My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 141. Pertanggungjawaban


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Bagi beberapa manusia, berpasrah dan legowo manakala menerima keputusan takdir itu jauh lebih membuat panjang umur, ketimbang orang yang terus melawan.


~ Pria murung.


.


.


Zayn mondar-mandir hingga keringat dingin tiba-tiba muncul di keningnya. Papa David bersama Papa Leo terlihat menemui dokter kenalannya untuk membicarakan birokrasi perawatan. Sementara itu, Mama Jessika dan Mama Bella di minta untuk pulang dulu dengan di temani Claire.


Ya, Sada yang melihat kondisi Mama mertuanya tampak tak tega. Ia meminta istrinya untuk membawa pulang saja Mama Bella agar bisa beristirahat.


Sada juga meminta Zara untuk pulang dan menemui Mamanya terlebih dahulu. Gadis itu akhirnya menurut meski kini ia juga begitu mengkhawatirkan kondisi Melodi.


" Zayn, duduklah!" pinta Sada yang pusing sendiri sebab sahabatnya itu membuat mumet.


" Kenapa pihak kepolisan belum datang juga?" balas Zayn yang resah.


" Itu mereka!"


Pas sekali. Saat Zayn mulai kesal karena pihak polisi begitu lama datangnya, namun pada akhirnya mereka tiba tepat pada waktunya.


" Selamat pagi Pak!" sapa seorang polisi yang masih mengenakan seragam lengkap.


Mereka saling berjabat tangan. Zayn terlihat sangat serius. Ia bahkan tak mempedulikan keadaan perusahaan yang benar-benar diambang kehancuran.


" Kami sudah mengantongi plat nomor pria ini!" menunjukkan foto Edwin berikut screenshot gambar seseorang yang misterius kala memasuki mobil Zayn.


" Tapi dari penyelidikan sementara di CCTV, laki-laki itu datang karena mengantar seseorang. Makanya dia tak membawa mobil masuk!" terang polisi tersebut. Membuat Zayn dan Sada saling bertukar pandang.


" Lalu bagiamana selanjutnya?" kejar Sada yang makin tak sabar.

__ADS_1


" Tim kami sedang mengerahkan banyak personel guna melacak kendaraan tersebut. Kami mohon salah satu dari anda untuk datang ke kantor polisi guna memberikan keterangan!"


-


-


Tanaphan menatap muram putrinya yang tergeletak lemah dengan mata terpejam di ruang isolasi. Usia diberikan suntikan, gadis itu kini hanya bisa terbaring lemah dengan penjagaan ketat.


Edwin ternyata membawa gadis itu ke rumah sehat. Ia yang memiliki kenalan dokter spesialis kejiwaan serta beberapa psikolog memilih hal itu. Entah mengapa, Edwin merasa perduli.


" Orang dengan ganggang kejiwaan tak akan bisa tersentuh hukum." ucap Edwin tiba-tiba." Tapi yang jelas, sebagai orangtua anda harus turut bertanggungjawab tuan!"


Tanaphan menitikkan air matanya saat Edwin membuka suaranya. Pria itu telah memberitahukan kronologis kejadian yang membuatnya harus terseret dalam kasus ini.


Dan Tanaphan sama sekali tak mengira, jika anak akan berbuat hingga sejauh ini. Segala upaya selama ini telah ia lakukan demi membuat anaknya bahagia. Termasuk menuruti semua keinginan, tanpa filter yang benar.


" Aku hanya ingin dia bahagia, itu saja!" balas Tanaphan terdengar pilu. Ironis. Menyedihkan.


" Kau tahu tuan, tidak semua yang kita inginkan itu bisa terpenuhi. Itu sudah hukum nyata dari kinerja dunia yang mengenal jalur takdir!" ucap Edwin tersenyum kecut demi mengingat kisahnya dengan Claire. Dan itu membuatnya tahu tentang arti dari sebuah kata takdir.


" Sedari kecil dia di tinggal ibunya. Sepi, sunyi. Sejak saat itu, kejiwaannya mulai berubah. Sering berbicara sendiri. Menangis sendiri. Tertawa sendiri." Tanaphan terserang rasa sedih. "Tapi anakku sebenarnya adalah orang yang baik. Menjelang dewasa ia terobsesi dengan Zayn karena seringnya bersama. Dia adalah anak dari temanku yang waktu itu keadaannya susah. Laki-laki yang hingga saat ini begitu Olivia minati.


