
...🥀🥀🥀...
Sadawira yang melihat Claire speechless karena tak mengira Neo akan seberani ini, kini memilih menguasai medan.
" Ah kemarin kan..."
" Waktu Paman ke toilet, paman lupa ngambil hp paman yang paman letakkan di meja luar!" sahut Sadawira yang membuat penjelasan Claire terpendam kalimatnya.
Membuat Neo akhirnya mengangguk. Masuk akal sih.
" Oh begitu. Oh iya, Paman mau kemana?" tanya Neo mengganti topik pembicaraannya dengan cepat. Sungguh membuat Claire pusing.
" Paman akan berangkat kerja!" jawab Claire yang membuat bibir Sadawira yang sudah setengah terbuka kini terkatup kembali.
" Ibu... bolehkah aku berangkat bersama Paman? Boleh ya Bu?" tanya Neo dengan wajah muram dan penuh harap.
" Neo!" pekik Claire seraya melotot sebagai jawaban penolakan, sebab Neo sudah sangat kelewatan.
Membuatnya bibir bocah itu langsung cemberut.
" Paman akan bekerja, jangan ganggu Paman. Nanti Ibu antar!" ketus Claire yang nampak sangat tak suka dengan keindahan.
Membuat Sadawira sontak melirik ke arah Claire yang kini mengerasi anaknya.
" Sekarang masuk habiskan sarapanmu!" timpal Claire dengan suara yang semakin keras.
Neo menunduk lesu lalu berjalan gontai ke arah dalam sebab tidak tahu kenapa ibu tiba-tiba malah marah-marah.
" Aku kan hanya bertanya." batin Neo yang kini mengusap wajahnya sebab malu. Kenapa Ibu memarahi di depan Paman?
" Kenapa kau memarahinya?" tanya Sadawira yang tak senang dengan sikap Claire.
" Dia anakku, memangnya kenapa jika aku memarahinya?" tantang Claire yang tak ingin jika Neo sampai terus menerus dekat dengan pria di hadapannya itu.
Sadawira tersenyum kecut demi mendengar seonggok kalimat yang membuatnya sedih itu.
Dan tidak tahu kenapa, Sada malah merasa semakin penasaran dengan Neo.
" Jika sudah selesai kau boleh pergi!" ketus Claire yang mulai tak nyaman manakala sadawira kini terus memandanginya, seraya mulai menutup pintu.
" Tunggu!" sergah Sadawira yang menggunakan kakinya untuk mengganjal pintu itu.
Membuat Claire membelalakkan matanya.
" Aku melakukan hal itu bukan karena kesengajaan. Kau harus tahu jika aku sama sekali tidak memanfaatkan mu Claire!" terang Sadawira yang ingin jujur kepada Claire.
Namun langsung di sahut oleh Claire.
" Di dunia ini mana ada orang yang mau mengakui kesalahan secara terus terang!"
" Simpan saja ceritamu, sebab apapun itu tak akan merubah kebencian orangtuaku, keluargaku, bahkan aku...kepadamu!"
__ADS_1
BRAK!
Hempasan angin yang di tutup dengan keras itu membuatnya menutup mata untuk sejenak. Pola komunikasi yang sangat tidak pas memang.
Ia kembali menghela napasnya lalu membalikkan tubuhnya untuk sejurus kemudian meninggalkan kediaman Claire.
Maybe not today! ( mungkin tidak hari ini)
Sadawira kini berjalan lesu menuju mobilnya. Sepertinya ia harus berjuang keras.
Sementara itu, Claire yang berada di balik pintu hanya bisa menangis. Meski mulutnya mengatakan hal kasar, tapi semakin ia mengatakan hal itu semakin sakit pula rasa dadanya yang bertolakbelakang dengan perasaannya.
Marah, kesal, kecewa, takut, benci, rindu. Semua berkumpul dan berkecamuk dalam hatinya.
Ia tidak bisa begini, ia harus bisa membuat Sadawira menjauh dari Neo. Karena jika orangtuanya tahu, jelas ini kan menjadi hal yang tak baik untuk dia dan juga untuk Sadawira.
" Sudah selesai Pak?" sapa petugas keamanan tadi kepada Sadawira.
" Sudah, terimakasih ya. Loh temannya tadi mana?" bertanya sembari toleh sana-sini.
" Biasa, Con kalau pagi jadi kontributor gas metana bumi Pak!"
" Donatur gas metana?" ulang Sadawira dengan alis berkerut.
