My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 57. Tergerus nurani


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Papa David mungkin tidak terlalu kaget jika mengetahui bila Sadawira ada di Indonesia. Hal itu terjadi mengingat beberapa waktu yang lalu, Deo telah mengatakan kepadanya jika keponakannya itu telah bertemu Sadawira.


Tapi yang membuat dirinya shock adalah bagaimana bisa Sadawira tahu soal Neo?Sepertinya ia memang tak boleh menganggap remeh siapa Sadawira sebenarnya.


" Dia juga sudah melakukan tes DNA!"


" Bahkan dokter terbaik di Atana yang melakukannya!"


Papa David semakin kaget. Kenapa keadaan tiba-tiba rumit seperti ini? Meskipun Claire bukan anak kandungnya, tapi masalah Leo adalah masalahnya juga.


" Bagiamana jika Neo tahu jika Wira adalah ayahnya. Dan, bagaimana jika Wira mengamb..."


" Ma, kamu tenang dulu. Jangan panik!" papa David mengusap lembut lengan istrinya. Berusaha meyakinkan keadaan. " Kita harus berpikir secara tenang, jangan gegabah!"


Pria itu sejurus kemudian menarik tubuh istrinya lalu memeluknya erat. Merasa turut khawatir. Bahkan jika Leo tahu, pria itu pasti akan membunuh Sadawira.


-


-


" Ibu, apa paman tampan masih ada disini?"


Claire mendadak merasa lehernya tercekik saat Neo mengajukan pertanyaan itu. Membuat Edwin yang berada di sana tentu ingin tahu.


" Paman tampan? Apa dia ada di sini?" tanya Edwin kepada Neo.


Bocah itu mengangguk polos dengan kejernihan mata yang membuat hati Edwin tersenyum. " Aku dan Ibu kemarin..."


" Kemarin dia memberikan hadiah Neo. Iya benar, dia memberikan hadiah kepada Neo!" potong Claire dengan was-was dan raut wajah yang ketar-ketir karena tak menyangka jika anaknya begitu ember.


Membuat Edwin tertegun meski tak di lihat oleh Claire.


Di lain pihak, Mama Bella yang sangat terpukul dengan kepergian sang mertua kini tampak berdiam di kamar dengan mata yang semakin bengkak. Sepertinya, wanita itu menjadi orang yang paling merasa kehilangan.


Mungkin karena dia dekat di saat usia mertuanya sudah lanjut. Maklum, sedari dulu dia berada di kota S bersama Papa Leo dan anak-anak.


" Jangan seperti ini. Papa bisa sedih jika melihat kamu begini!" seru Papa Leo sembari mendudukkan tubuhnya ke tepi ranjang dekat istrinya. Merasa tak kuasa saat melihat istirnya yang terus-menerus terpuruk.

__ADS_1


" Bagaimana aku bisa tenang mas. Aku bahkan merasa menyesal karena meninggalkan papa sewaktu..." Mama Bella tak sanggup meneruskan ucapannya. Ia kembali terisak sebab merasa kecolongan.


" Sssst udah Ma. Jangan menyalahkan diri Mama terus!"


Papa Leo yang wajahnya tak kalah sedih kini mengusap punggung sang istri. Meskipun teori tentang kesabaran, dan dalil-dalil tentang kekuatan dari tokoh agama telah mereka dengar, namun rupanya mereka hanyalah manusia biasa yang tak kuasa menahan duka.


" Papa juga belum melihat Claire menikah dengan Edwin!" timpal Mama Bella di sela Isak tangis.


" Akan aku pastikan itu akan terjadi. Mamanya Edwin sudah menyetujui karena beliau tahu siapa keluarga kita. Jadi sekarang tinggal kita menjaga mereka berdua dari gangguan luar!"


Mama Bella akhirnya bisa sedikit tersenyum demi mendengar penuturan sang suami.


" Tapi waktunya setahun Mas. Bagiamana jika..."


