
...🥀🥀🥀...
Semula, Edwin memang memiliki stok kesabaran yang cukup tebal untuk menunggu waktu satu tahun sebagai syarat menikah. Jelas dia memang merupakan orang yang berhati baik, dan taat pada nilai-nilai luhur kebudayaan serta adat istiadat.
Tapi semua itu berubah sejak Sada mengeluarkan ultimatum soal penyebutan Neo, juga pengakuan Claire mengenai fakta yang membuat batinnya perih.
Apalagi, ia ingat betul saat Neo keluar bersama Sadawira tepat sesaat setelah mereka bertengkar, Claire tak melakukan pelarangan. Bahkan ia bisa melihat mereka anak dan Ayah itu seolah tak bisa ia hadang.
Bahkan ia harus rela saat Claire juga memintanya pulang dengan wajah frustasi sebab wanita itu tiba-tiba merasa tak siap untuk bertemu siapapun. Ia ingin sendiri.
Entah karena bodoh dan dungu, atau karena ia terlalu percaya dengan Claire, Edwin sepertinya kini nampak sangat menyesali keterlambatannya dalam mengindetifikasi keadaan. Seharusnya ia bisa lebih peka. Seharusnya ia lebih bisa mengamati keadaan, tentang kenapa seorang direktur perusahaan sekaligus donatur sekolah, bisa dan mau menjalin kedekatan dengan bocah cilik itu.
Dan akibat kebodohannya itu, kini ia merutuki dirinya, demi menyadari bila wajah kedua manusia lintas usia itu benar-benar mirip. Damned!
Edwin tidak tahu, alasan Claire benar-benar tak bisa menahan hal itu sebab bagiamana pun juga, Neo tetaplah darah daging Sadawira. Dan sikap Claire yang malah membuat keadaan menjadi apatis, mendesaknya untuk melaporkan hal ini kepada satu-satunya manusia yang dapat menolongnya, yakni Papa Leo.
Ia tak lagi peduli meski ia dikatakan pecundangi atau apapun istilah. Nyatanya selain benar-benar terkejut dan merasa langkahnya terhadang, Edwin kini tak tenang jika orang yang rupanya menghamili Claire, adalah pria yang pernah satu meja dengannya.
Apalagi, kurun waktu satu tahun tiba-tiba menari-nari di otaknya dan membuat kepercayaan dirinya memudar. Jelas satu tahun itu berpotensi membuat keadaan makin kacau.
" Apa mas Edwin bercanda? Bahkan makam Opa belum kering sempurna!" Melodi mendebat calon kakak iparnya dengan posisinya yang masih saling berdiri di ambang pintu.
" Apa kuasaku? Claire sudah membohongiku, membohongi Mama, Papanya , membohongi kami semua. Dan kau..." jeda Edwin yang turut kecewa dengan Melodi yang diam meski telah tahu rahasia besar ini. "
Melodi yang di tunjuk oleh Edwin seketika menatap pria itu kesal.
" Kau sebenarnya juga sudah tahu kan? Apa kau juga ingin berkhianat pada keluargamu?" pekik Edwin yang kini benar-benar tak bisa mengendalikannya kegusaran hatinya. Frustasi sudah dokter penyabar itu.
" Apa maksudmu?" jawab Melodi yang kini kehilangan rasa hormatnya. Gadis pemberani ini tak suka di tekan apalagi di intimidasi.
" Kau melakukan pembiaran meski kau sudah tahu orang yang di benci papamu berkeliaran disini!"
" Kau..."
__ADS_1
" Edwin!"
Teriakan dari dalam berhasil membuat perdebatan sengit itu menguar. Claire kini datang dan membuat Melodi tak jadi mendebat pria itu.
Melodi paham jika Edwin pasti kecewa, tapi tak selayaknya ia mengangkat suara seperti itu.
"Claire, dia datang dan mem..."
" Masuk Mel!" potong Claire cepat dan membuat ucapan Melodi menguap entah kemana.
" Tapi Clai..."
" Masuk!" pekik sang kakak yang membuat Melodi harus kalah dan masuk dengan dada bergemuruh. Kesal dan geram setengah mati.
Edwin yang rahangnya berkedut mencoba menahan amarah di dadanya. Membiarkan Melodi melempari dirinya dengan tatapan paling sengit.
Ia hanya ingin Melodi juga tahu, bila hatinya saat ini terasa sakit dan penuh kekecewaan. Claire yang sebenarnya merasa bersalah kepada Edwin, sekaligus merasa takut dengan Sadawira kini hanya bisa mensugesti diri untuk lebih tenang.
