My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 36. Kehangatan keluarga


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Boni yang baru saja meletakkan sebuah buku ke dalam rak, menoleh manakala ponselnya bergetar. Siapa gerangan yang menelponnya di jam terik seperti?


Keningnya lantas berkerut demi membaca nama yang tertera pada layar berkedip-kedip itu.


" Bos?" ia bergumam heran. Pasalnya, Sadawira sudah agak lama tak menghubunginya.


" Halo Bos, bagaimana kabar anda?" jawabnya sesaat setelah ponsel itu menempel di daun telinganya.


"Bon, aku ada tugas untukmu!"


Suara di seberang yang terdengar menggebu-gebu jelas menegaskannya bila sesuatu sedang tidak beres. Apalagi, sadawira bahkan tak membalas sapaannya.


" Apa semua baik-baik saja bos?" tanya Boni tentu saja.


Dan sesaat setelah pertanyaan itu berhasil di lontarkan, maka terdengar lah helaan napas dari seberang.


" Aku ingin kau mencari tahu apa yang sedang di kerjakan oleh keluarga Darmawan!"


" Apa bos? Ke- keluarga Darmawan?" ulangannya dengan gagap saat memastikan. Jelas menegaskan jika Boni sedang terkejut.


Boni tentu saja tak percaya akan hal itu. Selain karena mereka sudah sepakat untuk tak mengganggu keluarga Darmawan, permintaan Sadawira kali ini terdengar sangat buru-buru.


Bukankah urusannya nanti bakal menjurus ke masalah hukum apabila nekat memata-matai keluarga itu lagi?


"Bon, aku tahu kau sedang shock. Tapi Claire saat ini berada di Indonesia! Dan aku tak ingin kehilangan jejaknya lagi!"


DUAR!


Maka bola mata yang semula biasa saja itu, kini membulat sempurna. Darimana bosnya itu tahu? Padahal selama ini mereka berdua bak kehilangan jejak saat diminta mencari keberadaan wanita itu.


" Ta- tapi bos, bagaimana anda tahu jika itu benar-benar nona Claire?" bertanya kembali dengan ragu-ragu.


" Aku bertemu Claire di Atana! "


Boni seketika tertegun. Bahkan selama ini mereka bagai kehilangan jejak, namun tidak tahunya yang maha kuasa malah mempertemukan mereka di tempat yang sama.


" Apa dia..."


" Dia sudah memiliki anak!"


Boni semakin membulatkan mata.


" Dan aku mencurigai bila anak yang saat ini sedang bersama Claire itu adalah anakku!"

__ADS_1


Kini selain mumet, Boni yang dibuat terkejut berkali-kali merasa ingin pingsan. Bagaimana bisa bosnya mengatakan hal seheboh itu, tapi dengan intonasi yang begitu santai.


" Cari tahu apa yang membuat Claire pulang ke Indonesia! Ini perintah, dan kau harus secepatnya melaporkan kabar itu kepadaku!"


...----------------...


Demas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Lalu lintas tak terlalu padat dan memudahkan mereka untuk meluncur menuju rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, Neo tak hentinya ngobrol bersama Demas. Semua terasa sempurna dan menyenangkan. Bahkan, Demas yang sejatinya sedikit pendiam kini malah menjadi orang yang banyak omong.


Ya, definisi dari kasih sayang orang tua kepada anaknya.


Sementara itu, Edwin tampak terkagum-kagum dengan kebersihan kota yang kini ia lalui. Banyak sekali tanaman dengan berbagai jenis, yang menyegarkan pandangan mata, di tengah hiruk pikuk kota.


Selain itu, hatinya kini berbunga-bunga karena untuk pertama kalinya Claire mau mengajaknya untuk bertemu dengan keluarga besarnya. Membuat perasaan Edwin begitu lega sebab menduga jika wanita itu pasti sudah mau membuka hatinya. Yeah!


" Makasih ya kamu udah ngajak aku kemari!" kata Edwin yang kini menyentuh punggung tangan Claire yang terkejut.


Claire yang canggung akibat perlakuan Edwin seketika mengangguk dengan hati bimbang. Entahlah, yang bisa dia lakukan saat ini adalah mengikuti permintaan orangtuanya.


Demas yang tak sengaja melihat interaksi keduanya terdiam sejenak. Dapat Demas lihat dengan jelas sorot mata penuh kebahagiaan yang berkobar di dua netra Edwin. Namun yang aneh, wajah Claire malah menunjukkan ketidaknyamanan.


Namun alih-alih menegur, Demas lebih memilih fokus ke jalan raya dan menyimpan apa yang ia lihat barusan ke dalam hatinya. Bukan saatnya menanyakan hal ini kepada Claire.


