My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 31. Berdebat


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Di jam yang sama namun di tempat yang lain, Claire sempat menyalahkan sang guru sebab kenapa mengizinkan Neo pergi dengan orang asing. Membuat beberapa guru itu saling menatap heran.


Asing?


Pak Sada bukanlah orang asing, justru keluarga Neo harusnya bersyukur sebab sering menjadi perhatian donatur tampan itu. Begitu pikir sang guru.


" Kalau ada apa-apa, saya bisa tuntut situ!" kata Claire tanpa berpikir panjang sebab pikirannya di kuasainya kekalutan.


Guru disana tentu hanya bisa mengelus dada. Lagipula apa yang bakal di lakukan oleh orang sebaik Sadawira, kepada orang asing saja dia baik, apalagi kepada Neo yang sejak hari pertama sudah di notice oleh pria itu.


" Sudah Bu ayo kita masuk. Sepertinya sedang terjadi kesalahpahaman!" hibur guru lain kepada sang kepala sekolah yang tentu saja ketar-ketir.


Neo adalah anak yang paling berada di sana, dan mendapat ucapan tak ramah dari Claire, tentu saja kepala sekolah kini merasa khawatir.


Claire mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang, meski kini ia bingung harus mencari dimana anaknya.


" Kalau sampai terjadi sesuatu kepada anakku, aku tidak akan memaafkan mu Wira!" bergumam dengan rahang yang kaku. Menegaskan jika Claire benar-benar marah.


Ia terus berkeliling menuju pusat kota, bahkan bertanya ke perusahaan Sadawira. Hal itu terpaksa dia lakukan sebab mungkin saja Neo dibawa kesana.


" Loh, Ibunya Neo kan ya?" tanya Dollar yang melihat Claire bertanya kepada satpam di pintu penjagaan.


Pria itu terlihat ramah sebab tak tahu apapun.


" Apa Wira ada. Mak-maksud saya, Pak Sadawira!" meralat Dnegan tergagap-gagap namun tak bisa menyembunyikan wajah kesalnya.


" Ibu cari Bapak? Bapak pergi sejak pagi tadi Bu, sampai sekarang belum kembali ke kantor, apa ada pesan?"


Claire mendecak, yang benar saja.


Dan alih-alih menjawab, Claire langsung membalikkan tubuhnya sebab pikiran kini bertambah semrawut. Kemana anaknya dibawa?


Namun saat ia hendak menuju ke mobilnya, sebuah panggilan dari Juwi membuatnya menghentikan langkah.


" Den Neo sudah datang Bu. Diantar pak Sada!"


-


-


Claire membanting pintu mobilnya yang terparkir di sebuah mobil Mercedes Benz jenis sedan yang jelas ia duga adalah milik Sadawira. Tak terhitung berapa kecepatan Claire saat memburu waktu untuk pulang tadi.


Dan setibanya ia di dalam rumahnya, ia terkejut karena melihat Sadawira berjalan santai dari arah dalam. Membuatnya semakin meradang karena takut terjadi sesuatu.


" Dia tertidur. Jadi aku antar ke dalam. Maaf mengajaknya jalan-jalan dulu!"

__ADS_1


" Keluar!" teriaknya mengabaikan sederet penjelasan yang di lontarkan dengan suara lirih.


" Dia menunggumu lama, jadi..."


" Keluar kubilang!" pekik Claire lebih keras. Sama sekali tak ingin mendengar apapun lagi.


Membuat Sadawira menatap getir dua bola mata Claire.


" Apa karena dia benar anakku sehingga kau melakukan semua ini?"


" Hentikanlah omong kosongmu Wira!"


Damned!


Bahkan Juwi yang hendak menghidangkan minuman untuk Sadawira seketika berjingkat karena kaget mendengar pekikan Claire.


" Aku tak akan marah kepadamu Claire, aku memang pantas menerima semua ini. Tapi jika benar Neo anakku, maka seyogyanya kau tidak menyembunyikan hal ini kepadaku!"


