My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 148. Mahluk langka


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Ya, orang itu adalah Dian. Mahluk limited edition yang memiliki nasib mujur hingga bisa melanglang buana ke negeri Paman Syam. Orang yang bisa memanfaatkan kekurangannya menjadi satu kelebihan, dan pada akhirnya mampu menaikkan ekonomi keluarganya.


Dian yang tahu jika Melodi terkena tusukan dari sahabatnya Eva, langsung datang menuju Atana. Ia berbohong jika akan datang beberapa pekan lagi, padahal dia akan memastikan saja jika teman baiknya itu sedang ada dimana, guna mempermudah aksi ciduk menciduk.


Uang memang bisa mempermudah apapun. Termasuk pencarian Melodi di Atana.


Sebagai orang yang masih berteman baik mulai jaman Deo mengejar cinta Arimbi dulu, ia yang memang tak bisa merubah dorongan alami diri yang seperti itu adanya, memutuskan untuk terus menjalin pertemanan dengan sangat baik kepada anak bungsu Leo Darmawan itu.


Entahlah. Ia tak bisa menjelaskan secara logika mengenai dirinya yang tak memiliki selera seperti kaum Adam kebanyakan. Namun yang pasti, ia begitu sayang kepada Eva, Arimbi juga Melodi.


Jangan di tanya apa sebabnya, karena ia sendiri tak tahu apa jawabnya.


Namun, nasib orang memang tidak ada yang tahu. Dua sahabatnya menjadi menantu David Darmawan, dan nasib lain malah membawa dirinya kini menjadi selebgram serta model internasional.


Ya, mungkin ini sudah jalannya. Hidup dengan jiwa kontemporer seperti itu. Tapi yang jelas, ia menjalani semua dengan apa adanya tanpa di buat-buat. Dan, dia merasa sangat beruntung sebab bisa mengenal Melodi. Gadis baik yang super bawel.


" Kok kamu gak bilang sih kalau datang sekarang!" keluh Melodi yang sebenarnya masih tak percaya jika Dian ada di hadapannya.


Keduanya saling cipika-cipiki dengan begitu luwesnya dan membuat Zayn terlolong serta menjengit tak percaya. Apa-apaan mereka?


" Ya kalau bilang bukan supres dong namanya Jamilah!" balas Dian menoel hidung Melodi gemas. Terlihat sangat asik melebur kerinduan.


" Kamu ganteng deh Di kalau begini!" puji Melodi yang melihat lingkar lengan Dian sekarang lebih besar.


" Rajin fitness aku sekarang. Ya kali model badannya kerempeng!" sahutnya sembari menyenggol tubuh Melodi sedikit.


Keduanya langsung tergelak seperti tanpa beban. Membuat satu insan merasa terabaikan.


" Ehem!" Zayn yang merasa terabaikan spontan berdehem padahal ia tak sedang serak apalagi batuk.


Membuat dua manusia yang sedang heboh itu menoleh.


" Oh my Gosh. Siapa ini? Bersinar banget! Shine like star!" tanya Dian sembari memindai tampilan Zayn yang begitu berkharisma.


Baru menyadari jika di sana ada makhluk hidup lain yang berbagi oksigen bebas dengan mereka.


Melodi langsung menahan tawa demi melihat wajah kusut Zayn. Kedatangan Dian benar-benar membuatnya lupa jika ia bersama pria itu.


" Emmm Di, kenalkan ini..."


" Nona Melodi!"


Namun sayang sekali, perkenalan itu harus tertunda sebab perawat sudah memanggil nama Melodi. Mereka bertiga akhirnya menuju ke satu ruangan meski Zayn lagi-lagi menjadi yang paling sepi.


Sejurus kemudian, Zayn dan Dian harus menunggu di luar lantaran proses kontrol terbilang sangat tertutup. Pemeriksaan tersebut akan membuka bagian dalam tubuh Melodi, sehingga membuat dua laki-laki itu tak di perkenankan masuk terlebih dulu.


" Rokok?" tawar Dian yang mengeluarkan sebungkus cigaret mahalnya. Membuat Zayn kembali shock.


" No, smoking area!" tolak Zayn halus, yang sebenarnya kesal. Kesal sebab tulisan sebesar itu tak dilihat oleh Dian.


" Up sory!" balas Dian dengan gayanya yang selow yang berhasil membuat Zayn terheran-heran.

__ADS_1


Zayn terlihat kesal cenderung cemburu. Pria itu terus saja mengerutkan alis, tanda sebal yang tak jua berhenti.


" Kenal dimana? Diskotik?" tanya Dian memecah keheningan sembari membetulkan tali sepatunya yang lepas.


Tapi Zayn tak menjawab. Antara masih cemburu dan sedikit terganggu, juga terkejut.


" Pertanyaan apa ini?"


" Kenalin!"


Zayn terlonjak kembali saat laki-laki berkulit cerah itu mengatungkan tangannya kepada dirinya. Tapi tunggu dulu, alih-alih menjabat dan balik menyebutkan nama, Zayn malah fokus dengan kilatan warna-warni di ibu jari Dian.


" Hah, kutek? Dia pakai kutek?" batin Zayn yang malah salah fokus dengan cat kuku warna nude dan dua glitter yang menghiasi jari-jari bersih itu.


" Woy!" Dian berteriak dan merubah nada suaranya menjadi laki banget manakah Zayn malah melolong. Membuat pria itu sontak mengelus dada.


Mantan karyawan Deo Darmawan itu seketika tergelak manakala melihat Zayn berjingkat. Benar-benar sangat lucu.


" Pinter juga si Melodi nyari barang bagus. Udah pernah di ci*pok belum?"