Edwin mengangguk. Ia sendiri merupakan seorang dokter, dan setelah tiba dari Bandara lalu langsung pergi ke tempat seperti itu sudah merupakan hal biasa untuknya.


" Tidak apa-apa! Aku malah senang bisa cepat ketemu Opa." jawab Edwin tersenyum ramah.


Claire menatap paras rupawan itu dengan hati yang merasa bersalah. Ia tak mencintai Edwin, tapi ia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa saat ini. Desakan orang tuanya yang begitu massif menjadikan dirinya tak memiliki banyak hal.


Setibanya mereka di rumah sakit, Neo yang datang langsung di sambut oleh Deo dan Arimbi. Ya, pasutri yang kini tengah menikmati masa-masa bahagianya itu terlihat tak sabar saat mengetahui jika Neo sudah tiba di rumah sakit.


" Pakde!!!" pekik Neo sesaat setelah ia dibukakan pintu oleh Demas. Membuat beberapa perawat menoleh.


" Boy, kau sudah datang? Wah... keponakan pakde sudah besar rupanya!"


Neo kembali tergelak saat tubuhnya dilambungkan ke udara oleh tangan kekar Deo. Membuat kesemuanya turut tertawa.


" Sudah mainnya .Ayo salim dulu sama Bude!" pinta Claire yang melihat anaknya terus minta di gendong oleh Deo.


Arimbi yang di maksud kini mengulurkan tangannya ke arah bocah tampan itu.


" Neo apa kabar sayang, sehat?" tanya Arimbi dengan ciri khasnya yang selalu pandai membuka percakapan.


" Sehat bude. Kak Bima mana?"

__ADS_1


Deo menatap Claire sejenak manakala Neo tengah sibuk bersalaman dengan istrinya. Sejurus kemudian, Claire langsung memeluk sepupunya itu dengan rasa ingin sekali menyerah.


" I know. But not today!" bisik Deo yang kini mengusap punggung Claire. Ia tahu, jika keputusannya membawa Edwin ke Indonesia, berarti mengiyakan permintaan Opa untuk serius kepada laki-laki yang sebenarnya tak ia cintai itu.


Deo bukan tidak tahu jika saat ini Claire sebenarnya berbeban berat. Anak sulung Leo Prawira Darmawan itu terlihat menghela napas agar bisa kembali menenangkan diri.


" Oh iya Win, kenalkan ini Deo. Dia ini kakaknya Demas, mereka dua bersaudara, sepupuku. Jadi...di keluarga Darmawan kami ini sama-sama generasi kedua!" terang Claire yang setengah mati menahan diri untuk tak larut dalam kesedihan.


Edwin yang sigap terlihat mengulurkan tangannya terlebih dahulu kepada pria tunggu besar dengan badan atletis itu.


" Edwin!"


" Deo!"


" Kalau yang ini namanya Arimbi, istrinya Deo!"


Mereka kembali bersalaman. Dan saat mereka masih sibuk dengan kegiatan perkenalan, rupanya para orang tua datang.


" Oma!" pekik Claire yang kini melihat Mama Bella berjalan bersama para orang tua lainnya.


" Cucu Oma!" sambut Mama Bella yang benar-benar rindu dengan Neo. Wanita berumur itu tampak berlari meninggalkan ketiga orang yang kini terlihat menatap haru ke arah Neo.


Edwin yang juga menyaksikan hal itu kini segera bisa menyimpulkan bila keluarga Claire adalah keluarga yang kompak dan hangat. Bahkan asal usul mereka jelas.


" Kok cuma Oma aja yang di peluk. Opa juga dong!" seru Leo yang pura-pura merajuk saat cucunya kini memeluk leher Mama Bella.


Neo yang akhirnya kini di minta oleh Papa Leo akhirnya malu-malu saat pipinya di cium oleh pria berkulit putih itu. Membuat kesemuanya terkekeh senang.


" Sama Oma Jes juga dong, Opa David juga pingin sun tuh!" pinta Claire kepada anaknya yang terlihat malu-malu.


Dan di hari itu, untuk pertama kalinya Edwin merasa begitu bahagia karena telah di undang hadirkan ke keluarga yang begitu hangat.


Tapi meski Edwin terlihat senang, Demas yang sedari tadi membaca situasi yang ada terlihat tertegun sebab memikirkan sesuatu seraya menatap Claire lekat-lekat.


" Semoga kau bisa melalui ini Claire!"


.


.


.


.


Maaf up slow soalnya masih liburan hari raya🤪

__ADS_1


__ADS_2