My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 30. Mari kita buktikan Neo!


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Sepanjang perjalanan, Neo terlihat cemberut dan ogah-ogahan manakala menjawab pertanyaan sang Ibu yang berusaha menjalin komunikasi.


Neo kesal sebab Ibu malah melarangnya untuk ikut paman. Memangnya kenapa sih? Paman pasti tidak akan keberatan kan? Toh paman orang yang ramah juga sangat baik, tahu tokoh-tokoh superhero lagi. Kurang apa lagi coba?


" Nanti kamu di jemput mbak Juwi!"


" Jangan pergi sebelum mbak Juwi datang!"


" Nunggu di dalam kantor saja!"


Namun Neo tetap diam. Ia kesal kepada Ibu yang malah memarahinya di depan Paman, membuatnya malu saja.


" Neo!" seru Claire sedikit tinggi sebab anaknya itu malah diam seribu bahasa.


" Iya- iya! Jangan Ibu marah-marah lagi!" menjawab dengan bersungut-sungut kesal.


Claire menghela napas. Ia jelas tahu bila anaknya sedang marah. Oh ya ampun, bahkan semenjak ia mengetahui bila Sadawira ada di kota ini, Claire merasa dirinya menjadi sangat stres.


" Dengar Neo, Paman Sada adalah orang sibuk! Dia juga orang asing, kita tak boleh sembarangan sama orang baru!" ucapnya mencoba berdiplomasi.


"Tapi aku mau sama Paman!"


Malah mengeyel.


Claire terdiam, ia tak bisa membiarkan semua ini terus berlanjut. Membuat satu pemikiran tiba-tiba timbul.


-


-


Claire menatap punggung kecil anaknya yang kini mulai menjauh dari pandangan. Mungkin seharusnya ini tak terjadi, tapi ia tentu tak bisa membiarkan kedekatan antara Neo dengan Sadawira berlanjut.


Claire : " Kalau kamu ada waktu, aku ingin bertemu!"


Edwin : " Sure, maybe weekend?"


Claire : " See you at the weekend ."


Meski apa yang sedang ia lakukan ini jauh dari perasaannya, tapi demi keluarganya yang sangat ia sayangi, tentu ia tak bisa membiarkan semua ini lebih lama. Ia harus membuat dinding pemisah setebal mungkin, agar keputusannya tak mengecewakan Opa.


Hari-hari yang berjalan selanjutnya rupanya cukup sulit untuk Claire lalui. Bagaimana tidak, Neo merajuk hingga Sabtu pagi ini. Padahal, ia berniat mengajak Neo untuk bertemu Edwin malam nanti.


" Gak mau!"


" Aku mau mainan saja!"


" Kenapa Ibu selalu pergi sama Om Edwin?"


Permintaannya di tolak mentah-mentah saat pagi tadi ia mengajak Neo untuk pergi bersama dengan Edwin. Ketidakbecusannya dalam menggiring kedekatan emosional terhadap dokter itu, membuat Neo selalu merasa asing dengan Edwin.


Sampai siang ini pun, Neo kembali dibuat kesal. Ya, bocah itu tampak marah sebab saat semua teman-temannya sudah di jemput, baik mbak Juwi, Supacon, maupun Ibunya tak juga menampakkan batang hidungnya.


Membuatnya ingin menangis.

__ADS_1


Dan saat Neo hendak masuk ke kantor sebab Bu guru memanggilnya, suara klakson membuat langkahnya terhenti. Membuatnya terperangah.


TIN TIN!


" Paman?" pekik Neo dengan wajah kegirangan sebab yang datang adalah Sadawira.


Pria tampan yang kini menghentikan mobilnya itu terlihat membuka kacamatanya sebelum membuka pintu mobil. Nampak tersenyum menyapa Neo.


Paman memang selalu terlihat keren.


" Kenapa masih disini boy?" sapa Sadawira mengacak rambut Neo penuh kasih.


" Belum di jemput! Ibu lama!"


Sadawira terlihat tersenyum saat melihat wajah Neo yang marah.


" Mau paman antar?" tawar Sadawira sebab tak tega melihat wajah kusut Neo.


Maka senyum secerah mentari seketika mengembang dari wajah bocah itu, karena itulah yang dia harapkan. Yey!


" Mau paman!"


" Ayo kita pulang!"


Usai melapor kepada dewan guru yang terlihat sungkan dengan Sadawira, mereka akhirnya melesat berdua. Dua laki-laki beda usia itu terlihat menikmati waktu berdua dengan nyaman.


" Aku minta maaf ya Paman?" seru Neo tiba-tiba membuka percakapan.


" Kenapa meminta maaf?" jawab Sadawira dengan posisi masih fokus di kemudi.


Sadawira tersenyum, " Apa ibu sering marah?"


Bocah itu menggeleng, " Jarang sih. Tapi tidak tahu kenapa pas ada paman malah marah-marah. Padahal paman baik! Membuatku malu saja!"


Sadawira tertegun. Sesakti inikah peraturan keluarga Darmawan? Bahkan membuat anak kecil itu turut tunduk kepada mereka.


