
...🥀🥀🥀...
" PRYANG!"
Nino yang hendak mengetuk pintu, kini mengurungkan niatnya demi mendengar suara benda pecah yang membuat suasana tak nyaman.
Sejurus kemudian, ia mendekatkan kuping ke pintu kamar Sada, namun tak berselang lama pintu tersebut mendadak terbuka dan membuat Nino nyaris terjungkal karena tak siap.
" Bos?" ucap Nino setengah kikuk lantaran terpergok. Namun yang di sapa terlihat menatap Nino penuh rasa bersalah.
Sada tak kesal apalagi marah. Namun bukannya membalas tatapan mengiba Sada, Nino justru fokus pada tangan bosnya yang berdarah. Seperti habis digunakan meninju sesuatu.
" Astaga bos?" pekik Nino yang tentu saja terkejut setengah mati.
...Flashback...
Sadawira meminta trio kocak untuk menelusuri lebih dalam tentang pelaku yang mengancam Claire tempo hari, sebab Sada yang terlibat perkelahian langsung dengan pria misterius itu, tiba-tiba merasa terusik lantaran merasa tak asing dengan sosok itu.
Merasa aneh. Kenapa pria misterius itu tak kembali menghajarnya dan malah kabur seolah tak ingin di kejar. Padahal, secara fisik mereka imbang.
Kejanggalan lain kuat terendus saat Dollar menginterogasi petugas keamanan yang malam itu turut menjadi korban.
" Leher saya tiba-tiba di jerat menggunakan tali. Saya melawan dan sempat bertarung dengan pria itu. Tapi dia bawa senjata tajam. Usai menyabet lengan saya, saya di hajar dan setalah itu saya tidak ingat apa-apa!"
CCTV yang ada juga tak terlalu bisa membantu sebab pria itu sepertinya pelaku telah melumpuhkan benda itu. Jelas makin menegaskan jika si pelaku cukup familiar dengan tempat itu.
Janu serta Henry yang di perintahkan kembali ke kantor Claire menemukan sebuah sapu tangan yang tergeletak tak jauh dari tempat petugas keamanan itu tumbang. Mereka tak menyerahkan benda itu kepada polisi tapi membawanya untuk di tujukan kepada Sadawira, usai pria itu mengantarkan Claire.
Sada tak membagi tahu hal ini kepada Claire. Bahkan Zayn diminta menginap dirumahnya sebab dibutuhkan untuk berunding. Dari sini bisa terlihat jelas, betapa Sada benar-benar ingin melindungi wanitanya itu.
" Kami menemukan ini sekitar satu meter dari lokasi jatuhnya Yuan. Benda ini tertimpa sesuatu. Mungkin polisi tak melihatnya!"
Sada tercenung menatap saputangan bertuliskan inisial nama yang begitu ia kenal. Tapi otaknya mendadak macet. Benarkah semua itu?
Zayn memperingati Sada untuk tidak gegabah. Pria itu menurut dan memilih menemui Neo untuk merefresh otaknya. Semua berjalan lancar karena ia dan Neo benar-benar menghabiskan waktu dengan baik. Dan Neo berhasil mengembalikan moodnya yang suram.
Namun tanpa di nyana, saat ia tengah mengantar bocah itu pulang dari sekolah, mata kepalanya menangkap sosok yang ia cintai di peluk oleh pria yang 'katanya' merupakan tunangan Ibu dari anaknya itu.
Membuat logikanya mendadak aus.
Bahkan usai melayangkan bogem mentah kepada rivalnya itu, ia dan Edwin justru sama-sama di usir oleh Claire yang terlihat tertekan.
Namun terlepas dari semua itu, ia masih mendapat keberuntungan lantaran masih bisa membawa Neo jalan-jalan untuk memenuhinya nazarnya.
Malam yang datang semakin membuatnya terusik saat menatap saputangan yang masih berada dalam kamarnya. Dengan ragu-ragu ia lantas pergi seorang diri. Menepikan larangan Zayn untuk tidak gegabah.
Tapi Sadawira tetaplah Sadawira yang tak suka menunda-nunda sesuatu. Ia kini melesat menuju ke sebuah tempat dimana tempat itu mungkin bisa memberikan Sada sebuah jawaban.
Dan saat Sada mengetuk pintu, Andrew yang terlihat terkejut dengan kedatangannya nampak gugup.
__ADS_1
" Sa- Sada?" sapa Andrew yang tak menduga jika sahabatnya akan datang di jam semalam itu.
Dengan wajah datar Sadawira menerobos masuk meski belum di persilahkan. Pria itu membawa aura yang tak biasa. Kuduk Andrew berdiri.
" Kenapa beberapa hari ini jarang ke tempatku. Kata Zayn kau sakit, benarkah?" ucap Sada yang kini mendudukkan tubuhnya tepat di kursi kebesaran Andrew yang entah mengapa langsung membuka wajah si pemilik terlihat tak nyaman.
" Aku..."
" Sepertinya beberapa hari ini kau sibuk?" kata Sada menatap wajah Andrew yang terlihat resah.
Sada memicingkan matanya demi menangkap wajah Andrew yang lebam di beberapa titik.
Namun belum sempat Andrew menjawab, pria itu terlihat mengambil benda dari balik punggungnya lalu menunjukkannya kepada Andrew dengan wajah datar.