Edwin mendadak turut merasakan sesak di dadanya manakala mendengar Tanaphan bercerita. Separah itukah luka dari sebuah kehilangan? Menumpuk dan membeludak menjadi sebuah ketidakberesan jiwa.


" Tapi rupanya, aku salah menilai kepedulianku. Kukira dengan memberi semua yang dia minta, itu bisa mengobati kekosongan hati Olivia. Tapi ternyata..."


Edwin menepuk pundak yang kono bergetar akibat tangis itu. Sebenarnya ia dan Olivia tak jauh beda. Sama-sama produk orang yang kehilangan kasih sayang, sekaligus orang yang sama-sama kalah dalam takdir cinta.


" Ia akan istirahat untuk waktu yang lama. Kita bisa berkonsultasi nanti dengan rekanku. Tapi sekarang, kita harus ke kantor polisi tuan. Anda harus melakukan apa yang seharusnya anda lakukan sebagai seorang Ayah!"


Dan tidak tahu kenapa, Tanaphan serasa seperti di celikkan usai mendengar perkataan Edwin. Pemuda yang begitu luar biasa, yang mampu mengubah sudut pandangnya yang semula angkuh, menjadi bersahaja.


" Tunggu!" panggil Tanaphan kepada Edwin yang membuat langkah pria itu seketika terhenti.

__ADS_1


" Ada apa?"


" Kenapa kau membantu putriku setelah semua yang telah terjadi?"


Edwin tersenyum sumbang, " Tidaklah seseorang itu bisa berbagi pengalaman, kecuali orang tersebut mengalaminya sendiri!"


Tanaphan bisa melihat sorot mata kekecewaannya dan kesedihan yang kini di pertontonkan oleh Edwin. Di detik itu, Edwin tidak tahu jika ada seorang Ayah yang menemukan kembali harapannya sebagai manusia wajar.


-


-


Di kantor polisi.


Setibanya mereka di parkiran, Tanaphan menghela napas berulang kali guna menetralisir kegugupan yang kian mendera. Ia adalah pesohor, pembisnis, pengusaha nomor Wahid yang namanya terlambungkan dengan sederet pencapaian luar biasa di negara majemuk itu.


Tapi saat ini, ia hanyalah seorang manusia bertitel Ayah yang sedang mempertanggungjawabkan perbuatan anaknya di hadapan hukum negara. Perbuatan yang jelas bakal merubah sederet kecemerlangan hidup itu, menjadi kekusaman.


Saat keduanya berjalan masuk, banyak pasang mata terkejut akan kehadiran mereka sebab seorang pria yang beberapa jam ini viral, terlihat berjalan santai dengan orang yang cukup memiliki nama di Atana.


Seperti kantor polisi pada umumnya, banyak pula wartawan yang standby untuk menggali berita terbaru.


" Selamat siang Pak!" Sapa Edwin kepada petugas di depan pintu yang masih terlolong. Tak percaya jika buronan yang mereka cari malah datang ke kandang.


" Siang. Silahkan, ada yang bisa kami bantu?" jawab petugas muda itu sedikit grogi.


" Langsung saja Pak, kami ingin menjelaskan kronologis kejadian penikaman di airport pagi tadi. Dia tidak bersalah. Tapi..."


Kesemuanya terdiam saat Tanaphan menjeda ucapannya dan terlihat menarik napas dalam-dalam. Ia semakin grogi.


" Tapi anak saya lah yang melakukan kejahatan tersebut. Anak saya Olivia, yang telah menusuk gadis itu!" terangnya dengan rasa beban yang seakan menggelinding ke bawah.


DUAR!

__ADS_1


Dan demi apapun yang ada di dunia ini, seluruh petugas kepolisian yang ada di sana terlihat terkejut bukan main. Seorang Tanaphan yang berkuasa, terang-terangan memberikan sebuah pernyataan mengejutkan, yang kini tak hanya riskan, namun telak membuat nama serta reputasinya hancur.


Dan sialnya, beberapa wartawan yang tengah standby sejak tadi, turu mendengar dengan jelas pembicaraan mengejutkan tersebut. Membuat Tanaphan kini sontak di kerubungi awak media yang haus akan berita terbaru dengan jepretan kamera yang mulai memusingkan mata.


__ADS_2