My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 87. Patah hati paling dalam


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Claire duduk menunggu di luar bersama Papa Mamanya yang wajahnya kini tak ramah. Meski sikap mereka biasa saja, namun kebisuan yang terjadi cukup mengganggu.


Deo yang masih berada di hotel diminta oleh Papa Leo untuk mengurusi beberapa korban kecelakaan yang meminta ganti rugi. Neo yang saat itu bingung benar-benar menjadi biang onar kecelakaan beruntun.


Alhasil, Papa David beserta Deo lah yang kini dibuat pusing. Belum juga urusan tamu yang kecewa tuntas, kini Neo malah menjadi penyebab kecelakaan di jalan raya.


Melodi bersama Demas mau tak mau akhirnya kembali ke hotel untuk membantu membereskan apa yang perlu di bereskan. Meninggal Neo di sana bersama dengan keluarga Claire.


" Papa kecewa sama kamu Claire!" ucap Papa Leo akhirnya membunuh kesunyian.


Wanita itu hanya bisa menatap kosong lantai bersih rumah sakit tatkala sang Papa mulai mengutarakan isi hatinya.


Air matanya kering. Ia tak pernah mangkir dari memenuhi sikap ketaatannya sebagai anak kepada Papa Leo. Tapi untuk urusan hati, jujur ia memang tak bisa menahan rasa yang ada.


Entahlah. Hatinya benar-benar merasakan kelegaan manakala ia dan Edwin tak jadi menikah.


" Papa akan bawa Neo kalau kamu masih tetap..."


" Pa?" kali ini dia menyergah sang Papa. " Kenapa Papa gak coba kasih kesempatan buat Wira Pa? Neo sangat dekat dengan Wira, apa Papa pernah tahu perasaan cucu Papa?"


" Itu karena kau membiarkan mereka dekat!" hardik Papa Leo yang intonasi suaranya mulai berubah. Ia terpancing kengototan Claire yang kian menyebalkan itu.


Mama Bella yang merasa situasi antara suami dan anaknya itu Kini menahan lengan sang suami agar tak beranjak.


" Sampai kapanpun, Papa tidak sudi menerima laki-laki itu!" kecam Papa Leo tak main-main. Pria itu mengibaskan pelan tangan sang istri dan memilih enyah dari hadapan Claire usai meluapkan kemarahannya.


Claire menangis manakala Papanya pergi menuju ke ruangan cucunya. Mama Bella yang kini terjun ke titik paling menyedihkan dalam hidupnya, memilih pergi menyusul suami.


" Sekarang semua terserah kepadamu Claire. Papamu terlampau kecewa!"


Claire membenamkan wajahnya ke lutut. Disana ia menangis sejadi-jadinya.


Sada yang baru keluar dari ruang transfusi, menatap tubuh yang sedang bergetar hebat itu dengan tatapan mengiba. Ia melangkah pelan ingin memeluk sosok rapuh itu.


Namun tatapan tajam dari Leo Darmawan dari jarak beberapa meter dari tempatnya berdiri membuat keinginannya seketika lenyap.


Sada pergi melalui jalan lain menuju kamar anaknya. Ia menatap seraut pucat itu dengan dada bergetar. Matanya berkaca-kaca. Sada menangis mendapati anaknya terluka.


Ia melihat dua orang tenaga medis menjalankan serangkaian prosedur perawatan. Namun saat hendak masuk, sebuah suara membuat niatnya lagi-lagi urung.


" Kuharap ucapanmu kau nyatakan dalam tindakan!" seru Papa Leo yang rupanya mengikuti Sadawira. Benar-benar ingin menepis dan mencongkel pria itu dari dalam keluarganya.

__ADS_1


"Tenang saja tuan. Kehormatan laki-laki ada pada ucapannya!" seru Sada yang kini menatap tajam mata Papa Leo yang terlihat marah.


Damned! Sada tak menyangka jika dirinya akan seberani ini.


" Mungkin ini alasan Tuhan tak memberimu anak laki-laki adalah karena engkau benar-benar tak paham definisi darah yg lebih kental daripada air!"


" Diam kau!"


" Jika semua garam kau pukul rata sama asinnya, maka tak ada gunanya untuk menawarimu garam lain yang sejatinya memiliki rasa berbeda!"


" Permisi!"


Sada lantas pergi dengan dada yang lapang. Seperti inikah rasanya menanggung dosa dan perbuatan cela? Ternyata sangat berat dan teramat sakit.


Sada terus berjalan. Makin jauh. Meninggalkan wanita yang sebenarnya sangat ingin dia peluk. Mengabaikan seraut pucat yang paling ingin dia sentuh di atas ranjang kamar sakit, guna menepati janjinya sebagai laki-laki jantan.


