My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 71. Makin menggila


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Sada terlihat santai dan mengabaikan wajah Melodi yang shock karena kehadirannya. Sepertinya dia memang datang kepagian.


Pikiran Melodi menjadi menerka-nerka. Apa pria itu sudah gila dan tak memiliki rasa lelah? Bagiamana bisa di jam sepagi ini dia sudah tampan dan wangi? Membuat Melodi minder saja.


" Mau apa kau kesini?"


Lihatlah, dengan bodohnya Melodi malah kembali bertanya padahal sudah jelas-jelas Sada tengah menanyakan soal anaknya.


Tapi Sada paham. Jelas gadis di depannya itu pasti terkejut karena kehadirannya. Apalagi, sebenarnya Neo hanyalah dalih, ia tentu ingin menggali informasi lain dari Claire soal rival di perusahaannya.


" Sudah ku katakan. Apa anakku sudah bangun?"


Melodi menjadi tak nyaman. Tentu saja hal itu terjadi. Sada masihlah menjadi orang yang di benci oleh keluarganya. Dan sedetik kemudian, tampaklah Zayn yang datang sembari melepas kacamatanya sok cool.


" Idih, ngapain dia kemari?" membatin dengan tatapan tak lepas ke arah Zayn.


Sada ingin tertawa detik itu juga manakala melihat Melodi yang langsung membeku saking kagetnya.


" Sepertinya kau harus berterimakasih pada Zayn karena sekarang kau tidak perlu repot-repot mengambil mobil ke kantor polisi. Dan... Oh iya, semoga rumah tangga kalian baik-baik saja ya!" kata Sadawira sembari tergelak.


Pria itu sengaja menyindir Melodi dan Zayn. Membuat Melodi speechless dan kesal karena Zayn yang menggunakan alasan gila itu.


Zayn terlihat tak terpengaruh dengan sindiran Sada. Ia lebih fokus ke penampilan Melodi yang cantik di pagi itu. Penampilan yang sederhana namun terlihat memukau.


" Lumayan juga kalau begini!"


" Aku ingin menemui Neo! Apa kau tidak ingin mempersilahkan kami masuk?"


" Apa kau sudah membuat janji dengan kakakku?"


" Tidak. Kurasa seorang Ayah yang ingin menemukan anaknya tak perlu membuat janji!"


Melodi terlihat tertampar oleh kalimat Sadawira.


Di sela kecanggungan yang makin menguar, sebuah suara membuat atensi ketiga orang disana teralihkan.


" Siapa Mel?"


Suara lembut dari dalam itu, sukses membuat tiga biji kepala menoleh ke belakang. Dan tidak tahunnya, Claire lah yang malah terperanjat saat melihat Sada yang berdiri bersama Zayn.


" Selamat pagi. Aku ingin bertemu Neo. Lebih tepatnya aku ingin bertemu anakku!"


Lihatlah, sepertinya Sadawira benar-benar membuktikan ucapannya untuk segera memberangus tabir gelap yang menghadang hubungan mereka, salah satunya ialah dengan melakukan pendekatan dengan Neo secara masif.


Meski canggung, tapi Claire berusaha menenangkan dirinya karena disana ada Zayn yang membuat dirinya harus menjaga sikap.


" Mel persilahkan mereka masuk. Aku akan kedalam sebentar!"


" Apa? Kenapa malah di persilahkan masuk sih?"

__ADS_1


Mau tidak mau Melodi akhirnya membawa dua laki-laki yang kini tersenyum penuh kemenangan itu masuk.


Sungguh menyebalkan sekali. Ayolah ia sempat melihat Zayn yang menutup mulutnya karena menahan tawa. Sialan!


Di kamar.


Neo yang baru saja bangun, tampak mengerjapkan matanya manakala Ibunya membuka pintu.


" Eh, anak Ibu sudah bangun rupanya. Baru mau Ibu bangunkan." ucap Claire membelai rambut putranya penuh cinta kasih.


" Ibu darimana? Tadi malam aku nungguin sama mbak Juwi."


" Maafin Ibu ya. Tadi malam Ibu lembur. Ini barusan dari kamar dapur lihat mbak Juwi. Kita bangun yuk, terus mandi!"


Tapi Neo buru-buru memanyunkan bibirnya. Ia sungguh malas pagi ini. Kenapa semua orang selalu sibuk?


Melihat anaknya tak bereaksi, Claire tiba-tiba menemukan ide yang lumayan brilian


" Ada Paman Sada loh di depan!"


Air muka bocah itu langsung berubah cerah demi mendengar ucapan sang Ibu.


" Yang benar Bu? Paman tampan datang kerumah Neo?"


Claire mengangguk. Ia tersenyum senang karena anaknya tak lagi merajuk.


" Asyik paman tampan kesini. Ibu antar aku keluar Bu, ayo!"