Ia tak bisa bersikap seenaknya, sebab apapun yang terjadi, kenyataannya ia adalah tunangan Edwin. Ia musti menghadapi pria itu sekarang juga.
Jika kemarin Claire tak siap menghadapi Edwin, maka kini ia harus bisa menghadapi pria itu. Sebab ia yakin, setalah ini ia juga harus menghadapi masalah besar, yakni Papanya.
Edwin mengekor di belakang Claire dan sejurus kemudian duduk saling berhadapan. Sofa berdesain modern yang terlihat nyaman kini berbanding terbalik dengan suasana dan isi hati dua orang disana.
" Papamu akan kemari!" kata Edwin to the point.
Claire memejamkan matanya sejenak. Benar kan?
Tapi berbeda dengan Melodi, Claire tidak kesal apalagi marah. Edwin wajar melakukan hal itu dan dia juga pantas mendapatkannya.
Sejak kejadian kemarin, ia sengaja mematikan ponselnya guna menenangkan diri dan tak ingin menerima pesan dan panggilan dari siapapun termasuk Sadawira.
Meski kini ia harus melawan nuraninya yang terbuat masih mencintai Sadawira, tapi setidaknya ia masih membuat Papa Leo tak kecewa kepadanya untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Suasana tiba-tiba hening, sunyi dan senyap. Secara keputusan, mungkin ini tidak masalah. Toh Edwin sah-sah saja meminta perlindungan kepada calon mertuanya. Tapi secara sikap jantan, tentu sebenarnya Edwin bisa melakukan hal lain sebelum langsung melapor kepada Papa Leo.
" Aku minta maaf!" kata Claire tercekat yang tak jujur sedari awal. Ia bahkan bingung memilih kosakata yang pas untuk Edwin.
" Aku tidak masalah. Mungkin kau juga ingin menjaga perasaanku. Tapi semoga kau benar-benar tak mempermainkan aku Claire!"
Ludah licin mendadak terasa seret manakala Claire mendengar kalimat itu. Bahkan ia sudah beberapa kali berciuman dengan Sada dalam kesempatan sesak, dan diluar kuasanya. Membuatnya makin merasa berdosa.
Ia bahkan kini membenci dirinya sendiri yang tak bisa mengendalikan perasaannya tiap kali berada di dekat Sadawira. Merasa munafik karena sekuat hati mulut mengeluarkan sumpah serapah kepada laki-laki itu, namun di dalam hatinya segumpal perasaan agung itu tak mau sirna apalagi lenyap.
" Kau ingat ini!" menunjukkan cincin yang Edwin pakai. " Kita mendapatkan ini di depan mendiang Opamu yang sakit-sakitan!"
Air mata itu kini luruh. Bendungan pertahanan Claire jebol. Tak kuasa ia menahan segala bentuk kesesakan. Harus bagaimana ini Tuhan? Haruskah ia menepis segala perasaan yang menyeruak dan menyiksa diri sendiri demi sebuah titah yang musti ia jalankan, meski yang memerintahkan telah pergi ke nirwana?
Tangan Edwin terulur menggenang tangan Claire yang turut bergetar karena isakan.
" Aku jatuh cinta padamu sejak awal kita bertemu. Dan perasaan peduli itu tumbuh menjadi rasa cinta hingga saat ini meski aku tahu kau belum merasakan hal itu sepenuhnya. Aku sangat sakit begitu kau mengakui bila Neo adalah anak pria itu!"
Tubuh yang bergetar itu kini semakin berguncang. Ia memang tak pantas mendapatkan pria berhati baik ini. Seharusnya Edwin memang mendapatkan wanita yang jauh lebih baik darinya.
" Kenapa kau tidak berterus-terang kepadaku sejak awal?"
Bahkan tak satupun pertanyaan dari Edwin yang sanggup ia jawab. Ia merasa hina, kotor dan tidak pantas.
" Apa kau masih mencintainya?"
" Edwin!" menyergah tak suka dengan tebakan Edwin. Kini mereka berdua saling menatapnya dengan keadaan yang begitu kalut dan suara yang terdengar pilu.
" Kalau tebakanku salah, seharusnya ini tidak menjadi masalah kan?" kata Edwin lembut menatapnya dia netra Claire yang banjir dengan air mata.
" Aku sudah mengatakan hal ini kepada Mama dan Mama setuju jika kita menikah disini. Kita bisa mencari hari baik untuk mematahkan larangan itu!"
.
__ADS_1
.
.