Sadawira langsung pergi melintasi Claire yang wajahnya sudah menahan geram. Melihat kejadian yang sangat mengejutkan itu, Juwi memilih masuk dan pura-pura tidak tahu. Meski kini ia sangat shock, sebab Sadawira meng-klaim jika Neo adalah anaknya.


Oh ya Tuhan!


Sepeninggal Sadawira, Claire tampak menutup pintunya dengan keras lalu beringsut ke lantai. Merasa tak sanggup untuk mendebat pria itu.


Ia kesal dan marah. Namun ia tak tahu kemarahan itu ia tunjukkan kepada siapa.


Atau kepada nasib busuknya?


Ia benar-benar lelah hidup seperti ini.


Sejurus kemudian, ia yang tiba-tiba teringat seseorang buru-buru menghubungi Edwin.


" Halo Claire, aku masih ada jadwal pasien"


" Selasa besok jika kau free aku ingin mengajakmu menemui Papa!"


" Are you serious?"


...----------------...


BRAK!


Janu yang kebetulan bersama Dollar tengah melintas di dekat ruangan bosnya seketika berjingkat demi mendengar pintu yang di banting itu. Tak biasa-biasanya pintu itu mendapatkan perlakukan kasar dari Sadawira.


Jelas menegaskan bila bosnya sedang tak baik-baik saja.


" Aneh sekali, tadi Ibunya Neo datang juga seperti kesal. Sekarang malah bos yang begitu!"

__ADS_1


" Hah, ibunya Neo?" tanya Janu tak percaya.


Dollar mengangguk, " Bahkan aku nanya enggak sempat di jawab dan seperti terlihat kesal begitu!"


" Eh Do, tapi...aneh gak sih?" tanya Janu yang malah tertarik menggosip disana.


" Aneh apa?" balas Dollar mengerutkan kening.


" Pak Sada itu sepertinya menyimpan sesuatu deh. Semacam..."


CEKLEK!


Maka pintu yang semula tertutup itu tiba-tiba terbuka dan membuat keduanya kompak mendelik. Oh tidak!


" Siap salah Pak!" kata kedua pria itu kompak seraya menghormat demi mengira jika Sadawira memergoki mereka yang sibuk bergunjing.


Membuat Sadawira mengernyit.


" Salah apa?" bertanya bingung. Membuat keduanya akhirnya meringis sebab rupanya bosnya itu tak tahu jika mereka rasai.


" Tadi Ibunya Neo datang kemari Pak, tapi saya lupa menghubungi Pak Sada!" kata Dollar yang akhirnya menemukan satu alasan yang tepat.


Sadawira langsung tercenung dan membuat dua laki-laki di depannya harap-harap cemas.


" Apa setidak percaya itu kau denganku saat ini Claire? Apa bagimu aku ini seorang kriminal yang patut di curigai terus menerus?"


" Izin melapor lagi pak, tadi Ibunya Neo juga terlihat marah-marah!"


Membuat pria itu semakin terdiam. Jelas ada hal yang di sembunyikan oleh Claire.


Namun sejurus kemudian, Sadawira yang akhirnya ingat tentang tujuannya membuka pintu adalah karena ingin mencari dua anak buahnya itu, terlihat mengeluarkan sebuah titah.


" Emmm, tolong kau hubungi Diva dan tanyakan ada berapa orang dari Eropa itu yang akan datang. Dan kau Janu, tolong kontak pabrik Utara apakah stok kayu masih aman!"


" Siap Pak!"


Kedua laki-laki itu berbisik-bisik, " Wah jangan-jangan Pak Sada dan Ibunya Neo..."


Sadawira mengembuskan napas panjang. Bahkan ia baru menginjak garis start perjuangannya. Ini akan lebih sulit dari yang dia bayangkan.


Sejurus kemudian, ia tampak merogoh saku guna mengirim pesan kepada Zayn, bila ia telah berhasil mendapatkan rambut Neo.


Sadawira : " Aku mendapatkannya, kapan aku bisa atur jadwal untuk bertemu dengan Nick?"


Dan beberapa saat kemudian.


Zayn : " Malam ini aku akan kerumahmu. Semakin cepat semakin baik!"

__ADS_1


__ADS_2