My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 24. Dua manusia satu problema


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


" Astaga Bu! Kenapa bisa begini?" teriakan Juwi yang terkejut saat melihat nampan berserta gelas yang di bawa Claire untuk di hidangkan ke depan jatuh porak-poranda.


Sedetik kemudian, saat situasi benar-benar masih membuat Sadawira dan Claire diliputi keterkejutan, Neo tiba-tiba berlari melintasi mereka dengan wajah riang gembira.


" Paman!!!!!" seru Neo yang kini menghambur ke kaki Sadawira yang masih berdiri mematung bahkan tak melihat Ibunya yang kini berjibaku dengan pecahan beling bersama Edwin.


Membuat pintu-pintu misteri semakin banyak berjajar di hadapan Sadawira. Menyeretnya pada sebuah kebingungan. Tentang seberapa benar apa yang kini tengah tersaji di hadapannya.


Apakah Neo benar-benar anak Claire?


Siapa ayahnya?


Apakah setelah kejadian itu Claire menikah lalu memiliki anak?


Lalu siapa pria yang kini sendang membantu Claire untuk bangkit itu?


" Paman, apa ini hadiah untukku?" tanya Neo yang melihat sebuah paper bag besar yang menggantung di tahan kiri Sadawira.


Namun untuk pertama kalinya, yang di sapa sama sekali tak menjawab. Otaknya mendadak buntu, pikirannya semrawut. Apakah semesta tengah mempermainkan hidupnya saat ini?


" Paman!" pekik Neo yang mulai kesal karena merasa di acuhkan.


" Ah iya. Maaf. Paman terkejut karena... ibumu menjatuhkan gelasnya. Ini untukmu. Semoga kamu suka ya?" jawab Sadawira pura-pura tersenyum meski rasanya ia kini ingin menarik Claire ke satu tempat untuk mengurung lalu menginterogasinya.


" Astaga, Ibu jatuh? Ibu kenapa?" teriak Neo yang baru menyadari jika gelas di depan ibunya sangat berantakan.


Maka Sadawira kini segera tahu jika wanita yang di sebut-sebut Neo sebagai ibunya tak lain adalah wanita dari masalalu nya. Fix, dia harus mencari tahu akan hal ini.


Tunggu dulu, apa jangan-jangan?


" Neo, ajak paman masuk. Ibu ke belakang dulu!" ucap Claire gugup dan tak berani menatap ke arah depan, dan langsung berbalik dengan wajah memanas.


" Ayo paman, kita langsung ke meja makan. Aku sudah sangat lapar, hihihi!"


Sadawira yang kini di tarik oleh tangan mungil Neo, terus menatap ke arah tangan pria yang merangkul bahu Claire dengan akrabnya. Membuatnya dadanya tiba-tiba bergemuruh.


Dalam sekejap, otaknya benar-benar menjadi semrawut sebab apa yang nampak di hadapannya kini seperti mimpi.


Bertahun-tahun ia kehilangan jejak wanita itu, namun kini saat ia mulai merelakan masa lalunya, wanita itu kembali dengan segala kejutan yang benar-benar ingin ia ketahui.

__ADS_1


Tentang siapa Neo, dan tentang pria yang tadi memeluk pinggang ramping Claire.


" Bahkan kau masih secantik dulu Claire!"


-


-


Di tempat lain, Claire yang tubuhnya kini gemetaran sebab terkejut dengan apa yang barusan dia lihat tampak mengunci pintu kamar mandi lalu menangis dengan suara tertahan.


Apa-apaan ini, apakah yang dia lihat tadi adalah sebuah mimpi? Pria yang jelas-jelas ia hindari selama ini, kini malah muncul di dalam rumahnya dan lebih gilanya sosok itu telah akrab dengan Neo.


Claire terisak dengan tubuh yang masih gemetaran. Bagaimana ini, bagaimana dia bisa menghadapi orang di depan sana? Edwin mungkin tahu sejarah kelam hidupnya, tapi pria itu tak tahu seperti apa wajah Sadawira sebab Claire memang tak memberitahukan secara rinci pria yang sejatinya merupakan ayah kandung dari anaknya itu.


" Bagiamana jika pria itu menemukanmu?"


" Bagiamana jika dia mengetahui tentang Neo dan mengambil Neo darimu!"


Ucapan dari orangtuanya itu kini mulai memenuhi pikirannya. Mengganggu lalu mengusik ketenangannya.


