My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 21. Undang Paman, Bu!


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Malam harinya, Neo tak henti-hentinya menceritakan secara heboh tentang paman tampan, bahkan sepanjang Ibunya sibuk menyiapkan makanan.


Anak itu terus saja nyerocos tiada henti, seolah ia ingin memproklamirkan superhero yang baru saja ia jumpai agar sang Ibu turut memujanya.


" Ibu tahu, bahkan tadi kita yang masuk di kasih buku baru Bu, aku dapat yang ini..." menunjukkan buku mewarnai dengan gambar yang begitu banyak, serta pensil pewarna merk terbaik." Bagus kan? Aku suka warnanya!"


Claire melihat sekilas, lalu sejurus kemudian ia kembali melanjutkan menata piring tanpa berkata apapun.


" Cillo tadi dapat yang sama denganku Bu. Kemarin dikasih kue, coklat, sekarang buku, besok apa lagi ya...?"


" Sudah itu disimpan dulu, kita makan sekarang!" katanya yang tak terlalu minat untuk membahas tentang pria asing itu.


Membuat Neo seketika memanyunkan bibirnya saat Ibunya tampak tak berminat untuk menimpali. Sungguh menyebalkan.


" Ibu tidak suka ya sama paman tampan?" menggerutu sambil naik keatas kursi. Merasa kecewa sebab Ibunya malah tak se excited seperti yang ia bayangkan.


" Bukan tidak suka, Ibu kan belum mengenal. Kita bahas itu nanti, kita makan dulu ya. Lagipula, kata mbak Juwi dia seorang donatur kan?" jawabnya merubah sikap karena Neo tiba-tiba menjadi baper.


Takut kalau-kalau anak itu kembali salah paham.


" Donatur itu apa Bu?" tanya bocah itu menatap ke arah Ibunya yang kini tengah sibuk mengambilkan dia nasi. Membuat kekesalannya sedikit teralihkan.


" Donatur itu... semacam orang yang suka memberi bantuan secara terus menerus!" jawab Claire sambil menaruh secentong nasi putih keatas piring Neo.


" Berarti Ibu juga donatur dong buat mbak Juwi?"

__ADS_1


Claire tersenyum. Anaknya itu selalu saja memiliki rasa ingin tahu yang besar. Benar-benar membuat kewalahan.


" Bukan sayang itu beda. Sudah cepat habiskan makanannya!"


Neo mengangguk, ibunya sering mengajarkannya berdoa sebelum makan dan tidak boleh terlalu berisik saat berada di meja makan. Pamali katanya.


Dan beberapa waktu kemudian, suara Neo yang penuh antusias itu datang kembali manakala piring dihadapannya telah berkurang lumayan banyak.


" Kita undang paman datang kesini ya Bu?"


" Paman sangat baik!"


" Kalau Ibu kenal paman, pasti ibu juga suka!"


Inilah yang kerap membuat Claire pusing, Neo itu jika sudah mempunyai keinginan sangat susah di tawar. Bocah itu akan terus saja merayu hingga apa yang dia mau tercapai.


" Ibu habis ini masih sibuk nak!" menjawab usai meneguk segelas air dalam gelas bening.


" Pasti punya kerjaan lain juga!"


Mencoba berdiplomasi secara halus karena seorang donatur seperti yang dibicarakan Neo sudah bisa di pastikan merupakan orang berada yang mobilitasnya tinggi.


Namun Alih-alih mau mengerti, bocah itu malah merajuk.


" Ibu selalu sibuk!" kesal Neo dengan wajah keruh.


" Ibu gak pernah mau tahu keinginan Neo!" teriaknya yang langsung meletakkan sendok dan garpu nya dengan wajah cemberut. Merasa wajah dan matanya seketika memanas sebab hatinya kesal.

__ADS_1


Ia kesal kepada Ibu yang jarang mau mengerti tentang dirinya. Well, menjadi single mother tentu tak mudah seperti yang dipikirkan.


Membuat claire menghela napas panjang.


" Neo don't say that! ( jangan katakan itu)"


" Jangan pernah berkata bila Ibu tidak mau tahu tentang keinginan Neo!"


Maka anak banteng itu langsung membuang wajahnya dengan air muka yang masih kesal.


Saat Claire menatap wajah marah anaknya, tidak tahu kenapa sorot mata tajam saat mengerutkan kening itu malah membuatnya teringat pada seseorang. Sorot mata yang persis dan pernah ia lihat manakala Sadawira berkelahi dengan sepupunya.


Membuatnya buru-buru menggeleng-gelengkan kepala sebab ingin menggugurkan ingatan tak menyenangkan itu.


" Pokoknya aku mau Ibu undang paman kesini. Ibu tahu, bahkan paman itu menemaniku saat pementasan. Dia sangat baik Bu!"


"Seharusnya Ibu yang menemaniku, seharusnya aku punya Ayah!" ucap Neo yang tak lagi bisa menahan air matanya. Ya, bocah itu kini menangis.


Neo sangat kesal sebab ibunya tak mau mengerti juga.


" Paman itu pasti sangat sibuk nak. Dia pasti orang yang tidak selalu bisa menyempatkan diri. Bagiamana kalau Paman itu tidak bisa datang?" menatap muram ke arah Neo yang bolak balik membasuh wajahnya sebab air mata yang tak mau berhenti.


" Pasti datang, aku yang bakal bilang!" menjawab dengan muka bersungut-sungut.


Claire kembali menghela napasnya lagi. Anaknya itu jika marah benar-benar membuatnya teringat dengan satu orang.


" Ya sudah kita undang paman itu, tapi kita undang juga om Edwin ya?" kata Claire mencoba berdiplomasi. Ia ingin membuktikan Neo dekat dengan Edwin meski ia sendiri masih meragu.

__ADS_1


Membuat Neo menatap wajah Ibunya dengan raut sedikit berpikir.


" Setuju!"


__ADS_2