My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 117. Menginap


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Sadawira yang kini sedang berada di kantornya sampai tekrikik-kikik demi membaca pesan dari sahabatnya. Bahkan Janu dan Henry yang juga sedang duduk untuk menunggu sebuah berkas menjadi saling melirik.


Ya, Zayn sepertinya benar-benar tak bisa untuk tak membagi hal sekecil apapun kepada sahabatnya itu. Ia bahkan mengatakan terpaksa menginap di rumah Melodi guna menghindari Olivia yang rupanya menyusulnya ke Indonesia.


📱Zayn :" Aku benar-benar sedang menebalkan mukaku sialan. Aku terpaksa menginap di rumah mertuamu!"


Namun reaksi Sada yang spontan itu malah disalahartikan oleh kedua anak buahnya yang duduk bak pesakitan di depannya.


" Hey! Semenjak menikah, bos jadi sering ketawa-ketawa terus ya?" bisik Henry tak tahan untuk merasai pria bucin di depannya itu.


Janu mengangguk menyetujui. Aura yang terpancar juga sangat lain. Pria itu bahkan kini setiap hari membawa kotak bekal.


" Lihatlah! Hari ini bos membawa kotak makan warna merah jambu. Besok warna apa lagi?" balas Janu yang salfok ( salah fokus) dengan kotak makanan yang bertengger manis diatas meja kerja Sada.


" Aku berani taruhan jika besok bos akan membawa kotak ungu janda!"


" Ungu janda, warna apa itu?" tanya Janu kembali dengan heran.


" Itu war..."


" Jadi bagiamana?"


Kedua bujangan yang sedang asik bergunjing mengenai ungu janda itu, langsung terkejut manakala yang di gunjingkan melempari mereka dengan pertanyaan. Mampus!


" A- apanya bos?" jawab Henry gagap.


" Progresnya sampai mana?"


" Progres?" balas Janu dengan wajah terlolong.


Membuat Sadawira terkekeh demi melihat reaksi lucu kedua anak buahnya.


" Bukankah kalian sedang mengencani anak buah istriku?"


Mati lah kau. Darimana bos tahu?


" Ka - kami..." keduanya sulit meneguk ludah.


" Jangan kelamaan teori. Jika cocok, angkut. Aku akan sangat senang jika kalian bisa bersikap jantan!"


Janu dan Henry langsung nyengir kikuk. Meski tak di larang, tapi ia yakin jika itu merupakan satu warning untuk mereka berdua. Tapi tunggu dulu, bagiamana bosnya bisa tahu? Apakah kedua gadis itu bercerita kepada Bu Claire?


" Minggu depan kalian cek kayu yang di kawasan pegunungan. Kita butuh banyak stok bulan depan!" lanjut Sada usai membubuhkan sebuah tanda tangan.


" Siap Pak!"


Sepeninggal dua bujangan itu. Sada terlihat menelpon sang istri melalui video call. Jika dulunya setiap siang ia memilih pergi untuk makan di luar, kini ia mau mengurangi hal itu. Bukan karena ingin hematisisasi. Melainkan karena dia ingin setiap harinya merasakan cinta kasih kudus istrinya, lewat makanan.


" Hay, lagi apa?" tanya Sada begitu teleponnya telah tersambung.


" Hay...." namun belum juga Claire menyelesaikan jawabannya, suara Neo yang tiba-tiba muncul buru-buru menyahut. " Ibu, apa itu Ayah Bu?"


Sada senang melihat anak istrinya saling berebut ponsel. Ia bisa melihat biji kepala Neo yang menempel ke bahu sang Ibu karena ingin terlihat.


" Sayang, kau sudah makan? Bagiamana sekolahmu hari ini?" seru Sada sembari membuka kotak bekalnya yang berisikan tumis daging cincang, sayur, juga udang.


" Sekolahku baik-baik saja Ayah. Aku sangat senang hari ini. Tadi ada murid baru, jago banget gambarnya. Apa Ayah akan pulang terlambat hari ini? "


" Tidak. Ayah akan pulang tepat waktu!"


" Baiklah Ayah. Selamat makan siang Ayah. Aku mau membuat kolam ikan bersama Paman Nino dulu. Daa... ayah!"


Sada lantas melihat wajah istrinya dengan senyum tak luntur. Sungguh kebahagian mana lagi yang bisa ia dustakan.


" Dia tak membiarkan Nino beristirahat!" ucap Claire yang kini telah di tinggal di bocah tengil itu melesat menuju halaman belakang rumahnya.


" Akan aku naikkan gajinya!" jawab Sada sembari mengunyah makanan. Memberikan solusi yang mungkin saja bisa membuat keresahan di wajah istrinya memudar.


" Bukan itu maksudku. Mereka juga butuh istirahat Mas!"


Sada tersenyum-senyum. Inilah yang ia suka dari istrinya. Selalu memiliki sebuah kepedulian terhadap orang lain.


" Hey, sekali-kali pikirkan dirimu juga Neo sayang. Nino sangat senang karena sekarang ada Neo. Jadi jangan membuatmu tak enak hati begitu."


Claire terlihat menghela napas.


