My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 93. dukungan menjadi real daddy


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Usai mengantongi satu lagi dukungan, Sada melesat menuju ruangan anaknya. Disana rupanya sudah ada Deo bersama sang istri yang nampak terkejut dengan kedatangannya.


Namun kemunculan Claire detik berikutnya membuat keduanya paham. Mereka akhirnya bangkit lalu menyongsong dua manusia yang datang dengan wajah menyedihkan.


" Dia tertidur. Baru di beri injeksi obat!" terang Deo menjadi informan ulung perihal kondisi Neo.


" Dia sudah makan. Tadi Arimbi menyuapi Neo. Sedari tadi dia terus mencarimu Claire. Dia, juga selalu menanyakan Sadawira!" seru Deo yang mengecilkan suaranya pada akhirnya kalimat.


Sada menatap seraut pucat yang kini memejamkan mata penuh ketenangan. Di usapnya rambut hitam bocah itu dengan perasaan paling haru.


" Ini Ayah nak!"


" Kalian lanjut saja. Aku keluar dulu mau menelpon Demas. Anak-anak bersama mereka soalnya!" ucap Deo untuk ketiga kalinya sebab bingung harus membuat pola komunitas yang bagaimana. Kecanggungan benar-benar mendominasi.


Claire mengangguk tanpa menjawab. Ia sangat berterimakasih kepada para sepupunya karena mau bahu membahu menolongnya melewati masa-masa sulit seperti saat ini.


Deo sengaja mengajak sang istri pergi dan membiarkan Sada juga Claire tetap menemui anak mereka, karena hanya itulah yang memang di butuhkan Neo untuk segera pulih.


Sepeninggal Deo juga Arimbi, Sada tampak menarik kursi lalu meraih tangan mungil Neo lalu menciumnya dengan sangat lama. Seolah ingin melampiaskan rindu yang selama ini tertahan.


" Maafkan Paman Neo!" kata Sada yang masih bingung harus menyebut dirinya bagaimana.


Claire yang merasakan kecanggungan, pura-pura tak mendengar. Ia lebih memilih menuangkan air ke dalam gelas lalu memberikannya kepada Sada.


" Minumlah. Kau belum makan apapun dari tadi."


" Terimakasih!"


Claire menarik satu kursi tepat di samping Sada yang kini menandaskan minuman itu dalam sekali tegukan. Benar-benar terlihat sangat kehausan.


" Apa rencanamu?" tanya Claire sembari membetulkan selimut anaknya yang sedikit. tersingkap.


" Rencana?" ulang Sada yang mendadak tidak peka.


Claire mengangguk, " Setelah Neo bangun nanti, apa yang akan aku lakukan?"


Sada tertegun. Ia kini baru paham. Ia bahkan tak memiliki rencana apapun. Dia menatap wajah anak yang plek ketiplek dengannya itu dengan pikiran berkelana.


" Aku tidak tahu apakah aku siap dan mampu. Tapi aku ingin mengaku kepada Neo!" ucapnya lirih namun penuh keyakinannya.


Claire tersenyum, lalu detik berikutnya meraih jemari besar milik pria di sampingnya dan mulai menautkan tangan satu sama lain.


" Soal Papa?" tanya Claire lagi. Kali ini sengaja ingin to the point.


" Aku akan bicara nanti. Sekarang biarkan sejenak aku menikmati kebersamaan bersama dua orang yang paling aku sayang!"

__ADS_1


Claire kembali memejamkan matanya manakala sapuan hangat itu kembali mendarat ke bibirnya. Entah sudah berapa kali mereka berciuman namun rasanya setiap hal itu terjadi, rasa sayang dalam diri keduanya semakin besar.


-


-


Meninggalkan dua manusia yang melebur kerinduan, mari kita beralih kepada dua manusia yang hobi bertengkar ini.


Ya, Mama Jessika yang kini berada di ruangan Mama Bella meminta mereka untuk membeli makanan. Sebab pesan makanan melalui aplikasi malah membuat makanan itu datang dalam waktu lama.


" Jadi Wira yang memintamu datang kemari?" tanya Melodi kali ini memilih intonasi suara sedikit normal karena Zayn baru saja mendonorkan darahnya kepada sang Papa.


Well, dia cukup tahu diri untuk hal itu.


" Mmmm, siapa lagi. Orang paling tertindas di keluargamu, justru merupakan orang yang berkontribusi besar pada kesehatan Papamu. Kalian harus mulai menotice hal itu!"


Melodi mencibir. Selalu saja sok cool. Tapi betul juga sih. Kalau bukan karena Sada dan Zayn, entah apa yang tejadi dengan Papanya.


" Kenapa kau mau menolong Papaku? Maksudku... padahal Papaku selama ini kan bersikap kurang baik kepada kalian?"


" Menolong seseorang tak perlu alasan. Jika mau menolong yang menolong saja. Yang terpenting adalah sikap kita, bukan balasan orang lain!"


Melodi tertegun mendengar ucapan. Tak menyangka bila pria yang menurutnya paling menyebalkan yang kini duduk manis di sampingnya itu, benar-benar memiliki pemikiran yang bagus.


