My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 124. Kembali bertemu


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Zayn pulang kerumahnya tak sesuai jadwal. Beberapa waktu ini, rasa lelah memang acapkali mampir tanpa jeda. Tapi sebuah mobil yang ia kenali membuat lengkungan tipis di bibirnya muncul.


Dan saat memasuki rumah, ia langsung mendengar teriakan Neo yang sekonyong-konyong menghambur memeluknya.


"Paman!" bocah itu memekik senang. Seperti telah menunggu setahun saja.


Membuat kesemuanya turut tersenyum senang akan interaksi hangat itu. Detik berikutnya, Zayn terlihat menoleh kepada kedua orangtuanya yang sedang duduk bersama Sada dan Claire. Mencoba mencari jawaban ada apakah gerangan yang membawa mereka bertandang kerumahnya, malam-malam begini.


" Ngambek dia tadi seharian. Gak taunya, obatnya malah ngajak kemari!" seru Sada yang akhirnya membuat Zayn paham.


Zayn lantas menggendong anak itu usai meletakkan beberapa benda pentingnya ke lantai. Dengan tangannya yang nampak mengetat, pria itu kini membuat Neo berada tinggi di gendongannya.


" Neo ngambek?" tanyanya mengkonfirmasi.


Bocah bermata jernih itu mengangguk dengan muka yang kembali cemberut, " Habis Ayah sama Ibu kalau buka pintu kamar. Aku sering di kunciin dari dalam!"


Zayn nyaris saja tergelak keras. Ia melirik Sada yang tak bisa bermain cantik. Benar-benar amatir.


Tidak tahu kenapa, Zayn kini merasa bila bocah itu memang representasi nyata dari seorang Melodi. Cablak, ember, tukang marah-marah. Oh ya ampun, lihatlah. Bahkan hanya dengan sederet ciri-ciri itu, pikirannya lagi-lagi malah kembali kepada Melodi.


" Kalau begitu, kalian lanjut dulu ya, Tante mau ke belakang sebentar!"


Mereka semua mengangguk, " Biak Tante!"


Zayn lantas membawa Neo mendekat menuju sofa ketika sang Mama sudah pergi ke belakang. Menyisakan wajah-wajah serius yang semakin mengundang rasa ingin tahu.


" Kami ada perlu denganmu!" kata Sada serius.


Zayn mengerling curiga. Pria itu lantas memindahkan Neo untuk duduk diatas pahanya yang kokoh.


" Liburan sekolah rencana aku akan mengajak Neo berlibur. Sekalian..."


Zayn mengangguk paham pada kalimat yang sengaja di gantung itu. Setelah menikah, mereka berdua memang belum pergi honeymoon. Ya, meski Sada juga pasti telah membobol gawang Claire berkali-kali. Tapi tetap saja, menyenangkan hati istri, pasti sudah ada di lembaran paling atas dari daftar buku hidup Sadawira.


" Kemana?" tanya Zyan tak mau membuang waktu.


" Ke Nipon. Istriku ingin melihat salju. Tapi Neo tak mau!"


" Neo tidak mau?" ia kembali mengkonfirmasi berita itu kepada si bocah.


Bocah itupun kembali mengangguk.


" Kenapa?" bertanya dengan garis-garis di kening akibat keheranan.


" Aku lebih baik gak usah ikut Paman. Kata Oma sama Opa biar aku cepat punya adik. Aku pingin punya teman!"


Zayn kontan tergelak. Sementara Sada menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Jadi semua ini perbuatan Papa dan Mama mertuanya? Oh God!


Sungguh birokrasi yang cukup sialan ya? Claire sendiri berpikir jika Neo tak mau karena sedang marah.

__ADS_1


" Dan dari sekian tawaran, dia lebih milih sama kamu dan Melodi!" terang Claire tak habis pikir. Membuat Sada terkekeh tapi tidak dengan yang bersangkutan.


Deg


Zayn mendadak membeku manakala mendengar nama gadis itu. Mereka berdua bahkan tak tahu jika hubungan Zayn dan Melodi sedang tak baik-baik saja.


" Aku pingin jalan-jalan kayak dulu itu lho Paman. Sama Paman, sama aunty Mel. Tenang aja, kata Ibu dan Ayah mereka tidak akan lama kok, hihihi!"


Zayn tentu tak keberatan. Ya, meski kini ia harus mengkonfirmasi tenang partner momongnya itu.


" Aku setuju saja. Tapi gimana dengan..."


" Melodi udah setuju. Pasti dia mau lah, kalian partner kerja kan?"


" Ta- tapi..."


" Udah. Santai aja!"


Dan lagi-lagi, Zayn tak mampu menjelaskan jika sebenarnya dia dan Melodi sudah tak berhubungan sejak sebulan terakhir akibat kejadian itu.


-


-


Besok lusanya, Claire dan Sada bertolak menuju Nipon dengan lambaian tangan Neo yang diantar oleh Juwi, Nino juga Zayn. Terasa begitu mengharukan memang. Tapi Neo justru terlihat senang sebab ada Zayn yang benar-benar selalu menuruti kemauannya. Persis Ayah.


