My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 58. Satu persatu mengetahui


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


" Terimakasih banyak Win. Kalau gak ada kamu..."


Edwin lekas menyentuh lengan atas Claire dengan wajah tersenyum saat tunangannya itu menatapnya dengan penuh kesungguhan. Membuat kalimat Claire terjeda.


"Hey jangan begitu, dia akan jadi anakku juga nantinya. Jadi, sudah jadi urusanku juga, hm!"


Inilah yang Claire takutkan. Semakin kesini, perasaan tak tenang makin menggerogoti hatinya sebab perlakuan Edwin yang semakin hangat. Bagiamana bisa dia tak memiliki perasaan sama sekali terhadap pria baik di depannya itu. Dan kenapa malah dia selalu memikirkan Sadawira serta ancamannya?


"Oh iya, aku lupa memberitahu. Besok Mama akan datang. Jadi, aku akan menunda kepulanganku. Mama ingin mengucapkan rasa dukanya sekaligus ingin berbicara denganmu. Jangan takut, Mama mungkin hanya ingin meminta maaf!"


Ia turut tersenyum membalas Edwin meski setengah memaksa. Apakah semua ini sudah benar? Apakah kedepannya nanti dia sanggup untuk melalui semuanya?


Ia yang kemarin kesal karena Wira malah menelponnya kini menjadi resah sediri sebab pria itu sama sekali tak menghubunginya.


Hah, definisi dari wanita yang kontradiktif.


Dan seperti biasanya, hari yang kita takutkan malah datang lebih cepat. Mama Edwin yang bernama Nyonya Siska malam itu datang bersama anaknya tepat waktu.


Keluarga Claire yang tahu jika calon besan mereka datang terlihat berbaris menyambut. Kebetulan, beberapa hari ini masih banyak orang yang berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa.


Meski Papa David dan Mama Jessika telah tahu soal Sadawira, tapi mereka bahkan belum memiliki kesempatan untuk membahas hal itu dengan adiknya.


Claire yang masih menemani Neo bisa mendengar suara riuh di depan sana. Menegaskan jika Mama Edwin sudah datang.


" Ibu, kenapa Paman tidak menjengukku? Apa dia sudah kembali ke Atana? Kita kapan pulang Bu?" ucap Neo murung.


Bocah itu sedari kemarin mendesak Claire untuk menghubungi Sada. Tapi seperti biasa, Claire selalu berkelit agar anaknya tak membahas hal itu lagi. Bukan karena apapun, ia hanya tak mau jika Papanya tahu dan marah.


" Ibu, coba telpon Paman. Ibu punya nomor teleponnya kan?"


Claire bingung. Jalinan persahabatan yang tercipta antara anaknya dengan Sadawira agaknya terlalu dalam. Mengelak sebisa mungkin lah yang bisa ia lakukan.


TOK TOK TOK


Ketukan pintu tersebut membuat Claire seolah tertolong sebab bisa menunda memberikan jawab sulit itu.


Syukurlah!


" Mamanya Edwin datang. Temuin dulu sana!" seru Melodi yang kini ngeloyor masuk.


" Lah, kok kamu malah kesini?" tanya sang kakak dengan alis berkerut.


" Kamu kesana, temuin tuh calon Ibu mertua. Biar aku temenin Neo!"


Neo berdiam karena tak mengerti apa yang mereka bahas. Lagipula, meski tubuh bocah itu sudah tidak terlalu panas, namun sendi-sendinya masih terasa nyeri.


Sepeninggal Claire, Melodi kini menikmati waktu berdua nya dengan keponakannya.


" Belum ngantuk?"


Neo mengangguk. Semacam terkena insomnia namun dalam versi loyo.

__ADS_1


"Mau aunty suapin? Itu nasinya kok cuman di makan dikit banget?" tanya Melodi sembari melirik semangkuk makanan yang hanya termakan sedikit.


Alih-alih menjawab, Neo malah membetulkan posisi berbaring nya sedikit lebih tinggi. Bocah itu lantas menatap wajah sang bibi penuh harap.


" Aunty, apa aku boleh minta tolong?"


Melodi menatap wajah pucat keponakannya dengan tatapan heran. Ada apa ini, belum pernah Neo berbicara seserius ini kepadanya.


" Ada apa Neo? Kamu mau sesuatu? Mau makan yang lain?" menawari dengan serius.


Bocah itu kini menggeleng, " Apa bibi bisa memberitahu Paman tampan?"


" Paman tampan?" ulangnya dengan wajah yang keheranan.


Neo mengangguk, " Aku sudah berkali-kali meminta Ibu untuk menelponnya, tapi Ibu tidak mau!"


" Memangnya siapa Paman tampan?" tanya Melodi yang malah mirip seperti seorang penginterogasi.


" Paman itu...temanku. Dia orang yang sangat baik. Kata Bu guru, dia donatur di sekolah Neo. Ayo Aunty tolonglah! Aku belum bisa membaca dengan jelas, cari nama Paman di handphone. Please!"