" Mas makan sendiri?"


Sada mengangguk, " Masakan kamu enak. Aku mau kamu buatkan masakan Indo seperti ini setiap hari!"


" Baru bisa beberapa menu. Apa nggak bosan?"


" Aman!"

__ADS_1


" Mas gak malu pakai kotak bekal kayak gitu?"


" Malu? Kenapa musti malu?"


" Ya..."


"Oh iya aku cuma mau kasih tahu kamu sesuatu."


" Apa itu?" balas Claire seketika penasaran


" Zayn sekarang bersama Melodi. Dia mau nginap di rumahnya Papa."


" Hah, serius?


-


-


Sore harinya, Melodi benar-benar membawa pria itu kerumahnya. Terpaksa lebih tepatnya.


Pak Har yang mendengar deru mobil sang majikan langsing bergegas menggeret gerbang lalu mengangguk hormat.


Baginya, Zayn memang menyebalkan. Sangat menyebalkan malahan. Tapi diancam Zayn mengenai pembatalan kerjasama jelas bukan lelucon yang patut ia abaikan.


Zayn yang baru pertamakali datang ke tempat itu, tampak memindai arsitektur rumah yang begitu besar. Rumah ini tergolong elite jika di bandingkan dengan jajaran rumah yang tadi ia lewati sepanjang perjalanan.


" Selamat sor..." kalimat Pak Har langsung menggantung manakala melihat sosok di balik kemudi, merupakan pria tampan yang tinggi. Mengira jika orang yang akan menginap di sina tak setampan itu. Mengingat jika teman majikannya itu selalunya unik-unik.


Melodi yang tahu jika supirnya itu terkejut langsung menyahut.


" Sore Pak Har. Minta tolong koper di bagasi!"


" Emm tidak perlu Pak. Saya bisa sendiri!" sergah Zayn.


Pak Har terlolong. Pria tampan itu rupanya sangat fasih berbahasa Indonesia. Luar biasa.


" Ba- baik tuan, eh mas!"


Zayn tersenyum mendapati pria tua itu kebingungan.


" Panggil saya Zayn saja!"


" Lah gak bisa begitu tuan eh mas. Saya Pak Har, supir di rumah ini. Mari saya bantu!"


Zayn mengangguk membalas keramahan si supir. Ia mengekor di belakang Melodi yang wajahnya benar-benar kusut.


" Selamat sore mbak. Mau saya siapkan makanan sekarang?"


Melodi menggeleng" Nggak usah mbak. Kita baru aja makan diluar. Bawa dia aja ke kamarnya!" sungut Melodi yang tak bisa menyembunyikan kekesalannya.


" Oh iya, Mbak Yun, ini Zayn. Rekan kerjaku. Dia sementara tinggal di sini. Zayn, ini Mbak Yuyun, yang biasa bantu-bantu!" kata Melodi memperkenalkan pria itu dengan asal.


Mbak Yuyun yang di kenalkan terlihat tersenyum-senyum manakala melihat pria yang kini juga terlihat tersenyum ramah kepadanya. Merasa senang karena akhirnya Melodi memiliki teman jantan.


" Saya Zayn mbak!"


" Selamat datang mas Zayn."


Namun saat Melodi hendak pergi. Mbak Yuyun malah mendekatkan dirinya lalu berbisik lirih.


" Bagus banget yang ini mbak. Mbak Mel cocok banget kalau sama yang ini. Ganteng, gede duwur ( tinggi besar)"


" Duh apaan sih mba Yuyun!" sergahnya malu, kesal, dan jengkel.


Untung saja Zayn yang sibuk mengangumi interior rumahnya tak mendengar hal itu. Jika tidak, bisa besar kepala tuh orang.


"Aku mau ke atas dulu. Kau, kalau perlu apa-apa bilang saja sama mbak Yuyun!" pamitnya kepada Zayn.


Zayn mengangguk tanpa bersuara. Menatap seraut ketus yang alisnya tak berhenti mengkerut sejak ia memproklamirkan diri untuk tinggal di rumah melodi.


Mbak Yuyun yang masih terlihat senyam-senyum itu lantas menyapa Zayn.


" Mari mas saya tunjukkan kamarnya!"


Zayn mengangguk. Jika Melodi terlihat sewot dan kesal, tapi kedua pembantu di rumahnya malah menunjukkan sikap yang terbalik.


" Oh iya, apakah Melodi, maksudku teman Melodi juga pernah ada yang menginap di rumah ini?" tanya Zayn saat mbak Yuyun nampak merapikan beberapa benda yang berserak.


" Ada dulu mas satu orang. Namanya mas Dian!"


" Dian?" tanyanya serius demi satu nama asing itu.


Mbak Yuyun mengangguk, " Orangnya tampan. Tapi udah lama gak kemari. Sepertinya dia di luar negeri sekarang!"


Zayn menjadi tertegun sejenak.

__ADS_1


"Saya tinggal dulu mas, kalau ada apa-apa panggil saya saja!"


