My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 22. Menerima undangan


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Keesokan harinya, Neo mamatut tampilannya ke cermin dengan wajah ceria. Percaya diri jika dirinya telah tampan pagi ini. Ia berharap paman tampan itu akan datang agar dia bisa segera menyampaikan undangan makan malam.


Namun bahkan saat Ibunya yang tadi mengantar kini sudah enyah dari hadapannya, mobil paman tampan tak juga terlihat. Ia cemas sebab jelas setelah ini bel akan berbunyi.


" Dimana Paman? Biasanya datang?" bergumam resah.


Semenit.


Dua menit.


Bahkan hingga menjelang menit ketiga, tak ada penampakan akan sosok tampan yang sedang ia harapkan.


Membuatnya kini terpaksa berjalan murung menuju kelas manakala tak ada tanda-tanda paman akan datang, manakala bel sekolah telah berbunyi.


Ia bahkan tak mempunyai nomor telepon pria itu. Dan sialnya, setelah apa yang terjadi, dia bahkan juga tak tahu siapa nama paman tampan. Benar-benar payah.


" Neo, buka buku PR nya ya!"


Ia bahkan terlihat lesu. Bagaimana ini, bagaimana cara dia menyampaikan keinginannya ini kepada paman tampan kalau Ibu mengundangnya makan malam?


Menjelang istirahat, ia yang sedari tadi memanjangkan leher untuk melihat ke arah samping secara bolak-balik, tak juga melihat kemunculan mobil mengkilat itu.


Membuatnya stres.


" Apa paman tidak kesini setiap hari? Bukankah paman pernah berkata jika akan kesini setiap hari?"


Ia kini melamun di bawah pohon seperti seseorang yang kehilangan harap. Bahkan, ia mengabaikan ajakan Gideon yang sedari tadi menarik-narik bajunya untuk bermain jungkat-jungkit.


Hah, menunggu itu benar-benar membosankan.


Jika bel sebentar lagi berbunyi dan paman tampan tak muncul juga, jelas acara nanti malam bisa di pastikan akan gagal total.


Padahal Neo ingin sekali Ibunya kenal dengan orang yang sudah menolongnya dan membuatnya tak lagi malu sewaktu berada di acara itu.


Dan benar saja, di lima belas menit waktu istirahat telah berlalu, Paman tampan tak juga datang. Fix, acara ini tak akan pernah bisa ia gelar. Ia benar-benar ingin memperkenalkan Ibu dengan paman baik itu. Bahkan kalau perlu, Ibu harus memberi Paman itu hadiah.


Riuh rendah para murid yang kini berjejalan keluar dengan wajah sumringah, sangat kontras dengan wajah Neo yang justru cemberut.


Sama sekali tak mengira jika acaranya akan gagal total.


Ibu pasti sudah diluar dan menjemputnya. Dan itu artinya dia tak akan bisa mendapatkan kesempatan lagi.

__ADS_1


Dan benar dugaannya, saat ia berjalan keluar, ia melihat Ibunya sedang sibuk menelpon seseorang seperti yang sering dilakukannya setiap menjemput. Wanita nomor satu dalam hidupnya itu selalu sibuk memang.


" Ibu den Neo harus bekerja, bekerja itu artinya sibuk!" begitu kata-kata penghiburan yang sering kali di dengungkan oleh mbak Juwi.


" Baik- baik, kirimkan saja price list nya ke email, nanti biar saya pelajari. Ok thanks!"


Bahkan saat mendekat, ia masih bisa mendengar degan jelas jika ibunya benar-benar sosok yang pekerja keras.


Usai memungkasi sambungan teleponnya, Claire menatap wajah anaknya yang kini murung. Membuat keningnya mengerut.


" Anak Ibu kenapa? Kok cemberut begitu?" tanya Claire seraya memasukkan benda pipih miliknya kedalam tas.


Namun yang di tanya malah semakin monyong.


" Paman tidak datang!!"


Claire lantas berjongkok. menyamakan tingginya dengan posisi Neo yang tengah berdiri dengan wajah muram.


"Benar kan? Itu artinya paman sedang sibuk. Sudah ya, kita bisa buat acara lagi nanti!"


" Tapi Ibu sudah persiapan!" eyel Neo yang kasihan dengan Ibunya.


Claire tersenyum, " Tidak apa-apa, nanti kan masih ada Om Edwin yang datang!" hibur Claire agar anaknya tak sedih.


Dan pada saat Claire masih sibuk membujuk Neo untuk tak perlu bersedih, sebuah mobil yang mengkilat datang dan melintas di depan mereka.