Melodi yang meragu lantas melihat ponsel kakaknya yang tertinggal di kasur di sebelah Neo. Membuatnya langsung meraih benda itu untuk memeriksa.


" Nomornya aku tidak tahu. Kau ini ada-ada saja. Lagipula, kenapa pula anak sekecil kamu malah berteman dengan orang dewasa sih?"


" Aunty sih gak kenal. Kalau kenal pasti seneng juga. Orangnya baik banget. Coba cari Aunty, please!"


Dan wajah penuh harap dari Neo yang polos berhasil meruntuhkan segenap keraguan yang menyeruak.


Baiklah kalau begitu, kita coba cari. Mungkin saja ia bisa menemukan sesuatu dalam ponsel kakaknya. Lagipula, toh hanya menelepon kan, bukan meneror.


" Melodi gitu loh!" seru gadis itu berbangga hati.


" Apa sudah ketemu?" tanya sang keponakan demi melihat reaksi sumringah sang bibi.


" Siapa nama donatur itu?" tanya Melodi seraya menggulir ponsel guna mencari tahu nama kontak di histori kakaknya.


" Kalau tidak salah, Bu guru menyebutnya Pak Sadawira!"


DEG


" Apa?" pekik Melodi kaget setengah mati.


Neo sampai berjingkat karena bibinya memekik terlalu keras. Neo bahkan menjadi terlolong sebab wajah bibirnya menjadi aneh Kaka shock.


" Ka- kau bilang apa tadi?" tanya Melodi yang benar-benar terkejut. Ah sialan, kenapa namanya sama?


" Pak Sadawira. Bu guru bilang begitu!" tutur Neo seraya mendengus. Bibinya ini benar-benar menyebalkan sekali.


Melodi tercenung. Kenapa harus nama itu?


" CK!" membuatnya mendecak.


Tapi tunggu dulu, kenapa dia harus shock? Bukakan nama itu bisa saja sama dengan nama orang lain. Seperti dirinya contohnya. Pasti ada ratusan nama Melodi di dunia ini selain dirinya kan?

__ADS_1


Membuat kecemasannya perlahan-lahan memudar.


" Tidak, pasti hanya kebetulan!" gumam Melodi yang membuat Neo melongo sebab bingung.


" Kok Aunty bicara sendiri sih?"


" Enggak. Ya udah, kita coba cari Pak Donatur ya?"


Neo mengangguk. Ia tak mempedulikan bibinya yang tiba-tiba aneh. Orang dewasa memang kan begitu.


Dan saat Melodi berhasil menemukan satu nama kontak bernama Mr. Donatur, dengan spontan ia melakukan panggilan telepon video.


" Cerdas juga ni bocah. Ini kenapa Claire nyimpen nomor si Donatur ini tapi ya?"


Ia yakin sebab di kontak Claire hanya ada satu nama dengan keyword Donatur. Dan tanpa menunggu lagi, Melodi langsung melihat kontak nomor itu.


Nomor luar Indonesia yang tidak ada poto profilnya.


" Apa sudah ketemu aunty?" tanya Neo dengan tak sabar.


" Aunty tidak yakin, tapi kita coba ya? CK, lagian amak kecil kenapa bisa-bisanya punya teman Donatur!" menggeleng tak percaya seraya mulai melakukan panggilan.


Mereka lantas berceloteh sembari menunggu panggilan itu terjawab.


" Apa berhasil Aunty?" Neo kembali bertanya dengan tak sabar.


" Sudah berdering, kita tunggu sebentar ya. Kalau tiga kali tidak di angkat, berarti dia sibuk. Selain itu, ini Aunty juga masih nyoba. Kalau salah orang, kamu yang tanggung jawab!"


Neo tekrikik-kikik begitupun Melodi. Sungguh duo konyol yang begitu klop malam ini.


Namun beberapa waktu kemudian, sikap optimis mereka berubah menjadi keputusasaan sebab hingga panggilan kedua nomor itu tak kunjung menjawab.


" Kayaknya sibuk deh dia Yo. Sekali lagi deh ya kita coba. Kalau gak bisa, Neo janji gak boleh ngeyel!"


Neo mengangguk. Menyetujui diplomasi ringan itu. Setidaknya Aunty sudah mau menolongnya. Tidak seperti Ibu.


Namun layar yang tiba-tiba berubah dengan suara krusak- krusuk membuat keduanya menoleh. Yes!


Jelas panggilan mereka di angkat.


" Claire, ada apa?"


DEG


Namun sebuah suara yang mampir ke telinga Melodi membuat gadis itu seketika tertegun. Kini, bukan hanya jantung Melodi yang seakan keluar dari tempatnya. Mulut yang ternganga itu menjadi penegas terkejutnya adik Claire itu demi melihat wajah pria yang selama ini Keluarganya hindari.


" Sa- Sadawira!"


.


.


.

__ADS_1


to be continued


__ADS_2