Meski ada banyak hal yang sangat ingin ia bicarakan dengan Claire, namun ia tak akan menelan ludahnya sendiri. Selesai sudah. Ia kini tahu arti penebusan dosa itu benar-benar tak mudah. Ia terperosok pada titik nadir kehidupan paling dalam. Sunyi. Sendiri.


-


-


Pria yang wajahnya masih bertebaran banyak sekali lebam itu lantas pergi menemui sahabatnya, Zayn. Tak bermaksud mengadu, tapi saat ini ia butuh satu pertimbangan. Dan Zayn ia yakini dapat memberikan hal itu.


Sada mengangguk. Meyakinkan seraut ragu di depannya.


" Apa kau selalu seperti ini? Pergi dan terus menghindar?" kata Zayn yang makin menatap wajah sahabatnya lekat-lekat.


Sada tersenyum kecut menanggapi tuduhan. " Aku tak sanggup jika harus berada di tempat ini Zayn. Meskipun Claire tak jadi menikah. Tapi pria itu tak mengizinkanku barang sejenak untuk menemukan Claire. Dan aku, aku harus menepati janjiku!"


Zayn menggeleng. Ia tak suka melihat sahabatnya seperti ini " Kau tak perlu melakukan hal itu! Kita bisa banding!"


Sada menggeleng. " Apa yang bisa aku lakukan? Aku dan Claire tak memiliki kekuatan hukum apapun. Dan Neo, secara hukum dia adalah milik Claire!"


" Kenapa kau harus mengalah. Tempuh jalan lain. Kita bisa bergerak bersama!" eyel Zayn yang kini semakin tegang karena menemui jalan buntu.


" Aku pria Zayn!"


" Ini tentang anak!"


" Tentang harga diri!"


Zayn lagi-lagi menggeleng. " Kau bahkan tak berbicara dengannya!"

__ADS_1


" Itu lebih baik!"


-


-


Sore harinya, Claire yang menunggui Neo yang belum siuman terkejut kala mendapati Edwin ada di sana dengan air muka yang sedikit dingin.


Tak bermaksud lancang, tapi Edwin memang ingin melihat kondisi Neo sebelum ia pulang.


" Edwin?"


Edwin tak menoleh. Ia terlihat membetulkan selang infus yang daya tetesnya kurang pas. Pria itu juga mengusap lembut rambut Neo dengan wajah murung.


" Kondisinya sepertinya sudah membaik. Aku pamit!"


Namun saat Edwin hendak pergi, Claire tiba-tiba menahan tangan pria itu. Spontan.


" Aku minta maaf Win!" kata Claire dengan wajah muram. Merasa tak enak hati karena ia tak berdaya menghadapi kenyataan perasaan yang ada.


" Tidak perlu minta maaf. Pasti ada satu alasan di setiap kejadian!" balas Edwin yang wajahnya menyiratkan kekecewaan.


" Kau pantas marah padaku!"


Hening. Claire diam menatap ujung ranjang anaknya sementara Edwin mati-matian menahan air matanya agar tak jatuh.


" Kau berhak marah padaku Win!"


Edwin seketika mengembuskan napas panjang. Bohong jika dia tak marah, munafik pula jika dia mengatakan tak kecewa. Tapi semua hal yang di paksakan jelas tak akan baik. Dan melihat Claire kini di rundung masalah, jelas membuat hati pria itu tak tega.


" Mungkin jika aku memiliki anak perempuan aku juga akan bersikap sama dengan Om Leo. Tak ingin nama baiknya tercoreng!" kata Edwin kali ini dengan suara paling emosional. "Tapi kau juga berhak bahagia dengan caramu sendiri Claire."


Mata dan hidung Claire tiba-tiba memanas. Ia benar-benar tak sanggup menatap kedua bola mata Edwin. Rasa bersalah kian menguar. Menyeret dan melemparnya ke dasar penyesalan.


Dan saat Edwin hendak pergi karena merasa tak ada lagi yang ingin dia katakan, Claire kembali menahan tangan pria bertubuh jangkung itu dengan segenap keberaniannya.


" Apakah kita masih berteman baik?" tanya Claire yang memberanikan diri menatap dua netra Edwin yang rupanya juga sudah basah.


Edwin tersenyum seraya mengangguk. Meski hatinya mencelos, tapi ia hanya ingin menjadi pria dewasa dalam arti sebenarnya. Berjiwa ksatria dan mampu menerima kekalahan dengan lapang dada.


" Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?"


Kali ini Claire ganti mengangguk. Mereka akhirnya berpelukan di hadapan Neo yang masih terbaring lemah. Tanpa mereka duga, Leo Darmawan rupanya mendengar perbincangan mereka di balik dinding.

__ADS_1


Membuat hati pria itu teraduk-aduk hingga ke bagian paling dalam.


__ADS_2