Rencananya, mereka akan ada disana selama seminggu. Setelah itu, kemungkinan besar rombongan papa Leo dan Papa David akan kembali kemari sebab pengobatan yang di jalani telah berhasil.


Pasti akan ada perayaan kecil-kecilan nanti. Hah, sungguh tak sabar rasanya.


" Aunty Mel akan datang nanti malam, yey!"


" Pokonya kita jalan-jalan ya Paman. Kita beli yang enak-enak!"


Lihatlah. Entah kenapa Zayn kini menjadi sangat deg-degan saat siapapun mengucapkan kata tentang Melodi. Tapi, kenapa gadis itu tak menghubunginya? Bukankah urusan Neo kini di bebankan kepada mereka berdua?


Dan saat sebuah mobil yang berbelok ke rumah Sada malam itu terdengar, barulah Zayn tahu bila Melodi ternyata di jemput oleh Sakha.


" Pantas saja dia tidak menghubungiku!" batinnya yang entah kenapa merasa sedih.


Dan saat Melodi itu masuk, ia mendadak tercenung kala mendapati Zayn tengah duduk di sofa ruang keluarga. Menatapnya dengan sorot mata mengintai.


Arsakha yang turut menyusul juga tampak begitu terkejut. Kedua laki-laki itu kontan saling melempar tatapan tak suka satu sama lainnya.


" Aunty sama siapa?" sapa Neo yang selalunya membuka obrolan.


" Hay bocah!" seru Arsakha mengusap kepala Neo.


Neo cemberut saat mendapati pria bertindik itu memanggil-manggil dirinya dengan sebutan bocah.


" Aku bukan bocah paman. Aku Neo!" sungguh kesal karena di katai bocah.

__ADS_1


Namun itu hanya tersenyum. Tak berniat melanjutkan kelakaran yang mungkin saja bisa meredam kekesalan si bocah.


" Baiklah Kha, terimakasih sudah mengantarku, juga makan malamnya!" kata Melodi yang memang harus memutuskan ketidaknyamanan ini.


Makan malam?


Mengantar?


Sederet pernyataan itu jelas menerangkan bila Melodi pasti sudah janjian dengan pria itu. Apakah semudah itu?


" Baiklah. Aku pergi ya? Kabari aku besok jika jadi!"


Melodi kembali mengangguk. Namun ekor matanya masih sempat menangkap ketidaksukaan dari pria tinggi tegap yang kini mulai beranjak dari duduknya.


Pria itu sempat melirik sebentar Zayn yang kini berdiri dengan wajah nyaris tanpa ekspresi, sesaat sebelum dia pergi.


" Neo sudah makan belum? Nih aunty belikan makanan, di bagi sama Mbak Juwi sama Paman Nino ya!" kata Melodi memberikan sebuah makanan.


Neo mengangguk senang saat menerima kotak besar yang pasti isinya merupakan sesuatu yang hangat dan lezat itu.


Sepeninggal Neo yang berteriak-teriak manakala melesat ke dapur guna memamerkan harta yang dia bawa, kecanggungan langsung menyeruak. Membelah dua sosok yang sebulan ini tanpa kabar.


Melodi yang hendak menuju kamar tamu di rumah Sada itu memilih langsung pergi sebab tatapan Zayn cukup membuatnya merasa bersalah.


" Kau yang minta di jemput?" tanya Zayn tiba-tiba manakala Melodi melintas tepat di depannya.


Membuat gadis itu meneguk ludahnya.


" Menurutmu?"


Cukup!


Zayn mendekatkan dirinya, lalu menatap sosok yang hanya memiliki tinggi sebatas lehernya itu dengan tatapan lumayan geram.


" Sepertinya kau dan dia semakin dekat!"


" Memangnya kenapa kalau aku dekat dengan dia, hah?"


Hening. Hanya suara tegukan ludah dari Zayn yang bersambut dengan jakun jantan yang tampak naik turun.


" Mel, jika kau ingin mencari orang lain silahkan, tapi jangan pria itu!"


" Kenapa, gak usah ngatur-ngatur deh. Urus aja hidupmu sama wanita yang suka kepo saka urusan orang itu, wanita yang beraninya cuman ngancam!"


" Mengancam?" ulang Zayn dengan air muka yang langsung berubah serius. Sementara Melodi langsung bersedekap dengan wajah melengos kesal.


" Jangan pura-pura gak tahu deh!"


" Mel, serius aku tidak tahu apa yang kamu maksud! Siapa yang kamu maksud mengancam?" kejar Zayn yang kini benar-benar khawatir.


" Lebih baik kamu pergi dari ini. Aku gak mau Neo sampai kenapa-kenapa gara-gara pacarmu itu!" seru Melodi sembari melenggang pergi.

__ADS_1


Pacar?


Zayn terlolong saat Melodi telah beranjak dari hadapannya. Apa maksudnya dia ngomong begitu? Mengancam? Apakah yang di maksudkan Olivia?


__ADS_2