" Itu akan menjadi tugas kita bersama. Bang David pasti juga akan membantu kita!"


Meninggalkan beberapa orang tua yang kini memiliki persoalan masing-masing, di sebuah ruangan dimana Sadawira kini sedang menunggu Diva yang akan bersamanya menuju Eropa, terlihat berkirim pesan kepada Claire.


📱Sadawira : "Aku barusaja mendarat di Atana. Neo sedang apa?"


Tapi Sada akhirnya terdiam saat centang buru itu tak kunjung mendapatkan balasan. Ia menghela napas. Kenapa juga ia harus berkirim pesan?


Dan sebuah bunyi yang keluar dari ponselnya kini membuatnya senyam-senyum.


📱 Claire : " Aku sudah mengatakan kepadamu jangan mengirimiku pesan. Neo sedang demam, jadi jangan menggangguku!"


Mungkin niat Claire mengatakan hal itu agar Sada berhenti menghubunginya karena kesibukannya mengurus anak yang sedang sakit. Tapi sepertinya Claire lupa, bila pria itu juga merupakan orangtua dari bocah yang katanya sedang sakit itu.


Oh sial.


Maka detik itu juga Sada langsung men-dial nomor Claire dengan wajah panik.


" CK!" Sada mendecak kesal manakala Claire tak juga mengangkat panggilan darinya. Padahal, ia kini ingin tahu kabar soal Neo.


Tapi Sada tak menyerah, ia terus menelpon nomor Claire. Dan di panggilan ke empatnya, wanita itu akhirnya mau menjawab.


" Aku akan memblokir nomormu jika kau..."


" Bagiamana keadaannya? Apa yang sedang terjadi? Neo sakit apa?" Sada menyahut dan mengabaikan kalimat bernada kesal dari Claire yang menyambutnya.

__ADS_1


Membuat suara yang kini berada di sambungan telepon itu terdengar mendecak.


" Dia demam!"


Keduanya hening. Benar-benar pola komunikasi yang menyedihkan.


" Apa kau butuh sesuatu, aku akan meminta Boni untuk mengirimkan orangku!"


" Aku ak..."


" Aku tidak butuh apapun darimu. Dan satu lagi, jangan hubungi kami lagi!"


TUT


Sadawira langsung memejamkan mata dengan posisi ponsel yang masih di dekat telinganya lalu memaki dengan keras.


" Fuc*king ****!" Sada kesal kepada dirinya sendiri juga keadaannya.


Neo sedang sakit, dan dia tak ada di sisinya. Lebih tepatnya tak akan pernah bisa berada di sisi anak itu.


Sejurus kemudian, Diva yang sudah datang terlihat heran saat melihat wajah kusut Sadawira dari jarak dua meter.


Ya, Sada yang landing di Bandara Atana memilih tak pulang dan meminta Dollar untuk menyusulnya ke sana sebab akan di ajak Sada menuju Eropa bersama Diva.


Zayn akhirnya berpisah dengan Sada di tempat itu. Pria itu langsung melesat pergi menuju ke perusahaannya yang ia tinggal beberapa hari guna menolong sahabatnya yang kesusahan itu.


" Kita masuk sekarang? Tiga puluh menit lagi boarding!" seru Diva melenggang dengan percaya diri.


" Tunggu dulu!" sergah Sadawira dengan wajah datar


" Ada apa lagi?" balas Diva memutar bola mata malas.


" Kita tunggu Dollar!"


" Apa? Dollar?" pekik Diva yang kaget dengan perkataan Sadawira. Bukankan harusnya mereka hanya berdua?


Sada mengangguk, tersenyum penuh arti menatap Diva. " Aku tidak mungkin pergi sendiri tanpa pengawalan. Lagipula, tidak baik jika seorang pria dan seorang wanita pergi bersama sendirian."


Diva sontak mengembuskan napas kesal sebab semua yang ia pikirkan hancur dalam sekejap.

__ADS_1


Brengsek!


__ADS_2