" Ibu! Ibu paman sudah di meja makan, ibu sedang apa di dalam! Ayo makan Bu!"


" Se- sebentar sayang. Ibu masih mengganti baju!" sahutnya dari dalam sembari menyeka air matanya.


" Jangan lama-lama ya Bu. Kasihan paman!"


Meninggalkan Claire yang kini takut untuk keluar dan menghadapi kenyataan, di sebuah ruangan dengan penataan makan malam yang sudah lengkap tampak seorang pria yang mati-matian menahan dirinya untuk tak terpancing keadaan.


" Jadi anda ini yang sering dibicarakan Neo?" tanya pria berkacamata yang terlihat mengajaknya berbicara.


" Kami sangat merasa terhormat karena anda bisa datang ke kediaman kami!"


" Kami?" batin Sada yang hatinya mencelos demi mendengar kalimat bernada pengakuan itu.


Ia hanya bisa tersenyum palsu manakala pria yang tadi memperkenalkan diri dengan nama Edwin itu terus mengajaknya berbicara. Ia memang bisa membuat dirinya tenang, namun tidak dengan hatinya.


Berkali-kali ia memandangi ke arah jalan dimana Claire tadi menghilang sebab pamit untuk ke Kemar mandi. Dan sebagai tamu undangan, walau hatinya berkecamuk dan ingin rasanya menarik Claire untuk meminta maaf, tapi jelas hal itu tidak bisa ia lakukan.


Enam tahun bukan waktu yang sebentar, banyak kemungkinan yang bisa terjadi seperti pria di depannya ini.


" Selamat malam. Maaf terlambat!"

__ADS_1


Mereka berdua yang semula saling berbicara sekenanya, kini tampak menoleh saat mendengar suara lain yang terdengar ramah. Membuat situasi semakin mencair sebab Diva rupanya telah masuk.


Oh astaga, ia bahkan sampai lupa jika ada Diva yang ikut dengannya.


" Selamat malam. Loh, anda datang berdua?" tanya Edwin yang tak mengetahui bila Pria di hadapannya itu membawa teman.


" Maaf tadi harus angkat telpon dulu. Halo, kamu Neo ya?"


Neo yang di sapa Diva kini hanya melolong sebab tak mengenali siapa wanita itu, tapi wanita itu tahu namanya.


" Ayo berikan salam kepada bibi itu Neo!" perintah Edwin yang kini di laksanakan oleh Neo penuh kesopanan.


" Anak yang manis!" ucap Diva yang merasa tersanjung saat Neo menjabat tangannya.


Dan saat mereka masih sibuk berceloteh, datang Claire dengan wajah sembab yang bisa dilihat oleh Sadawira. Menegaskannya jika wanita itu pasti sama terkejutnya dengan dirinya.


" Hey, you fine?" sapa Edwin terlihat sangat lembut.


Membuat air muka Sadawira seketika berubah demi melihat interaksi karib yang terjalin antara Claire dan juga pria itu.


" Selamat malam Ibu Neo. Terimakasih atas undangannya!" sapa Sadawira yang sengaja ingin membuat Claire mau menatapnya.


"Baiklah, mari kita mulai sandiwara ini sebelum aku meminta penjelasan darimu!"


" Sa- sama-sama Pak..."


" Nama saya Sada, anda bisa memanggil saya Sada!" balas Sadawira menatap Claire yang gugup dengan tatapan tak lekang.


Membuat Claire semakin gugup.


" Ba- baik Pak Sada. Terimakasih untuk batuannya kepada Neo selama ini!"


Diva dan Edwin yang tak menyadari jika diantara mereka, ada dua mahluk yang sebenarnya tengah terbakar api perasaan yang berkecamuk, hanya bisa bersikap wajar. Terlihat biasa saja sebab tak mengetahui fakta sebetulnya.


Dan sialnya, baik Sadawira maupun Claire benar-benar ahli dalam menyembunyikan perasaannya di hadapan semua orang, terutama Neo.


" Ibu, jadi ini paman tampan yang aku ceritakan, di benar-benar tampan kan Bu?" celetuk Neo saat mereka masih menunggu Juwi melayani mereka.


Namun alih-alih menjawab, yang diajak berbicara semakin gugup dan tak berani menatap.


" Kenapa dari sekian banyak orang, harus dengan dia kau bergantung Neo!" jerit Claire dalam hatinya yang kini benar - benar kehilangan kemampuan diri untuk bersikap tenang.

__ADS_1


__ADS_2