Pria itu akhirnya mengangguk paham. Sepeninggal mbak Yuyun, pikirannya malah di jubeli dengan perasaan tidak tenang. Siapa Dian? Sedekat apa Melodi dengan laki-laki itu hingga membuatnya sampai menginap?


Apakah mereka masih saling berhubungan hingga saat ini? CK, soal Arshaka saja dia sudah sangat merasa lain, di tambah ada nama lain sekarang. Sial.


Tunggu dulu, kenapa di yang pusing?


-


-


Malam harinya, Zayn menyelesaikan beberapa tugas untuk ia bawa besok ke kantor Melodi sebagai bahan tambahan presentasi lanjutan.


Bahkan dia melewatkan jam makan malamnya. Toh Melodi pasti masih kesal dengannya. Tak apalah, setidaknya dia bisa masih menghindari Olivia yang pasti saat ini sibuk mencari namanya di hotel-hotel besar itu.


TOK TOK TOK


Ketukan di pintu membuatnya sadar jika dia sudah sangat lama berada di kamar. Mendengar ketukan yang terus-menerus, ia yakin jika itu bukan perbuatan sang assiten rumahtangga.


CEKLEK!


Benar saja. Rupanya Melodi yang kini berdiri di depan pintu. Gadis itu terlihat cute saat mengenakan hotpants denim, kaos hitam oblong, serta rambut pendeknya yang di kuncir separuh.


Membuat Zayn meneguk ludahnya. " Dia imut sekali jika begini."


Namun barusaja ia memuji gadis itu dalam hati, suara yang sedetik kemudian terlontar membuat Zayn mendengkus.


" Kenapa gak keluar, mau minta di layani kayak di hotel?" teriak Melodi kesal bukan main.


Zayn mengangkat sebelah alisnya karena heran. " Kenapa marah-marah?"


" CK! Aku sedari tadi menunggumu diluar menahan lapar, tapi kau....!"


Zayn langsung tersenyum penuh arti saat mendengar kata menunggumu.


" Kalau lapar kenapa tidak langsung makan saja? Kenapa musti menuggu. Aku kan sudah bilang kalau aku di sini hanya numpang tidur!" balasnya enteng dengan muka menuding.


" Kau..."


Bahkan Melodi tak sanggup meneruskan ucapannya sebab tak memiliki stok jawaban yang relevan. Sial, kenapa juga dia menunggu?


Dan perdebatan sengit itu berhasil membuat dua orang yang kini sibuk mengintip dari balik dinding dengan kepala yang saling berhimpitan membuat Pak Har geleng-geleng.


Mbak Yuyun dan mbok Asih tampak sedang menikmati perdebatan di depan sana, sampai tak menyadari jika pak Har memergoki mereka.


" Kayaknya mbak Melodi gengsi deh mbok!" seru Mbak Yuyun yang pandangannya tak lepas ke arah depan.


Mbok Asih mengangguk, " Dari tadi tak perhatikan, mbak Melodi gak makan-makan. Mondar-mandir di meja makan. Mungkin nunggu mas Zayn!"


Keduanya terkikik-kikik. Sungguh pertunjukkan yang unik.


" Hayo lagi ngapain kalian. Bukannya kerja, malah ngintip!" seru Pak Har yang membuat dua perempuan itu langsung tergeragap.


" Sssttt, ganggu orang aja!"


Pak Har terkekeh-kekeh." Bubar- bubar. Kalau ketahuan, kita bisa selesai!"


Membuat keduanya langsung merinding.


Zayn yang tahu jika Melodi kesal seketika keluar lalu menutup pintunya. Baiklah, mungkin dia sedikit salah.


" Ya sudah kalau begitu, ayo kita makan!"


" Gak usah, udah kenyang makan angin dari negeri tetangga!" tolaknya ketus dengan wajah cemberut.


Zayn sontak terkekeh. Jika marah begini amat sih? Membuatnya kecanduan saja.


" Maaf membuatmu menunggu. Ayo kita makan!" bujuk Zayn sekali lagi.


Namun Melodi tak menjawab. Dengan wajah cemberut dia langsung berbalik menuju meja makan.


Mereka berdua akhirnya duduk di meja makan yang diatasnya sudah tersaji banyak sekali hidangan. Namun saat hendak menyendokkan nasi ke atas piring, ekor mata Zayn tak sengaja melihat wajah Melodi yang ternyata menangis.


Membuatnya panik.


" Mel, kau kenapa?" Zayn sampai meletakkan sendok nasi sebab ia terkejut manakala mendapati isakan kecil di ujung sana.


" Kau ini tega sekali. Kau sengaja ingin membuatku sakit perut. Sudah tahu aku ini enggak tahan soal urusan makanan. Tapi kenapa malah dibuat nunggu!" serunya dengan air mata yang benar-benar tak lagi bisa di tahan.


" Apa? Jadi dia benar-benar marah karena hal ini? Tapi dia kan bisa makan duluan?" batin Zayn tak habis pikir.


" Ya- ya tapi kamu kan bisa..."


" Aku kesel sama kamu Zayn. Aku kesel!"

__ADS_1


Zayn langsung meneguk ludahnya bingung.


" Kenapa begini salah begitu salah sih?"


__ADS_2