Neo mengenali mobil itu, namun saat matanya yang penuh harap itu melihat sosok yang keluar pintu mobil, kecewalah dia seketika sebab mendapati orang tersebut bukanlah paman tampan.


Rupanya yang datang ialah Dollar dan Janu. Mereka terlihat datang membawa beberapa box yang entah isinya apa. Dan mungkin saja, itu adalah perintah dari Sadawira.


Dan tanpa di duga, Neo tiba-tiba berlari menuju ke arah pria itu dan membuat Claire terkejut lalu berlari mengejarnya.


" Neo, astaga. Kamu mau kemana nak?" teriak Claire yang kini cemas.


Namun bocah itu makin melesat bagai anak kijang.


" Om!" pekik Neo yang membuat dua pria tinggi yang kini sibuk dengan beberapa kardus itu menoleh.


" Om!" panggilnya lagi dengan lebih keras dan membuat Janu langsung membalikkan badannya usai meletakkan kardus yang terlihat berat itu.


" Om, Om temannya paman tampan kan?" tanya Neo dengan terengah-engah seraya menatap Janu dan Dollar secara bergantian.


Maka dua laki-laki itu saling menatap. Janu tak mengerti, namun Dollar tampak mengingat - ingat.

__ADS_1


" Apa paman tidak datang?" tanya Neo mengabaikan keterkejutan Janu.


" Neo!" seru Claire yang akhirnya bisa mengejar anaknya. Membuat Dollar dan Janu kini beralih menatap wanita cantik yang turut terengah-engah.


Ada apa ini sebenernya?


" Maaf, ini anak saya!" kata Claire mencoba memberikan klarifikasi meski ia kini sedang sibuk mengatur napas.


Kedua laki-laki itu akhirnya paham. Pun dengan Dollar yang akhirnya ingat jika bocah di depannya itu merupakan anak yang mendapat atensi lebih dari bosnya.


" Ohh, kamu Neo kan?" ulang Dollar dengan wajah cerah sebab berhasil mengingat siapa bocah di depannya.


Membuat Neo seketika kembali cerah, dan Claire menjadi heran. Kenapa anaknya sudah mengenal banyak orang dalam waktu sebentar saja?


" Om ingat saya?"


" Ingat dong. Gimana, ada apa?" tanya Dollar menatap wajah Claire dan juga Neo secara bergantian.


" Tolong berikan ini kepada paman tampan secepatnya Om?"


Dollar seketika tertegun demi menatap sebuah amplop biru yang kini di sodorkan oleh bocah bermata jernih itu. Membuat Janu turut menjadi penasaran.


-


-


Dua laki-laki yang masih bersimbah keringat karena diminta Sadawira untuk mengirimkan paket sepatu untuk anak-anak disana tadi, kini keheranan manakala melihat wajah bosnya yang senyum-senyum sendiri saat menekuni undangan yang lebih mirip seperti memo itu.


Ya, Neo rupanya menulis undangan itu menggunakan tangannya pada sebuah kertas origami yang ia hias sendiri. Sungguh niat.


" Jadi dia menungguku?" tanya Sadawira masih dengan wajah yang diliputi senyuman.


Dollar mengangguk, " Ibunya bercerita jika sepanjang hari dia merengek dan meminta anda untuk datang!"


" Jadi dia diantar ibunya tadi?" kini Sada bertanya sambil memasukkan undangan itu kedalam lagi meja kerjanya.


Kini Janu yang ganti mengangguk, " Dollar bilang ibunya sangat cantik, bahkan lebih cantik dari guru muda itu. Dan menurut saya, Ibunya Neo memang sangat cantik Pak. Dollar mabuk karena lihat wajahnya tadi!" terang Janu penuh kejujuran yang membuat Sadawira tergelak.


" Sialan kau Jan, kenapa kau malah mengatakannya kepada Pak Sada!" tukas Dollar dengan wajah mendengus. Kesal kenapa si Janu bisa-bisanya se gamblang itu dalam melapor.


Janu terkikik-kikik sementara wajah Dollar sudah sangat merah karena malu.


Sadawira kini beralih menatap kartu yang di berikan oleh Neo beberapa waktu yang lalu. Masih seperti kemarin, dimana hatinya selalu terasa menghangat manakala mendapat perhatian dari bocah itu. Membuat dirinya merasa di anggap dan di butuhkan.

__ADS_1


" Kalau begitu tolong carikan mainan edisi terbaru. Kalau sampai Neo tak mau menerimanya, berarti selera kalian payah!"


__ADS_2