My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 35. Welcome Neo


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Mereka tiba di bandara saat matahari sudah meninggi di cakrawala. Namun dalam kedatangannya kali ini, Demas lah yang tampak menjemput.


Selain karena dia memang memiliki waktu yang longgar, Demas juga kangen dengan Neo.


Deo bersama Arimbi berada di rumah sakit sementara para orang tua mereka minta untuk pulang dan mengganti baju juga beristirahat. Deo tak mau berkompromi soal kesehatan orang tuanya. Walau mereka saat ini sedang di rundung kesedihan, namun menjaga kesehatan pribadi juga harus di lakukan.


Sebab mereka percaya, bila tingkatan rezeki terbesar adalah kesehatan. Dan itulah kebenarannya. Para filsuf serta orang-orang bijak sering mendengungkan kata-kata itu. Bila sebaik-baiknya rezeki, adalah mereka yang memiliki kesehatan prima.


Opa di diagnosis mengalami penyakit hipertensi paru atau pulmonary hypertension, dimana penyakit ini merupakan kondisi tekanan darah tinggi pada pembuluh darah paru yang terhubung ke jantung.


Namun karena sigapnya Mama Bella dalam membawa Opa kerumah sakit, membuat nyawa beliau kali ini tertolong.


Demas yang sudah bersama para anak buah Deo terlihat menunggu di arrival gate ( pintu kedatangan) guna menyambut sepupu serta keponakannya.


Dan tak berselang lama, dua pasang mata tajam Demas menangkap sosok mungil berkulit bersih diantara riuh rendah para penumpang yang juga baru saja disembark ( turun dari pesawat).


" Neo!!" teriak Demas manakala melihat keponakannya berjalan di depan Claire yang terlihat bersisihan bersama seorang laki-laki bertubuh tinggi. Yes, he is Edwin.


" Pakde!!" teriak Neo yang langsung kegirangan tatkala Demas berlari menyongsongnya.


Ya, Demas merupakan adik dari CEO Ground Handling disana, membuatnya memiliki akses spesial untuk bisa turut masuk ke dalam airport.


Demas yang kini telah sampai di hadapan Neo, seketika mengangkat tubuh keponakannya itu tinggi-tinggi dan menjadikan Neo seketika begelak riang.


Membuat para karyawan Deo turut tersenyum.


Ya di tengah sayup-sayup engine pesawat Airbus yang barusaja mendarat, Claire kini tersenyum demi melihat anaknya yang tampak sangat bahagia.


" Wah keponakannya Pakde udah besar ternyata!" seru Demas yang kini melayangkan tubuh Neo ke udara.

__ADS_1


" Lagi Pakde! Lagi!" kata Neo yang malah ketagihan dengan perlakuan Pakdenya.


Membuat Claire dan Edwin tergelak.


" Hah udah ya, nanti lagi. Kita masuk dulu, pintunya mau di tutup sama Om yang itu!"


Neo mengangguk, untuk sejenak bocah itu bahkan melupakan rasa marahnya kepada Ibu soal robot dari paman Sada.


" Jadi, jagoan Pakde apa kabar?" tanya Demas yang kini masih menggendong keponakannya dengan sebelah tangan.


" Aku baik Pakde! Mas Antasena mana, kok gak di ajak jemput aku?" balas Neo menatap Demas dengan alis menyatu.


Membuat Demas terkekeh.


" Nanti dia kesini, Mas kamu masih di sekolah!"


Demas yang masih menggendong keponakannya itu terlihat beberapa kali menciumi pipi Neo dengan penuh kerinduan.


"Hy, aku Demas!"


" Edwin!"


Mereka berdua berjabat tangan secara wajar seraya tersenyum satu sama lain. Beberapa saat kemudian mereka yang bagasinya sudah di antar oleh petugas atas perintah Deo kini terlihat menuju ke parkiran VIP dimana mobil Demas berada.


" Siang Pak Demas!"


Demas sesekali mengangkat tangannya manakala banyak sekali petugas di bandara dari berbagai lini menyapanya. Membuat Edwin semakin ingin tahu. Seperti apa keluarga Claire?


" Neo mau duduk di depan?" tawar Demas.


" Mau-mau!" Neo menyahut gembira. Seolah memang itulah maunya.

__ADS_1


Demas bukan tidak tahu siapa yang saat ini tengah di bawa oleh Claire. Keinginan Opa mereka untuk menutup akses Sadawira rupanya tidak main-main. Dan dari reaksi yang di tangkap Demas, bisa laki-laki itu simpulkan jika Claire masih terlalu biasa dalam memperlakukan Edwin.


...----------------...


" Apa tidak bisa hasilnya itu keluar secepatnya?" Sadawira yang resah kini menemui Zayn.


Ya, kepergian Claire yang tiba-tiba membuat prasangka buruknya kian mendesak perasaan.


" Kau harus bersabar Da, ada serangkaian prosedurnya medis yang musti mereka lakukan!"


" Lagipula, kenapa jadi gak sabaran sekali sih kamu?" Zayn menggerutu untuk pertama kalinya sebab kelakuan Sadawira kali ini ia nilai sangat tak sabaran.


" Claire pergi ke Indonesia, bersama Neo!" kata Sadawira serius cenderung gelisah.


Zayn menghembuskan napas. Tak habis pikir dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Sadawira. Memangnya kenapa?


" Kenapa kau harus bingung? Di Indonesia kan memang masih ada orangtuanya, ya wajarlah kalau dia kesana. Lagipula, kau masih punya Boni kan? Kenapa kau tidak minta dia saja untuk mencari tahu!" dengus Zayn yang kesal sebab sahabatnya itu berubah menjadi bodoh.


Dan sepertinya ketakutan yang tak mendasar itu memang benar-benar berhasil membuat Sadawira menjadi bodoh.


Detik itu juga, pria yang memiliki tato the scorpions di punggungnya itu langsung menghubungi Boni.


" Halo Bos?"


" Bon, aku ada tugas untukmu!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2