Ia tahu dia adalah bajingan, tapi apa mereka pernah mengetahui alasan di balik perbuatannya itu?


" Mau makan es krim?"


Sadawira menawari Neo sebab tiba-tiba ia ingin menikmati waktu berdua dengan bocah itu. Benar-benar perasaan yang aneh.


" Nanti Ibu..."


" Nanti paman yang bilang!" memotong kalimat Neo guna memupus keraguan.


Neo langsung mengangguk. Ia akan aman karena Paman akan membelanya. Lagipula, paman yang uangnya banyak ini selain tampan juga sangat baik. Tak seperti Ibu yang cerewet dan suka melarang ini itu. Jadi, sesekali boleh lah. Hihihi!


Di kedai es krim.


" Apa aku boleh beli dua? Aku suka yang rasa keju sama coklat." seru Neo saat berada di ordering table.


" Ambil sesukamu! Paman traktir hari ini!"


" Hore!!"

__ADS_1


" Kak, aku mau yang sweet cheese, sama yang ini ya!"


Entahlah, kebahagian ini benar-benar tak bisa Sadawira jelaskan. Tentang betapa tentramnya dia saat melihat Neo yang melompat-lompat, tentang betapa bandelnya anak itu saat menceritakan ibunya yang dia bilang cukup menyebalkan.


Semua hal sederhana yang membuat hatinya kerasan untuk berlama-lama bersama anak itu.


Mereka akhirnya duduk di meja berdua bersama. Neo yang rakus dengan dua cup besar es krim tampak begitu menikmati, dan membuat Sadawira menatap Neo dengan tatapan tak lepas.


" Kenapa aku sangat ingin mengetahuinya siapa dirimu sebenarnya nak?"


Jalaran rasa unik itu selalu timbul manakala ia melihat wajah Neo yang sesenang itu. Namun saat ia tengah tekun mengamati wajah polos Neo, secuil omongan dari sahabatnya mendadak melintas di dalam otaknya.


" Ambil beberapa helai rambut anak itu. Kita bisa membawanya kepada Nick nanti!"


Beberapa hari ini Sadawira memang agak kesulitan mencari momentum yang pas untuk bertemu Neo. Bahkan setiap dia melintas, ia yang melihat Neo sudah di jemput Claire memilih mundur.


Sama sekali tak berminat ingin membuat Claire marah.


Usianya yang kini lebih matang, membawa serta pemikiran tenang saat mencoba memecahkan masalah. Ya, Sada sudah tak seperti dulu yang sering bertingkah impulsif dan mengedepankan emosi.


" Ehem, apa... Paman boleh tanya sesuatu?" tanya Sadawira yang mulai memecah kesunyian.


" Boleh, tanya apa Paman?" menjawab di sela giatnya dia menyendok es krim.


" Memangnya...Ayah Neo kemana?" bertanya sambil menelan ludah dengan tatapan ragu-ragu. Takut kalau-kalau Neo tak mau menjawab.


" Oma Bella bilang, Neo anak spesial yang saat lahir hanya memiliki Ibu. Kalau Opa Leo bilang, Opa Leo, Opa Deo, Opa David bisa jadi ayah buat Neo!"


Membuat Sadawira menelan ludahnya karena semakin gugup.


" Tapi... sebenarnya aku ingin punya ayah yang bisa tinggal sama aku sama Ibu!"


" Soalnya kata Bu guru, anak kecil itu ada karena ada ayah dan Ibu. Tapi Ibu selalu menangis saat aku bertanya, jadi aku memilih untuk tidak sering-sering bertanya Paman. Aku jadi sedih kalau Ibu sedih!"


Sadawira langsung tertegun dengan hati yang mendadak sesak. Keluarga Claire terkesan menutup siapa ayah kepada Neo. Membuat kecamuk dalam hatinya kian menggila.


" Memangnya, Opa Leo sama Oma Bella dimana, Paman tidak melihatnya?" ucapnya yang sengaja memancing.


" Mereka ada di Indonesia. Opa buyutku sedang sakit. Ibu barusaja pulang kemarin ke sana, makanya pas hari ayah aku sendiri, untung ada Paman!"


DUAR!


" Tuan Edi sakit?"


Sadawira semakin tercenung, tak menyangka bila Neo bisa menjadi informan yang cukup militan dan bisa ia jadikan sumber informasi.


" Kenapa paman bertanya sebanyak itu?" tanya Neo balik yang kini beralih ke cup kedua yang berisikan es krim coklat dengan taburan hazelnut yang kaya.


" Paman bertanya karena Paman...tidak punya keluarga sepertimu. Jadi, kita bisa sama-sama menguatkan!"


" Dan satu lagi, Oma kamu benar. Kamu ini memang anak spesial. Meski tak memiliki Ayah, tapi banyak sekali yang sayang sama Neo!" ucapnya tersenyum penuh ketulusan.


Kini hati Sadawira semakin meyakini jika mungkin saja Neo adalah anaknya. Meksi ia masih Fifty-Fifty, tapi semua hal yang terkumpul dalam waktu dekat ini semakin menuju ke arah yang jelas.


" Mari kita buktikan Neo!"

__ADS_1


__ADS_2