" Kenapa benda ini ada di kantor Ibunya Neo?"
Deg!
Meski sebenarnya sangat terkejut, tapi Andrew mencoba mengurai kegugupannya secepat mungkin.
" Bukankah benda ini di produksi secara eksklusif?" cecar Sada dengan alis yang terangkat sebelah.
Andrew makin tampak pias.
Melihat suasana yang semakin tak nyaman, Sadawira lantas bangkit dan berjalan mendekat ke arah Andrew dengan posisi tangan berada dalam saku. Meninggalkan benda itu diam diatas meja.
" Kenapa bibirmu? Sudut matamu juga lebam?" tukas Sada sembari memindai wajah itu santai.
Andrew semakin pias. Tangan mendadak dingin. Bibirnya terkatup sunyi. Tampak sekali keringat sebesar biji kacang hijau kini tumbuh di keningnya yang putih.
" Jawab!"
Teriakan keras Sadawira membuat pria itu seketika tergeragap. Ia menatap mata sahabatnya yang telah memerah demi menahan amarah yang membuncah dalam dadanya.
Ya, Sada yakin jika pria asing yang meneror Claire semalam adalah Andrew sebab sapu tangan itu memang hanya dimiliki oleh Andrew. Ia bahkan masih ingat betul saat mereka berita memesan saputangan itu dengan nama yang berbeda.
" Jawab atau aku..."
" Ya, malam itu memang aku yang melakukannya!"
DUAR!
Dua netra Sada spontan terpejam beberapa detik demi meresapi pengakuan yang memang ingin ia dengar. Sada berkali-kali menghela napas guna menetralisir emosi yang kini tiba-tiba tersulut.
" Aku yang membuat Claire..."
Namun ucapan Andrew musti menguap manakala Sada langsung menghantam wajah Andrew dengan tangannya yang telah terkepal kuat.
BUG!
__ADS_1
Andrew sontak terlempar mundur ke lemari yang memuat tumpukan berkas-berkas penting.
Lagi,
BUG!
Andrew kini terlempar ke sisi kiri dan membuat beberapa ordner seketika berjatuhan.
Sadawira meluapkan amarahnya. Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa dugaannya harus benar?
Meski awalnya dugaan itu memang langsung ia tujukan kepada Andrew manakala ia melihat saputangan eksklusif berbordir nama yang begitu ia kenali, tapi sejatinya Sada masih berharap jika bukan sahabatnya yang bakal menjadi pelaku.
Tapi pengakuan yang ia dengar, jelas mematahkan segenap khayalnya.
Andrew tak dapat melawan apalagi menghindar. Pria itu kini terlihat meringis dengan mata yang terlihat lembab.
" Kenapa?" tanya Sadawira yang geram menahan amarah dengan suara yang begitu berat.
" Kenapa kau melakukan semua ini? Bukankah kau tahu siapa perempuan yang akan kau celakai itu?" teriak Sada dengan emosi yang makin meluap. Ia menatap kecewa sahabatnya yang selama ini ia anggap seperti keluarga.
" Aku tidak punya pilihan Da!" teriak Andrew membalas tatapan sangar pria yang kini kehabisan stok kesabaran itu.
" Aku tidak tahu harus bagaimana selain membuat perubahan Claire hancur. Perusahaan Gina terancam bangkrut, kau dari dulu aku minta untuk menjadi investor tidak pernah mau. Apakah yang bisa aku lakukan?"
Sada menggeleng tak percaya. Ia langsung teringat saat Andrew berkali-kali meminta dirinya untuk menjadi investor ke perusahaan kekasihnya yang materialistis itu.
"Aku butuh investor buat nalangin bisnis Gina. Ada produk dari luar yang jadi pesaingnya!"
Tak menganggap bila pesaing yang di maksud adalah perusahaan milik Ibu dari anaknya sendiri.
" Dengar, aku tak memberimu pinjaman karena aku menyayangimu sebagai sahabat!" teriak Sada yang membuat Andrew makin tak berani untuk mengangkat wajahnya.
" Aku dan Zayn dari dulu sering memperingatkan kau soal Gina yang terus-menerus memanfaatkanmu!"
Andrew semakin terisak. Persahabatan yang semula baik-baik saja, kini harus ia ciderai sendiri dengan kebodohan yang bersembunyi di balik dalih cinta.
"Jika dia perempuan memang perempuan baik-baik, dia tak akan membuatmu seperti ini Andrew. Kau tahu sepenting apa Claire dalam kehidupanku. Kenapa kau tidak bisa membedakan!"
BRUAK
Andrew semakin terisak- isak saat Sada kini memukul lemari di sampingnya untuk menuntaskan luapan kemarahannya. Di sela isakan Andrew, dapat ia dengar deru napas memburu dari pria malang di sampingnya.
" Kepalaku rasanya sudah mau pecah soal Claire yang mau di nikahkan dengan pria lain. Dan kau..." menunjuk kasar pada sahabatnya dengan tatapan kecewa.
Kini Andrew sepertinya benar-benar menyadari jika ia telah membuat kesalahan yang teramat besar.
" Untuk pertama dan terakhir aku akan mengatakan satu hal kepadamu!" Sada mendekatkan wajahnya ke wajah Andrew yang takut untuk mendingan. " Tolong hentikan semua ini sebelum aku kehilangan kendali!"
...Flashback end...
__ADS_1