Setibanya mereka di restoran yang di ingini, tanpa sengaja Zayn bertemu dengan seorang wanita yang berdandan sedikit terbuka. Seperti keduanya telah mengenal dengan sangat baik. Terbukti dari interaksi mereka yang sangat karib manakala bersua.


" Ganjen banget jadi laki. Nyesel aku tadi muji dia!" menggerutu demi melihat dua manusia yang asik cekikikan.


" Maaf, ada lagi yang mau di take away Kak?" tanya pegawai berseragam cokelat yang membuat atensinya sedikit terinterupsi.


Melodi menggeleng mewakili jawaban tidak, lalu kembali fokus kepada Zayn yang masih bergelak asik dengan wanita itu sembari melempar tatapan sebal.


Melodi yang sudah selesai dari membeli, terlihat kerepotan lantaran membawa seabrek makanan untuk keluarganya seorang diri. Tanpa bantuan tentunya. Ia mengomel sembari menatap kesal laki-laki yang masih meneruskan tawanya dengan enaknya tanpa merasa berdosa itu.


" Udah selesai?" sapa Zayn manakala melihatnya telah kembali. Bertanya wajar seperti tak tejadi sesuatu.


" Udah!" menjawab kesal. Namun yang di kesali rupanya belum menyadari.


" Oh iya Vi kenalkan ini Melodi. Melodi ini rekan kerjaku. Dan Mel, ini Olivia. Dia..."


" Teman dekat Zayn!" sahut Olivia yang langsung menyambar kalimat Zayn. Membuat Melodi semakin kesal tanpa sebab.


" Sialan juga nih perempuan! Ada gak tahu dirinya kelihatannya nih!"


" Ya udah Vi, aku pergi dulu ya. Kami sudah di tunggu Sada soalnya!" ucap Zayn santai yang belum menyadari bila gadis di depannya itu sudah mulai mengeluarkan taring tajam serta tanduk iblis.


" Baiklah. Jangan lupa nanti malam ya?"

__ADS_1


Zayn mengangguk, membuat Melodi makin mencibir tak suka.


Namun keanehan yang sesungguhnya baru Zayn Sadari manakala Melodi yang di waktu berangkat duduk di depan kini pindah ke belakang dengan wajah yang nampak sangat tidak ramah, dan menutup pintu mobilnya dengan begitu keras.


BRAK!


" Cepat jalan. Kau mau membuat semua orang mati karena kelaparan?" pekik Melodi yang tak bisa lagi menahan kekesalannya.


Membuat Zayn yang hendak memakai seatbelt seketika tertegun dengan pikiran yang tiba-tiba tak enak.


" Apa aku telah melakukan kesalahan?"


-


-


Cuaca petang yang semula masih cerah dan sempat menunjukkan semburat jingga di ufuk barat, kini berubah menjadi mendung. Tak berselang lama rintik hujan mulai turun dan membuat aroma petrikor menguar ke hidung tiga manusia yang kini duduk penuh kecanggungan.


Mama Bella yang sudah siuman terus menangis demi mengingat insiden beberapa jam yang lalu. Sama sekali tak menyangka jika sang suami kini harus terbaring lemah seperti cucu mereka.


" Papamu marah dan pergi dengan emosi. Kami sempat berdebat kecil di dalam mobil. Mama mengingatkan Papamu soal kalian. Tapi Papamu semakin marah. Dan beberapa saat kemudian Papamu yang konsentrasinya terganggu menabrak mobil dari arah berlawanan!"


"Mama masih sempat menelpon adikmu. Dan setelahnya Mama tidak tahu apa-apa lagi."


Isak tangis menemani kalimat demi kalimat yang terucap dari bibir Mama Bella. Wanita yang kini telah siuman itu menangis sejadi-jadinya manakala melihat anak sulungnya datang bersama dengan pria yang paling di hindari oleh sang suami.


Mama Bella bisa selamat karena kecelakaan itu menghantam sisi kanan mobil, dimana posisi itu merupakan posisi Papa Leo berada.


Papa Leo mengalami benturan keras yang berujung pada pendarahan. Menjadi satu bukti nyata bila emosi memang hanya akan membuat masalah baru dalam permasalahan.


" Maafkan Claire Ma!" seru sang anak yang kini turut menangis di pangkuan sang Ibu.


Dada Sada kembali sesak lantaran dihimpit oleh secuil cerita, yang menegaskannya bila dugaan Claire soal penyebab kecelakaan sang Papa adalah dirinya, benar adanya.


Situasi yang tak di rencanakan apalagi di niatkan itu berhasil membuat nyalinya kembali naik turun.


Namun uluran tangan dari seorang Ibu, tiba-tiba membuat matanya memanas.


" Saya sebenarnya masih takut kepadamu. Tapi bagiamanapun juga kau adalah Ayahnya Neo. Semoga Papa Claire bisa memaafkan kamu!"


.


.


Keterangan:


Petrikor, angu, atau ampo adalah aroma alami yang dihasilkan saat hujan jatuh di tanah kering. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, petra yang berarti batu, dan ichor, cairan yang mengalir di pembuluh para dewa dalam mitologi Yunani.

__ADS_1


Sumber : Wikipedia


__ADS_2