Lengan putih Claire langsung di seret oleh Neo. Perasaannya tiba-tiba kini bagia terpecah. Melihat Neo sebahagia ini, tentu otomatis juga membuat dirinya turut bahagia. Namun itu artinya, ia semakin bermain api di belakang papanya. Api yang sewaktu-waktu dapat membakar dirinya.


" Paman!!" pekik Neo dengan keras dan berhasil membuat dua pria yang duduk di sofa itu menoleh.


" Neo!" balas Sadawira tersenyum seraya merentangkan tangannya.


Kini Neo dan Sada saling memeluk. Dan pemandangan seperti itu terang membuat Melodi tercengang. Perasaan aneh tiba-tiba menghantui.


" Kenapa Neo bisa mirip sekali sih dengan Wira, CK!"


Di satu sisi, Zayn yang melihat kedekatan anak dan Ayah itu, turut merasa iba. Keadaan yang rumit, semakin menambah rasa haru yang kini menguar. Seorang pria yang memiliki kesuksesan di bidang karir, rupanya tak lebih dari sekedar pria kesepian yang merindukan sebuah keharmonisan keluarga.


" Paman kapan datang? Kenapa lama sekali?"


Neo mencecar Sada dengan pertanyaan. Bukankah pria itu telah berjanji akan memberikan hadiah untuknya?


Sada melirik Claire sebentar yang ia duga belum menceritakan kejadian semalam kepada anak mereka. Dan sorot mata Claire yang layu, jelas menegaskan jika wanita itu seperti meminta maaf.


Membuat Sadawira langsung paham.


" Maafkan Paman ya Neo. Paman semalam ada urusan penting. Jadi..."


" Tidak apa-apa Paman. Tapi, apa Paman sudah membawakanku hadiah?"

__ADS_1


" Neo!" seru Melodi spontan yang memperingati keponakannya agar lebih sopan. Tapi bocah itu terlihat menatap wajah bibirnya sebentar lalu kembali fokus kepada Sadawira.


Sada tersenyum. Ia sebenarnya memang lupa. Tapi jangan sebut dia Sadawira jika tak bisa membuat Neo percaya.


" Paman bingung mau beli apa buat Neo. Nanti kita beli sendiri ya? Kamu yang pilih sendiri, gimana?"


" Hore! Kita jalan-jalan kan Paman?"


Sada mengangguk penuh senyum yang merekah. Apakah membahagiakanmu anak rasanya sebahagia ini?


Melodi dan Claire saling melirik. Kenapa bisa Neo sangat senang hanya dengan ajakan random seperti itu.


" Neo, Neo mandi dulu ya? Ini sudah siang, nanti terlambat!""


"Ibu, apa kau boleh berangkat bersama Paman?"


" Neo!" ucap Melodi kembali bermaksud memperingati Neo agar tak berlebihan. Membuat Zayn menatap gadis itu tak lepas.


" Kenapa Aunty marah - marah terus sih. Kalau marah-marah nanti gak punya pacar loh hihihih?"


Zayn langsung menahan tawanya saat melihat Melodi yang terlihat malu. Sebab hingga sebesar ini, ia memang belum pernah pacaran.


" Neo!" pekik Claire yang menatap tak setuju kepada Neo. Membuat bocah itu segera menyadari kesalahannya.


" Maaf Ibu!" kata Neo menunduk muram.


" Sudah sana mandi dulu, Ibu mau bicara sama Paman!"


Bocah itu turun dari sofa dengan muka di tekuk.


" Paman, aku akan mandi dulu ya?"


Sada mengangguk seraya mengusap pipi anak itu penuh kasih. Neo yang merasa mendapatkan sekutu, kini melesat ke belakang dimana Juwi pasti sudah mempersiapkan segala sesuatunya.


" Aku juga kebelakang dulu!" kata Melodi yang kesal karena Zayn terlihat tertawa lepas saat ia di buli oleh keponakannya.


Tinggal Claire yang kini ada di sana, bersama dengan dua orang laki-laki. Dan saat Claire baru saja mendudukkan bokongnya, ponselnya tiba-tiba bergetar. Rupanya Edwin yang menelpon.


" Halo Win?" jawab Claire pelan. Membuat pria yang di depannya langsung mendongak tak suka.


" Halo Claire, maaf semalam aku sibuk, dan aekarayaku baru selesai menanganinya pasien. Kau baik-baik saja? Kau menghubungiku banyak sekali!"


Sada terlihat memperhatikan dengan saksama Claire yang kini menjawab telepon.


" Emmm sebenarnya aku sedang mendapatkan masalah semalam!"


" Apa? Apa yang terjadi? Tapi kau baik-baik saja kan?"


" Aku..."


Namun belum juga Claire menyelesaikan jawabannya, Sadawira tiba menyambar ponsel itu dan langsung mematikannya, lalu men switch off ponsel Claire.

__ADS_1


" Wira, apa yang kau lakukan?"


" Aku tidak suka melihatmu berbicara dengan dokter itu. Aku kesini karena satu hal!"


__ADS_2