
...🥀🥀🥀...
Tanpa menunggu lagi, ia berlari dan langsung menubruk tubuh tinggi tegap dengan keharuman maskulin yang kini menguar menusuk rongga hidungnya.
Tak dapat ia nafikkan, Claire tak bisa lagi menahan segenap haru, manakala ia berhasil menemukan sosok yang berhari- hari ini paling dia cari. Dinding pertahanannya seketika ambruk diantara sayup-sayup suara anak-anak yang bermain.
" Ye aku menang!" teriak anak-anak yang nampak begitu bahagia di luar sana.
Walau ia belum tahu, kenapa Sada bisa berada di sebuah bangunan yang memuat banyak sekali anak-anak.
Buliran bening dari dua netra coklat Claire kian melesak-lesak menjejal di kedua matanya. Wira yang tiba-tiba di tubruk hanya bisa diam dan terlihat menengadah sembari menahan air matanya agar tak turut menetes.
" Wira! Aku mencarimu beberapa hari ini. Kau benar-benar sudah menghukum ku!"
Sadawira yang di peluk hanya bisa diam. Meski dalam hatinya kini terdapat banyak sekali perasaan yang berhamburan keluar. Ia ingin marah, kenapa Claire malah datang dan menerjang bahaya? Namun di sisi lain, ia juga senang karena wanita yang masih dan akan terus dia cintai itu akhirnya sudi mengungkapkan segenap rasa yang selama ini tertahan.
" Kenapa kau pergi ke tempat seperti ini? Apa kau benar-benar marah kepadaku?"
__ADS_1
Claire makin tak dapat menahan segala bentuk keharuan yang tercipta. Ia iba menatap Sada berikut dengan segala perlakuan kasar sang Papa. Ia juga ingat dirinya yang sering berucap ketus menutupi segala ketakutannya.
" Memangnya dimana seharusnya aku berada?" balas Sada kini menengadah sembari menghela napas. Terdengar mengeluarkan lelucon.
Merasa tertampar dengan ucapan Sadawira, Claire semakin terisak. Apa pria itu selalu saja sesantai ini meski tengah di rundung kesedihan? Namun jawaban selanjutnya yang di sertai pelukan hangat membuat pria itu betul-betul tak percaya.
" Aku sayang kamu Wira..."
" Sangat sayang!"
Suasana seketika hening. Anak-anak juga terdengar tak lagi bermain. Hanya isakan kecil Claire yang kini menusuk bagian terdalam hati Wira. Pria itu pun akhirnya menitikkan air matanya. Tangan yang semula menganggur itu kini juga terangkat merangkum bahu setinggi dadanya itu dengan perasaan paling sulit dijelaskan. Ia menguatkan pelukannya makin erat. Seolah tak ingin berhenti.
Entah berapa lama Claire menyembunyikan wajahnya di dada bidang yang menguarkan keharuman jantan itu. Sama sekali tak mempedulikan siapapun. Tak menghiraukan denting jam yang memecahkan keheningan. Ia hanya ingin berada di sana selama mungkin.
Apakah seperti ini rasanya menerima sebuah cinta? Apakah ini yang dinamakan keindahan dibalik kedukaan? Entahlah, yang jelas bongkahan batu besar yang selama ini menghimpit dada dan kepala Sada, rasanya seperti hilang begitu saja di terpa angin.
Sada lega.
__ADS_1
Hingga saat Sadawira melepas pelukannya lalu menatap dua mata basah Claire yang tak bisa berhenti menangis, ia baru mengerti bila sadawira juga telah menangis.
" Aku pergi kemari tanpa memberitahu Papa!" ucap Claire serak. Mendominasi pembicaraan dan tak membiarkan Sada sampai bertanya.
" Dia akan memenggal kepalaku!" balas Sadawira mengusap air mata Claire yang tak mau berhenti. Pria itu sebenarnya lega meski masih terlihat mempertontonkan wajah kuyu. Macam orang sakit.
Claire menggeleng, tak menyetujui ucapan konyol Sadawira. "Aku tidak peduli. Anak kita mencarimu. Dia tak mau makan. Kondisinya lemah!"
Dada Sadawira seketika seperti terhantam sesuatu yang berat. Dia pikir setelah dia perginya permalasahan tak akan terjadi.
Pria itu akhirnya membalas pelukan Claire lagi dengan begitu erat. Ia pun sangat rindu, tapi ketidakberdayaan yang berambut dengan kenyataan benar-benar memaksanya terlempar jauh dari garis start.
" Kumohon Wira, temuilah Neo!"
" Aku tidak peduli meski Papa marah. Aku mencintaimu Wira, sangat mencintaimu!"
-
__ADS_1
-