Kak!" seru seorang gadis yang kini terisak-isak di dadanya dengan tubuh bergetar.


Ia segera memeluk sosok mungil yang masih mengenyam pendidikan di kampus luar negeri itu dengan dada nyeri. Air mata yang sedari tadi tertahan, kini luruh begitu saja tanpa halangan apapun.


Dua bersaudara itu meratap menangisi kepergian sang Papa yang menorehkan berjuta penyesalan.


" Papa sudah pergi Ra. Semua ini salah kakak!" seru Zayn dengan suara pilu yang bergetar.


Zara yang di peluk sang kakak tentu saja semakin hanyut dalam kesedihan dan penyesalan. Namun tanpa mereka Sadari, Melodi yang baru saja datang bersama Sada dan Claire memilih pergi manakala menyaksikan hal itu.


" Siapa dia? Kenapa berpelukan begitu?" batinnya terus bertanya saat bayangan dua orang yang berpelukan tadi begitu karib.


Bahkan mereka belum sempat bertegur sapa hingga sore hari, sebab sampai acara pemakaman selesai, Zayn benar-benar dibuat sibuk menemui tamu saking banyaknya orang yang memberikan ucapan dukacita.


Jelang petang, Zara lebih memilih menemani sang Mama sebab kondisinya benar-benar drop. Sementara Zayn yang menjadi wakil laki-laki keluarganya lebih memilih menyalami tamu.


Hingga beberapa saat kemudian , Zayn yang melihat sekelebat bayangan menjadi tertarik untuk mengikuti.


" Sada!" panggilnya yang tak mengurangi jika sahabatnya ada dirumahnya.


" Udah kelar? Aku dari tadi sore sudah ada di sini di jemput Andrew. Aku langsung gabung sama anak-anak tadi begitu lihat kamu repot. Aku turut berdukacita Zayn. Semoga hatimu lapang!"


Zayn yang di peluk merasa sangat terharu. Sahabat sejati yang selalu ada manakala sudah dan senang.


" Maaf-maafkan aku karena tak sempat melihatmu tadi. Tamu Papa benar-benar banyak. Makasih kamu udah bantu Da. Kamu kesini sama siapa?"


Zayn benar-benar terlihat sungkan. Tapi Sada jelas memaklumi bahkan sebelum Zayn meminta maaf. Kejadian seperti ini sangatlah lumrah. Orang yang dirundung duka pasti tak akan konsen. Sibuk ini itu dengan kegiatan menyalami tamu.


" Aku tadi kesini sama istri, sama adik ipar ku. Mereka ada di belakang!"

__ADS_1


" Apa?"


Zayn langsung terbelalak. Melodi ada di sini?


__ADS_2