Pria itu mengangguk yakin, " Tuh, Go ing tu de wa ter kloset ( going to the water closed/ pergi ke toilet)"
Maka Sadawira seketika tergelak. High class sekali sebutan untuk orang buang air besar disini.
Di dalam mobil.
Sadawira tak langsung menyalakan mesin mobilnya. Ia memilih untuk membuka ponselnya dan terkejut saat banyak sekali pesan yang masuk. Dan anehnya, mode profilnya dari bersuara, kini menjadi senyap.
Wow, apakah ada penyelinap?
Dan, tunggu dulu, kenapa di histori layarnya terdapat jejak pembuka galeri? Apa jangan-jangan Claire sempat mengotak-atik foto galery?
Membuatnya tersenyum meski dengan rona sumbang.
-
-
" Apa, jadi wanita yang kamu ceritakan itu ada sini? Di Atana?" tanya Andrew yang bolak-balik memastikan sebab masih tak percaya akan cerita Sada yang mengatakan jika dia telah menemukan Claire.
Ya, Sadawira yang merasa jam masih terlalu pagi untuk ke kantor membelokkan mobilnya ke rumah Andrew yang sejalan dari arah perumahan elit Claire. Ia sungguh ingin meminta solusi kepada para sahabatnya itu.
Dan kebetulan, Zayn yang pagi itu sedang off bekerja terlihat menyatroni rumah Andrew. Seperti biasa, pria yang wajahnya mengandung unsur turunan Arab itu selalu datang untuk meminta sarapan. Membuatnya tak perlu susah-susah mengundang Zayn untuk datang.
" Aku bahkan terkejut, sangat terkejut. Dan kalian tahu apa yang paling membuatku begitu terkejut?"
" Apa?" sahut Zayn.
__ADS_1
" Claire adalah Ibunya Neo!"
" BBRRRTTT!"
" Apa? Are you kidding me?"
Air yang barusan di minum oleh Andrew seketika muncrat ke wajah Zayn lantaran sangat terkejut. Membuat pria itu seketika mendengus.
Sadawira kini memejamkan matanya seraya mendongak sebab otaknya tiba-tiba buntu. Sama sekali tak memperdulikan Andrew yang kini di cecar omelan oleh Zayn.
Zayn kini menatap serius ke arah Sadawira sembari menotolkan tissue ke wajahnya." Is he your son?"
Sada yang kini membuka matanya lagi terlihat menggeleng sembari mengangkat kedua tangannya.
" Aku gak yakin!" menjawab dengan tatapan putus asa.
" Kenapa?"
Ia tiba-tiba teringat dengan kalimat menohok yang di ucapkan Claire tadi malam.
"Percaya diri sekali kau!"
"Apa hanya karena kita pernah bercumbu satu malam lalu kau pikir akan semudah itu aku hamil?"
Membuat praduganya yang lemah kini semakin menggerogoti keyakinannya.
" Just one night. It's unlikely that it will work. (Hanya satu malam. Kecil kemungkinan akan berhasil. )" sahutnya sembari tersenyum getir.
" DNA test!" seru Zayn dengan mimik wajah serius dan berhasil membuat Andrew dan Sada menatapnya lekat-lekat.
" Tes? Yang benar saja!" sela Sadawira tertawa sumbang.
" Melalui rambut!" timpal Zayn dengan mimik wajah yang masih sangat serius. Mengabaikan Sadawira yang terlihat putus asa.
Membuat keduanya kini tercenung.
" Kau bisa mengambil sampel rambut milik Neo!"
" Apalagi, saat kau bertemu pertama kali dengan Neo kau mengatakan jika ada perasaan aneh. Kau juga mengatakan jika wajahmu sangat mirip bukan?"
" Meski satu malam, tapi jika benihmu bagus, dia pasti akan tumbuh juga!"
Kini Sadawira kembali memilih keyakinan saat mendengar Zayn yang terus gencar memberikan dorongan kuat.
" Bisa jadi, dia mengatakan kebohongan karena kondisi kalian yang cukup rumit. Lagipula, intuisi seorang Ibu pasti takut jika kau akan mengambil anaknya!"
Andrew mengangguk setuju. Itu benar, keadaan mereka yang complicated jelas tak bisa di sepelekan. Tak semua dari kesalahan ini, adalah ini akibat Claire.
" Masalah mu cukup komplek Da. Selain potensi orang tua Claire yang sudah pasti memblokade izin, menjadi wanita yang memiliki anak tanpa suami itu bukan hal mudah!"
Fix, Zayn benar-benar menjadi penasihat spiritual yang cukup bisa di andalkan.
__ADS_1
" DNA test?"