Lihatlah, bahkan laki-laki itu membicarakan hal ubsurd tanpa beban.


Zayn kembali dibuat terkejut. Ini benar-benar mirip seperti uji nyali. Pria unik di depannya ini mirip puzzle kelas berat yang penuh teka-teki.


" Aku Zayn!" jawab Zayn akhirnya tanpa menjabat tangan Dian karena jujur, ia terlalu gugup.


" Aku Di, Wai, E, En. Dian!" serunya mengeja dengan ejaan bahasa Inggris. Membuat Zayn gugup.


Ia bukan gugup karena apa, melainkan karena ia kini seperti mengendus-endus kibaran bendera pelangi di muka Dian. Oh damned it!


" What?" sahut Zyan spontan. Terlalu hanyut dalam kebingungan yang makin menjadi-jadi.


"Pusing-pusing deh lu! "batin Dian ingin tertawa.


Kini Dian kembali tergelak. Jika bertemu yang polos- polos begini. Jiwa usilnya langsung meronta-ronta minta di bebaskan. Semacam teringat dengan seseorang di masalalu. Yohan dan Daniel.


" Keluarga pasien!"


Beruntungnya suara perawat sudah terdengar saat Zayn sedang merinding- merindingnya.


Keduanya akhirnya bangkit bersamaan manakala sang perawat memanggil. Zayn bahkan menjadi kikuk sendiri sebab ia kini menjadi sedikit takut dengan orang unik itu.


Setibanya mereka di dalam ruangan, Melodi nampak masih berbaring. Sepertinya baru di obati kembali di bagian jahitannya.


" Silahkan Pak!" kata dokter kepada Zayn mempersoalkan duduk.


Dian yang melihat Melodi berbaring langsung menyongsong gadis itu dengan wajah khawatir. Terlihat sangat luwes dan karib.


" Gimana, udah aman apa masih mangap?" tanya Dian sengaja ingin menghibur Melodi yang wajahnya terlihat seperti takut.


" Kamu kira bibir mangap!" gerutu Melodi yang membuat Dian kembali tergelak.


Zayn yang mendengar hal itu ketika dia hadapan ada di hadapan dokter, hanya bisa bergeleng- geleng. Bisa-bisanya tergelak sebebas itu di ruangan dokter.

__ADS_1


Bahkan sang perawat dan dokter yang mendengar turut terkekeh-kekeh.


" Kondisinya sudah jauh lebih baik Pak. Jahitannya sudah sesuai. Hanya saja tadi ada beberapa benang yang copot sebelum waktunya. Sarannya masih sama, jangan lakukan kerja berat dulu ya. Luka ini benar-benar harus di perhatikan!"


" Tuh dengar. Gak bisa di buat i'ok i'ok dulu Jamilah!" serunya kepada Melodi yang membuat Zyan langsung mendelik.


Namun cubitan di perut Dian membuat laki-laki kontan menggeliat.


" Aduh sakit tahu. Aku akan cuma bilang!" dengus Dian kesakitan yang membuat Melodi malah ingin tertawa.


Pemeriksaan telah berakhir. Dan saat Dian sedang izin ke toilet sebelum mereka pergi menuju parkiran, Zayn baru berani melayangkan protes kepada Melodi mengenai laki-laki absurd yang cukup meresahkan tadi.


" Itu tadi siapa sih? Begitu sekali dia!" seru Zayn yang akhirnya bisa menggerutu secara langsung.


Melodi sedikit terkekeh, " Kenapa? Ngeri pasti ya?" tebak Melodi. Siapapun juga bakal ngeri kali!


" Bukan ngeri lagi, tapi terancam!"


" Hahaha!" Melodi tertawa begitu keras sampai perutnya terasa sedikit ngilu. Benar-benar tak bisa menahan kelucuan yang kini sedang di tunjukkan oleh Zayn.


" Dia Dian!"


" Udah tahu namanya!" sahut Zyan masih bersungut-sungut. Wajahnya benar-benar sebal.


" Ciee, udah kenalan dong?" goda Melodi yang membuat Zayn langsung mendecak frustasi.


" CK, Mel!"


Gadis itu masih tak kapok. Ia terus tertawa meski harus berhati-hati sebab perutnya turut terguncang.


" Iya-iya sory. Dia itu teman dekat aku sayang!"


Zayn yang di panggil sayang oleh Melodi seketika sala fokus. Alih-alih marah, dibilang sayang begitu saja langsung meleleh. Dasar laki-laki bucin!


" Aku gak suka kamu di cium- cium kayak tadi. Kayak gak menghargai aku sebagai pacar kamu!"


Membuat Melodi sontak menoleh cepat ke arah Zayn yang tiba-tiba juga merasa keceplosan. Pacar?


" Emang kita pacaran?" goda Melodi senyam-senyum sendiri dan sukses membuat wajah Zayn memerah.


Zayn langsung meneguk ludahnya. Tak memperhatikan seringai jenaka menahan tawa dari wajah Melodi.


" Ya...kita...!"


CUP!


Zayn membelalakkan matanya manakala Melodi malah dengan sadarnya mengecup pipinya dari samping. Membuat Zayn seketika membeku sebab tak menyangka jika Melodi akan seberani itu di depan umum.


Oh God!


" Bukan kamu yang seharunya cemburu sayang. Karena dia pasti gak akan doyan sama aku. Tapi aku. Aku yang harusnya takut jika dia nanti suka sama kamu!" kata Melodi sembari menahan tawa.


Membuat mata Zayn terbelalak lebar.

__ADS_1


" Apa?"


__ADS_2